29 Okt 2021

Mau Ngapain Lagi Sih Denny JA, eh Satupena?

Menyambut Bulan Bahasa 2021 Satupena versi kepemimpinan Denny JA melakukan sebuah kerja sensitif dan kontroversial, dengan tema besar dan Panjang: 100 BUKU YANG MEWARNAI SEJARAH DAN BUDAYA INDONESIA SEJAK ERA KOLONIAL DIPILIH DAN DITERBITKAN KEMBALI. Penjelasannya bisa dibaca di sini: https://www.facebook.com/denny.ja.754. Sudah? Yuk, Kembali ke tulisan ini.

Apa-apa yang dilakukan Denny JA memang rentan berimbas polemik. Tampaknya dia juga menyukai itu sebagai strategi marketing. Dari sejumlah hal yang menjadi dasar pemikiran penyelenggaraan, saya hanya mengambil 3 poin saja. Tiga saja sudah capek, apalagi banyak-banyak.

17 Mar 2021

Kisah Sejumlah Permainan- Satu Bagian

 

Karena tidak ada bahan yang mau diposting, saya akan memposting cerpen Kisah Sejumlah Permainan yang saya tulis bersama Sunlie Thomas Alexander. Ini kolaborasi kedua kami yang memang meniatkan mengangkat sejumlah kenangan-kenangan yang kami rasa penting yang barangkali akan lenyap dan tiada. Poyek ini kami hentikan sementara karena kami belum mendapatkan konsep yang ideal atau tantangan yang berbeda. Dalam kasus dua cerpen kami ini, posisinya kami masing-masing hanya menuliskan peristiwa tiap-tiap kami dan menambahkan pembuka dan penutup yang kami tulis selang-seling (Saya pembuka, Sunlie penutup, misalnya).

Kami perlu yang baru. Dan kami belum menemukan. Ada yang mau membantu?

2 Des 2020

Tentang Blog

Saya tidak menyangka akan menelusuri sejarah panjang blog-blog yang saya punya. Saya nyaris melupakan saya punya beberapa blog, baik dalam satu akun maupun yang saya sudah lupa. Pagi ini, tiba-ada pesan masuk dari seseorang yang meminta saya menghapus postingan di sebuah blog resensi buku yang saya punya. Saya baru sadar, kalau dulu saya punya sebuah blog yang isinya (direncanakan) sebagai festival review buku dari penerbit indie. Targetnya sederhana, agar buku-buku indie yang terbit, sebanyak apa pun dicetak dan terjual, kelak tetap terdokumentasi.

22 Okt 2020

Empat dari Sejumlah Novel Penting yang tidak Pernah Dituliskan




Setiap penulis cerita pastilah berharap dapat menuntaskan pekerjaannya dalam waktu yang terukur, dan segera karya tersebut bisa dinikmati banyak orang. Apalagi itu dirasa sebuah karya besar di masa subur dan produktif. Pasti makin tak sabar mengantarkan ke pembaca. Banyak contoh-contoh karya besar semacam itu lahir, baik oleh seorang pemula, ia yang masih belia dan masih panas-panasnya. Namun ada beberapa karya yang seharusnya hebat dan dasyat itu, yang gema idenya saja membuat kecut rekan si penulis, berakhir tanpa jadi apa-apa. Ia tak pernah berjumpa pembaca. Karya besar itu tak pernah sempat dituliskan. Ia tenggelam dalam lautan rutinitas sang penulis tadi, menjadi mimpi buruk bagi dirinya, terkadang jadi olok-olok kawan dan pasangannya.

 Siapakah penulis malang tersebut? Banyak. Banyak sekali. Biar tidak berkepanjangan saya akan menceritakan 4 saja. Empat karya besar yang jika ia terbit barangkali akan benar-benar mengguncang sastra Indonesia tercinta kita, atau sama sekali tak memberikan efek apa-apa. Soal kedua ini abaikan saja. Daftar lainnya kau bisa menambahkan sendiri. Barangkali kalau kita kumpulkan akan jadi kumpulan olok-olok yang dasyat dan mengguncang sastra Indonesia.

6 Apr 2019

Salah Lirik




Setiap kali menonton atau mendengar OST Adit Sopo Jarwo yang ditonton anak saya, saya merasa aneh denga lirik lagu yang terdengar. “Armand Maulana kok gitu banget ya nyari rimanya.” Suatu kali keluar juga ucapan itu di depan istri.

“Kenapa dengan liriknya?”

“Itu bunyinya aneh. Ayo berani, jangan berhenti kita baimimpi. Itu maksudnya bermimpi kan? Kok bunyinya kayak baimimpi.”

29 Mar 2019

Kisah Penulis Muda (3)



5. Pada Sebuah petang


            Syahdan, pada sebuah petang yang cerah, seorang mahasiswa yang didera deadline skripsi mengunjungi seorang cerpenis. Untuk mempermudah saja, kita sebut saja pemuda itu bernama Reddy dan sang cerpenis kita panggil dengan nama Sunlie. Mereka sudah janjian sebelumnya.
            Dua orang tampan akan bertemu. Senja merunduk malu-malu. Reddy mahasiswa yang ketampanannya membuat ia demikian betah di kampus, dan Sunlie berkat ketampanan pula bertahan sebagai penulis. Tak usah diperdebatkan, orang kedua yang saya sebut, setidaknya merasa nyaman jika ditulis demikian.
          

23 Mar 2019

Eswe & kicot: Festival

 
Eswe datang sambil mendorong motor saat Kicot sedang duduk di teras rumah kontrakannya. Sore hampir masuk, tapi karena langit mendung suasana masih berasa pagi saja. Segelas kopi masih mengepul dan setumpuk buku di samping Kicot dan seplastik tembakau lintingan.
Eswe mengomel sambil memarkir motornya di halaman yang sempit. “Uasyu, bensinku entek...”
“Lah bensin habis kok malah didorong ke sini?” sambut Kicot yang sedang duduk di pojokan teras. Ia sudah menduga jawaban Eswe.
“Pinjam duitmu dulu, ya. Aku gak bawa dompet.” Eswe tersenyum, Kicot mesem. “Nanti aja. Aku ndak buru-buru kok.”

16 Mar 2019

Berita dan Salah kaprah





Peristiwa berdarah yang terjadi di Selandia Baru itu menjadi lebih personal buat saya, sepertinya juga keluarga saya di kampung.

Sebelum saya bercerita, saya mengucapkan turut berduka sedalam-dalamnya atas kasus penembakan di dua masjid kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat, 15 Maret 2019 kemarin. Pasca kejadian, selain duka dan sesal, tersisa harapan-harapan akan kerukunan, toleransi, kedamaian dunia. Teror, atas nama apa pun, dilakukan oleh siapa dan kelompok apa pun, tetaplah sebuah teror.

17 Feb 2018

Kisah Penulis Muda (2)


3. Masnya penulis juga ya?
Sehabis acara diskusi buku, Tamu Kita, sastrawan dari luar kota itu, diajak berkumpul sama teman-teman mudanya. Mereka pindah obrolan ke warung kopi.
            Sastrawan kita yang dari Jakarta ini sangat antusias bercerita, bukan soal sastra, tentu saja. Tema-tema lain jauh lebih asoy, mulai dari kopi, daging, hingga cara menggaet perempuan. Para cerpenis dan penyair muda kita yang lain sibuk mendengarkan, mengomentari dan memperdebatkan. 
            Lalu muncul seorang anak muda, menghampiri kawan-kawannya yang ada di sana. Si anak muda itu tidak tahu kalau Tamu Kita habis diskusi bukunya.  Dia juga gak kenal Tamu Kita ini siapa. Dia kebetulan mampir karena ada kawannya yang menyuruh datang ke sini. Biasalah sesama penulis muda saling menjenguk, saling berbagi bualan.

10 Feb 2018

Kisah Penulis Muda (1)



1. Percakapan Penyair Seasal
“Kamu dari SMA mana?” Setelah agak lama saling berdiam diri, Bhea Gronjol bertanya. “Oh, ya namamu siapa tadi.”
            Gagah betul. Penuh percaya diri, begini seharusnya penulis itu, Randhy Bangkin terkagum dalam hati.
            “Randhy. Randhy Bangkin. SMA 2 Sungaikeras. Angkatan 2008.”
            “Wah SMA 2 Sungaikeras. Aku pernah tuh punya pacar juga di sana. Sekira tahun 2009.”
            “Oh ya, siapa namanya?”