Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

22 Okt 2015

Ketika Rinai Sakit



Ketika Rinai Sakit

ketika rinai sakit
air di mana-mana, di luar basah
di dalam diri kami juga basah

ketika rinai sakit
kami memasuki tenda pengungsian
orang-orang yang selamat dari jerat ajal
kapal karam, sisa mesiu dan asap di mana-mana
kesedihan kami adalah kesedihan mereka
yang kehilangan rumah, kehilangan anggota tubuh
kehilangan ladang, kehilangan keluarga
kehilangan masa lalu, dan jalan pulang

ketika rinai tak berhenti sakit
air mata kami adalah airmata ia yang disiksa majikannya
perempuan yang dirampas kehormatannya,
keluh kesah pasien rumah sakit yang jemu dan cemas

ketika rinai sakit
hutan terus dibakar, gedung terus dibangun
gerimis kecil ini tak mampu jadi penawar
berhektar lahan yang diludahi api,
penghapus debu di jalan berlubang
kesedihan yang diulang sepanjang tahun

rinai masih sakit
kesedihan kami adalah kesedihan sebuah bangsa
yang dikepung perang dari luar dan dalam tubuhnya sendiri

ketika rinai sakit
kami merindukan hujan sekali jatuh
menghapus api, melindapkan debu, memadamkan amarah
dan menghentikan kesedihan republik ini

2015

8 Nov 2013

#kamisan 8: #Masa Kecil: Hari Pekan


Hari Pekan

Aku terkenang ibu yang terburu di antara pematang
Mengangkut cabai di pundaknya untuk ditukar dengan isi dapur
Di hari pekan, di minggu yang bagiku selalu riuh

Di pasar, kami merayakan yang sedikit
Dengan baju yang diselipkan di lemari
Bau kapur barus dan lumpur sawah
Bercampur keringat pengunjung pasar
Dan riuh penjual obat serta harga yang membingungkan

Ke pakan, di hari pekan
menukar semua yang kami punya
Melepaskan segala yang kami ada

7 Nov 2013

Kamisan 7: Dari Tengah Kampung


 

Dari Tengah Kampung

aku mendengar suara tangisan dari kubur leluhur
yang sebentar lagi mungkin digusur
tanah kami gembur, bergetar oleh derit roda truk
tengah malam dan dinihari, membawa apa yang kami tanam,
apa yang keringat kami keluarkan, jauh ke pusat keramaian.
dari sisa tanah yang kami pertahankan,
di antara banjir dan desakan pemerintah,
kami menanam anak-anak pada deru-lengking perjalanan.

aku mendengar jeritan hantu-hantu yang mengutuk dirinya sendiri
membiarkan anak-cucunya memilih takdir buruk masa muda.
membenci pantai indah dan bukit yang menggoda, membawa kami
satu-satu dalam peluk-cium bagai malam pertama.
satu persatu menuju pelaminan, oleh kehendak atau lantaran perut
yang kian besar. kami meninggalkan bangku sekolah
dengan banyak tugasnya menuju rencana sia-sia;
mengurus anak, suami yang malas pulang,
nasib malang terus berulang, ombak hanya sekedar berdebur
dan ladang hanya sekedar dijelang.  kawan-kawan kami mengutuk
kebosanan dengan menciptakan kebosanan lain.
main kawin-kawinan dan meninggalkan jejak anak di tiap kampung.
di televisi kami melihat hidup seindah orgen tunggal, goyangan penyanyi,
dan pemuda pemberani menyenggol dengan mulut bau alkohol.
keringatnya yang ladang dan asin laut menggarap habis masa depan.

aku mendengar kemarahan dari dalam tubuh kami.
kemarahan yang diam-diam meluncur dari dalam diri kami,
di tengah malam, di kampung yang tidur tanpa pernah
benar-benar tidur. kami tidur dengan jendela tertutup rapat,
merahasiakan seluruhnya seperti hidup yang tak derduga.
kami yang berbaring di tengah kampung, dan kudengar
seperti sebuah suara dari dalam kubur.

aku mendengar kami berteriak di dalam diam, di dalam tidur,
dalam ketidaksadaran.

#melankolia

31 Agu 2011

Kepada Amigos-Puisi


Kepada Amigos

aku mencintaimu
bukan lantaran tak ada lagi yang bisa kucintai.

aku ingin menjagamu sepanjang waktu
memelihara yang sedikit ini
tapi matamu, seperti yang lain, seakan tak bisa mempercayaiku
aku takut kemana-mana, jika kau bisa melupakanku.

aku terbiasa begini,
membuatku gampang menangis.

9 Mar 2011

Ke Langgai ke Asal Leluhur

November tahun 2010, beruntung sekali rasanya aku bersama kawan-kawan yang baik, yang punya perhatian besar pada kampung leluhur, kawan-kawan yang ingin mendokumentasikan hal-hal yang nyaris terabaikan bisa berkunjung ke Langgai, sebuah kampung di hulu Kenagarian Surantih. Sebagai desa paling ujung ia berjarak lebih kurang 40 kilometer dari Pasar Surantih, ibukota kecamatan Sutera, pesisir selatan Sumatera Barat. Kampung di sepanjang daerah itu mengikuti alur sungai Batang Surantih.

Peristiwa Hujan

8 Sep 2010

Pledoi Malin kundang

Menjelang lebaran aku ingin mengenang:



Pledoi Malin Kundang

i
karena jarak mengajarkan rindu
maka, izinkan aku mengangkat sauh, ibu
sejak dulu, aku ingin karam di laut yang jauh
agar aku tak melulu diserbu sesal yang gaduh
sebagaimana kau tahu,
tanah ini menyimpan kesakitan masa lalu
bagi lelaki seperti aku

27 Jul 2010

Dalam hujan, Sajak

Dalam Hujan

aku kehilangan selera pada apa pun
hujan yang lewat di sepanjang musim
menghanyutkan banyak peristiwa sekaligus. malam ini

26 Apr 2010

mengenang lewat sajak 1

Stasiun Tugu, Dinihari

-bersama zen rs

malam sepenuhnya milik kita
gelas kopi berisi
lagu sedih keberangkatan.
kau begitu sadar untuk terjaga
bangku-bangku kosong, dunia terasa
begitu lapang

26 Sep 2009

sajak baru

Tubuh Sewaan

diriku rumah
yang ditinggalkan penghuninya

sajak "Segeggam laut"

Segenggam Laut

tak pernah ada salju kukira
di tanah tropis ini matahari dan hujan berebut tempat
tapi aku merasa nasib buruk
dijatuhkan dari langit
tak kenal musim, tak kenal cuaca

9 Jul 2009

sajak terjemahan

Octavio Paz

Dengan Mata Memejam


Dengan mata memejam
Engkau menyala di dalam
Engkau batu yang buta

Malam lalu malam kupahat engkau
Dengan mata memejam
Engkau batu yang berterusterang

Kita pun jadi besar tak terukur
Hanya peduli engkau dan aku
dengan mata memejam

(terjemahan oleh Alfian Harfi)

21 Jun 2009

sajak Meninggalkan Rumah

Meninggalkan Rumah

kau tampak begitu terhina
melewati jalan-jalan yang memperlakukanmu
dengan sengit
langit seperti mendung
sejak pertama kau melepaskan rumah
dari ingatan

17 Jan 2009

catatan penutup

Tidak ada di dunia ini yang bisa mengerti saya. Semua orang memandangku dari sisi paling suram. Aku harus menerima ini sebagai buah dari pohon hayatku. Aku tak akan mengatakan pada kalian betapa aku mencintai kalian, bahwa aku membenci permusuhan, aku takut darah, selalu menghindari perang. Mereka semua benar, aku pecundang dengan perilaku yang buruk.

31 Okt 2008

sajak ah...

Ketapang—Gilimanuk

laut menghanyutkan kami
di laut yang ombaknya begitu nyinyir

8 Nov 2007

Sajak Saja

Kepada Perempuan Sukma

kita pernah meninggalkan dan ditinggalkan
suatu ketika, di mana tahun pecah dan
orang-orang merayakan rasa lapar
dengan bualan-bualan kosong. kita tersesat di antara
keributan yang sengaja diciptakan.

8 Agu 2007

sebuah sajak


Sajak Kepada Semua Orang
Kepada kalian yang sempat mengenaliku
Padamulah sajak ini kutuliskan
Agar tunai utang janjiku

20 Apr 2007

Sajak Sutan Tsabit Kalam Banua

Sumpah, aku kaget ketika membaca puisi ini dan dikatakan ini karya Tsabit. bagimana tidak? duh, aku yang barangkali terlambat mengikuti gerak-gerik bocah kecil ini.

10 Des 2006

lebaran untuk seorang perempuan

Lebaran Untuk Seorang Perempuan

lebaran, suatu waktu saat di mana sajadahku
basah oleh sesal dan duka lara
- sungguhkah aku kembali suci sebagaimana matamu
yang bening dan kekanak-kanakkan?
setiap putaran waktu, akan mengembalikan sepenggal kisah
yang sama dan berulang;
dan lebaran.

28 Agu 2006

Orang-orang, perempuan, kau dan aku........

Kabar Akhir tahun
~ Maria

izinkan aku berkabar sebab
desember selalu hujan…

hujan basahkan
kenangan patah
tak habis-habis aku mengutuk
sore yang gamang