Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

13 Jul 2026

Cerita-cerita yang Minta Ditulis, Sebuah Cerpen

 


Ia ingin menulis cerita. Menulis banyak cerita. Banyak hal yang kadang muncul di kepalanya, berebut tempat hingga sebagian hanya muncul sekejap lalu menghilang. Kadangkala imajinasi itu hanya sekadar mengganggunya, tenggelam begitu saja ketika dia mulai berniat menuliskannya. Ia sudah mencoba menuliskan beberapa ide di buku catatan. Sebagian dibiarkan di kepala, sebagian yang lain sudah utuh dalam angan-angannya. Setelah berminggu-minggu ia tenggelam dengan banyak ide, dengan banyak peristiwa tetap saja tak satu pun yang bisa ia tuangkan ke dalam sebuah tulisan. 

Pikiran mungkin sering rakus, setidaknya itulah yang sering dia hadapi. Ketika berencana menuliskan cerita A yang sudah berontak di kepalanya, tiba-tiba muncul ide B yang terasa begitu baru, terasa begitu hangat. Kisah-kisah yang muncul sejenak ini kadangkala sempat dicatat dan diingat tetapi sering lewat begitu saja. Meski demikian kertasnya tetap saja kosong meski sudah berjam-jam ia duduk di depan komputer, berbungkus rokok tandas di asbak, bergelas kopi sudah ia minum. Tetap saja, kisah-kisah hanya bertengger di kepalanya, tapi tak pernah bisa ia tuliskan. 

18 Okt 2023

Tetangga Kami Sebuah Cerita

 

Pada dasarnya kami nyaman bertetangga dengan siapa saja. Tetapi ada hal-hal yang membuat kami tak bisa menerima kehadiran tetangga kami yang satu ini.

Sejak mereka tinggal di sini kami sudah merasa akan ada yang tak beres, terjadi pada hidup kami setelah ini. Ini tahun-tahun yang panjang jika kami harus menyesal. Setiap itu kami hanya bisa mengutuk kakek kami yang mau-maunya menggadaikan tanah pada tetangga kami yang licik itu.

15 Okt 2023

Sebelum Mawan Menikah, Sebuah Cerita

Sumber gambar: https://www.facebook.com/photo/?fbid=10227732334872567&set=a.4818053687931

“Kenapa kau mau menikah denganku?” Pertanyaan itu muncul dari Selvi saat mereka video call di hari-hari yang mendekati masa pernikahan mereka.

“Aku sudah pernah bilang,” Jawab Mawan setengah gamang. Ia tak ingin salah dan membuat Selvi tiba-tiba mematikan HP. “Aku merasa sedang berjudi. Kurasa, kau adalah kemenangan yang paling layak kupertaruhkan.”

Ia mengutip kalimat itu dengan sembarangan dari salah satu film India. Ia tidak tahu tepatnya kalimat film itu bagaimana, tapi demikianlah kira-kira. Tak salah, persis itulah yang ia pikirkan saat itu. Soal kemenangan.

Lalu jeda yang panjang. Di layar HP-nya yang retak, Mawan melihat Selvi tampak bungah. “Bertemu denganmu, semangat hidupku tumbuh lagi. Energiku bertambah. Gagasan-gagasan di kepala jadi tidak tertanggungkan. Kurasa, setelah berkeluarga akan sepenuhnya menghidupi keluargaku dengan menulis.”

18 Okt 2022

Perkara Minum


 

Semakin kuat suara ketukan, makin kuat sandaran Bhea Amanah menahan pintu. Di luar, Bima YP, tidak bisa menyembunyikan rasa marahnya.

“Bhea, Buka pintunya. Aku mau bicara.” Suaranya terdengar cukup keras. Ia tahu belaka, sekiranya Bhea tidur, membangunkannya adalah kesulitan yang sulit dinalar. Setelah mengetuk beberapa kali lagi, Bima menyerah. Jika sudah lebih dari 5 menit, kemungkinan anak ini memang sedang tidak tidur.

Ia selonjor di kursi reot di samping kamar Bhea yang tak punya jendela.

17 Mar 2021

Kisah Sejumlah Permainan- Satu Bagian

 

Karena tidak ada bahan yang mau diposting, saya akan memposting cerpen Kisah Sejumlah Permainan yang saya tulis bersama Sunlie Thomas Alexander. Ini kolaborasi kedua kami yang memang meniatkan mengangkat sejumlah kenangan-kenangan yang kami rasa penting yang barangkali akan lenyap dan tiada. Poyek ini kami hentikan sementara karena kami belum mendapatkan konsep yang ideal atau tantangan yang berbeda. Dalam kasus dua cerpen kami ini, posisinya kami masing-masing hanya menuliskan peristiwa tiap-tiap kami dan menambahkan pembuka dan penutup yang kami tulis selang-seling (Saya pembuka, Sunlie penutup, misalnya).

Kami perlu yang baru. Dan kami belum menemukan. Ada yang mau membantu?

5 Feb 2018

Status FB


Jadi gini, para penulis kita seringkali tingkahnya memuakkan. Ambil saja contoh seorang kawan penulis yang bisa diambil pelajaran. BTW, saya sudah diiblokir orangnya.

Hal-hal  buruk dalam hidup kawan kita ini terdokumentasi  cukup dramatis di status-status facebooknya. Sebenarnya semua status facebooknya bernada suram. Belakangan ini cukup intens keluh kesahnya hadir di beranda. Resikonya tentu saja bisa dibaca, beberapa orang ada yang unfollow dan tak sedikit pula yang memblokir. Masalahnya, di balik status dramatik semangatnya untuk menampilkan diri sendiri tetap mencolok.

Ambil saja contoh secara acak dari 8 statusnya 2 hari belakangan. Dalam dua hari:

31 Okt 2013

#Kamisan: Ia Tak Tahu, Sebentar lagi ia akan mati


            Ia tak tahu sebentar lagi dia akan mati. Begitu pun teman-teman dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Tak ada yang menduga secepat itu ia akan pergi. Adakah maut begitu ajaib sehingga tak meninggalkan sebiji tanda? Malam sebelumnya mereka masih sempat bercakap-cakap banyak hal. Bahkan ingatannya akan hutang masih begitu kental.
            Tak ada yang menyadari kalau maut tengah mengintai dia. Sekiranya ada yang bisa membaca isyarat dan tanda barangkali satu-dua dari temannya akan mengadakan pesta perpisahan untuk kelak sebagai kenang-kenangan bagi mereka. Setidaknya sisa waktunya tentu akan dihabiskan untuk sekedar bercakap-cakap dengan Tuhan yang sudah lama ia lupakan. Tapi yakinlah, di sisi hatinya yang paling dalam masih menyimpan semacam kepercayaan itu.
           

25 Sep 2012

Lampu Merah


 Harusnya aku berbelok ke kiri saja begitu melewati lampu merah di pertigaan jalan tadi. Mengambil arah kiri akan lebih dekat sampai ke rumah, tapi sewaktu-waktu ada razia—kadang sampai jauh malam. Berbahaya buatku yang tak memiliki surat-surat kendaraan yang lengkap. Aku memilih memacu motor lurus ke depan. Menjelang perempatan, jalanan tampak kosong. Gerimis jatuh satu-satu. Toko-toko yang kulewati sudah dari tadi tutup. Rasanya aku seperti melewati kota yang sudah lama ditinggalkan.

7 Apr 2012

Mata Kucing


“Kau tahu apa yang aku rasakan?" Matanya yang suram menatapku dengan tajam. Aku tak bisa berkata-kata, meski banyak yang ingin kukatakan. Aku ingin melompat dan membiarkan ia menangis dalam pelukku. 
 
“Tidak, tidak. Kau tidak akan mengerti." Dia menggelengkan kepala, mengalihkan pandangan ke jendela yang terbuka. Sore bergerak dengan lambat. Ia mengusap anak-anak rambutnya setengah putus asa. “Aku terlampau kesepian dan larut dalam kenangan." 

Aku ingin menjerit sekuat-kuatnya, menolak takdir yang dibebankan kepada kami.

31 Mar 2012

Jangan Berangkat di Hari Selasa

BEGITULAH. Inis yang sudah lama menghilang kini kembali ke rumah. Semua orang meributkan kejadian itu. Kedatangan dan kepergiannya sungguh jauh berbeda, bagai langit dan bumi. Dulu ia pergi dengan keadaan paling murung dan dikutuk banyak orang: melompat jendela, di hari Selasa, di tengah malam pula. Kini dia pulang dengan kesempurnaan seorang wanita. Cantik dan kaya.

"Berubah sekali dia tampaknya. Jengatnya putih berkilat, gelang dan kalung bergelantungan di badannya. Senang benar tampaknya hidup dia," kata Mak Tando pagi itu di kedai Guru Abek sambil mengunyah lontong gulai cubadak. Lepau itu tampak ramai sepagi ini, oleh orang tua dan gadis muda.

1 Mei 2011

Kisah Seruas Jalan

Jalan Utama
Saya ingin memposting ini sebagai peleps ingatan saya atas kampung halaman.
 

Kisah Seruas Jalan
Indrian Koto & Sunlie Thomas Alexander 
Jalan Pembuka
Begini mula-mula, kami seringkali berebutan jika bicara masa lalu yang lekang di ingatan. Mulai dari jenis mainan, kebiasaan ketika pulang sekolah, buku yang kami baca, hingga jalan-jalan yang menempel di kepala. Meski kami tinggal tidak satu kota, usia yang relatif berbeda dan memiliki perbedaan latar budaya, kami merasa sepakat, ada banyak persamaan di antara kami menghabiskan waktu di masa kecil.
      Setiap kali membicarakan masa lalu, kami seperi sedang reuni, seolah lawan dan teman main. Kami merasa samsa-sama mengumpulkan kertas rokok, lidi korek api, dan memainkan gambar umbul. Rasanya kami teman yang sama ketika bergerombol di rumah tetangga menonton televisi. Kami seperti kawan seperjalanan yang berombongan naik sepeda di sore hari atau di hari minggu yang cerah. Menjelajahi jalan-jalan bersimpang hingga jalan-jalan tikus dan merasa kami adalah penakluk dunia.
      Entah siapa di antara kami yang punya ide mengenai ini. Kami menuliskan bagian-bagian yang lekat di ingatan dan di mulai dari jalan. Dengan begitu, kami merasa akan mendapat porsi yang sama dalam bercerita. Di mulai dari jalan-jalan yang lekat di ingatan, siapa tahu, kelak kami akan sampai pada ceritera-ceritera yang lain pula. 

14 Okt 2008

Catatan Pembunuh

Prolog: tadinya saya mau posting foto-foto semacam narsisme bahwa saya pernah keluar Yogya juga. tapi tiba-tiba yang terjadi saya malah menulis ini. aduh...
Sebelum Ajal
(Catatan Seorang pembunuh)

Dari dulu aku tak pernah sangsi dengan mati. Bagiku ia niscaya. Dalam hidup berkali-kali aku berhadapan dengan maut, berkali pula aku terselamatkan olehnya. Aku percaya, sebelum ajal, sebelum Tuhan berhendak, tak akan nyawa ini pergi.
Aku menyadari setiap pekerjaan memiliki resiko yang berbeda. Ketika aku memilih pekerjaan ini, aku paham betul kemungkinan dan segala konsekwensinya. Apa yang kudapat kini, sudah terpikir sebelumnya. Aku telah membunuh, sebentar lagi aku juga akan dibunuh. Sebuah konsekuensi logis yang harus kuterima. Tapi percayalah, membunuh bukanlah pekerjaan sederhana. Dan aku, sebagai manusia biasa, dalam hal-hal wajar aku akan menolaknya. Tetapi selalu ada hal-hal yang muncul di luar kesadaran. Aku meyakini itu, bahwa apa yang dianggap baik, bisa jadi sesuatu yang buruk.
Dan aku memutuskan untuk membunuh sebagai bentuk pernyataan diri. Siapa dan untuk apa aku membunuh bukan lagi menjadi soal dan tak perlu kutulis di sini. Aku ingin mengatakan apa yang diyakini sekelompok orang bisa jadi ditolak sekolompok lainnya. Kebenaran relatif sifatnya dan kurasa tak perlu diperdebatkan. Sekali lagi kukatakan, dalam hal-hal normal, membunuh adalah tindakan biadab dan aku betul-betul meyakininya sampai hari ini. Menjadi pembunuh dan untuk dibunuh bukanlah sebuah cita-cita.
Aku telah membunuh, semua orang tahu itu dan tak perlu lagi kusembunyikan. Kenapa dan untuk apa aku membunuh bukanlah sebuah retorika dan perlu analisis. Aku membunuh karena aku menginginkannya, apakah itu bukan sebuah konsesi logis? Tak sesederhana itu memang, tetapi bukankah kebenaran bagi satu orang—semacam saya—bukanlah kebenaran bagi yang lain? Saya tak percaya dengan hitam-putih. Semua berasal dari satu warna saja. Hitam atau pun putih. Kebenaran adalah milik semua pihak, dan kesalahan merupakan tanggungjawab keduanya. Tanpa api tak akan ada asap.
Di tempat mana pun, apa yang sudah aku lakukan—membunuh dengan rencana matang dan kesadaran penuh—adalah pekerjaan bejad dan tak layak dilakukan. Alasan bagiku tak lagi penting; apakah seseorang berada dalam kondisi terjepit atau dalam keadaan perang. Membunuh bisa dilakukan kapan saja dalam situasi apa saja, sekaligus bisa ditolak kapan saja, dalam keadaan apa saja. Tetapi membunuh adalah membunuh, menyudahi hidup seseorang—atau banyak orang.
Pembunuh adalah perantara malaikat maut.
***
Aku begitu pasti, sebentar lagi aku akan sampai di ujung kehidupan. Aku akan mati, sebagaimana mereka yang pernah saya antar ke sana. Sebagai orang beragama, saya percaya akan adanya hari akhir.
Setiap orang memiliki keyakinan masing-masing. Mereka boleh saja mengutukku, memintaku untuk segera dilenyapkan. Tapi pahamkah mereka, dengan melenyapkanku, peristiwa lampau tak akan bisa dikembalikan? Hakikat manusia dipenuhi dendam. Bagi mereka, dengan menyudahiku semua akan selesai. Tentu mereka berdoa dan berharap aku ditempatkan di neraka yang paling nista.
Begitulah adanya. Aku mencium bau maut begitu santer. Orang-orang mempercakapkanku tanpa ampun seolah Tuhan yang akan menyelesaikan semua riwayatku.
Tapi baiklah, jika kematianku ini yang ditunggu, jika bisa menyelesaikan banyak hal, meski—bagi mereka—tidak dosa-dosaku, baiklah. Aku telah siap dieksekusi. Dari dulu malah, dari awal ketika aku melakukan kejahatan sebagaimana yang mereka pikirkan aku sudah menyadari resiko ini.
Aku bisa menghitung sisa usiaku. Kau tahu, menghitung usia sendiri, mengetahui jadwal mati bukanlah menyenangkan. Tapi apa yang tidak mendebarkan dalam hidup?
***
“Aku minta digantung di alun-alun kota, biar semua orang bisa melihat kematianku.”
Hanya itu permintaan terakhirku.
Mereka pikir ini main-main? Tidak ada mati yang tidak serius, tidak ada mati yang tidak disiapkan. Jika aku bisa mengetahui kapan kematian mendatangiku, kenapa pula aku tak bisa meminta tempat dan menentukan caranya?
Selalu ada unsur politik menjelang pemilu ini. Orang-orang menyeretku dalam setiap pembicaraan untuk tujuan-tujuan yang telah dipolitisir. Dan kematianku, untuk mengantarku pada malaikat maut dan memelintir peristiwa yang berhubungan denganku mereka harap akan mendongkrak nama mereka.
Aku hanya ingin digantung di alun-alun kota. Kenapa kalian begitu payah mengabulkan permintaan ini? Kalian tak ingin dianggap kejam, memeperlihatkan kematian di hadapan banyak orang? Omong kosong itu semua, kalian kira mati oleh peluru, di penggal dengan pedang, dibius sampai mati tidak sama kejamnya?
Aku punya alasan untuk itu. Aku ingin semua orang menyaksikan kematianku agar ada hikmah yang bsia diambil dari ini semua. Bukankah kebenaran itu relatif? Bukan untuk mencari simpati jika aku menginginkan ini. Aku mau, jika nanti aku mati, kalian paham, ini tak boleh diulangi lagi. Agar anak-anak muda tidak meniru tingkah saya. Agar kalian percaya kematianku tidak sedang dipolitisir.
Dan aku minta, siang ini, di alun-alun kota kalian mulai eksekusi ini. aku capek menduga-duga maut. Penundaan adalah kematian lain bagiku yang hanya bisa menunggu.

Yogyakarta, 2008

13 Agu 2007

Abak, dalam Ingatan

kupikir, agustus ini diriku sedang tidak merdeka:


Akhir-akhir ini aku sering ingat Abak. Barangkali karena sudah lama kami tidak bertemu dan kini aku merindukannya. Aku bayang-bayangkan wajahnya yang semakin hari semakin kurus itu, yang bersisa di wajahnya dan tak berubah tentu hanya kumis tebalnya yang kini barangkali pula sudah putih semua. Rambutnya juga. Aih, waktu empat tahun tentu telah merubah banyak tubuhnya. Kulitnya tentu tidak lagi sekencang dulu, banyak kerutannya, urat-urat membentang sepanjang lajur kaki dan tangannya. Bibirnya semakin hitam dan memucat. Tidak, aku tidak tega membayangkan Abak dengan wajah seperti itu.

22 Des 2006

Cerpen Perempuan senja


Perempuan itu selalu muncul saat di mana siang merasa kalah. Tepat ketika matahari mulai tenggelam dan segalanya berwarna hitam. Dia hadir begitu saja dari ujung cakrawala. Sesekali dia muncul di antara barisan burung camar dan gumpalan awan. Tak jarang dia hadir ketika sampan-sampan nelayan bersandar di bawah pohon ketapang. Barangkali juga dia tercipta dari butiran pasir dan buih-buih.

Perempuan yang merindukan Hujan di Malam yang Lain


SORE jatuh di ujung gedung, digantikan senja yang temaram. Segera, malam menaburkan kegelapan yang paling kelam. Langit menyajikan sekeping bulan yang patah--serupa goresan luka kecil pada wajah. Bintang bertebar di pipi malam, mewartakan batas langit dari ketinggian.

cerpen kampung bunian

KABIN tahu betul hukum rimba banyak pantangnya. Sebagai orang yang mengenal seluk beluk hutan dan terbiasa hidup merimba, toh dia bisa juga tak tahu jalan pulang.
Dalam hutan begini, apa pun bisa terjadi, kalau tak inyiak balang, mungkin saja ular besar yang bergelantungan. Maut mengintai kapan saja.

Rama-rama yang Hinggap di Jendela

Bermula dari seekor rama-rama yang hinggap di jendela rumah. Sejak sore gerimis itu Ibu tampak banyak melamun dan mengunci diri di dalam kamar. Bukan itu saja. Sejak sore celaka itu juga, Ibu jarang sekali bicara. Kalau pun beliau duduk di meja makan, tak lebih dari sekedar menemani kami saja. Kalaupun bicara melulu soal ayah yang akan membuat matanya basah.