6 Apr 2019

Salah Lirik




Setiap kali menonton atau mendengar OST Adit Sopo Jarwo yang ditonton anak saya, saya merasa aneh denga lirik lagu yang terdengar. “Armand Maulana kok gitu banget ya nyari rimanya.” Suatu kali keluar juga ucapan itu di depan istri.

“Kenapa dengan liriknya?”

“Itu bunyinya aneh. Ayo berani, jangan berhenti kita baimimpi. Itu maksudnya bermimpi kan? Kok bunyinya kayak baimimpi.”

29 Mar 2019

Kisah Penulis Muda (3)



5. Pada Sebuah petang


            Syahdan, pada sebuah petang yang cerah, seorang mahasiswa yang didera deadline skripsi mengunjungi seorang cerpenis. Untuk mempermudah saja, kita sebut saja pemuda itu bernama Reddy dan sang cerpenis kita panggil dengan nama Sunlie. Mereka sudah janjian sebelumnya.
            Dua orang tampan akan bertemu. Senja merunduk malu-malu. Reddy mahasiswa yang ketampanannya membuat ia demikian betah di kampus, dan Sunlie berkat ketampanan pula bertahan sebagai penulis. Tak usah diperdebatkan, orang kedua yang saya sebut, setidaknya merasa nyaman jika ditulis demikian.
          

23 Mar 2019

Eswe & kicot: Festival

 
Eswe datang sambil mendorong motor saat Kicot sedang duduk di teras rumah kontrakannya. Sore hampir masuk, tapi karena langit mendung suasana masih berasa pagi saja. Segelas kopi masih mengepul dan setumpuk buku di samping Kicot dan seplastik tembakau lintingan.
Eswe mengomel sambil memarkir motornya di halaman yang sempit. “Uasyu, bensinku entek...”
“Lah bensin habis kok malah didorong ke sini?” sambut Kicot yang sedang duduk di pojokan teras. Ia sudah menduga jawaban Eswe.
“Pinjam duitmu dulu, ya. Aku gak bawa dompet.” Eswe tersenyum, Kicot mesem. “Nanti aja. Aku ndak buru-buru kok.”

16 Mar 2019

Berita dan Salah kaprah





Peristiwa berdarah yang terjadi di Selandia Baru itu menjadi lebih personal buat saya, sepertinya juga keluarga saya di kampung.

Sebelum saya bercerita, saya mengucapkan turut berduka sedalam-dalamnya atas kasus penembakan di dua masjid kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat, 15 Maret 2019 kemarin. Pasca kejadian, selain duka dan sesal, tersisa harapan-harapan akan kerukunan, toleransi, kedamaian dunia. Teror, atas nama apa pun, dilakukan oleh siapa dan kelompok apa pun, tetaplah sebuah teror.

17 Feb 2018

Kisah Penulis Muda (2)


3. Masnya penulis juga ya?
Sehabis acara diskusi buku, Tamu Kita, sastrawan dari luar kota itu, diajak berkumpul sama teman-teman mudanya. Mereka pindah obrolan ke warung kopi.
            Sastrawan kita yang dari Jakarta ini sangat antusias bercerita, bukan soal sastra, tentu saja. Tema-tema lain jauh lebih asoy, mulai dari kopi, daging, hingga cara menggaet perempuan. Para cerpenis dan penyair muda kita yang lain sibuk mendengarkan, mengomentari dan memperdebatkan. 
            Lalu muncul seorang anak muda, menghampiri kawan-kawannya yang ada di sana. Si anak muda itu tidak tahu kalau Tamu Kita habis diskusi bukunya.  Dia juga gak kenal Tamu Kita ini siapa. Dia kebetulan mampir karena ada kawannya yang menyuruh datang ke sini. Biasalah sesama penulis muda saling menjenguk, saling berbagi bualan.

10 Feb 2018

Kisah Penulis Muda (1)



1. Percakapan Penyair Seasal
“Kamu dari SMA mana?” Setelah agak lama saling berdiam diri, Bhea Gronjol bertanya. “Oh, ya namamu siapa tadi.”
            Gagah betul. Penuh percaya diri, begini seharusnya penulis itu, Randhy Bangkin terkagum dalam hati.
            “Randhy. Randhy Bangkin. SMA 2 Sungaikeras. Angkatan 2008.”
            “Wah SMA 2 Sungaikeras. Aku pernah tuh punya pacar juga di sana. Sekira tahun 2009.”
            “Oh ya, siapa namanya?”

5 Feb 2018

Status FB


Jadi gini, para penulis kita seringkali tingkahnya memuakkan. Ambil saja contoh seorang kawan penulis yang bisa diambil pelajaran. BTW, saya sudah diiblokir orangnya.

Hal-hal  buruk dalam hidup kawan kita ini terdokumentasi  cukup dramatis di status-status facebooknya. Sebenarnya semua status facebooknya bernada suram. Belakangan ini cukup intens keluh kesahnya hadir di beranda. Resikonya tentu saja bisa dibaca, beberapa orang ada yang unfollow dan tak sedikit pula yang memblokir. Masalahnya, di balik status dramatik semangatnya untuk menampilkan diri sendiri tetap mencolok.

Ambil saja contoh secara acak dari 8 statusnya 2 hari belakangan. Dalam dua hari:

23 Jan 2018

Aku, Komunitas dan Sastra


Aku, Komunitas dan Sastra

Asalamualaikum w...w...
            Kawan-kawan dan para hadirin yang saya hormati,
            Saya berasal dari desa kecil di sebuah kabupaten tertinggal di pesisir bagian selatan  kota Padang. Dari kota provinsi perjalanan naik turun bukit dengan pantai di bagian barat, gunung di bagian timur. Jalan satu-satunya yang menghubungkan kabupaten kami dengan kota provinsi di utara, Jambi dan Bengkulu di bagian selatan. Jalan kecil yang membelah kampung kami disebut jalan Lintas Barat. Berlubang, sempit dan diperbaiki menjelang lebaran. Di kilometer 120 dari jalur hampir sejauh 240 km inilah saya tinggal. Rumah saya di pinggir jalan raya, menghadap pantai, sawah dan pegunungan di bagian belakang.
Di tengah ruang demografis semacam itu perhatian kami terhadap bacaan sangat terbatas. Aksesnya apalagi. Koran ada, hanya di antar ke kantor-kantor pemerintah. Saya sudah menyukai buku sejak kecil. Hari minggu, adalah hari pasar di kampung kami, saya selalu berharap bisa ke pasar untuk membeli majalah. Satu-satunya gerai buku di dua kecamatan di daerah kami. Saya pernah punya koleksi buku satu lemari kayu, yang dikumpulkan sendiri yang menjadi referensi pula bagi teman-teman sekampung saya, terutama remaja putri.

Pledoi Malin Kundang: Deret Puisi Lirik dalam Tiga Latar


Pledoi Malin Kundang: Deret Puisi Lirik dalam Tiga Latar 
~Cep Subhan KM.

Pledoi Malin Kundang adalah antologi puisi yang bagus sejak dalam tampilan. Tebal 76 halaman ditambah halaman daftar isi di bagian awal dan satu halaman biografi singkat penyair, Indrian Koto, di bagian akhir adalah ketebalan yang pas untuk buku puisi. Ditambah lagi dengan kover yang menawan dan ukuran buku yang 13 x 19 senti: sebuah buku puisi yang terlalu besar akan membuatnya seperti kitab sejarah, sebuah buku puisi yang terlalu kecil akan membuatnya seperti buku doa-doa.

24 Sep 2016

Novel Martin


Kiat Sukses Hancur Lebur menurut saya bukan buku yang harus habis dibaca sampai selesai, kemudian menemukan sesuatu di belakangnya. Harapan pembaca akan terlonjak di akhir bacaan, membanting ke lantai, mencecap lidah, butuh seteguk minum untuk akhirnya keterpesonaannya pecah dalam satu kata: "Gila!".

Keterpesonaan itu justru muncul di bab-bab awal, pengantar, daftar isi dan bab pertama. Pengantar yang ganjil, judul yang tak masuk akal, dan kalimat serta struktur sejak bab awal sudah tidak benar. Selebihnya kita dijebak pada keterpesonaan tadi, pada akhirnya di dua bab selanjutnya saya menyerah, "tai, apa ini?"