17 Feb 2018

Kisah Penulis Muda (2)


3. Masnya penulis juga ya?
Sehabis acara diskusi buku, Tamu Kita, sastrawan dari luar kota itu, diajak berkumpul sama teman-teman mudanya. Mereka pindah obrolan ke warung kopi.
            Sastrawan kita yang dari Jakarta ini sangat antusias bercerita, bukan soal sastra, tentu saja. Tema-tema lain jauh lebih asoy, mulai dari kopi, daging, hingga cara menggaet perempuan. Para cerpenis dan penyair muda kita yang lain sibuk mendengarkan, mengomentari dan memperdebatkan. 
            Lalu muncul seorang anak muda, menghampiri kawan-kawannya yang ada di sana. Si anak muda itu tidak tahu kalau Tamu Kita habis diskusi bukunya.  Dia juga gak kenal Tamu Kita ini siapa. Dia kebetulan mampir karena ada kawannya yang menyuruh datang ke sini. Biasalah sesama penulis muda saling menjenguk, saling berbagi bualan.

10 Feb 2018

Kisah Penulis Muda (1)



1. Percakapan Penyair Seasal
“Kamu dari SMA mana?” Setelah agak lama saling berdiam diri, Bhea Gronjol bertanya. “Oh, ya namamu siapa tadi.”
            Gagah betul. Penuh percaya diri, begini seharusnya penulis itu, Randhy Bangkin terkagum dalam hati.
            “Randhy. Randhy Bangkin. SMA 2 Sungaikeras. Angkatan 2008.”
            “Wah SMA 2 Sungaikeras. Aku pernah tuh punya pacar juga di sana. Sekira tahun 2009.”
            “Oh ya, siapa namanya?”

5 Feb 2018

Status FB


Jadi gini, para penulis kita seringkali tingkahnya memuakkan. Ambil saja contoh seorang kawan penulis yang bisa diambil pelajaran. BTW, saya sudah diiblokir orangnya.

Hal-hal  buruk dalam hidup kawan kita ini terdokumentasi  cukup dramatis di status-status facebooknya. Sebenarnya semua status facebooknya bernada suram. Belakangan ini cukup intens keluh kesahnya hadir di beranda. Resikonya tentu saja bisa dibaca, beberapa orang ada yang unfollow dan tak sedikit pula yang memblokir. Masalahnya, di balik status dramatik semangatnya untuk menampilkan diri sendiri tetap mencolok.

Ambil saja contoh secara acak dari 8 statusnya 2 hari belakangan. Dalam dua hari:

23 Jan 2018

Aku, Komunitas dan Sastra


Aku, Komunitas dan Sastra

Asalamualaikum w...w...
            Kawan-kawan dan para hadirin yang saya hormati,
            Saya berasal dari desa kecil di sebuah kabupaten tertinggal di pesisir bagian selatan  kota Padang. Dari kota provinsi perjalanan naik turun bukit dengan pantai di bagian barat, gunung di bagian timur. Jalan satu-satunya yang menghubungkan kabupaten kami dengan kota provinsi di utara, Jambi dan Bengkulu di bagian selatan. Jalan kecil yang membelah kampung kami disebut jalan Lintas Barat. Berlubang, sempit dan diperbaiki menjelang lebaran. Di kilometer 120 dari jalur hampir sejauh 240 km inilah saya tinggal. Rumah saya di pinggir jalan raya, menghadap pantai, sawah dan pegunungan di bagian belakang.
Di tengah ruang demografis semacam itu perhatian kami terhadap bacaan sangat terbatas. Aksesnya apalagi. Koran ada, hanya di antar ke kantor-kantor pemerintah. Saya sudah menyukai buku sejak kecil. Hari minggu, adalah hari pasar di kampung kami, saya selalu berharap bisa ke pasar untuk membeli majalah. Satu-satunya gerai buku di dua kecamatan di daerah kami. Saya pernah punya koleksi buku satu lemari kayu, yang dikumpulkan sendiri yang menjadi referensi pula bagi teman-teman sekampung saya, terutama remaja putri.

Pledoi Malin Kundang: Deret Puisi Lirik dalam Tiga Latar


Pledoi Malin Kundang: Deret Puisi Lirik dalam Tiga Latar 
~Cep Subhan KM.

Pledoi Malin Kundang adalah antologi puisi yang bagus sejak dalam tampilan. Tebal 76 halaman ditambah halaman daftar isi di bagian awal dan satu halaman biografi singkat penyair, Indrian Koto, di bagian akhir adalah ketebalan yang pas untuk buku puisi. Ditambah lagi dengan kover yang menawan dan ukuran buku yang 13 x 19 senti: sebuah buku puisi yang terlalu besar akan membuatnya seperti kitab sejarah, sebuah buku puisi yang terlalu kecil akan membuatnya seperti buku doa-doa.

24 Sep 2016

Novel Martin


Kiat Sukses Hancur Lebur menurut saya bukan buku yang harus habis dibaca sampai selesai, kemudian menemukan sesuatu di belakangnya. Harapan pembaca akan terlonjak di akhir bacaan, membanting ke lantai, mencecap lidah, butuh seteguk minum untuk akhirnya keterpesonaannya pecah dalam satu kata: "Gila!".

Keterpesonaan itu justru muncul di bab-bab awal, pengantar, daftar isi dan bab pertama. Pengantar yang ganjil, judul yang tak masuk akal, dan kalimat serta struktur sejak bab awal sudah tidak benar. Selebihnya kita dijebak pada keterpesonaan tadi, pada akhirnya di dua bab selanjutnya saya menyerah, "tai, apa ini?"

5 Mei 2016

Horor di Masa Kecil



Mungkin kau perlu merasakan  langsung untuk tahu sensasi apa yang kurasakan saat kejadian yang akan kuceritakan ini terjadi. Pengalaman itu kan sensasinya orang-perorang ya. Pengalaman Irwan Bajang menulis cerita untuk serem mojok.co memang cukup berani, tapi tak terlalu mengerikan, namun tetap patut ditertawakan. Tapi buat dia tentulah seseram-seramnya pengalaman. Resolusi tahun 2016 saya adalah: mempertahankan durasi menggunjing, mempertebal kadar ejekan. Maka tinggalkan dulu Bajang, selamanya pun tak apa.

22 Okt 2015

Ketika Rinai Sakit



Ketika Rinai Sakit

ketika rinai sakit
air di mana-mana, di luar basah
di dalam diri kami juga basah

ketika rinai sakit
kami memasuki tenda pengungsian
orang-orang yang selamat dari jerat ajal
kapal karam, sisa mesiu dan asap di mana-mana
kesedihan kami adalah kesedihan mereka
yang kehilangan rumah, kehilangan anggota tubuh
kehilangan ladang, kehilangan keluarga
kehilangan masa lalu, dan jalan pulang

ketika rinai tak berhenti sakit
air mata kami adalah airmata ia yang disiksa majikannya
perempuan yang dirampas kehormatannya,
keluh kesah pasien rumah sakit yang jemu dan cemas

ketika rinai sakit
hutan terus dibakar, gedung terus dibangun
gerimis kecil ini tak mampu jadi penawar
berhektar lahan yang diludahi api,
penghapus debu di jalan berlubang
kesedihan yang diulang sepanjang tahun

rinai masih sakit
kesedihan kami adalah kesedihan sebuah bangsa
yang dikepung perang dari luar dan dalam tubuhnya sendiri

ketika rinai sakit
kami merindukan hujan sekali jatuh
menghapus api, melindapkan debu, memadamkan amarah
dan menghentikan kesedihan republik ini

2015

8 Jun 2015

Pura-puranya Wawancara

Saya diwawancara oleh Nabila Budayana, teman cerita di grop whatapp JBS untuk dimuat di web Alenia TV. Sudah lama sekali. Tiba-tiba, saya ingin memposting ini. Pertama untuk dokumentasi di blog pribadi, kedua biar ada tulisan di blog. Itu saja. Berikut saya kutipkanbulat-bulat dari postingannya.

Musik Minang


Pagi ini saya cukup terhenyak ketika mencari lagu untuk menidurkan anak saya, saya memilih lagu minang "Ampun Mandeh" di Youtube. Saya menyukai suara Ria Amelia menyanyikan lagu ini. Dari tautan itu, saya dihantar pada sebuah kejutan manis. Anak saya sudah tertidur, saya masih mencobai beberapa lagu.