Isi Pelabuhan

Jumat, Januari 20, 2012

Koruptor Dibakar dan Digebuk Massa, di telanjangi, Kuku Dicabut, Jari Diinjak, Di Sundul Rokok, Mati di Sel, ....



 Sudah saatnya koruptor dianggap sebagai tindak kriminal yang layak masuk Meteor, Merapi, Pos Kota, Lampu Hujau dan koran kuning apa pun di negeri ini, dengan narasi dan foto2 yang 'berani'. Sudah saatnya koruptor masuk buser, patroli dan berita kriminal sejenis di televisi. Kita memperlakukan koruptor terlalu wah, menempatkannya dalam isu politik dan hukum, menjadikannya headline di sejumlah media bercampur dengan peristiwa politik, sosial, bencana dan semacamnya.

Selasa, Januari 17, 2012

Kontrakan


Jika pergi ke suatu tempat, saya selalu berpikir akan kembali ke sana dan memiliki dan memiliki sebuah rumah. Di sebuah kota asing, di tempat yang baru, ada pintu yang bisa dimasuki, sungguh betapa nyamannya. Saya orang yang setia, sungguh. Jika pun saya mengatakan ada rumah untuk pulang. emiliki banyak rumah seperti memiliki banyak tempat untuk sembunyi. Saya tidak muluk-muluk, saya tahu harga tanah yang selangit. Rumah yang saya maksudkan, tentu rumah yang saya kontrak dan bisa diperbarui setiap tahun.

Senin, Januari 09, 2012

Mengenang Seorang Kawan: Afris Irwan


 Afris Irwan namanya, saya diperkenalkan oleh Dwi Cipta yang datang suatu malam ke kosku. Mereka datang bertiga, tak biasanya, seperti sekawanan maling. Ketiganya tampak begitu menyeramkan dan mata saya, sarat dengan pengetahuan mengetahui seluruh dunia dan seisinya. Dwi Cipta memperkenalkan dua rekannya, yang kemudian selalu mengiringinya ke mana-mana yang saat itu adalah calon presiden yang harus diurusi oleh sekelompok paskompres. Mereka berdua inilah. 

Senin, Januari 02, 2012

Tahun Baru, resolusi Lama

Nyuri dari Caca Kartiwa

Agak telat memang, tapi tak ada salahnya kalau saya bilang, buat kalian yang sempat berpesta di akhir Desember kemarin, selamat tahun baru.

Semoga tahun ini benar-benar baru dan banyak hal baru yang bisa kita temukan di tahun ini. Semoga tahun ini, rencana-rencana yang disusun, target-target yang sudah diatur bisa terlaksana dengan semestinya. Ada banyak yang ingin saya tulis di akhir tahun kemarin, bisa renungan di tahun-tahun kemarin, harapan di tahun ini, hal-hal geli dan menyedihkan dan sebagainya.

Mungkin karena pengaruh tahun baru, maka saat ini izinkanlah bisara begini:

Minggu, Desember 25, 2011

Facebook dan Kematian



Beberapa minggu yang lalu saya melihat dinding seseorang yang menjadi teman di facebook. Kami sepertinya tak saling kenal. Saya memperhatikan dindingnya yang masih bersisa ungkapan kerinduan. Aku baru sadar pemilik ‘rumah’ itu telah meninggal. Usianya masih muda.  Aku mencari-cari ke bawah, beberapa sapaan akrab, penuh rindu masih ada bersisa di situ. Beberapa sapaan seorang gadis makin ke bawah kulihat semakin banyak. Tepat, November 2009 dia meninggal dan kau tahu gadis itu pacar almarhum. Status terakhir almarhum menyebut soal waktu pernikahan mereka dengan menyebut tanggal setahun ke depan dan mengatakan “Mulai sekarang, waktu berjalan mundur.”

Itu dia tulis malam hari, siangnya ia kecelakaan dan koma selama lima hari. Tulisan itu sekaligus sebagai ‘pertanda’ kepergiannya. Saya lihat facebook sang pacar yang tak berteman dengan saya: ia memakai pakaian pengantin, beberapa bulan lalu baru menikah.

Rabu, Desember 21, 2011

The Illusionist: Seperti Badut Pasar Malam

Tanggal Rilis : 16 June 2010 (Belgium)
Jenis Film : Animation | Comedy | Drama
Diperankan Oleh : Jean-Claude Donda, Eilidh Rankin and Duncan MacNeil


Secara umum beginilah seharusnya saya bercerita tentang film The Illusionist yang dalam bahasa Aslinya di Belgia sana judul aslinya adalah: L’ILLUSIONNIST. resensi ini saya curi di downloadfilm.com. Yang saya kutip adalah yang bertanda miring.  


Pertemuan antara The Illusionist (Jean-Claude Donda) dan Alice (Eilidh Rankin) memang tak pernah direncanakan. Namun pertemuan ini juga yang telah mengubah hidup Sang Ilusionis yang semula sudah tak berarti lagi. Sejak bertemu Alice pula Sang Ilusionis seolah kembali menemukan makna hidupnya.

Senin, Desember 19, 2011

(Sekali Lagi) Pilem Horor Indonesia


Saya kira saya akan kapok nonton pilem-pilem horor Indonesia yang terus diproduksi tahun-tahun terakhir. Entah kenapa, godaan untuk tahu dan berharap yang ini akan berbeda dengan yang sebelumnya memperkuat keinginan saya. Hal lain adalah, saya mencintai produksi dalam negeri dan berharap ia memberikan sesuatu yang baik untuk saya.

Berikut beberapa pilem yang saya tonton belakangan ini. Pilem-pilem yang saya dapatkan di warnet ini, memang banyak bertema horor. Dan saya lihat belakangan K2K memproduksi makin banyak pilem horor dengan pemain yang terbatas, dan naskah yang seolah hanya punya garis besarnya saja. Artinya, posisi naskah sangat renggang dan goyang, serupa improvisasi di komedi OVJ. Beberapa pemain bisa saja dihilangkan atau ditambahkan sedemikian rupa. Beberapa naskah, seperti yang saya tulis diresensi sebelumnya, diambil, minimal inspirasi ceritanya dari pilem-pilem yang dianggap bagus menurut selera mereka. Seting cerita diganti menjadi Indonesia dengan persoalan yang harapannya sangat lokal, tapi sangat tidak Indonesia.

Saya heran, kenapa pula saya bikin-bikin pengantar semacam ini. Baiknya kita lihat saja pilem-pilem berikut ini:

Minggu, Desember 11, 2011

Honor



1
Ungkapan klasik tentang “terimalah honor sebelum keringatmu mengering,” (emang ada filosofi macam begitu?) rasanya jauh dari dunia tulis-menulis, apalagi sastra, kacangan pula macam saya. Buku-buku sastra kalau pun diterbitkan belum tentu akan membuat si penulis memiliki anggaran untuk merancang liburan dari hasil penjualan. Beberapa penulis, memilih mempromosikan sendiri bukunya. Untuk yang ini pun nasibnya berbeda-beda. Nama dan siapa, menjadi demikian berharga. Penulis yang dianggap belum punya nama, meskipun karyanya bagus, tak bagus pula promosi, alamat lebih banyak memeras keringat, dibanding mereka yang sudah dikenal, pintar pula strategi dan pemasaran, selamatlah ia, nasibnya tak seburuk penulis kacangan kelas kampung dan namanya tak dikenal. Bah, kenapa karya kemudian menjadi pembicaraan paling akhir dalam dunia publikasi?

Senin, Desember 05, 2011

Rencana Lomba Rensensi Buku


Pengantar

Saya berjualan buku. Semula saya jualan di acara-acara sastra tertentu. Saya juga menjualnya secara online di blog jualan buku sastra serta membuat group di FB dan juga punya akun FB sendiri.

Tadinya saya hanya menjual buku-buku sastra yang memang saya punya stoknya. Buku-buku tersebut terutama terbitan Akar Indonesia dan Framepublishing. Selebihnya ada beberapa kawan yang ikut menitipkan bukunya maupun buku yang diterbitkan oleh mereka. jika boleh berencana, tahun 2012 nanti saya akan mencoba memperbaiki lapak, kontrak kerjasama setahap demi setahap.

Sejauh ini saya belum bisa benar-benar mengurus blog dan group FB (Jualan Buku Sastra) ini dengan profesional. Bahkan Facebooknya pun lebih sering menganggur. Saya hanya memfokuskan pada buku-buku yang ada dalam kardus di kamar saya. Pesanan-pesanan buku baik di group FB maupun SMS seringkali saya abaikan. Nah, ini salah satu bagian yang ingin saya rombak. Saya akan lebih bersedia untuk memperpanjang sayap dengan melakukan kerja sama dengan toko buku di shopping misalnya jika ada pesanan buku-buku tertentu.

Keinginan saya sebenarnya sederhana saja. Saya ingin menjual buku-buku sastra alternatif. Maka pesanan buku di group lebih banyak saya abaikan. Bisa saja saya melayani permintaan semua teman-teman yang mencari buku, selama buku itu masih bisa ditemukan di toko buku, ini yang mungkin akan saya lakukan di waktu-waktu ke depan. Bukan membiarkan juga sebenarnya, di group itu saya ingin memberikan kebebasan untuk kawan-kawan menjual dan membeli buku. Jika ada yang pesan, dan kebetulan ada kawan lain yang tahu buku tersebut, sebuah kerjasama telah terjalin antar teman-teman saya. Sementara saya bisa lebih fokus pada buku-buku yang memang susah dicari di toko buku. 

Senin, November 28, 2011

Apresiasi Terhadap Sastra(wan)



Ekspresi kemarahan masih terpancar di wajah teman saya ini. Ia merasa benar-benar gondok dan dibodohi. Ia baru saja diundang menjadi pengisi acara di sebuah kampus yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga kebudayaan. Bungkusan bermotif batuk kenang-kenangan dari panitia tersandar di sudut rak bukunya.

“Saya hanya diberi sebuah buku dan sertifikat sebagai pembicara,” ujarnya masih dengan ekspresi kemarahan. Saya bisa memaklumi kemarahan saya ini. Pasalnya, ia diundang secara resmi oleh lembaga tersebut untuk menjadi salah seorang pengisi acara bersama dua narasumber lain. Undangan itu bersifat formal, dan terlihat begitu profesional. Mereka mengirimkan proposal dan meminta kesediaan teman saya membikin makalah. “Saya memang tak membuat makalah. Tapi saya lihat makalah Afrizal Malna demikian tebal dan tentu digarap dengan serius.”

Senin, November 21, 2011

Tukang Sring

Saya tidak tahu kata yang benar untuk menunjukkan apa yang ingin saya ceritakan ini. Saya mendengarnya “sring”, namun dalam kamus bahasa Inggris imut warisan leluhur di kamar saya ada kata “string” dengan arti mengikat dengan tali, tali rami, tali gitar. Kata “sring” tak ada dalam kamus bahasa yang saya cari. Kata “string” sementara waktu lebih dekat dengan apa yang hendak saya maksud, namun karena saya lebih nyaman, maka saya akan menggunakan kata “sring” saja. Siapa tahu, anda, pembaca yang terhormat akan membantu saya mengungkapkan bahasa mana yang tepat sehingga saya bisa menggantinya dalam tulisan ini nanti. Bantulah saya. Bahasa asing itu seperti mantra buat saya: susah dirapalkan, susah pula untuk diingat.

Rabu, November 16, 2011

Skripsi

Bentar lagi nih, beneran deh..

Hampir dua tahun belakangan saya suka tegang dan stres membayangkan kuliah. Ketika ada teman mengajak main atau tidur di kosnya, ke luar kota, aku langsung berpikir, “skripsi neee…” Hanya sampai pada tegang dan stress. Tapi itu skripsi tetap saja tak diapa-apain.

Ingat usia men, ane sudah hampir 29 tahun. Kebayang gak kalau ke kampus ketemu sama abg-abg imut dan unyu-unyu itu. Rasanya menyesal dilahirkan buru-buru. Belum lagi ane tak bisa menyesuaikan dandanan dengan mereka. Kalau ane disuruh pake celana pensil, rambut diminyakin, pake parfum, atau baju dimasukkan ke dalam, alamak, ane lebih memilih makan di burjo tanpa bakwan aja deh.

Minggu, November 13, 2011

Pasangan




Sering kita mendengar—dari siapa dan dari mana itu tak penting—komentar tentang sebuah pasangan. “Si Anu dan si Itu kok aneh ya. Mereka suka begini lo…” Tak jarang pula komentar takjub bisa saja meluncur. “Ih, hebat ya si Nunu dan Nini. Mereka tuh kreatif banget..” Atau: “Saya dengar si Itu dan si Ini lagi bikin anu lo…” Di belakangnya selalu ada decak kagum dan kalimat-kalimat pujian seperti: hebat, dasyat, monumental, keren, ajaib, luar biasa, keren, mantap, inspiratif, maknyus, super. 

Rabu, November 02, 2011

Penghargaan Sastra Balai Bahasa Yogyakarta: Menyoal Penerbit dan Apresiasi Terhadap karya


Senin malam, 17 Oktober 2011 Balai Bahasa Yogyakarta memberikan penghargaan untuk kumpulan cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor. Dua nominasi lainnya adalah kumpulan cerpen Mata Blater karya Mahwi Air Tawar dan novel Dendam di Bumi Mangir karya Antonius Darmasto. Dalam rangkaian kegiatan itu juga diberikan penghargaan bahasa yang tidak ada pemenang. Tidak ada penghargaan terhadap penerbit seperti sebelumnya. Menurut panitia, hanya ada 15 buku sastra terbitan penerbit Yogyakarta yang masuk pada tahun ini. Pemberian hadiah ini dilangsungkan di Gedung Balai Pamungkas dengan konsep acara yang cukup padat.

Senin, Oktober 24, 2011

Ternyata...

Malam minggu ini saya nyasar di acara Jogja Java Carnaval yang diadakan di Alun-alun Utara Yogyakarta. Ternyata sejak sore seluruh kawasan sudah dipenuhi pengunjung, seluruh jalan menuju Malioboro ditutup. “Menyemut manusia di sini,” kata bapakku dengan bahasa dan dialek Lansano yang mantap.

Ketika kami akan pulang, ternyata ada dua orang kawan tuna netra yang berada di trotoar jalan yang lengang, agak jaga dari orang-orang. Saya memperhatikan. Bapak saya juga. Luar biasa rasanya, mereka pun ingin terlibat di keramaian, menikmati hiburan layaknya yang lain. Sebuah kenyataan yang membuat saya berpikir banyak. Mereka menonton dengan telinga dan terlihat sangat telaten. Padahal pertunjukan sejati tak mampu mereka pandang, bahkan para pengunjung lain pun tak sepenuhnya bisa menikmati dan menyaksikannya berbagai atraksi dan barang-barang yang diminiaturkan itu. Tapi barangkali mereka, dua kawan di trotoar itu, bisa merasakan pertunjukan tersebut dengan lebih hidup dan nyaman tanpa perlu berdesak-desakan dengan yang lain dan lebih sering hanya bisa menelan debu. Kurasa, mereka mendapatkan lebih dari apa yang kusaksikan sekarang.