6 Feb 2012

(Nyaris) Keliling Sumatera Barat (4): Dari Taratak ke Pandakian


Pengantar:
Fyuhh.. Setelah sekian lama saya harus melanjutkan cerita ini lagi. Gara-gara si Yuka nih.  Tapi buat Halaman Pantai apa sih yang enggak? Buat anda yang belum sempat baca cerita sebelumnya cari di sini, atau mau lihat episode 1, episode 2 dan episode 3.

Tapi rasanya cerita kali ini m,ain membosankan ya??

Bukit Taratak
            Kami tentu sangat kaget mendengar teriakan Komeng. Terutama Angga yang tidak tahu pangkal soalnya. Aku yang sedikit lebih tahu jadi tersenyum-senyum saja melihat Anton yang bersembunyi di belakang bangku. Ditambah lagi teriakan Komeng ke arah sebuah rumah. “Wit, Wiit, Abang Anton mau jalan-jalan…”

            Setelah mobil agak menjauh, Komeng tertawa nyaris guling-guling di bangku mobil. “Mampus. Hutang darah berbalas darah.” Kira-kira itulah yang hendak dia katakan.
            Angga yang masih tidak mengerti apa-apa tak kuat untuk tak bertanya.
            “Biasa Bang. Tadi itu rumah pacarnya Anton.”
            Kami pun tergelak. Anton mesem-mesem. Sekarang, sepertinya perut anak muda itu tak bisa kompromi. Dia bisa muntah kapan saja serta dalam kondisi apa pun. Dia menjadi demikian hati-hati, tertawa begitu dijaga, bergerak pun ia mesti mengatur ritme perutnya.
            Perjalanan terus berlanjut. Kami sampai di Pandakian, kampung kecil menjelang jalanan berbukit. Di sinilah dulu aku pernah tinggal. Pandakian merupakan kampung paling ujung, terletak di utara kecamatan Sutera. Setelah ini kita akan menemukan jalan menanjak, berliku dan agak terjal. Dulu kawasan sepanjang tempat ini kami sebut Bukit Taluk. Taluk merupakan desa pertama di kecamatan tetangga, Kecamatan Batang Kapas. Sementara di Taluk, nama bukit ini sering disebut Bukit Taratak, nama Kenagarian kami. Sungguh, sebuah toleransi yang luar biasa. Apakah karena kawasan ini tidak potensial? Ah, siapa bilang? Di sini terdapat kawasan wisata yang mulai dikembangkan namun agak merana yakni Nyiur Melambai. Tempat yang lain adalah sebuah belokan yang cukup gawat, dulu namanya Kelok Camin (Cermin) karena pernah dipasang cermin sebagai peringatan untuk pengendara yang ada di utara dan selatan jalan. Setiap sore tempat ini selalu ramai oleh dara-bujang untuk bersantai dan menikmati sunset. Dari sana pemandangan aduhai menanti anda. Di perbukitan, di kelokan curam itu berhentilah sejenak. Jika kepala ditolehkan ke selatan, hamparan pasir dan batu karang membuat anda terpana, apalagi jika beruntung bertemu penarik pukat, dan sampan-sampan tua mereka. sisanya perbukitan yang mempesona, tak lagi hijau memang, batu dan tanah liat menyembul di sana-sini. Di hadapan, Samudera Hindia membentang, beberapa pulau bisa menjadi penanda, Karabak Ketek, Karabak Gadang, tolehkan sedikit kepala ke utara, anda menikmati teluk yang dasyat. Sempurna. belilah segelas kopi atau minuman, Uni Si,er, pemilik warung, dengan pondok sekadarnya siap menemani anda bercerita sepanjang petang. Jika anda berani, apa salahnya mencoba turun ke batu karang di bawah sana. Asal jangan berdua dengan pasangan saja. 


            Dulu di kawasan bukit ini hanya ada beberapa rumah saja, namun sekarang sudah merupakan wilayah potensial dalam hal ekonomi dan bisnis. Nantilah saya ceritakan. Sementara kita baru sampai di Pendakian toh?
            Dulu di daerah memang tak seramai sekarang, meski pun tambahan rumah tak terlalu banyak. Dari Selatan, dekat sekolah saya itu, saya mengenal baik seluruh penghuninya. Di pinggir pantai agak jauh dari jalan ada Ijul, teman kami, anak pak Pire, yang dulu tinggal di sebelah sekolah kami. Berikutnya kumpulan 3-4 rumah yang markasnya di rumah Pak Bila Telong. Iral, dan dading, salah satu anak-anak mereka yang saya ingat. Di depannya kini sebuah surau tegak berdiri, setelah bertahun-tahun kampung ini kehilangan sebuah surau di pinggir pantai, merana, hancur dan ditinggalkan. Lalu hamparan pohon kelapa, di kiri pantai, di kanan ada gunung dan hamparan pohon pala serta sebuah kuburan Cina. Lalu rumah keluarga Izal, teman sekolah saya. Dua rumah, yang selalu menyenangkan bagi saya ketika sekolah. Matahari di sini baru muncul sebelum pukul delapan. Adem.
            Lalu kumpulan beberapa rumah lagi. Ada rumah Pak Gaek dan Mak Gaek, dan Guru Sibus. Di depannya ada dua rumah keluarga, di sebelahnya sebuah rumah keren dalam ingatan saya, rumah Ayek Iyai dengan dua lantai. selebihnya tanah kosong, pohon pisang dan batu karang. Ada pohon besar dulu di sini. Ada rumah, lalu kosong. Setelah itu ada rumah Uwan dan One. Dulu mereka buka warung makan untuk supir truk. One dan Uwan punya anak-anak yang cantik dan ganteng. Putih-putih, maklum mereka pindahan dari padang. Di depan, hamparan parak kelapa Ayek Udin. Dari jalan ini rumah saya akan kelihatan di pinggir ladang. Di parak Ayek Udin ini tinggal Mak Gaek dan Imul. Di depannya tinggal Ayek Nomi. Lalu kosong lagi, rumah Tek Si,ai, Etek Jani, rumah Uni Inis, rumah Uni Isum, dan rumah Mak Gaek dan anaknya Uni Si,er yang sekarang pindah ke Taluk. Di depan rumah mereka tinggal Pak Gaek Tujang. Lalu kosong. Sebuah buk, yang ada pohon jambu batu. Sawah. Di pinggir pantai tinggal Etek Pasa dan anak-anak mereka yang riang, Ijas dan Madi, teman bermain kami. Di sebelah kanan ada rumah Pak Gek Ripun, Bila Jalak, Katik Newe dan sejumlah rumah keluarga mereka. begitu kita mendaki, jika melongkok ke sebelah kiri akan ada rumah Mak Mak Gaek Piak Akang. Mereka punya beberapa anak yang pintar: ada Solihin, Dayat, Uni Mila dan Uni Ayang.  Lalu pendakian yang panjang.
Aku pernah tinggal lama di daerah ini. Kawasan ini agak lengang, terdiri dari beberapa rumah yang agak jarang-jarang dan di belakangnya ada laut dan di depan berhadapan langsung dengan bukit dan areal persawahan. Saya nyaris tujuh tahun, atau mungkin lebih tinggal di sini. Sejak saya belum sekolah hingga saya kelas dua SMP.
            Saya tinggal di kaki bukit. Untuk sampai ke rumah (kami menyebutnya pondok) yang ada di ladang, kita harus melewati hamparan sawah. Musim-musim hujan cukup menyiksa. Saya tak pernah memakai sepatu langsung dari rumah karena saya akan menginjak lumpur sawah. Untuk peristiwa-peristiwa masa kecil saya dan yang berkaitan dengan ladang ini mungkin akan saya kisahkan di waktu yang lain saja.
            Mobil mulai mendaki. Komeng bernyanyi-nyanyi kecil, senyum-senyum dan berkali-kali membetulkan rambutnya. Sementara Anton terhenyak dan bersandar di bangku, berusaha melupakan guncangan di perutnya. Angga sibuk menyetir.
            Pendakian ini dulu lumayan terkenal. Waktu aku mulai bisa bersepeda, aku sering mendorong sepeda ke puncak dan turun dengan melepaskan kedua tangan. Tentu berbahaya mengingat jalan yang kecil, jalur utama pula dan sepeda yang tak punya rem. Tapi waktu itu kan belum banyak kendaraan.
            Kami melewati beberapa rumah. Dari dulu rumah-rumah di sini tak berubah. Sebelah kanan ada rumah Amak Pe’o. Anaknya yang bungsu menjadi tentara di Jawa. Aku kenal dia waktu aku masih sangat kecil. Aku sering main ke sini. Di belakang ada tempat pembuatan batu bata. Waktu aku kecil memang banyak di sini usaha-usaha pembuatan batu bata keluarga. Saya sering bantu-bantu (atau mungkin merepotkan) Uda Ujang, yang kini tentara di Jawa. Lalu ada rumah Tuli Bari, anaknya Finaria dan Kutub yang masih saya ingat. Seperti keluargaku, mereka memilih tinggal di ladang dari pada tinggal di rumah sendiri. Di sebelah kanan ada rumah Etek Simar. Anak-anaknya ada beberapa, dan menjadi teman saya: Idil, Ipil, Ides, Uni Isum, Ipul, Uda Ijam, Si Nof, dan yang lain dan saya lupa. Setelah uda Ujang tugas ke Jawa saya pernah belajar bikin tembok di sini. Di rumah ini juga ada usaha bikin tembok keluarga. Waktu kecil, selain di rumah Amak Pe’o saya juga sering membantu-bantu bikin tembok di rumah Etek Simar karena saya berteman dengan Ipul dan Idil. Lalu rumah Uni Mia. Dia tiga bersaudara cantik-cantik. Aku berteman dengan Iwan, teman sekolah yang kisah hidupnya sangat rumit untuk dipahami waktu aku kecil. Selebihnya bukit dan di bawah hanya ada laut.
            Lalu ada semacam taman rekreasi di atas bukit yang dibangun 5 tahun terakhir. Dulu kawasan ini adalah tempat usaha batu bata. Saya bekerja cukup lama di sini. setiap pulang sekolah saya mengangkut tembok dari puncak bukit, tembok yang basah dan berat itu diangkut ke bawah tempat tungku pembakaran disiapkan. 150 rupiah untuk 100 tembok yang terangkut. Rasanya? Ampun. Aku yang hanya kuat mengangkut 5 tembok basah, harus bolak-balik puluhan kali naik-turun bukit untuk uang 400-500 rupiah setiap minggunya. Perusahaan tembok itu sepertinya bangkrut, apalagi cengkeh yang dulu tumbuh subur sudah mulai mati. Di musim cengkeh kami berganti profesi dari mengangkut tembok menjadi pemetik cengkeh. Hasilnya dihitung dari literan, sejak dipetik, memisahkan buah dan cangkang. Satu liter 50 rupiah kalau tak salah. Waktu itu harga seliter cengkeh 400-700 rupiah. 1200-1700 kalau cengkeh yang sudah dijemur.
            Sejak adanya tempat wisata dan warung di atas bukit ini, kawasan di bawahnya juga mulai ramai. Ada warung-warung kecil menjual mie rebus dan kopi dan tempat karaoke segala. Dulu ini kawasan sepi. Tempat pasangan kasmaran untuk pacaran dan bersembunyi di semak-semak di bawah sana. Tentu kawasan ini juga jadi sarang bagi kawan-kawan belajar memalak. Sekarang tentu main ramai saja orang pacaran di sini. Mereka cukup belanja sebotol minuman impor bersoda, kacang rebus, lalu memilih tempat pacaran sesuka hati.
            Dulu kawasan legal untuk pacaran terdapat di sebalik belokan ini (Eit, ini belokan tajam. Kiri kanan ada jurang)yaitu di sekitar kedai Yuang Gulo. Aku memanggilnya Uwan dan memanggil istrinya Mintuo. Dulu aku juga sering di sini di siang hari. Aku ikut Indra, anaknya yang membuka usaha cuci motor dan mobil. Usaha itu sampai sekarang sepertinya masih ada. Kadang-kadang aku ikut Indra membeli buah untuk Rujak Jao-nya yang terkenal itu. Di samping rumahnya ada sebuah bekas benteng. Entah benteng apa. Orang-orang menyebutnya panorama. Benteng yang kini tiggal bekas saja. Di bawahnya ada jalan menuju pinggiran pantai yang ada karang-karangnya. Malam mingguan kawasan di bawah ini akan ramai oleh pasangan muda. Saya tak pernah berani mengajak pasangan. Saya takut jika harus mengajak perempuan bergelap-gelapan. Saya trauma dengan seorang kawan perempuan yang pernah saya ajak ke sebuah tempat yang agak gelap dan dia berkata: “Ngapain di sini?”
            “Ya ngobrol-ngobrol,” jawabku setengah gugup. Di tempat gelap dan sepi seharusnya lebih dari sekedar ngobrol kan?
            “Jadi kamu sering bawa cewek ke tempat beginian, ya?”
            Aku gelagapan setengah mati. Kehilangan cara untuk mengajak cewek bersunyi-sunyi. Takut dituduh pengen macam-macam, padahal memang pengen macam-macam. Aku sampai heran, bagaimana kawan-kawanku bisa mengajak pacarnya ke tempat gelap begini ya? Apa pacarnya tidak bertanya, “kenapa harus berduaan di tempat gelap sih?”
Ih beruntung sekali mereka dibanding saya yang tertohok justru bukan dikencan pertama.
            Sekarang kawasan wisata yang sudah kita lalui itu juga dijadikan tempat yang aman dan nyaman buat pacaran. Legallah, bahasa formalnya. Tak ada pembalak yang akan mengintip dan memalak tepat pada waktu-waktu yang ‘runyam’. Setiap motor yang parkir, tentu harus membeli sebotol-dua minuman, akan menjadi tanggung jawab pemilik warung. Betapa merdekanya sekarang pacaran di kampungku. Alih-alih merasa iri aku justru merasa makin cemas dengan tersedianya tempat-tempat semacam itu. Seolah legalisasi buat mereka yang pacaran, berduaan di tempat gelap. Aduh…
            Karena ini diniatkan sebagai catatan perjalanan belaka, maka baiknya tak usah berpanjang-panjang di sini. Dari rumah Nora kita harus melewati jalan yang berbelok. Ada rumah Almarhum Inuang, mantan kepala desa Taratak yang membuka warung makan. Rudi, anaknya kuliah di jurusan psikologi, di fakultasku. Terus ke utara ada pertigaan kecil menuju pantai, ya Nyiur Melambai itu. Di sana tempat tukang pukat menarik nasib. Ada warung Idil, yang sekarang entah diurus siapa. Lalu ke utara lagi ada rumah Uda Telen. Dulu waktu kecil rumah ini milik Uwan Pokong, lelaki buntung dan anaknya Ijai. Di masa-masa gawat itu aku juga sering mencuci mobil di sini jika Indra tidak berkenan mengajakku.
Kabarnya dulu di sini tinggal wanita penghibur. Sebuah peristiwa hebat, di mana para ibu-ibu konon datang ke rumah ini dan mengasami dan menggosokkan cabe merah keriting ke kelamin perempuan-perempuan pembuka jasa itu. Benar-benar diasam-dicabekan dalam arti susungguhnya. Perempuan pekerja seks itu dikenal dengan nama Poyok. Mereka kalah banyak dari ibu-ibu yang datang dan menerima nasib buruk. Kelaminnya benar-benar digosok dengan cabe dan diberi asam segala. Rasanya? Hanya mereka yang tahu. Saya tak tahu, apakah itu peristiwa sungguhan atau tidak, fiksi atau nyata.
            Lalu jalanan lengang. Dan dinding-dinding bukit yang terjal. Lalu Kelok Camin yang ramai tadi. Belokan yang mendaki dan cukup tajam. Tempat ini sudah dikeruk sehingga menyisakan jalan yang agak lapang. Saya dan Andi beberapa kali memanjat puncak bukit ini dan menancapkan singlet di sana.
            Lalu ada Kelok Cingkiau. Ada sebuah gua batu yang dulu konon pernah dihuni harimau, sebelum akhirnya ada turunan dan sampailah kita di kampung Ujung Batu, yang menjadi kawasan Taluk. Jalanan kecil dan lengang. Beberapa rumah yang sudah kukenal sejak lama, tak memiliki banyak perubahan, tak pula banyak penambahan. Di pinggir pantai, dekat turunan ini, aku juga mengenal satu-dua keluarga. Uni Si’er yang kini juanan di Kelok Camin adalah salah satu penghuni rumah di bibir pantai itu.
            Kulirik Anton memejamkan mata, berusaha untuk tidur, Komeng melongok tajam ke jendela, Angga dengan manis mengendarai mobil. (Bersambung)

4 komentar:

artika maya mengatakan...

nah, kan krn ada deadline daku tak bisa ke acara ini.
tampaknya menyenangkan ya.

indrian koto mengatakan...

Acara yang mana mbak Maya? Jalan2 di Sumatera Barat? hehe

artika maya mengatakan...

lha, cerita ini nggak disampeikan jg di mlm acara tempo hari?
hahaha... kalo gitu aku salah -___-

indrian koto mengatakan...

hahahha.. hayooo... hemmmm