11 Nov 2007

kenangan tentang kampung


Sesekali Kami Menipu Hujan, Sesekali Tenggelam ke Dalam kabut


Begitulah, peta sudah kadung dibikin Pinto Anugrah malam itu. Empat titik sekaligus. Di sisi Selatan ada Lansano, kampung halamanku di Pesisir Selatan yang beribukota Painan itu. Tiga titik lainnya, yang menurut Pinto saling berkaitan, Singkarak di Solok, Padang Sibusuk di Sijunjung (atau Sawahlunto?) dan Batusangkar, satu titik lagi digoreskah Esha Tegar Putra, lelaki gondrong yang penyair itu.

"Payakumbuh, jangan lupa. Iyut Fitra dan Intronya." Pinto cengengesan, juga Y. Thendra BP. Mereka saling bertatapan, sekejab aku paham apa yang mereka tertawakan.


"Jadi kapan berangkatnya?" Tanyaku tak sabar dengan petualangan ini. seumur hidup, aku belum pernah mengelilingi Sumatera Barat kampong leluhurku dan mendatangi beberapa tempat sekaligus. Duh..!!


"Habis lebaran saja. Kan kita lagi banyak uang." Kata Thendra menggaruk kepala plontosnya yang cat merah.


Lalu kesepakatan pun diambil. Rabu, empat hari setelah lebaran kita akan berangkat.


"Siapa saja yang akan berangkat?" tanyaku lagi. Penasaran.


"Kita saja." Jawab Pinto. "Ingat rutenya, Padang, Padang panjang, Batusangkar, Payakumbuh, Bukit Tinggi, Padang panjang Lagi, Solok, Padang Sibusuk dan Painan."


"Itukan mutarnya jauh." Sanggahku.


"Tak jadi soal-lah dari mana kita mulai. Itu bisa kita selesaikan di SMS saja."


Dan sebelum rabu itu datang, semua orang mengundurkan diri, membatalkan rencana yang tertera di atas kertas. Lalu tiba-tiba, Romi Zarman mengirimkan SMS kepada saya yang mengajak dating ke Payakumbuh. Serentak saya menyampaikan ide lama. Dia sepakat. Deal, kami mengontak tiga "bajingan tengik" itu lagi.


"Awak ndak bisa. Ndak dapat jatah hari raya." Bisik Thendra.


"Saudara perempuan saya mau bertunangan." Jerit Pinto.


"Saya baru kecelakaan, dan tak ada motor Bang." Teriak Esha tak mau kalah.


Lalu, Romi meminta saya ke Padang, kami berdua yang berniat mendatangi tempat-tempat yang kami maksud. Rumah tiga teman saya yang terpisah di tempat yang jauh; Thendra di padang Sibusuk sana, Pinto di Batusangkar dan Esha di Kaki Singkarak pula. Untuk teknisnya, saya menyerahkans epenuhnya kepada romi. Dia yang paling paham rute dan arah jalan.
"Wuih, kok ke Padang terus." Kata teman-temanku di rumah. Aku tertawa saja dan segera naik bis begitu mereka mendapat jatah uang rokok dari kernet.


Di padang, aku di jemput Romi di terminal bayangan Gawuang. Di by pass, kami disambut hujan deras. Nyari warung, ngopi, kebetulan aku belum makan dari pagi, tapi tak ada yang bsia mengenyangkan. Barulah di Lubuk Alung ada warung mie instant. Mau tidak mau saya harus makan, meski perutku tak akan nyaman. Aku menelpon Mutia Sukma di Yogya, menceritakan banyak perihal. Romi mengontak beberapa orang, Da Gus TF, Iyut, Thendra dan tentu Pinto yang malam ini kita akan menginap di sana.


Perjalanan dil;anjutkan. Kami berkejaran dengan hujan. Kadang hujan mendahului kami, lalu teman-temannya menyusul. Sesekali kami menipu hujan, dan berada di bagian agak depan. Pendakian menuju Lembah Anai mulai dingin. Kami sempat berhenti ebberapa kali, memandang kabut dan melewatinya,s esekali kami disembunyikan pula olehnya. Di Lembah Aku sempat mengambil beberapa gambar air terjun, tapi magrib dan langit senja membuat kameraku tak berdaya. Dan kamis emakin menggigil, basah oleh hujan juga rasa yang diciptakan oleh alam. Melewati padang panjang, rasanya tubuhku terasa kian dingin. Malam merambat, menjelang Batusangkar aku seperti melewati jalan ke rumahku, jalan-jalan kecil dan berliku, di bawahnya juarang begitu dalam. Dan auks emakin kaku oleh rasa dingin, hingga tak bisa bergerak lagi. Menjelang jam 10 malam, kami sampai di pasar Batusangkar, kota tempat batu-batu dikandangkan (kan Batusangkar, sangkar batu). Lalu kami makan di sebuah warung ampera. Tangan dan tubuhku benar-benar tak bisa digerakan. Aku mati rasa, pun jengkol goreng yang lezat itu tak punya rasa apa-apa di lidahku.


Lalu menuju rumah Pinto. Kami sudha ditunggunya di depan rumah. Dan malam itu, aku sedikit lega, tak lagi memakai baju basah, apalagi setelah disuguhi kopi dan dan makan malam. Di kaki Marapi, ya bo? Lalu Esha merengek ingin ikut. Malam itu juga dijemput Thendra dan datang berdua menjelang kami. Si Thendra sakit gigi, dating membawa bir, seperti Saut saja, pikirku. Lalu, Esha yang dating dnegan segudang duka lara, ia putus dengan pacarnya. Aku ingat, baru saja bertengkar dengan Sukma. "Bagaimana kalau dalams ebulan ini kita tidak bicara soal kekasih?" kataku pada Esha, ia mengangguk cepat. Thendra cengengesan, maklum baru jadian. Dan Pinto? Ah, datuk itu hanya tinggal menandai orang untuk nanti dinikahi. Romi? Dia sibuk pula menelpon pacarnya dan baru dia merespom ketika kubilanmg, seseorang di kampung, sepertinya kembali menyukaiku dan aku bingung bagaimana menghindarinya dan dia tidak tersinggung.


Dan malam itu, kami kehabisan rokok dan juga kehilangan cerita dan selera untuk tidur.
***
Pagi, sebagaimana cerita Thendra di blognya, kami kelilng kampong si Khotic (bukan ‘k’ tapi ‘c’). seorang ibu penumbuk kopi di kincir air miliknya nyaris pingsan begitu Khotic mengenalkan diri padanya, "Awak Kotik Daruk Marajo."


Kha..kha..kha.. sialnya, sebuah motor rewel di tengah kota dan menendang bahu Thendra. Mungkin karena rambutnya merah dan motor itu seperti Banteng gila. "Untung bukan kotik ya? Kalau tidak kita akan makan daging kerbau pula."


Kami tinggalkan khotik yang berbahagia, karena sebentar lagi anggota keluarganya akan bertambah, kakak baru dan ponakan, tentu saja. Perjalanan dilanjutkan ke Payakumbuh. Aku dan Romi, Thendra dan Esha. Sepanjang jalan hanya ada rasa kagum yang luar biasa. Dan bahagia.


Siang kami sampai juga di Intro. Di sana sudah ada Iyut Fitra dan da Gus Tf. Sekejab kami sibuk dnegan pembicaraan ditemani segelas kopicina (kata Pinto). Pembicaraan mengalir kemana-mana, soal kegiatan di Intro, soal pentas lebaran lalu, soal Yogya dan Sautnya, TUK juga, Kongres Cerpen juga Forum Penyair yang akan diadakan tahun depan.


Kami diajak ke rumah gadang, rumah yangs ekaligus markas Intro. "Uda akan menikah Desember ini." Kata Iyut kepadaku. Tahu benar dia, musim hujan tak enak sendirian. Lalu pembicaraan berlanjut lagi, da Gus pamit pulang. Ia membawa sepeda kecil, sepeda yang biasa mengantarnya ke mana-mana. Lalu ngobrol lagi, macem-macem sampai aku berbisik pada Thendra, tapi didengar nyaris semua orang.


"Mana ceweknya?"


Semua tersadarkan. Inilah yang ditunggu-tunggu Thendra. Lalu sebentar saja, beberapa orang berkumpul. Dilla dan Dela (betul, ya?) Semakin ramai orang berdebat dan waktu pulang semakin dekat. Benar saja, ketika Esha dan Thendra lagi genit-genitnya kami memutuskan pulang. Dan sore itu, kami melewati kabut dan butiran hujan yang serupa salju di Kaki Marapi (atau singgalang?), dan melewati antrian panjang di Jalan Bukit Tinggi- Padang panjang.
Malamnya aku melihat danau Singkarak yang lapar dan kesepian. Di rumah Esha kami menginap malam itu. Bercakap banyak hal dan berbagi rasa lelah. "Ingat, satu bulan ke depan." Bisikku pada Esha.


Jumat pagi kami bersepakat pergi. Thendra pulang naik bisa. Aku dan Romi meninggalkan Sangiang Baka dan kembali ke Singkarak, tempat semalam yang tak jadi kami kunjungi. Duh, betapa kesunyiam merambat di antara keramaian sisi-sisinya. Kami minum teh telur, di luar orang-orang tentu sedang shalat jum’at.


Selepas siang kami meluncur ke kota Solok. Mau mencari shal tenunan pesanan Sukma. Berjam-jam kami berputar di tengah pasar dengan beban di punggung dan lelah yang luar biasa. Tapi tak ada, sungguh-sungguh tak ada. Mestinya semalam kami lewat Bukit Tinggi dan singgah di sana untuk membeli hasil tenunan, tapi resikonya kami akan sampai larut malam di Sangiang Baka, rumah Esha, padahal motor yang dibawa harus segera dikembalikan.


Selesai itu, Romi mengajak ke Guguk Manyambah, kampung kecil, dengan jalan kecil dan tempat mobil-mobil raksasa menumpangkan suara klakson di sana, menuju Jakarta. Aku kembali melewati jalan ini, pertama ketika pulang dari Yogya dan sekarang, lalu nanti ketika hendak ke Jawa lagi. Di sini Romi katanya dulu KKN, dnegan banyak kisah pula tentunya, salah satunya, ya dinding yang dilubangi paku itu.


Selepas hujan kami bergerak ke Padang, kali ini melewati Sitinjau Laut. "Kalau terlalu sore nanti kita gak bisa pulang, hari buruk macam begini membuat kabut begitu pekat." Kata Romi berfalsafah. Benar saja, aku berkali-kali minta Romi mengehntikan motor diturunan itu, sebab jarak pandnag yang laur biasa pendek. Tapi kendara beriring-iringan turun dan naik tanpa memegang rasa cemas.


Dan kami selamat sampai di Padang, meski tak bisa melihat kota dari ketinggian bBukit Sitinjau Laut. Dan amlam itu aku menginap di Rumah Romi. Sabtu, aku akan pulang, beberapa pekerjaan harus segera kubereskan sebelum aku kembali ke Jawa Kamis nanti.

3 komentar:

Feni Efendi mengatakan...

wah, sepertinya petualangan itu menyenangkan ya? hmmm, saya jadi ngiri. ohya, bagaimana kabar pelabuhan, bung indrian koto?

Anonim mengatakan...

trims jika iri. hehehhe. pelabuhan baik hari ini. agak mendung aja dan sepi

kopi cina mengatakan...

sweet but thin