22 Jun 2013

Benar

Saya ingat suatu hari, hampir 20 tahun lalu, saya diusir ketika menonton film India di TPI di rumah tetangga karena saya kentut diam-diam. Film sedang diputar, para remaja yang putus sekolah sedang seru-serunya melihat aksi Govinda dengan televisi hitam-putih menggunakan aki, lewat siaran TPI yang mengambil gelombang siar TVRI, saya kentut diam-diam. Kentut diam-diam ini menjadi perkara karena saya tak menyangka bahwa baunya akan membuat ruangan seketika ribut. Saya yang pertama kali menutup hidung, namun tak bisa menyembunyikan kebenaran bahwa sayalah yang kentut diam-diam dan membuat heboh seluruh ruang tamu tetangga itu. Saya dimarahi dan pergi, karena benar, saya yang kentut.
            Di waktu dan tempat yang berbeda, di tahun-tahun yang tak terlalu jauh berbeda saya pernah berkelahi dengan seorang kawan karena saya dituduh kentut, padahal saya tidak sedang kentut. Saya membela diri. Benar, saya pernah kentut dan membuat berang remaja putri, tapi saya tidak selalu kentut dan menimbulkan bau tak sedap. Saya merasa dituduh, saya marah, karena benar, saya tidak sedang kentut waktu itu.
            Dalam dua hal ini saya merasa sudah jujur dan benar. Mereka saja yang tidak bisa menerima kebenaran.

            Pada dasarnya, lama kemudian saya mulai sadar, kebenaran memiliki perspektif. Ketika saya diusir ketika Govinda sedang naik kuda untuk membalas dendam pada Tuan takur, mereka merasa itu pilihan yang benar. Saya kentut dan menimbulkan kekacauan. Saya merasa kentut dan mengakui bahwa itu saya juga merupakan tindakan benar. Demikian juga ketika saya berkelahi dengan teman yang menuduh saya kentut tersebut, pastilah ia punya alasan yang masuk akal ketika telunjuk dan mulutnya menuding saya. Saya percaya, dan sangat percaya, kebenaran memiliki tempat sendiri-sendiri bergantung dari sudut mana kita memandangnya.
            Sukar merumuskan kebenaran, yang bisa ditimbang adalah kadarnya. Misalnya ketika seseorang membunuh seseorang dan pengadilan sebagai lembaga resmi satu-satunya yang berhak menilai si pelaku salah atau tidak. Tetapi kebenaran dalam perspektif pelaku dan korban ketika peristiwa terjadi bukanlah alasan yang tepat untuk diadukan. Bahwa ia membunuh, ia harus dipenjara, dan karena ada hal-hal yang membenarkan, si pelaku mesti menghabisi korban.
            Dalam semua jenis kompetisi di mana ada dua atau lebih kubu yang bertikai setiap kelompok pasti meninginkan kemenangan untuk kelompoknya, karena mereka punya nilai kebenaran yang tidak/belum tentu dipikirkan oleh lawannya. Ketika saya tidak suka akan tindakan seorang kawan yang melakukan hal semberono, saya punya poin untuk menilainya dan sang teman bisa jadi menganggap apa yang tidak saya suka bukanlah sesuatu yang esensi. Dia punya logika sendiri tentang peristiwa yang saya tidak suka, dan dia merasa pastilah ada yang benar dari tindakannya.
            Ketika saya bertengkar dengan sang teman perkara kentut tadi, persoalan yang akan menghubungkan kami kembali tentu saja permintaan maaf. Bisa jadi tidak perlu diperhitungkan siapa yang salah dan siapa yang hatrus minta maaf duluan. Dalam kasus umum misalnya, teman sayalah yang harus minta maaf karena menuduh saya yang nyata-nyata tidak kentut. Apalagi kalau ditambah dengan saksi-saksi yang menguatkan dan pelaku sebenarnya juga tampil di permukaan. Tapi pada dasarnya maling punya kebenaran sendiri, untuk tutup mulut dalam kondisi chaos, itulah pilihan yang masuk akan. Dia dibenarkan dari perspektif kejahatan yang terselubung.
            Ketika harga BBM naik, pemerintah dan koalisinya pastilah punya kebenaran sendiri untuk melakukannya. Tapi, bagi saya dan banyak pihak lainnya, pastilah menilai ini tindakan absurd dari pemerintah yang mengakibatkan melambungnya harga barang. Saya ada di pihak lain, pihak yang merasa dirugikan, sehingga perspektif kami akan sangat berseberangan. Kadang soalnya adalah siapa yang berkuasa, dalam demokrasi hakikatnya adalah yang menang adalah mayoritas, dan itu dibuktikan oleh sekutu para wakil kita, meski ada anggota sekutu yang  mengklaim dengan hati nurani mengurangan subsidi BBM tidak masuk akal. Mereka benar dan oposisi yang tidak suka gaya partai ini pastilah punya kebenaran untuk tidak menyukai gaya partai yang ada di dalam tapi bermain di luar.
            Dalam suara mayoritas para wakil kita harga BBM memang harus naik, subsidi premium memang harus dikurangi. Wakil rakyat kita pastilah punya pertimbangan yang masuk akal dan logis, bisa dijelaskan dengan devenisi-devenisi yang hebat, disusun dalam makalah yang beribu-ribu halaman. Tapi bisa saja rakyat yang mayoritas dari wakilnya ini kalah karena pada kenyataannya sejarah seringkali berpihak pada kekuasaan. Kekuasaan seringkali menang, mesti bukan berarti ia tak bisa tumbang. Hal yang membuat saya gamang adalah, jika harga premium dan solar yang hari ini dinaikkan masihlah sebatas pengrangan subsidi, dalam pemerintahan ke depan kita akan melangalami periode yang sama lagi. Dan itu pasti. Kita akan mengalami pelonjakan harga, ongkos dan biaya. Saya punya kebenaran yang nyaris sebagai rintihan putus asa, jika memang negara tidak bertanggung jawab atas subsidi yang konon hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja itu, sekalian sajalah dihabisi, dipangkas subsidinya agar negara merasa tak selalu terus berjasa pada rakyatnya. Ini baru perkara minyak, yang mentahnya masih terus digali di tanah sendiri.
            Sekali pun benar, pada dasarnya kita punya rasa penyesalan. Saya yang diusir karena kentut ketika Govinda mempertahankan harga dirinya, menyesal, kenapa saya harus kentut di tengah ruangan, meski saya tidak pernah tahu baunya akan membuat kosentrasi penonton muda ini buyar. Saya bisa keluar sebentar, kentut, mengipas-ngipasi pantat dan pusing sendiri oleh bau sendiri, dan kembali menonton dengan damai tanpa ada yang terganggu. Agtau saya yang tidak langsung terpancing emosi ketika sang teman menuduh saya kentut. Bisa jadi saya punya kebiasaan kentut sembarangan, atau sekali dua saja tapi sang teman sudah menandai saya, yang kentut diam-diam dan bau itu biasanya saya. Atau istilah keren soal cara menyembunyikan kesalahan adalah dengan marah, itu juga memperkuat alasan sang teman dalam tudingan dengan kebenaran yang tak saya terima itu.
            Pada dasarnya, semua orang di republik ini punya sisi yang mengharukan ini, dan meengerti benar soal tempat dan waktu untuk sebuah peristiwa yang akan berakibat buruk untuk dirinya sendiri dan orang banyak. Seringkali kita menyebut hal ini dengan bahasa yang cukup gagah: Etika!

Sabtu, 22 Juni 2013

4 komentar:

artika maya mengatakan...

analogi yang menarik koto!

yusuf mengatakan...

yeah, saya juga selalu teringat kalimat teman Kos Lukman dulu, "Kebenaran itu tidak ada, yang ada hanya perspektif." dan aku baru tahu
soal kebiasaan kentutmu itu.

Anonim mengatakan...

mantap Mamak.....

Alris mengatakan...

Begitulah, pemimpin republik ini ber-etika dengan sangat kebablasan.