7 Jun 2012

Puisi Esai: Jenis Apalagi Nih Oom Sapardi?


Buku bercover merah karya Denny JA ini memang tampak mewah dan wah. Saya mengira-ngira berapa dana yang harus dikeluarkan untuk mencetak buku puisi dengan warna emas di pinggiran halamannya ini? Tak mungkin dicetak hanya 500-1000 eksemplar. Tak mungkin pula dicetak dengan setengah terburu-buru di IBC punya Irwan Bajang.


Jadi buku ini tak mungkin dicetak hanya 1000 saja. Denny JA, adalah pemilik lembaga survey dan wara-wiri di dunia politik. Dan di tengah kesibukan beliau itu, masih sempat menulis puisi. Tidak luar biasa sekali, sebab ada banyak juga orang sibuk, selebritis, dan pejabat tertentu menulis puisi, cerpen atau karya sastra lainnya di moment-moment tertentu. Tak jarang pula para pejabat sekarang meluangkan waktunya main teater. Luar biasa atau tidak, semua terserah anda.

Membaca cover buku ini, kita tersentak dan tersedak. Upaya luar biasa dari seorang yang super sibuk dengan beragam penghargaan MURI, aktivis, dan penulis buku dan kolom di media massa ini menyempatkan diri menulis puisi. Bukan sembarang puisi. dia memfokuskan diri pada Isu Diskriminasi. Puisi yang ditulis "dalam untaian Kisah cinta yang menggetarkan Hati" ini dilabeli sebuah istilah, Puisi Esai. Saya kira, saat mengetahuinya pertama kali, hanyalah istilah genit biasa seperti cover novel tertentu yang dilabeli Novel Isnpiratif, Novel Atoropologis-sosiologis dan semacamnya. Oh belum sodara, akan anda temukan sebuah lingkaran dengan warna emas (heem.. dua kali saya ngomong warna emas, sekarang saya ragu: ini emas atau perak sih? Tolong bantu saya soal warna) dengan tulisan imut-unyu-manis: Genre Baru Sastra Indonesia. 

Di bagian itu saya tentu tetap bisa memaklumkan, biasalah, dalam buku-buku tertentu juga ada label Genre Baru, Genre Lain dan semacam itu. Ada nama Sapardi Djoko Damono, Sutardji Colzoum Bachri dan Ingnas Kleden di bagian bawah sebagai epilog. Ah, biasa, banyak penyair atau orang-orang penting bikin buku diantar dan ditutup oleh para nama-nama besar macam begitu, kan? Tidak anehlah.

Saya lupa menyebut judul buku dengan gambar merpati putih (kali ini saya yakin warnanya: putih. Ayo taruhan! Ya meski ada warna-warna gelap dikit) Atas Nama Cinta. Weehh.. kereeennn... Seperti membaca Gibran kita. Sempurna sebagai sebuah cover buku. Lagian Denny JA tidak begitu asing di telinga kita kan, meski pun untuk puisi ini adalah buku pertamanya. 

Sebentar, tidak adil membaca cover jika kita tidak membaca halaman penting lainnya: endorsment. Nah, di banyak buku, halaman suka bikin kita ngakak dan tergelitik. Di Buku Denny JA ada komentar Sutardji, Ignes Kleden, yang mungkin dipotong dari bagian penutupnya. Lalu hamparan nama-nama dasyat seperti Siti Musdah Mulia, dan sederet lelaki ternama (oomm.. transfer duit dong..), di antaranya: Mahfud MD, Komaruddin Hidayat, Jimly Asshidique, Bondan Winarno, Mohamad Sobary. Komentar mereka penuh narasi kekaguman dan hormat. Sebagai sesama orang sibuk wajarlah mereka 'iri' atas sempat-sempatnya Bang Denny JA menyediakan waktu menulis 5 biji puisi panjang dengan istilah cukup mentereng: Puisi Esai. Yang membuat saya tak sabar membuka buku ini bukan lantaran komentar pak ketua MK atau Pak Rektor dan pak novelis, tetapi komentar makyuss dari pak Bondan. Saya kutipkan sodara, biar anda tahu ada citra pada lidah anda, "Saya sempat tersendat, dan mengeluarkan air mata di beberapa bagian puisinya." Nah, halus sekali perasaan Pak Bondan ini. Sumpah. bayangkan, beliau sampai sedemikian galau membaca halaman buku ini.

Lalu apa? Sebuah permukaan buku sudah kita bahas. Artinya adalah, Denny JA menulis 5 puisi panjang yang dilabeli dalam Atas Nama Cinta Puisi Esai dan berisi Isu Diskriminasi dalam untaian kisah cinta yang menggetarkan hati. Beliau berkata, "Sebagai penulis, aktivis dan peneliti, sejak lama saya merenungkan cara agar aneka isu diskriminasi itu menarik perhatian publik." Jadi, sebagaimana layaknya kita semua, persoalan diskriminasi sosial, dan agama adalah kegeilisahan Pak Denny JA juga.

Kita tahu kondisi kebangsaan saat ini dipenuhi ketegangan-ketengangan di semua lini. Semua memiliki pembenaran masing-masing. Kekerasan fisik, ketegangan antara masyarakat dan negara pecah, teror dan intimidasi terhadap agama begitu sensitif, di tengah-tengah gejolak itu ada saja kegiatan yang seringkali sering memancing keributan baru, sehingga persoalan lama yang dibungkus dengan bau tak sedap, ditambah bangkai baru membuatnya kian tak enak.

Harus ada upaya kesadaran bersama, dimulai dari diri sendiri, menularkannya pada teman tidur, ke teman sebelah kamar, hingga bisa saling menyadarkan orang sekomplek. Tak bisa tidak. Harus diupayakan dengan berbagai cara. Tak cukup seminar dan diskusi yang menghabiskan dana sekian puluh juta dan menjadi proyek cuma-cuma pemerintah. Harus ada tindakan langsung dan tak langsung. Berbagai cara bisa dilakukan. Kesadaran bersama, menyadarkan orang lain--tentu setelah kita sendiri cukup sadar. Menulis adalah salah satu medianya. Ini barangkali upaya yang ingin ditempuh Denny JA agar suaranya bisa didengar, tidak lewat survey tentu saja, tidak dengan makalah dan diskusi membusa, tetapi lewat puisi. Sebuah 'puisi cerdas' mengutip oom Tardji, tentu saja yang dimauinnya (jangan tanya saya, “emang ada puisi cerdas dan tak cerdas?”).

"Jika kasus itu dituliskan dalam paper akademis, kolom, atau esai biasa, sulit sekali menggambarkan kepekatan emosi dan suasana interior psikologi korban diskriminasi." Begitu pengantarnya. Nah apa kata saya di paragraf sebelumnya. "Jika kisah itu dituliskan dalam puisi biasa atau prosa liris biasa, sulit juga menyajikan data dari isu yang faktual," tambahnya. Benar-benar sebuah semangat dan upaya luar biasa untuk menyampaikan pada masyarakat luas tentang bahayanya isu ini. Dan Jenny JA, sekali lagi, memilih puisi. Sebuah puisi yang berangkat dari kesadaran dan kenyataan, sebuah fakta dan peristiwa yang bisa kita baca, tenungkankan. Poin-poin itu tentu, "yang minimal harus muncul di catatan kaki."

Di bagian ini saya mulai berkomentar, "apa tidak ada puisi-puisi sebelumnya yang menyampaikan data di lewat catatan kaki?" Tapi sudahlah, saya harus terus membaca. Saya pegang satu hal, ini kerja sosial, membawa persoalan ke hadapan kita tentang betapa pelik dan riuhnya problem masyarakat akhir-akhir ini. Lainnya tidak. "Ini fakta, ini peristiwa yang sebenarnya sodara-sodara, berhentilah bertikai," begitu narasi aslinya kira-kira. Nah cara puisilah yang kemudian dipilih Denny JA dalam kumpulan Puisi Esai Atas Nama Cinta ini. Tujuannya adalah, agar semua kalangan paham, mengerti, tahu dan mengerti betapa isu diskriminasi ini harus segera diselesaikan dan berakhir. Betul-betul end antara elo dan gue. Gitu lo. Tak boleh lagi ada. Nah, kan? Puisi dipilih tentu dalam logika sederhana tadi, akan dibahasakan dengan puitik, agar semua orang bisa paham dan mengerti. pasti begitulah makna tersiratnya.

Dua komentar aneh saya coretkan di pengantar tersebut. Apa iya puisi terdiri dari bahasa ringan agar bisa dipahami oleh seluruh golongan? Kedua, apa iya puisi diminati oleh semua orang? Hai pada penyair, berjagalah kalau begitu. Lalu segudang pertanyaan-pertanyaan aneh menghinggapi saya. Saya tak memberikan komentar lanjutannya di sini, ini bukan catatan esai sehingga perlu catatan kaki. Ha, apa iya esai mesti identik dengan catatan kaki? Artinya, puisi tak membutuhkan data kongkrit dan faktual? Gila bener penyair kalau semata-mata hanya bermain di ruang imajinasi. Hadeh (-_-)>

Komentar spontan saya yang lain adalah, puisi toh selama ini (puisi yang baik, mungkin. Baik itu gemana qaqa?) mestilah memenuhi standar estetik dan berbicara persoalan sosial-masyarakat pada zamannya. Widji Tukul apa tak cukup sebagai contoh, dan deretan Tukul yang lain yang meneriakan kebenaran, bicara persoalan keadilan, pemerataan, kekerasan, diskriminasi sosial, dan mengkritik pemerintah dan semacamnya. Ada Rendra juga lo, bahkan para aktivis mesti hapal puisi-puisi mereka. Ada banyak sih contohnya, tapi di catatan kaki saja nanti. 

Bisa saja, kalau saya yang tulis puisi macam ini, hanya satu dua teman saya saja yang tau, tapi kalau Denny JA yang nulis dengan segala fasilitas dan kabilitasnya? tentu akan lain. Saya membaca puisi misalnya, tak akan heboh dibanding Julia Perez yang tiba-tiba membaca puisi di Malioro Jogja. Jelas kalau pun masuk berita, nama saya tak akan disebut dan foto saya tak perlu ada, tapi seorang Julia Perez misalnya? Hem...

Kita tinggalkan perbincangan akademisi ini, toh di halaman belakang Sapardi Djoko Damono belum kita singkap, ada Sutardji dan Ignes Kleden yang akan buka suara soal bagaimana istilah itu bisa muncul. 

Sumpah, saya tak ada soal dengan istilah ini. Ya, seperti di halaman judul, sebagai pedagang buku sastra (ituloh, Jualan Buku Sastra, masa gak tau sih. Hadeh), saya biasa bertemu dengan buku yang memiliki banyak embel-embel. Apalagi saya membaca dib aris pengantar Denny JA, dengan halus berkata, "Saya bukan penyair dan tidak berpretensi menjadi penyair." So sweet... Saya suka ketulusan macam begini. Tetapi kalimat berikutnya bikin saya gelisah lagi, "Tapi memang kisah ini lebih memadai disajikan dalam medium baru, yang saya sebut “Puisi Esai" Hadeh... cemangka!

Seturut Denny JA, saya mengamini, biarlah waktu nanti yang menentukan, apakah kita memerlukan puisi esai, sebab bukan tak ada bentuk-bentuk puisi yang serupa esai, atau esai serupa pusi bukan? Tetapi kita kan sukanya yang doble. Ya, sangat mungkin istilah ini pun akan muncul di publik sastra kita. Saya membayangkan cerpen-cerpennya Borges yang benar-benar esai, tapi sebagian besar tak memerlukan catatan kaki. Sudah ah, kenapa masih membincangkan apakah esai adalah tulisan dengan catatan kaki? Kita baru sampai di halaman-halaman awal. Lalu jika ada penulis kita yang membikin cerpen seperti Borges, akan disebut apakah sastra ini? tentu, tergantung siapa yang akan menulis jenis ini.

II
Ada lima judul puisi dalam Atas Nama Cinta karya Denny JA ini, pertama Sapu Tangan Fang Yin, kedua Romi dan Yuli dari Cikeusik, tiga, Minah Tetap Dipancung, empat Cinta Terlarang Batman dan Robin, lima Bunga Kering Perpisahan. Untuk satu sampai 4 kita mungkin bisa mengira-ngira isinya apa. Kalau ada nama-nama Tionghoanya kita akan cepat diingatkan pada persoalan 98, Cikeusik tentu saja soal Ahmadiyah. Mina? Pastilah Arab Saudi, Batman Robin, ah sesama jenis tentu saja. Keempatnya sudah mampu menggiring kita para persoalan yang hendak disasar penulisnya hanya dengan membaca judulnya. Artinya, sebagian besar dari kita sudah cukup tahu peristiwa-peristiwa yang diungkap dalam sajak-sajak panjang ini nantinya. Artinya lagi, tanpa diperjelas lebih detail lagi kita sudah mampu memahami, dan tinggal klik, klik, klik, kita akan mendapatkan lebih banyak dari sekedar puisi. nah, bukankah begitu seharusnya hakikat sebuah puisi? Orang penasaran lalu mencari tahu. hemm..

Eh lalu yang kelima? Judul kelima ini memang agak puitis dan sedikit jauh dari tema yang disodori oleh pengarangnya: Bunga Kering Perpisahan, apa ya kira-kira. Ternyata ini tentang percintaan beda agama. Memang agak sedikit jauh ya? Kalau-kalau salah tafsir dibait-bait awal, kita mungkin mengira ini tentang cinta lama yang bersemi kembali.

Bagaimana bentuk puisi Denny JA? Bisa dilihat di puisi-esai.com. semua bisa dibaca dengan utuh, hingga komentar-komentar dan review-nya. Barangkali komentar pujian saya dengan segenap kata sifat akan nongol pula di sana :-). Saya membaca kelimanya, sebagai sebuah puisi saya kira ini bukanlah puisi yang perlu diheboh-hebohkan. Puisi yang biasa-biasa saja. benar-benar biasa. Puisi naratif zaman sekarang, dikonsep dengan pola puisi zaman Hamzah Fansuri, atau angkatan 45 yang tidak melulu a-b-ab atau a-a-a-a. Jatah yang ini biarlah pakar bertiga di belakang buku ini nanti yang menjelaskan.

Anda sudah baca lima puisi tadi? Silahkan masuk ke situsnya, baca, dan nanti kembali ke sini *ngarep*. Benarkan? Tidak terlalu luar biasa, tidak ada percik imajinasi yang lintang pukang macam Afrizal Malna. Sederhana saja tata bahasanya, naratif, mengalir bercerita, tetapi tidak seberat gaya Joko Pinurbo. Tidak ada capaian baru, penemuan bahasa, gaya ungkap dalam puisi ini. Menurut saya loh ya. Narasi macam ini juga tentu kita dapatkan dalam puisi-puisi Rendra yang bahkan puisi itu sendiri sering dideklamasi-visualkan (ini bukan istilah baru lo, ya). Membaca Denny JA, meskipun tidak sepuitis puisi-puisi Rendra dalam permainan bahasa dan metafora, tetapi secara serampangan bolehlah kita jadikan pembanding. Maksud saya soal konten. Rendra juga bicara soal ketidakadilan, diskriminasi sosial, dan pembelaan yang terbuka terhadap masyarakat kelas bawah. Artinya kontennya menjadi sejajar. bedanya adalah, tidak ada catatan kaki yang menjelaskan detail peristiwa, karena membaca puisi Rendra kita sudah mendapatkan semua. Tuntas, tas.  Sebenarnya pun, dalam puisi Denny JA Atas Nama Cinta ini pun sama jelas dan terangnya.

Tetapi itulah, seturut isi buku ini, yang dimaksud dengan puisi-esai itu. Puisi yang tak sekedar berbahasa, tetapi juga harus menambah referensi. Sesederhana itukah sebenarnya niat buku ini? Sayalah yang kemudian agak cerewet bilang bahwa pembaca kita tak suka digurui loh, mereka tak suka diceramahi. Lagi pula cara mendidik pembaca yang baik adalah, beri mereka soal, biarkan mereka menemukan lebih banyak dari apa yang hendak kita maksudkan. Itu pendapat saya saja lo. Tidak, Denny ingin semua-muanya terpampang jelas, tentang apa, bagaimana, siapa, kapan, dan seperti apa peristiwa itu. Ia ingin memancing imaji pembaca untuk turun dan terlibat dalam peristiwa itu. Ia mereka ulang sebuah peristiwa dan menyajikan dari mulut pelaku yang lain. Ah, saya teringat kerja kawan-kawan dalam merealisasikan puisi-puisi yang berangkat dari mitos masyarakat Indonesia yang terkumpul dalam Ibumi: Kisah-kisah dari tanah di Bawah Pelangi. Teman-teman, apa perlu kita bikin istilah puisi-dongeng jadi sebuah trend?

Artinya begini: ada sangat buanyak istilah yang digunakan oleh sekelompok keciil-besar orang untuk menyebutkan genre tertentu. Sastra anulah, sastra inilah, sastra apalah. Seringkali istilah ini hanya pelengkap perbendahaaan kata kerja dan kemudian terabaikan sama sekali. Beruntung bila sekelompok orang menemukan satu genre dan mendapat apresiasi. Maka kita tau ada "mantra" dalam sajak Sutardji tanpa perlu kita bertanya lagi, adapula istilah musikalisasi puisi. Sebagian lain perlu perangkat untuk mengusung gendre tertentu, makan muncullah istilah-istilah: Sastra pedalaman, Sastra Cyber, Sastra Etnik, Sastra Etnografi, Sastra Internet, Sastra Indonesia, Sastra Melayu, Sastra Populer, Sastra Serius (lho, lho... kok campur-campur gini. Saya ngawur nih). Maksudnya, ada banyak istilah yang membuat kita seringkali rancu dalam menempatkannya seperti yang barusan terjadi pada saya.

Kembali ke isi puisi, saya di bagian ini mungkin tak menyinggung banyak, selain narasi dan yang sudah saya gambarkan biasa tadi, tak ada hal lain yang bisa dijelaskan. Denny JA bukan penyair, seperti diakuinya sendiri, kita perlu menuntut banyak kebaruan dalam puisi-puisinya. Saya hanya akan mengatakan beberapa hal saja, dalam puisi pertama, saya agak terganggu dengan bagian penutup cerita yang Sapu Tangan Feng Yin. Si Feng Yin yang punya trauma dan marahan besar akibat peristiwa 98, tetapi begitu dia membakar sapu tangan, luluhlah semua kebencinanya. Hadeh, ini bagian yang cukup alay saya rasa. tetapi juga tak bisa kita terjemahkan sedemikian saja. Denny JA ingin mengatakan dalam puisi Sapu Tangan Feng Yin, pilihan paling bijak adalah berdamai dengan masa lalu. Pesan lain, mari bersama-sama, kita berangkulan menghadapi masa depan. Dan beberapa poin lain yang bisa teman-teman temukan sendiri. Begitu kan seharusnya kesimpulan sebuah puisi?

Soal kedua ada pada Romi dan Yuli dari Cikeusik, sebuah narasi yang lumayan halus dipaparkan, mesti tak semendebarkan Minah Tetap Dipancung yang agak-agak punya ketegangan. Persoalannya adalah di catatan kaki, poin penting yang sebenarnya ingin digarap Denny JA. Puisi ini tak banyak catatan kaki. Bentuknya lebih mengarah ke prosa, ketimbang puisi. Sebuah prosa yang dibikin larik-larik dengan beberapa pertimbangan. Romi dan Yuli dari Cikeusik dipaparkan oleh Denny JA dengan gamblang dan jelas, ia kehilangan esensi puisi sekaligus esensi esai. Nah kelebihan yang sebenarnya adalah, tanpa banyak catatan kaki pun ternyata puisi ini mampu memancing emosi, dan keingintahuan, meskipun tak sampai mengeluarkan airmata laiknya Pak Bondan. Artinya lagi, tanpa catatan kaki, bagian ini sudah sangat-terang jelas mengenai peristiwa yang dimaksud. Kalau sudah bisa begitu, masih perlukah catatan kaki sebagai sebuah standar puisi-esai?

Tetapi celakanya justru di puisi ini poin tenting yang ditunggu-tunggu betul oleh pembaca tak menemukan celah jawabnya, apa yang membedakan antara Ahmadiyah dan islam pada umumnya? Bukankah di sini fungsi esai kita butuhkan? Untuk Minah Tetap Dipancung kita diantarkan pada keluarga, motivasi merantau dan membunuh dan kepasrahannya ketika harus dihukum. Untuk Cinta Terlarang Batman dan Robin kita dijelaskan kenapa si Amir memiliki disorientasi sesksual (meskipun tak terlalu gamblang dan tak ada upaya rekonsiliasi yang tegas dalam puisi ini, cerita masih mengambang, Si Amir tetap sadar masyarakat tak bisa menerimanya), atau Bunga Kering Perpisahan yang bicara soal perbedaan agama yang masing-masing orang sudah punya refensinya, tetapi soal Ahmadiyah? Sebagian kita cuma tahu Ahmadiyah dilarang karena berbeda dengan konsep islam, ada yang berbeda dari ritual dan kepercayaan. Sudah. Di sinilah seharusnya Denny JA mampu sedikit lebih banyak membantu kita dengan penjelasan lewat catatan kakinya bagaimana Ahmadiyah dan perbedaan serupa apa yang sering menimbulkan pertentangan. Pada bagian penting ini, Denny JA memilih memainkan bahasa dengan irama: "Ahmadiyah itu bla... bla..bla.../Ra.. ra... ra.../Ra... ri... ru.../mereka dituding sesat karena bla.../bla..bla../Padahal ra... ra.. ra...// (hal. 62). "Ra, ra, ra apa? Padahal apa?" teriak anak-anak stand up komedi dengan gaya makian dan sengau ala Raditya Dika. 

Justru inilah yang saya tunggu-tunggu sebagai pembaca. Jika bait puisi tak cukup membahasakan, catatan kaki Denny JA lah yang benar-benar kita harapkan. Tetapi sayang, betul-betul harapan hampa, harapan yang cukup menjanjikan di awal-awal harus dikubur karena saya tak dituntun menemukan jawaban.

Dituntun. Nah, inilah poin ketiga saya dalam kumpulan puisi esai ini. Seorang Denny JA tentu memiliki data dan informasi yang detail tentang beragam peristiwa yang bisa saja bahannya dari berbagai buku tebal dan bahasa yang tak mungkin saya pahami. Di sini, di bagian ini kita berharap Puisi Esai bisa menuntaskan sekaligus menandaskan sebuah peristiwa sosial tidak sekedar bercerita dan prihatin atau berpihak, tetapi juga menjelaskan sedetail-detailnya tentang apa, bagaimana dan bla-bla-bla lainnya. Tetapi di bagian ini saya agak terharu, ternyata catatan kaki tak cukup kuat sebagai perefensi tandingan sebagaimana diharapkan. Denny JA dalam sebagian besar catatan kakinya menampilkan sumber dari berbagai situs dan link internet dalam bahasa Indonesia. sebagain besar dari itu semua berangkat dari media-media online yang informasinya saling bertumpuk. Bukankah kerja semacam itu sangat sederhana sekali jadinya? Saya membayangkan referensinya adalah buku-buku setebal kasur pengantin baru, terbitan luar negeri, telaah ilmiah, dan data-data yang sudah benar-benar diuji kebenarannya. Saya tidak meragukan sumber yang Denny maksudkan, tetapi amat sayang jika ia hanya berasal dari link media tertentu. Seperti melihat semangat besar tetapi dikerjakan secara instant. Seandainya ia mencomot beberapa buku-buku yang bagus, kajian dan analisis, makalah-makalah terkait kasus di masing-masing tema puisinya, tentulah ini bisa menjadi panduan yang cukup bijak. "Denny JA pernah lo nulis daftar pustaka tentang sastra sufistik dalam buku puisinya," kira-kira demikian kata seorang calon sarjana yang keranjingan daftar pustaka. Paling tidak, ia menjadi sumber data yang bisa membantu dan menuntun orang untuk mendalami soal lebih lanjut, bukan refensi sederhana dari sumber berita. Pahamkan, maksud saya? Artinya, referensi Denny sangat jauh dari apa yang kita impikan sebagai sebuah "esai dalam puisi" atau sebaliknya apalagi oleh seorang Denny JA.

III
Saya hanya ingin menggarisbawahi kalimat Sapardi Djoko Damono yang mengatakan, “...ia (Denny JA) tekah mengangkat isu yang sepanjang pengetahuan saya belum pernah diungkapkan dalam puisi kita, Ahmadiyah, Homoseksualitas, TKW, perbedaan agama, dan dampak peristiwa Mei 1998.” Kalimat berikutnya adalah dari Sutardji Calzoum Bachri, adalah: “Bila puisi pintar dengan “serbu data” memberikan pemahaman tentang kasus-kasus konflik sosial, puisi bodoh dengan ekspresi “kebinatangan-jalang”-nya ingin mengajak pembaca hidup sepadat seribu tahun". Sementara kalimat Ignes Kleden yang saya tandai adalah: “...Denny JA, menulis lima sajak panjang dan memaklumkannya sebagai percobaan untuk memberi bentuk kepada suatu varian lain dalam puisi Indonesia, yang menggambungkan suasana batin tokoh liris dengan kondisi sosial sebagai sebuah konteks yang melahirkan suasana itu.” 

Saya tidak berkomentar, karena mereka sebetulnya lebih mengerti puisi ketimbang saya. Tetapi secara keseluruhan, epilog mereka adalah sebatas ‘menyambut’ ide dan konsep puisi-esai, dan tidak membahas karya secara detail, hanya garis besar, semacam simpulan dan memberi inti. 

IV
Saya sudah capek sampai di bagian ini. Untuk epilog biarlah menjadi tanggung jawab beliau-beliau yang menuliskannya. Mungkin saya perlu bertanya saja: Puisi Esai: jenis Apalagi nih Oom Sapardi? Namun paling tidak, Atas Nama Cinta Denny JA memberikan kesadaran kritis pada para penulis Indonesia yang selama ini menggeluti puisi. Denny seakan berterak, "Hai penyair, berhentilah menulis daun gugur, embun di atas daun, salju dan peri di bangku taman. Buka matamu, ada banyak soal-soal penting di negeri ini yang bahkan kajian, seminar ilmiah, esai, catatan kebudayaan tak mampu menampungnya."
Setidaknya begitu.
 Yogyakarta, 26052012

5 komentar:

M. Faizi mengatakan...

saya belum membaca tetapi ingin berkomentar. baca sih baca tapi secara ngebut tak kepalang tanggung.. jadi, pasti banyak yang terlwatkan...

Sorry ya mas Brow....

indrian koto mengatakan...

makasih oom M Faizi yang udah mau komentar. Kereen.. makasih

Adek Risma Dedees mengatakan...

Ebuset, gila nih review :)

Ini pertama Adek baca review Puisi Esai Denny JA. Sepakat dengan kontennya yang masih 'jauh' untuk digarap oleh penyair tanah air yg ada sekarang. Tulisan ini membuka cakrawala bang. Selain penyampaian yang agak banyol dari bang Koto, juga ada yg menempel di pikiran setelah membacanya. Ini lo, cara bertuhan dan ketidakadilan yang membunuh ribuan orang di negeri ini, yg kudu diberantas dan diluruskan selanjutnya :D

Selamat, semoga menang. hehehe

Salam Hormat,


Adek Dedees

Rengga Kandha mengatakan...

Ra sido entuk hadiahe lho bung.... Wakakakaka... Ya kalau saya pikir sepertinya doski kan banyak duit, jadi biar lengkap rasanya kalo ditambah dengan peluncuran buku dari beliau ;)

dian mengatakan...

Wah keren nih review. Bacanya serasa naik roller coaster.. Naik, turun, meluncur, menukik, ngambang dikit, dan nyess ga kerasa tau tau udah beres. Berkesan tapi di akhir kepikiran. Kenapa saya mau aja ya baca sampe selesai. Hahaha becanda.
Salam kenal ya!