9 Jan 2012

Mengenang Seorang Kawan: Afris Irwan


 Afris Irwan namanya, saya diperkenalkan oleh Dwi Cipta yang datang suatu malam ke kosku. Mereka datang bertiga, tak biasanya, seperti sekawanan maling. Ketiganya tampak begitu menyeramkan dan mata saya, sarat dengan pengetahuan mengetahui seluruh dunia dan seisinya. Dwi Cipta memperkenalkan dua rekannya, yang kemudian selalu mengiringinya ke mana-mana yang saat itu adalah calon presiden yang harus diurusi oleh sekelompok paskompres. Mereka berdua inilah. 

“Ini Ipang,” demikian lelaki pertama diperkenalkan kepada saya. “Menguasai syair Timur Tengah. Menterjemahkan banyak naskah dan mengelolah sebuah situs yang mengurusi sastra arab, www.duniaarab.com (sekarang lagi pause).” Ia memperkenalkan seorang lelaki gempal yang layak menjadi tukang pukul itu. Seram, saya merinding, luar biasa kemampuannya. Dwi Cipta benar-benar dikelilingi orang luar biasa. Lelaki besar dan mirip tentara gagal itu mengangguk pada saya. Tak banyak bicara, dia menyodorkan Marlboro. Saya mengangguk, agak cemas dan waspada. 

Belakangan, jauh setelahnya saya tahu, lelaki ini bernama Irfan Zakki Ibrahim, nama imut dan penuh barokah. Sosok lembut dan sejuk, layaknya sajak Nizar Qabbani yang dia terjemahkan dan kebetulan saya memperolah rahmat membacanya. Belakangan pula saya tahu, lelaki ini ternyata tak segarang waktu saya mengenalnya pertama kali. Mata merahnya tak menyurutkan selera humornya yang berlebihan. Dia pintar melucu dan paling jago menceritakan legendaris Madura bernama Sayuri itu. Dia punya versi lengkap melebihi siapa pun. Sepertinya klegenda itu miliknya, diciptakan olehnya, dan terjadi hanya untuknya. Dan saya rasa cukuplah memperkenalkan lelaki tangguh yang semoga sebentar lagi benar-benar akan menikah ini.

“Yang ini namanya Afris,” Dwi Cipta kembali bersuara. Lelaki yang dimaksud itu adalah seorang lelaki kurus tinggi layaknya pecandu yang sudah tobat, berambut gondrong dan memakai aksesoris di tangan, tali pada dompet, macam anak band yang sedang top saat itu.  Ah, barangkali dia sodaranya Ariel Peter Pan. Siapa tahu, bukankah Dwi Cipta selalu memiliki orang-orang dekat yang menakjubkan? Saya berpikir jangan-jangan dia intel atau semacam mata-mata yang disusupkan Negara dan disebar ke kampus-kampus. Dia menyunggingkan senyum kecil dan menyodorkan Djarum Super ke hadapan saya. Marlobro dan Djarum Super, rokok yang benar-benar tak menggugah minat saya. Mereka pastilah anak-anak brengsek, suka menggoda perempuan, dan jagoan di diskusi-diskusi kampus, dan rajin turun ke jalan. Dua hal terakhir mendekati benar, dua praduga pertama sepertinya tak beralasan sama sekali. Jauh-jauh hari kemudian ini saya ralat, mereka tak lebih dari sekelompok anak baik-baik, alim dan memiliki segudang pengetahuan yang siap diwariskan kepada saya.

Demikianlah adanya. Sejak malam itu kami resmi berteman. Mereka merupakan sekelompok, maksud saya, dua pemuda, tepatnya bertiga yang diharap-harapkan Soekarno mampu mengangkat gunung, dan sangat rajin dan ramah. Ipang menyegarkan saya dengan humor-humornya yang segar, memiliki banyak rahasia kawan-kawan, yang kalau sedikit saja dia bocorkan membuat kami tertawa sepanjang malam. Di kosku, kos Cipto dan Erwin, burjo…

Mereka berdua rajin berkunjung ke kosku, demi tugas-tugas yang mereka emban. Mereka tahan begadang dan ternyata memang tak pernah tidur malam. Demikian saja, kami akrab dan intim. Saya yang paling diuntungkan dari situasi itu. Afris bertugas mengurusi saya, mengantar sesuatu atau menjemput saya untuk pesta bakwan di suatu tempat, atau ketika kawan-kawan berkumpul di malam-malam penuh keajaiban. Seketika dia memberikan saya banyak. Tak hanya soal traktir makan dan rokok. Ia menghadapkan saya para sastra terjemahan, baik klasik maupun modern. Layaknya Tia Setiadi, ketika bicara sastra dunia ia terlihat berapi-api. Penuh semangat dengan segudang referensi dan buku-buku. Saya mendapat kesempatan main ke kosnya, luar biasa, dia nyaris tak mengenal sastrawan Indonesia. Dan itu pun diakuinya. Dia lalu membekali saya beberapa buku wajib yang harus saya baca. "Masak sastrawan Indonesia tak mau berguru pada sastrawan luar, " dia mengejek selera baca saya. Buku-buku tersebut masih mendekam di kamar saya, setengah enggan saya sentuh. Buku manis Orham Pamuk, James Joyce, Lu Shin, Ernest Hemingway adalah teks pembuka untuk saya dari Afris. 

Di luar itu ia merusak selera bermusik saya dengan mengenyahkan hobi saya mengoleksi dangdut koplo yang itu pun diwarisi dan diajarkan dengan sepenuh hati oleh Arek Njomplang kepada saya bertahun-tahun lamanya. Dangdut koplo dan sugesti dari seorang kawan, saya harus menghargainya. Itu belum cukup, lelaki tengik itu juga menitipkan seorang SPG yang terus mempromosikan dangdut koplo terbaru kepada saya: Kiting. Dua lelaki yang telah membuat saya begitu tergila-gila dengan dangdut koplo. Ditambah pula Thendra Malako Sutan yang mengajari saya dangdut nakal pantura, menyodorkan nama-nama imut macam Mela Berbie atau Lina Geboy. Tapi si Arek dan Kiting tak habis akal, dirayunya pula kawan saya yang lain An Ismanto untuk menyukai lagu-lagu Monata, mengenalkan Sodiq dan Alfi Damayanti. Apa daya, saya terlena dan memang Joss…

Ah, ah, kalau sudah ngomong dangdut koplo saya jadi suka ke mana-mana. Dan si Afris Irwan membujuk saya untuk mendengar Radiohead. Ah tidak juga, dia sengaja membawa flashdisk berisi album Radiohead yang dengan demikian dia memberikans aya kesempatan untuk mencuriny. Luar biasa, saya tak kenal pemuda Inggris unik ini dan sumpah mati jadi menyukainya. tak hanya musik dan sastra. Dia mengacak-acak pikiran saya tentang film yag layak ditonton dan tak layak. Film yang tak layak tentu saja dia menyebut, Film Indonesia penuh adegan sampah dan murahan. Dia tak mengatakan persis seperti itu, saya hanya meminjam suara dia untuk memaki film kita ini. habis kesal sih. Lalu dia memberi saya daftar puluhan film yang dia hapal di luar kepala yang dibagi menjadi beberapa kelompok: Kisah Nyata, Kisah wartawan, Adaptasi dari Novel, Hanya Ada di Amerika, Film yang Bikin Pusing dan sebagainya. Luar biasa. Dan dialah yang merekomendasikan film Once kepada saya yang lebih dulu diperkenalkan lagu-lagunya sebelum kemudian dia membawakan film tersebut special untuk saya. Dan sialnya, setiap pilihan dia selalu pas di hati.

Kami kemudian memasuki masa-masa sibuk dan penuh inovasi. Kami anak-anak muda yang sepertinya layak diberi penghargaan atas kerja-kerja tak jelas kami. Kami bukan pemuda bengal yang bisa diincar petrus di tahun 80-an, diawasi polisi. Kami bukan sekumpulan anak-anak pejabat yang nongkrong dengan mobil lengkap pula dengan perempuan. Kami bukan anak-anak para koruptor yang begadang sepanjang malam dengan menenteng minuman di tangan. Aku paling takjub dengan teman-teman baru ini. Mereka orang-orang hebat, Aim yang dewasa, Afif yang serius tanpa kehilangan selera humor, Sunlie yang imut dan bikin sebal tapi pandai menghibur, Fayyad yang tenang dan ramah, Nuruf "Hartodjo" Hanafi yang kalem, santun dengan lontaran-lontaran yang menakjubkan, Faisal yang selalu berbahagia. dan Dwi Cipta terus memperkenalkan nama-nama baru kepada kami: Rif’an, Ibud, Subhan, Khrisna….

Afris juga menterjemahkan banyak karya sastra. “Untuk dibaca saja,” aku pemuda yang meninggalkan jurusan Arkeologi ini.  Dia menikmati perjalanan, menikmati petualangan dari satu tempat ke tempat lain, menghapal semua nama kota di Jawa Tengah.  Dia bercita-cita suatu hari akan melakukan sebuah perjalanan besar. Saya takjub mendnegarnya. “Kau pun harus belajar menterjemahkan, dengan cara inilah kau bisa belajar bahasa Inggris,” katanya lagi. Tak sekedar kata-kata, dia mewariskan saya belasan cerpen dalam bahasa asing sebagai tugas untuk saya. Sampai hari ini tak sekali pun amanahnya saya lakukan. Maafkan saya.

Dia kembali dengan membawa cerpennya yang eksploratif. “Saya mengembangkan teknik narasi tokoh. Kau liat pengulangan yang diucapkan tokohnya, “maksud saya, maksud saya” dalam banyak bagian. Kamu tahu siapa yang menjadi bayangan saya sebagai tokoh utama? Maksud saya kau tahu?” Dia terkekeh, sialan, itu saya, maksud saya, dia meniru gaya bahasa saya yang bicara gagap dan terlalu cepat yang bahkan pacar saya, maksud saya, mantan pacar saya sendiri pun tak mengerti saya sedang bicara apa.

Begitulah cerpen menurut Afris. Realis. Bukan melulu imajinatif. Dia tekun dan sabar sudah begitu telaten pula. tak lama kemudian dia pulang. Sebuah kepulangan yang lama. Saat itu kami tak memiliki banyak pekerjaan dan nyaris tak ada yang kami lakukan. Afif menikah, disusul Sunlie, tak lama Tia juga tak mau kalah. Dwi Cipta pergi, membawa beban yang hanya dia yang tahu, Erwin sendirian, Ipang sibuk di Kali Opak, Rifan kembali ke LKIS, Aim sibuk dengan tugas-tugas di kampus, Bung Har suntuk dengan bacaan yang tak bisa ditinggalkan dan terjemahan-terjemahan berkilau yang dihasilakan (ah, suatu waktu aku ingin sekali mengenalkan bung Nurul "Hartodjo" Hanafi ini pada sodara-sodara sekalian). Dan saya terpuruk di kamar sempit, tanpa ada SMS “Ke Burjo dekat kosmu, ada bakwan…” Sementara Afris tetap tak kabar.

Lalu saya dilanda galau yang maha hebat, soal masa depan, rencana jangka pendek, rencana jangka panjang. Saya diserang panik dan penyakit susah tidur. Saya disibukan dengan urusan-urusan personal yang membingungkan, di saat-saat itu Afris datang. Saya stress dan mengabaikannya. Dia agak kaget dengan sikap saya seperti perawan sedang menstruasi itu. Mengenang Afris hari ini saya menyesali hari-hari terakhir bersamanya itu. Kenapa saya tak bertanya mengapa demikian lama di rumah, mengapa HP-mu tak diaktifkan, ada kawan-kawan yang menanyakan.

Kondisi kami masih saja vakum. Belum ada lagi yang kami kerjakan. Afris mengeluh sedikit. “Saya ke Yogya untuk melakukan kerja-kerja kecil seperti dulu,” katanya. Apa daya, suatu hari dia mengambil keputusan unik, dia berhenti kos dan akan “menggelandang” di Yogya. Dia menitipkan barang-barangnya di tempat teman. Sialan, coba buku-bukunya dititip di tempat saya ketika itu. Dan setelah itu ia memulai petualangan gila yang sudah lama dia idam-idamkan.

Lalu dia pergi. Pulang lagi ke rumah. Kedangannya yang tak sampai sebulan itu meninggalkan sesal yang menumpuk di dada saya. Saya tahu, menyuruhnya tetap di Yogya bukanlah kapasitas saya. Lagi pula saya tak bisa melakukan “kerja-kerja kecil” yang dia maksudkan ketika itu. Dia orang yang cekatan dan selalu ingin melakukan hal-hal baru. Saya menyesal tak bisa membantu mewujudkan keinginan kecilnya itu. Dan dia hilang. Kali ini tanpa bekas. Jika dulu kami bisa mengontrol kosnya di dekat tugu itu, sekarang dia tak punya alamat. HP-nya kembali tak aktif. Pasti dia beralasan, rusak. Facebooknya tetap sepi dan kosong. Ah, jangan-jangan ia memang merencanakan ini dengan matang, pergi diam-diam dan membiarkan kami, kawan-kawannya kalang kabut mencari info tentangnya.

Sampai kini ia masih tak ada di tengah-tengah kami. Kepergiannya disusul kesibukan kawan-kawan membuat saya berpikir, saya pun harus hijrah. Saya percaya, kepergiannya, sebagaimana kawan-kawan yang kemudian mengambil keputusan-keputusan besar, memiliki kontrakan, mendapat pekerjaan dan melakukan inovasi-inovasi dalam hidup, adalah hal yang juga kini dilakoni Afris. Saya merindukan Afris ketika dia benar-benar nyaris tak bisa ditemukan. Dia pulang, dan tak ada yang tahu di mana dia tinggal. Dia perenung dan suntuk dengan bacaan, musik dan film. Dia orang romantik yang merindukan masa lalunya dengan seorang gadis di kampus yang terus dikenangnya, dan dikekalkan sebuah foto lusuh dan buram. dia penuh rencana dan melakukan banyak terobosan dalam hidupnya.

Kadang saya berpikir, jangan-jangan Afris itu tak ada. Ia muncul di tengah-tengah kami memberikan sebuah warna dan petunjuk kepadaku: mengubah beberapa hal, menujukkan kelemahan-kelemahanku, lalu pergi lagi ke tempat dan waktu yang lain untuk melakukan hal yang sama. Bagaimana pun dia pasti ada di sebuah kota di Jawa tengah sana, sebuah kota kecil dicapai setelah melewati temanggung. Aku percaya suatu waktu dia pasti datang. Dia pasti akan kesepian. 

Dia pernah merasa kehilangan kampungnya sendiri, masa kecil dan semua kawan bermain. “Bahkan saya nyaris tak mengenal tetangga lagi. Orang-orang datang dan pergi di kompleks saya, layaknya stasiun,” katanya. Saya membayangkan tempat tinggalnya dipenuhi orang-orang sibuk, dan digantikan orang sibuk lainnya yang bahkan tak mengenal tetangga sendiri. Aku masih berharap suatu waktu dia datang, mengangkat telepon dan pasti suaranya  benar-benar ada di seberang. saya membayangkan ia bisa membaca tulisan ini dan marah, ah saya baru sadar, ternyata saya belum pernah melihat dia marah, dan mendatangi saya dengan rambutnya yang keriting dan panjang, jenggot yang dianggap serupa kawanan teroris, celana biru yang sobek dilutut, kaos hitam layaknya musisi underground, aksesoris kaum skinhead yang membuatnya selalu aman dalam perjalanan kereta api.

Saya rasa, suatu waktu, kami, maksud saya kami semua akan merindukan masa-masa ini: berkumpul di MCR bersama Krishna, duduk di burjo makan bakwan, bertandang ke kos Aim, panik mencari pakaian yang pantas untuk datang ke sebuah pernikahan. Tentu saya mengingat ketika Afif menikah, Afris, Ipang di Cipto mesti sibuk sejak pagi mencarikan  kemeja batik dan sepatu untuk saya. Saya merindukan kawan-kawan yang berkumpul di kontrakan Cipto dan Erwin. Dan saya merindukan Afris, seseorang yang tak lagi ada bersama-sama kami. Seseorang yang tak bisa lagi diajak bicara ketika ingin, seseorang yang tak membalas inbox dan pesan di facebook. Aku mengenang seorang rekan Aliansi Pemakan Ubi, kelompok yang menjauhkan diri dari riuh-rendahnya kehidupan, melakukan perlawanan dengan membakar dan pesta ubi bakar, sebagaimana saya alami di masa remaja dulu Dia menyukai cerita itu, dia menyukai perlawanan sederhana itu Dan kini ia melakukannya pada kami….

Yogyakarta, Januari 2012

7 komentar:

Cyberguru mengatakan...

Agan bisa aja...
menghadirkan cerita keseharian enak dibaca. semoga Afris tidak hilang, cuma sembunyi aja...
:)

artika maya mengatakan...

orang-orang datang dan pergi...

semoga afris menemukan sesuatu yg membuatnya tak menyesal mjd salah satu penghuni bumi.

Simbah mengatakan...

alvi damayanti bro, bukan alfi puspita. terus ane maniak monata, bukan palapa. (sori, racun arek njomplang memang manjur. xixixixixix)

Wahyu Eko Prasetyo mengatakan...

hehehe

indrian koto mengatakan...

Jusuf AN: Ah agan terlalu memuji. Semoga ia segera kembali.

Artika Maya: Aku selalu tak bisa jika ditinggalkan. Duh...

Simbah:Sudah tak ganti Bro, Aneh juga memang, kok saya nulisnya Alfi Puspita ya? Duh..

Wahyu: Huhuhuhu

subiajakokrepot... mengatakan...

Menarik...

mengalir saja...

Salam buat Afrismu..

semoga kita adalah kesepuluh pemuda yang dicari Bung Karno...

indrian koto mengatakan...

Subiaja Tak pernah repot: Kita....????? Semoga deh, amiinnnn