25 Sep 2012

Lampu Merah


 Harusnya aku berbelok ke kiri saja begitu melewati lampu merah di pertigaan jalan tadi. Mengambil arah kiri akan lebih dekat sampai ke rumah, tapi sewaktu-waktu ada razia—kadang sampai jauh malam. Berbahaya buatku yang tak memiliki surat-surat kendaraan yang lengkap. Aku memilih memacu motor lurus ke depan. Menjelang perempatan, jalanan tampak kosong. Gerimis jatuh satu-satu. Toko-toko yang kulewati sudah dari tadi tutup. Rasanya aku seperti melewati kota yang sudah lama ditinggalkan.


    Di ujung jalan, aku dihadang lampu lalu lintas yang menyala merah. Aku berniat menerobos kalau saja kendaraan dari arah kiri tidak menyerobot duluan. Aku menarik resleting jaket, gerimis membuat tubuhku basah. Di motor tak ada mantel hujan. Rasanya sangat konyol jika harus berhenti dan berteduh. Ini hanya gerimis saja. Lagi pula terlalu sepi di sini, hanya ada bekas sawah yang dikeringkan dengan papan pengumuman: dijual. Di sebelah yang lain berdiri kantor pemerintahan yang memiliki pagar tinggi.
118, 117, aku membaca penunjuk angka di samping lampu merah. Di waktu-waktu tertentu petunjuk itu sering kacau. Dan ini sungguh-sungguh sangat lama bagiku. Satu-satunya cara menunggu yang tidak membosankan adalah ikut menghitung mundur angka itu. Aku menghitung dalam hati lebih pelan dari gerakan angka yang terpasang di atas tiang lampu. Itu cukup mengurangi waktu.
            Aku mulai menghitung mundur dalam hati. “112, 111, 110…”
            Aku menengok ke samping. Seorang gadis di atas motor matic-nya berada beberapa senti di sampingku. Ia menatap lurus ke depan dengan perasaan yang begitu tenang. Kaki kanannya yang diturunkan ke jalanan yang mulai basah, bergoyang ringan, membuat daging-daging kakinya ikut bergetar. Kaki semampai yang terbuka itu berkilau dihantam gerimis. 
            Aku bisa mencium aroma parfumnya lamat-lamat. Aku memperhatikan sekeliling. Cuma ada kendaraan kami. Kenapa dia sendirian malam-malam? Kenapa ia berada sedekat ini denganku? Apa dia tidak takut kalau aku menggoda dan berniat buruk padanya? Atau berada di sampingku cukup aman baginya jika ada pengendara lain yang berniat iseng? Jarak kami cukup rapat, setang motorku nyaris beradu dengan pegangan jari tangannya. Hanya dia agak sedikit maju beberapa senti dan itu cukup menguntungkan. Aku bisa menatapnya dengan bebas, memperhatikan dia keseluruhan. Sementara jika dia ingin memandangku, ia harus memutar kepala sedikit ke belakang. Rambutnya yang lurus dan hitam menyembul dari helmnya. Bentuknya mungkin tak jauh beda dengan rambut anak muda lainnya, berponi dan lurus-panjang di bagian belakang. Butiran gerimis membentuk bulatan-bulatan kecil di sekujur helmnya yang hitam. Ia memakai kaos putih yang penuh dengan tubuhnya yang tinggi semampai. Celana dalam menyembul dari bawah kaos dan celana pendek coklat sepaha yang dikenakannya.
Aku bisa menelanjangi dirinya dari sini. Melihat garis kutang yang dipakai, kulit punggungnya yang kuning terpampang lebih transparan karena cahaya dan butiran gerimis yang menimpanya. Aku bisa dengan bebas melihat kulit pahanya yang padat-kenyal. Menyusuri lututnya yang bersih, betisnya yang ramping, tumitnya yang bersih, hingga ujung-ujung jarinya yang menyembul dari balik sandal karet yang dikenakan. Ia berdandan seperti tanpa berdandan.
Sekejap, mata kami bertemu. Dan sumpah, aku gugup setengah mati. Seketika aku mengalihkan pandangan ke penghitung waktu. 73, 72, 70, 69... Astaga, rasanya cepat sekali waktu ini bergerak.
             Seandainya aku mengenalnya, tentu akan ada percakapan yang bisa saya mulai. Dia pasti akan membalas dengan antusias pembicaraan pembuka itu, mengingat dari bentuk wajah dan garis bibirnya, dia bukanlah gadis yang pendiam dan pemalu, namun juga tidak termasuk tipe perempuan yang cerewet dan judes. Mungkin aku akan bertanya apakah dia merasa dingin karena hujan dan angin malam. Kalau dia mau aku akan membuka jaket, membiarkan dia memakainya, membuat bau kami saling bercampur. Besok, aku punya alasan untuk berkunjung. Puncak hidungnya terlihat merah, ah, pasti dia tidak terbiasa dengan gerimis dan angin malam. Aku yakin di rumah nanti dia akan diserang flu habis-habisan.
            Bibir tipisnya melengkung datar. Bagian atasnya lebih tinggi atau bibir bawahnya yang agak sedikit mundur ke belakang. Dan itu membuat dagunya sedikit melengkung, meninggalkan bentuk pecahan pada ujungnya. Aku tak tahu di tahun-tahun belakangan apakah kecantikan masih bisa dilihat dari bentuk dagu dan garis bibir. Rambut berponi, kaos putih ketat dan celana sepaha seperti dikenakan gadis ini membuat perempuan terlihat sama di mataku. Belum lagi anting yang terpasang di hidung, dagu, bibir, lidah dan pusar menambah-nambah nilai keseksian seorang wanita. Tapi gadis ini lebih menarik. Alisnya tebal dan sudutnya terlihat begitu tajam. Aku mencoba meyakinkan bahwa gadis di sampingku ini memiliki kecantikan yang alamiah. Sudah ada begitu saja sebelum produk-produk sialan itu memaksakan kehendak mereka.
            Aku berharap kami bisa saling mengenal. Bertukar nomor HP atau alamat facebook. Kukira akan menarik, aku bisa melihat koleksi fotonya yang pasti banyak dan tidak dibikin amatir, misalnya dengan mengarahkan kamera dengan tangan kanan dan mengacungkan dua jari kiri di depan wajah yang memasang senyum cerah. Mungkin dia mahasiswi di unversitas, institut jika bukan sekolah tinggi, atau akademi yang tersebar di kota ini. Di kampus, kawan-kawan fotografinya—hampir di setiap kampus selalu ada komunitas ini—tentu akan memintanya menjadi model mereka. Atau jika ia bekerja di salah satu distro, caf√© atau coffee shop dan aku tetap yakin dia menyimpan foto-foto yang lebih matang.
Apakah aku akan menyapanya? Bagaimana jika dia tidak merespon? Sementara kendaraan dari arah depan terus melaju lurus dan ke arah kiri kami. Tak ada celah untuk lari. Tapi kupikir dia tak sejahat itu. Aku tak akan menolak untuk mengantarnya sampai ke rumah atau tempat kosnya. Harus benar-benar yakin ia sampai dengan selamat. aku akan dengan senang hati membikinkan dia jeruk atau jahe hangat. Aku khawatir, kota ini sudah mulai tak aman. Hampir setiap malam mulai ada pencurian dan perampokan. Seseorang bisa saja kehilangan barang berharganya di tengah jalan. Laptop atau dompet, tas kecil atau bungkusan di gantungan motor. Belum lagi isu pembacokan di jalan-jalan. Beruntunglah gadis ini tak membawa apa-apa. Tapi penampilan dan kecantikan yang tak bisa dilepaskan, akan mengundang kejahatan lain yang tentu lebih menakutkan. Aku pernah mendengar cerita seorang anak kos yang kelaparan di tengah malam minta diantar membeli gudeg pada tukang ojek. Gadis itu diperkosa, dan ditinggalkan telanjang di tengah malam.. Aku juga punya teman yang masuk rumah sakit karena dipukuli gara-gara perampok tertarik pada tas kecilnya yang hanya berisi sikat gigi. laptop tetangga kosku yang hilang ketika kamar kosong ditinggal shalat jum’at. Kasus pencurian, penodongan, kehilangan, pembunuhan, intimidasi bagi mahasiswa di kota yang dulu aman-tentram ini, berebut tempat di dua koran kriminal yang bersaing di kotaku.
42, 41, 40. Sialan, pikiranku sudah melantur ke mana-mana. Aku menengok ke belakang, masih belum ada kendaraan lain. Hanya kami, dua kendaraan saja. Gerimis terasa semakin deras. Tapi aku kehilangan rasa dingin dalam sekejap.
            Dia menatapku dengan ekor matanya. Apakah aku harus menyapanya? Menanyakan dari mana dan hendak ke mana? Jika dia mau meladeniku tentu amat menyenangkan perjalanan ini. Tapi jika tidak, betapa menyiksanya. Aku tak akan kuat menanggung malu dan berada di bawah lampu yang masih berwarna merah ini. Atau jangan-jangan dia akan ketakutan dan segera memutar ke kiri jalan. Mungkin perjalanannya menjadi tambah jauh, tapi setidaknya dia merasa aman.
            34, 33… Sial! Aku merasa waktu seperti berlari di hadapanku kini.
Di tengah malam begini, di bawah lampu yang menyala merah, gerimis pula, dan tak seorang pun ada di antrian selain kami. Gadis mana yang mau meladeni seorang lelaki yang tak lagi muda ini?
            Kupikir dia mungkin saja terlambat pulang dari tempat kerja atau baru dari tempat temannya. Bisa jadi dia baru saja mengantarkan kenalannya ke stasiun, terminal atau penginapan. Mungkin ia habis nongkrong dengan temannya di pusat kota atau kedai kopi. Atau mungkin saja dia hendak atau habis dari tempat kekasihnya. Apakah dia sudah punya pacar? Keterlaluan sekali laki-laki itu yang membiarkan gadisnya berkendaraan malam-malam. Hujan, dingin dan tentu tidak aman.
            28, 27… waktu benar-benar berlari. Apakah aku perlu menyapanya sekarang? Beberapa kali mata kami bertemu. Mimik wajahnya tak berubah. Ia tetap tenang dan santai. Ia tidak berekspresi berlebihan. Sesekali kakinya masih bergoyang, menggetarkan semua daging yang bergelayut di tubuhnya. Apakah ia sedang bahagia? Kalau pun dia bersedih, dengan wajah yang sekarang, tak satu pun orang yang tahu kesedihannya.
            Gerimis masih turun. Kulihat ia menyeka wajah seperti yang baru saja kulakukan. Dan aku melihatnya seperti gadis yang baru bangun dari tidur. Dia kembali melirik dan mata kami bertemu untuk ke sekian kalinya. Gila, aku tak kuat untuk tak menghindar. Aku membaca penghitung waktu. 16, 15…  Aku tahu dia mengamatiku dengan seksama.
            Jika saja ada perubahan emosi dari wajahnya, aku akan segera menyapanya. Dan hap! Pandangan kami kembali beradu. Mungkin aku berkeringat, tapi beruntung malam dan gerimis telah meleburkan semuanya.          
9, 8… sebentar lagi kami akan melewati jalan yang sama. Bergerak lurus ke depan dan menghadapi lampu merah yang tak terlalu lama dari yang sekarang. Kami mungkin akan segera berpisah, di depan, jalanan yang lebih besar menghadang. Puluhan atau mungkin ratusan kendaraan akan memisahkan kami, perempatan dan pertigaan jalan akan membuat kami tak akan pernah saling mengenal. Bisa jadi kami tinggal di daerah yang sama, kemungkinan untuk bertemu hanya satu dibanding seribu. Ini perpisahan yang menyedihkan buatku.
            Kota ini penuh lampu merah dan sangat tidak beraturan. Tak jauh di depan sana, akan ada lampu merah lagi. Mungkin arah kami sama atau berpisah di sebuah pertigaan atau perempatan. Bisa saja kami akan mengendarai motor dengan pelan, menikmati hujan dengan tubuh yang terlanjur basah ini. Atau berhenti di sebuah kedai kecil, atau angkringan lalu memesan teh hangat atau jahe. Tapi rencana yang terakhir ini kukira terlalu berlebihan.
Apa rasanya berjalan dengan perempuan berusia belasan tahun bagi lelaki yang sudah berusia tiga puluh dua?
            Suara klakson di belakang cukup mengagetkan. Dengan spontan aku menarik gas dengan kecepatan tertentu. Astaga, belum hijau. Pengendara lain pasti sedang iseng dan berniat mengerjai. Untung aku belum melewati marka jalan. Sialan, sudah sejak kapan ada kendaraan lain di antara kami? Aku melihat gadis itu tersenyum. Tentu tingkahku terlihat lucu baginya. Ini pertanda baik untukku memulai percakapan di lampu merah di depan sana, kalau dia mau.
            Masih dua detik lagi. Aku berada beberapa senti di depannya. Dia bisa menatapku lebih bebas. Ini membuatku panas dingin, karena aku tak mungkin berani menoleh ke belakang. Lalu dengan satu gerakan dia melaju. Lalu suara klakson di belakang yang seperti memaki dan mengejekku.
            Aku melewati dia yang memacu kendaraan dengan tenang dan terjaga. Gerimis masih jatuh. Dari spion aku melihat dia tak jauh di belakangku. Sebentar lagi perempatan. Aku sudah bisa melihat lampu hijau di sana menyala. Aku sengaja memperlambat laju kendaraan, berharap dia akan melakukannya pula dengan spontan. Aku ingin kami terjebak untuk kedua kalinya di lampu merah. Dia mengikuti gerak kendaraanku, tidak mencoba mendahului. Ayo merah, merah…
            Dia masih berada di belakangku. Sebelum kami sampai di perempatan, lampu berwarna kuning. Yup, kami akan sama-sama terjebak lagi. Untuk pertama kalinya aku merasa berhutang budi dengan lampu merah. Tapi sebelum warna kuning berubah merah, dia menyerbu lebih dulu, membunyikan klakson dan melaju seperti kilat. Aku memundurkan gigi motor sebelum mengejarnya. Tapi kendaraan dari arah kiri sudah lebih dulu menyerbu. Aku hanya bisa menatap gadis cantik itu menghilang di seberang jalan lalu tenggelam bersama malam.
            Rasanya 90 detik di bawah lampu merah akan sangat menyiksa.
Yogyakarta, Februari 2010-April 2011

Tidak ada komentar: