2 Okt 2011

Mobil



Aku merasa aneh saja ketika punya bayangan gimana kalau tiba-tiba aku punya mobil? Sampai hari ini aku tak punya keinginan bisa memilikinya. Kalau misalnya suatu ketika aku lagi jalan tiba-tiba dikasih dan disuruh membawa mobil oleh malaikat berwajah manusia aku pasti bakal nangis-nangis gimana caranya agar aku bisa terima mentahnya saja. Apa sebab? Pertama, aku tidak bisa nyetir. Jadi tak mungkinlah aku bisa bawa mobilnya pulang, dodol. Kedua, aku gak mau si Arek Njomplang item dan jelek datang ke tempatku sambil senyum-senyum. Aku betul-betul merasa dihina kalau sudah begitu. Ia seperti meledek aku yang imut ini sebenarnya ompong. 


Rasanya ngomongin si Arek Njomplang ini tak ada habisnya. Dia orang yang paling ajaib sedunia. Penyuka dan rela mati demi dangdut koplo. Dia orang yang penuh kejutan dan hanya bisa menangis kalau sudah benar-benar sendiri.

Tapi mungkin lebih baik aku membicarakan mobil saja. Aku tak bisa menyetir mobil. Kalau ada yang ngasih saya mobil cuma-cuma itu sama saja meledek dan menghina saya, yang pasti tak bakal mampu membelinya. Selain itu saya suka mabuk kalau di kendaraan pribadi macam itu. Sumuk. Saya tak suka. Jadi saya berpikir saya tak ingin punya mobil, tak bisa nyetir, gak bisa beli, takut selalu kehabisan mobil, ditambah pula tak kuat lama-lama di dalamnya. Aku juga tak ingin merepotkan si Fahmi dengan urusan teknis. Minta diantar ke sana ke mari yang tentu dia dengan rela hati melakukannya.

Mobil itu mengeluarkan asap yang bisa merusak alam semesta, bikin macet, bikin sebel pejalan kaki, bikin iri pengendara motor kalau hujan. Mobil itu seperti identitas, sebuah status. AKu tidak suka dengan stratifikasi sosial macam begini. Masa saya harus menulis buku seperti Marx dan bagaimana menyelamatkan “kita”, kelas sosial tak bermobil dari godaan kapitalisme dan senyum manis si Arek Njomplang.

Aku lebih suka tak punya mobil ketimbang kehilangan si Arek Njomplang. Namun begitu aku tergoda juga bisa memiliki kawan yang bermobil duh, betapa borjuisnya daku.
*** 

“Lingkungan kita ini benar-benar tidak meningkat,” kataku pada Mahwi ketika kami main ke Wonosobo, ke rumah Ucup. “Masa kita tak punya teman yang bermobil.”

Mahwi tertawa-tawa lalu mulai berpikir keras menolak logikaku. Ucup mesem-mesem.

“Ada, mas Ismet, Mas Joni, Kang Aguk…”

“Maksudku kawan yang setiap sore ngajak nongkrong pake mobil gitu..”

“Ada, ada.” Ucap Mahwi cepat. “Arek Njomplang.”

Sialan, dia lagi. “Tapi diakan cuma hobby nyetir.”

“Kita doakan saja supaya dia cepat punya mobil dan ngajak kita jalan-jalan.” 

Kali ini Ucup tertawa-tawa, aku yang mesem-mesem.

Semoga saja. Amin!

“Mari berdoa agar kita punya teman yang mengajak kita jalan-jalan pake mobil dan teman kita si Arek Njomplang segera punya mobil,” saran Ucup dengan suara yang tenang. “Kita mulai dengan sholawat bersama-sama..”
***

Sepertinya Tuhan mendengarkan kami. Ketika aku ikut ke Surabaya menemani Ucup diskusi buku Mimpi Rasulnya bersama Mahwi, kami akhirnya bisa melihat kota dengan jalannya yang padat tetapi teratur itu. Tak hanya sekedar bertemu Mardi Luhung, naik kereta bersama Mashuri, bertemu Alex Subandi, Imam Muhtarom dan jalan di UNAIR. Ini ajaib, kami ternyata punya teman yang bermobil dan mengajak kami jalan-jalan naik mobilnya. Dia Gita Pratama, bidadari berhati teduh yang sengaja diturunkan Tuhan di bumi pelabuhan nan panas itu. Utang saya pun lunas padanya.

Sepanjang hari kami diajak berkeliling bersama Diana AV Sasa dan Wina Bojonegoro disopiri Cak Bagus yang selalu ceria. Keliling kota, ke rumah Hos Cokroaminoto, ke Museum Sampoerna, lewat Jembatan Merah hingga menyeberang jembatan Suramadu dan singgah di Madura, makan martabak di Bangkalan, di rumah Dani yang mengurus Azzura Education Center. Madura men. Mampus kali ini si Irwan Bajang yang kemarin nyebrang Suramadu dibonceng Edy Firmansyah dan dengan bangga mengipas-ngipaskan tiket penyeberangan yang tiga rebu itu. Dendamku terbalaskan sudah. Keinginan balas dendamku yang mulia ini diridhoi oleh Mbak Sasa, Gita, Nawi dan semoga saja Gus Muh.

Bukan, bukan, ini bukan mau pamer. Jika saja doaku naik diajak teman, jalan naik mobil, barangkali keinginan kami yang lain bisa terkabulkan. Jika kami hanya berharap suatu kali diajak teman naik mobil kami telah mendapat lebih, mutar-mutar kota, ke Madura, ditutup dengan karaokean. Sungguh sebuah berkah saya bisa melihat aksi panggung nan heboh persembahan biduan Surabaya terkini yaitu Gita Sahara, Wina Anjela, Diana Sastra, ditemani Ucup ‘Sodiq’, dan Cak Mahwi. Bukannya mengingat suara emas Yetti A KA, Pranita Dewi dan Ira Wangsa, aku justru teringat Arek Njomplang. Aku rindu dia, lebih dari sekedar mengetahui referensi terbarunya mengenai dangdut koplo, tapi kerinduan sepenuh doa: jika doa kami terkabulkan bisa diajak teman naik mobil, siapa tahu si Arek Njomplang segera bisa punya mobil.

“Amiiinnn…” Mahwi dan Ucup menjawab bersamaan.

Aku senang. Irwan Bajang tumbang sudah. Utan lunas. Doa terkabulkan. 

“Mari kata tutup dengan Sholawat dan berdoa untuk kawan Arek Njomplang…” ucap Ucup lamat-lamat. Alhamdulillah ya, semoga jadi sesuatu.

Surabaya, 1 Oktober 2011




7 komentar:

Remaja Muda Belia nan Rupawan Selalu Sejahtera mengatakan...

hahahahahaha..... mana buktinya? kalau di pengadilan, meskipun ada saksi tapi nggak ada bukti, itu sama aja bohong. buktikan dengan tiket, foto dan saksi. :))

filmbuku mengatakan...

1. Ini link bloggku http://filmbuku.wordpress.com/
2. Akibat dari itu semua nampaknya bakalan terlambat ke Mojokerto. Jam segini kalian belum bangun(sudah 3 x dibangunin)
3. Tugas ke3:siapkan buku2 buat Azzura

crystalistgita mengatakan...

Wah.. masih ada yang nantangin minta bukti tuh. tunjukkann koto. kamu bisaa...
Allhamdulilah yaa... sesuatu. wkwkwkwkwkkw.....

BTW kata siapa utang lunas, janji ngajak keliling negeri pertiwi belum. hahahahaha....

nona senja mengatakan...

mas, saya juga ndak punya mobil og. etapi saya bisa nyetir ding. wakakka wakkaka wakkaka wkawkakkakka

Cyberguru mengatakan...

punya mobil atau tidak punya mobil tetap saja macet...

maya mengatakan...

salam lah buat si pecinta koplo, arek njomplang.

saranku: nggak usah py mobil deh, sepeda aja atau kuda. sekian.

kuli Pelabuhan mengatakan...

Remaja Muda Belia: Terimalah kenyataan itu nak...

Filmbuku: saia sudah baca itu resensi yang luar biasa. saia nyaris menangis karenanya.

CrystalistGITA: Nyang begitu gak usah diladeni deh. Hehehe.. Masih ada utang? Boleh tuh.. hehehe

Nona Senja: Dulu aku selalu percaya filosofi begini, "kau akan bisa menguasai apa pun yang kau miliki". Bisakah itu berlaku pada saya?

Guru: Mari kita bersalawat... Macet, hmm.. ide menarik untuk edisi berikutnya tuh..

Maya: soal Koplo, ane punya rencana akan menulis tentang itu. tentu narasumbernya Arek Njomplang. Tulisan ini baru prolog mengenai dia kok.