14 Des 2010

Potret Kawan Dasyat -1

Angga Yusya Putra
(Pemilik Surantih Radio 98,7 FM)

Saya merasa beruntung punya teman-teman dasyat yang memilih bertahan di kampung halaman dengan melakukan hal-hal yang tak terduga. Visi memajukan masyakarat inilah yang saya kagumi pada mereka. Orang-orang macam ini memang tak banyak, dan selalu susah untuk dicari. Inilah yang ingin saya ceritakan pada anda, tentang orang-orang dasyat yang masih saja terselip di antara banyak orang yang meikirkan dirinya sendiri.
Orang pertama yang akan saya ceritakan adalah Angga Yusya Putra. Lelaki kelahiran 6 Agustus 1983 ini adalah teman satu sekolah dengan saya waktu di SMK 5 Padang. Ia juga sempat kuliah di ITENAS tahun 2002 lalu memilih menetap di rumahnya yang berada persis di pasar kecil dan nyaris satu-satunya kecamatan kami, Surantih.
Meski pun kami satu sekolah dulunya, kami ternyata belum pernah saling bertemu dan bertegur sapa sama sekali. Aneh ya? Dia jauh lebih dasyat dan beruntung dari saya ketika itu. Ia lulus dan bisa kuliah ke Bandung dan dengan sengaja ia tidak menyelesaikannya. Pilihan yang luar biasa juga bukan? Sementara saya, hanya setahun saya menikmati ketersiksaan sekolah di jurusan Elektronika itu. Saya pusing kalau disuruh menggambar, saya buta warna, jadi akan sangat panik jika disuruh menghitung transistor, saya sangat bingung jika harus merakit bel atau lampu, apalagi harus mendesain sendiri papan PCB. Saya hanya setahun di sana lalu dikeluarkan dengan catatan TIDAK NAIK KE KELAS DUA.

Meski kami tidak pernah bertemu (atau bisa jadi pernah tapi kami saling mengabaikan satu sama lain, dulu) dan berbicara, ternyata diam-diam dia terus mengamati saya dan begitu pula sebaliknya. Sejak saya bertemu dia di FB (terpujilah dia), saya berusaha menjaga komunikasi agar tetap lancar dan silaturahmi terjalin, sehingga kelak, bila saya pulang kami bisa bertemu. Dan demikianlah adanya, dia menyalami saya erat sekali, seakan teman sejak kecil dan baru bertemu hari ini. saya bangga sekaligus terharu melihat dirinya pertama-tama.

***
Kenapa saya bilang kawan Angga ini luar biasa? Bukan karena semata-mata dia bisa tamat di STM dan saya tidak. Dia kuliah di Bandung dengan segudang pengalaman dasyat dan hebat yang dia bawa pulang saja, buat saya sudah luar biasa. Dia juga anggota aktif di RAPI. Dia intens berkomunikasi dengan kawan-kawan di seluruh Sumatera Barat-Riau dan sekitarnya lewat radio amatir, dan bayangkan, di kabupaten Pesisir Selatan tempat kami bercokol, nyaris dialah satu-satunya orang yang aktif di radio komunitas antar penduduk tersebut. Sungguh-sungguh luar biasa. Selain itu dia adalah teknisi radio di kabupaten saya. Salah satu radio yang dia urusi adalah Langkisau FM, radio publik milik PEMKAB. Bahkan dia sudah ada di belakang lahirnya radio di ibu kota kabupaten kami, Painan, sejak awal mula. Bayangkan, seorang kawan saya yang kurus, berambut kribo dan nyentrik itu seorang pemikir hebat. Dan puncak kekaguman saya padanya adalah di Surantih, kecamatan saya itu, dia hidup-mati dengan mendirikan Surantih Radio dengan gelombang 98,7 FM dan moto “Radionya Surantih Raya”. Orang sedasyat dia sengaja memilih menetap di kampung halamannya untuk mencoba memberikan informasi dan hiburan bagi masyarakat sekitar yang notabene adalah pelaut dan petani. Tidak sederhana jika anda tinggal di tempat saya, dan tentunya tempat-tempat lain di daerah lain juga akan mengalami kendala yang sama. Dia meninggalkan masa depan menggiurkan di Bandung sana untuk semua itu, bagi saya ini sungguh luar biasa. Belum lagi tekanan dari orang dekat dan masyarakat secara umum tentang dunia baru yang dia tawarkan: Radio.

“Kuliah, saya hanya mempelajari teori-teori saja. Saya memprakteknya kontakan. Kami sempat punya radio dengan pemancar sendiri yang lumayan ‘mengganggu’ masyarakat sekitar dengan siaran kami.”ceritanya ketika saya bertanya tentang kuliahnya. “Saya sempat bekerja menjadi teknisi dan memasang pemancar sampai ke Sulawesi sana. Pada akhirnya,” dia menerawang. “Saya merasa harus melakukan sesuatu untuk kampung saya sendiri. Dan benarlah, mereka menganggap kerja saya sudah tertinggal jauh. Dunia sekarang sudah televisi dan internet, tapi saya masih juga bikin radio. Tapi ya itu, pada akhirnya mereka juga mau menikmatinya.”

Saya rasa cukuplah saya menjelaskan posisi dia, nanti anda mengira saya tukang sanjung belaka. Tapi dengan keinginan dasyat dan hal-hal kecil yang dia lakukan tersebut, tetap bertahan di kampung, bertahan dengan radio yang dirakit sendiri dan tentu dipasang sendiri dengan dana sendiri pula merupakan dedikasi luar biasa yang tak bisa dinominalkan. Saya mengagumi semangatnya dan hal-hal yang sudah dia lakukan tersebut.

“Saya benar-benar sendirian, mulanya cukup memberatkan bagi saya. Mulai dari urusan teknis dan operasional. Sementara saya juga harus berjuang menghidupi diri saya dan radio ini.” Begitu kawan Angga berkata dengan saya di sebuah kedai kopi di depan pasar. Ia bicara tanpa kesedihan sama sekali dan tetap asyik menikmati teh telurnya yang beraroma jeruk nipis. Tapi saya terasa perih. Apa yang bisa saya lakukan untukmu kawan? Tak ada. Sementara saya baru berkutat dengan rencana dan ide, dia sudah melakukan sebuah hal yang jauh lebih konkrit dari yang dipikirkan pemilik sah kabupaten itu sendiri. “Radio, menjadi media komunikasi dua belah pihak, apalagi dalam kondisi rawan. Akses media ini membuka kesempatan untuk komunikasi langsung antara warga dengan pihak yang berwenang sekaligus sebagai pusat informasi bagi mereka.”

Saya bisa merasakan itu dan menghargai pilihan dia untuk menutup sementara waktu radio yang menjadi harapan besar dia dan saya itu. “Tak bisa dengan semangat saja,” sambungnya pula.

Saya hanya mengangguk dan menatap jalan raya yang berlubang. Jalan raya yang mengubungkan ibu kota provinsi saya, Padang dengan sungai Penuh di Jambi sana dan Bengkulu. Saya merasa perjuangan kawan Angga seperti Jalan Lintas Provinsi ini, terabaikan sekaligus dimanfaatkan banyak orang.

“Sudah ada yang menawar semua alat-alat saya. 50 jutaan,” sambungnya pula. “Saya merasa bukan itu yang saya inginkan. Peralatan di studio saya ini merupakan harapan besar saya, tak bisa dibayar dengan uang. Bertahun-tahun saya mengembangkan studio dan alat-alat tersebut. Kamu lihat berapa banyak barang-barang dalam ruang saya yang semakin sempit itu? Saya merakitnya sedikit demi sedikit tanpa bantuan apa pun.” Ia membakar Marlboro, rokok putih yang baunya saja membuat perut saya mau meledak.

“Lalu,” kata saya setengah berbisik. “Apa yang membuatmu bertahan dengan ini semua?”

Dia meniupkan asap rokoknya, tepat di muka saya. Saya cepat-cepat menghirup teh telur. “Semangat perubahan yang harus dimulai dari dalam,” katanya selembut angin yang meniupkan debu dan sampah dari arah pasar, tetapi terasa keras di telinga saya. Sungguh, saya tertampar karenanya!

Saya mengunjunginya malam-malam di hari kedua setelah saya sampai di kampung. Saya datang ke sana bersama seorang kawan yang tak kalah dasyatnya, Wal Ependri namanya, yang juga menghabiskan waktunya sekarang di kampung dengan membuka toko alat-alat tulis, fotocopy dan cetak foto. Seperti aku, si Wal juga belum pernah saling menyapa degan si Angga.
“Bagaimana nantinya pertemuan kita jika dia saja belum kenal kita?” ucap Wal setengah berteriak dari atas motor.

“Tenang saja,” balasku tak kalah kencang. “Orang-orang dasyat seperti kau dan dia akan selalu punya bahan untuk bisa dibicarakan.”
Dan begitulah. Sebagaimana saya tulis di atas, kawan Angga menyalami kami dengan kuat. Lalu pembicaraan langsung ke arah yang lebih serius, soal gempa dan tsunami yang melanda Mentawai. Isu tsunami memang sangat santer di kampung kami. Hampir setiap malam selalu ada orang-orang yang memilih mengungsi di bukit. Isu tsunami muncul dari mana-mana, lewat mulut dan juga HP.

“Itulah sebabnya masyakarat kita perlu media untuk menyampaikan sesuatu dan mendapat informasi yang lebih berimbang,” ucap Angga tangkas. “Tidak seperti sekarang, entah dari mana berita itu mereka dapatkan, tahu-tahu mereka sudah mengungsi.”

Tak sampai di situ, kami juga kedatangan seorang tamu istimewa, kepala kecamatan kami, Pak Yespi Nawiarsih.—sebagaimana dengan Angga, saya juga baru bertemu beliau malam itu—yang nyentrik dan tak kalah santai. Ruang tamu yang sekaligus studio radio itu sekaligus dipakai untuk posko informasi gempa dan tsunami betul-betul penuh. Pak Camat kami yang lapang hati namun sangat keras dan kritis itu bercerita tentang banyak tentang gempa dan penanganannya, soal-soal kemasyarakatan, antisipasi bencana dan buanyaaak lagi hal-hal lain sambil diselingi guyonannya yang asoi. Luar biasa orang-orang dasyat yang kutemukan ini.

Ada banyak hal sebenarnya yang akan kami bicarakan berempat. Karena beberapa hal dan sangat pribadi, istri Pak Yespi sakit, kami belum lagi sempat ngobrol-ngobrol lagi. Malam menjalar dan Pak Yespi pamit, tinggallah kami bertiga. Dan aku bertanya soal radio.

“Ini untuk ketiga kalinya saya terpaksa harus menutup radio ini sementara, meski kadang-kadang saya tetap on-air, Cuma sekarang belum terjadwal lagi.” katanya dengan mimik yang sangat serius. “Kalau dipikir-pikir tidak kuat juga rasanya, operasionalnya berat, tenaganya ya hanya ini saja,” sambil menjulurkan kedua tangannya. “Padahal banyak orang berharap dalam kondisi saat ini radio ini harus tetap jalan. Masyarakat butuh informasi, apalagi dalam kondisi pasca bencana begini. Pemerintahan lokal pun perlu menyampaikan banyak informasi kepada warga. Intinya semua orang berharap radio ini jalan tapi ya itu tadi, saya tak bisa bekerja terus-terusan dengan keringat saya saat ini. Belum lagi izin dari KPI yang biayanya sampai sekian puluh juta itu. Saya sudah ajukan surat izin tersebut, tapi sampai saat ini izinnya belum lagi keluar. Sementara menunggu izin keluar saya merancang-rancang agenda yang bagus dan profesional serta mencari tim yang ideal untuk menjalankan radio ini. Pak Yespi, pak camat kita itu tetap meminta radio ini mengudara meski izin belum terbit.”

“Padahal hubungan masyarakat dengan radio ini sudah mulai terjalin.”

Saya merasakan sendiri hubungan yang dia maksud. Kami mencoba mengudara sekurang-kurangnya dua kali. Tanpa ada informasi bahwa kami akan siaran, ternyata banyak SMS yang masuk dari warga dan umumnya anak muda yang meminta diputarkan lagi dan kirim salam. Saya pikir ini adalah langkah awal untuk membuat semacam ikatan bersama.

“Untuk pendengarnya sudah ada di mana-mana. Tidak hanya lewat SMS, kalau ketemu saya di jalan pun mereka minta diputarkan lagu,” katanya sambil cengengesan. “Bahkan ketika tahu di sini ada radio, di pasar ini pernah ada yang mengobral radio mini yang laris manis.”

Kemudian saya bicara beberapa hal yang saya sudah pikirkan jauh sebelum saya bertemu dia soal pengelolaan, soal konsep acara, target dan harapan ke depan.

“Beberapa hal sudah saya pikirkan,” balasnya. “Cuma ya itu tadi, saya masih sendirian sekarang. Waktu saya hanya 24 jam dan saya juga harus berpikir dari mana saya harus mencari uang untuk ngopi dan rokok juga membayar listrik perbulan yang mencapai 300 ribu. Masyarakat antusias, cuma saat ini saya perlu bukti konkrit dan partisipasi langsung.”

Dia memang keras kepala. Kekeras kepalaannya pulalah yang membuat dia tetap bertahan di kampung dengan studionya yang sederhana. Saya berharap, beberapa waktu ke depan radio akan kembali mengudara di kecamatan kami, orang-orang kampung bisa bicara langsung dengan pak camat, ibu bidan, mantra peternakan dan pertanian. Peladang yang tak bisa tidur bisa meminta lagu-lagu minang yang sahdu, pelaut yang menunggu jaring diangkat bisa kirim salam buat istri dan anak di rumah. Para lelaki di kedai minum, sambil menghempaskan batu domino bisa mendengar berita, anak gadis bisa menerima salam dari seorang jejaka menjelang tidur, demikian pula anak-anak sekolah bisa mengkomunikasikan tugas-tugas mereka dari gurunya yang ada di studio dan semacamnya. Saya juga merindukan mereka, para pelajar berebut ingin menjadi wartawan dan tim kreatif dan menjajal kemampuan mereka jadi penyiar. Komunitas kecil pun pelan-pelan akan terbentuk, media sederhana pun akan bisa terwujudkan serta komunikasi bisa berjalan dengan lancar.

“Setelah gagal di ITENAS saya juga pernah masuk Universities Bung Hatta. Hanya dua hari saja saya masuk. Sudah tidak bisa lagi. Diri saya yang lain tak bisa dikendalikan. Saya orang lapangan, rasanya sudah tak mempan lagi dengan hal-hal yang berbau kampus. Ini seperti panggilan jiwa,” katanya.

Ketika saya bertanya keinginan terbesarnya, ia menjawab dengan datar: “Saya ingin radio ini aktif, masyarakat bisa menikmati dan bisa menimbulkan kesadaran bersama bagi masyarakat serta akses informasi bisa mereka dapatkan dengan cara yang lebih gampang. Saya berharap akan ada banyak radio yang muncul di sini nanti. Dengan persaingan, kami bisa bekerja lebih maksimal.”
Ya, saya akan selalu merindukan suara kawan Angga dari balik corong microfon dalam studio yang semua alat dirakitnya sendiri. Saya membayangkan ia tengah menyairkan sebuah acara Maota di Lapau dengan cara lebih-kurang begini: “Anda mendengarkan Surantih Radio, 98,7 FM Radionya surantih Raya, mengudara dari Pasar Surantih. Bersama Angga di sini akan menemani anda sampai tengah malam nanti. Tetap stay cun, setelah tembang berikut kita akan bicara soal penanganan tanah dan juga masalah harga gambir yang terus turun. Di studio sudah hadir dua petani dasyat yang akan membagi pengalamannya dengan kita dan seorang agen atau penadah gambir….”

Surantih Raya, mengudaralah…

“Jangan kemana-mana kami akan kembali setelah tembang berikut!”

Yogyakarta, Desember 2010

1 komentar:

Tentang kuli Pelabuhan mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.