29 Jul 2008

obituari sebuah blog

www.pejalanjauh.com :
Hidup yang (pernah) dipertaruhan dan Tak Menang


Waktu-waktu belakangan ini aku selalu diingatkan pada mati.

Apa itu mati? Bagaimana rasanya mati? Kenapa harus mati?

Sungguh, aku tak nyaman. Dia selalu ada di mana-mana; ketika aku di kamar mandi, saat aku makan, saat di jalan, membolak-balik buku, ketika mencoret sesuatu. Selalu saja, aku merasa seolah-olah apa yang aku lakukan saat ini adalah peristiwa terakhir sebelum maut menjemputku.

Dan aku tak pernah nyaman olehnya. Bukan persoalan tak siap saja. Kupikir lebih dari itu semua. Segalanya berputar-putar. Seperti apa rasanya mati, seperti apa al-maut itu, serupa apakah peristiwa setelah tubuhku selesai berdamai dengan nyawa? Serupa apakah alam itu? Ia sungguh-sungguh adakah? Jangan katakan aku tak percaya pada kitab suci. Kadangkala, kau menyangsikan sesuatu yang kau percayai betul kebenarannya. Semacam ketakutan dan sebentuk kegamanagan.

Dan aku selalu menduga-duga maut yang datang. Bagiku ia sakit, teramat sakit. Setelahnya? Gelapkah? Padamkah semua? Segelap apakah? Apakah aku masih bisa melihat bintang-bintang di malam kelam saat mataku terpejam? Atau terangkah? Sehingga aku bisa melihat tubuhku sendiri?

Selalu demikian. Setiap kelahiran telah disiapkan kawan yang baik untuknya: Mati! Dan kehilangan adalah milik mereka yang merasa pernah memiliki. Mati adalah milik segala sesuatu. Jangan-jangan yang abadi itu bukan hanya perubahan tetapi yang paling pasti adalah Mati!

Daunan gugur, pohonan mati, batu-batu kali diseret arus ke tempat jauh, kota berganti muka, segala jenis kendaraan baru lahir untuk kelak akan mati, koran-koran, majalah, buku, terbitan lainnya bermunculan dan bersedia untuk mati.

Bagaimanakah rasanya ketika mereka kehilangan ini? Seorang penulis yang menerima kenyataan sebuah halaman rutin tempat tungku dapurnya padam? Ketika misalnya halaman resensi, esai, puisi dan cerpen sudah tak ada? Dan bagaimana ia melepas ketika sebuah terbitan—yang digadang-gadanginya— tiba-tiba harus gulung tikar?

Dan bagaimanakah rasanya ketika seorang blogger yang mencatat maut memilih takdirnya sendiri: Mati?

Pejalan jauh. Aku belum akan lupa akan blog Pejalan Jauh ini. Dia intens mencatat segala maut yang menyapa seseorang. Ia begitu detail mengupas segala sesuatu yang hitam dan selalu saya hindari itu. ia pencerita yang fasih, dengan kekuatan cerita yang dirangkai tetapi bukan fiksi itu. Hanya mati dan meulu mati. “Hidup yang tak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.” Demikianlah ia mentasbihkan. Setidaknya dia sedang berbicara hal-ihwal maut yang penuh pertaruhan sebagai mana kata-kata dingin terangkai dalam tulisannya mencatat maut banyak orang yang sebagian besar kita kenal dalam sejarah.

Lalu tiba-tiba dia menyentak saya dengan kematiannya. Dia mati begitu saja. Sebuah kematian yang menurut saya bukan tragis tetapi sadis. Ia dibunuh tu(h)annya sendiri. Tiba-tiba dan begitu saja.

Enak ya jadi tu(h)an? Saya tak tahu apa yang melatari ini semua. Jenuh atau malas? Kukira jawaban yang enteng dan bernada ancaman. Jika Tuhan yang disembah manusia tak sabaran seperti ini, mungkin bumi ini sudah lama tak ada. Bosan juga bukan, menyaksikan dunia yang begitu-begitu saja, penuh intrik busuk, upaya menjatuhkan, persekutuan-persekutuan jahat, perayaan-perayaan atas tubuh dan darah. Nah. Untunglah dia hanya menjadi tu(h)an satu blog saja dan berkuasa atasnya. Dengan alasan jenuh, malas datau bosan dia begitu saja bisa mematikan blog tersebut.

Tak ada kubur untuk blog murung yang (sebenarnya manis) pernah lahir itu. Tak ada nisan dan tempat penziarah menabur bunga untuk tulisan-tulisannya yang getir dan kelam. Benar-benar mati dan segalanya seperti tak ada, seperti tak pernah ada. Tapi kita yang sudah pernah menghidu jejaknya bisakah begitu saja terpedaya dengan muslihat semacam ini? Dia tuan yang kejam dengan sejarah, sepertinya. Semua ingin dihapus dan dibuang sesukanya. Kita yang dulu pernah akrab dengan halaman-halaman kalimat yang termaktub dalam blog tersebut tiba-tiba hanya menemukan sepenggal requim yang bisu. Ia mati, tanpa ada gejala apa-apa. Tiba-tiba dan begitu saja.

Saya paham, itulah hakikat ada. Bahwa ia menuju tiada. Tetapi mengapa tak dibiarkan saja mayat-mayat itu berjejer dalam halaman blognya sehingga sewaktu-waktu kita bisa menjenguknya sebagai blog yang sakit? Tetapi dia memang kejam—semoga tidak dengan apa pun. Blog yang rajin kita kunjungi itu lesap begitu saja di hamparan dunia maya yang maha luas ini. Ia ingin menutup mata bahwa pernah ada sebuah halaman terbaring di situ. Bahwa orang-orang akan selalu mengenang.

Dia pikir dengan demikian segalanya akan selesai? Tidak! Saya yang dulu pernah akrab dengan halaman itu merasa dendam sebab begitu saja halaman itu dihapus dan dilenyapkan. Ini tidak sekedar kasus mutulasi. Bagiku ini lebih kejam dari pembunuhan mana pun. Ia mencincang dan menghilangkan segala hal yang pernah ada. Tak hanya tubuh, tapi juga riwayat. Jahat betul. Orang seperti ini harus ditembak kepalanya, dipenggal lehernya dan segera harus digantung. Dia pembunuh berdarah dingin yang tak memberi kesempatan tulisan-tulisannya berdiri sendiri.

Tapi jika saya mengenang tu(h)an di belakang pejalan jauh ini saya tak akan pernah menyangka di balik kekalemannya tersimpan naluri pembunuh yang luar biasa jahat. Blognya dihiasi macam-macam, diganti nama dari blogspot jadi dot com, dia pernah (kalau saya tak salah dnegar) pernah melaunching juga halaman ini, menghiasnya macam-macam, mengisi dengan tulisan miris dan ironis, mengundang banyak orang untuk bertandang ke rumahnya dan saling berbagi ironi. Sampai di sana ia yang di kakilangit itu tampak normal-normal saja.

Tetapi malam itu, malam yang tak akan aku lupa untuk waktu yang lama, saya menemukan www.pejalanjauh.com (dulu http://www.pejalanjauh.blogspot.com seperti kami juga, tetapi kemudian hidupnya lebih beruntung) sudah tak ada. Aku menemukan www.requem.com. Begitu saja dia mati?

Apakah dia yang bertahta di kakilangit adalah seorang (atau suatu?) psikopat? Aih, aih, bukankah dia begitu sayang pada blognya dengan rajin memposting, rajin mengisi bermacam-macam tampilan dan desain sehingga kami: saya dan Gusmuh terutama, sering iri dan cemburu jika setiap pagi selalu ada tampilan baru pada blognya. Dia juga rajin mengunjungi dukun blogger terutama udin dan mempercayai dukun itu mengobok-obok tubuh blognya. Dia begitu baik dan peduli pada blognya. Selalu ada tulisan-tulisan baru, selalu banyak komentar dan dikomentari. Dia yang baik itu ternyata punya sebuah rencana jahat: didekatkannya kita dengan blog yang sendu itu lalu seketika membunuhnya dan menyelesaikan segalanya, menyudahi hubungan yang intim itu.

Dan padaku ia pun selalu baik. Apakah dia berencana akan membunuhku juga dengan diam-diam memberikan tanggung jawab—mencatat mati—itu kepadaku?

Kematian, tentu juga sesuatu yang perlu dicatat untuk seseorang yang pernah ada. Dan itu menjadi semacam ideologi ketu(h)anku di blog ini. Tetapi selama ini kami bisa membaginya dengan manis: aku pencatat yang hidup yang murung dia pencatat maut yang dingin. Kami membaginya tanpa rencana, begitu saja. Tapi sekarang, tugas ini pun harus menjadi tanggung-jawabku. Mencatat ihwal menakutkan, Mati. Dia paham, aku orang yang tak bisa berdamai dengan masa lalu dan membenci perpisahan. Apakah ini cara dia membunuhku dengan menyelesaikan blognya, lalu seseorang—seperti aku—pada akhirnya juga akan berakrab dengan maut. Setidaknya mencatat kematian blognya.

Terkutuklah ia yang menjerumuskan aku pada itu semua. Lindungilah kami dari yang jahat dan menyesatkan. Amin!

Yogya, 08


24 Jul 2008

lelayu



Riwayat Maut yang Sungsang:

Maut telah Menyapanya Dengan Lembut dan Teramat Santun

Semacam Obituari (Halvarizal 1982- 21 Juli 2008)

Berita malam itu amat mengejutkanku. Dari SMS uda Raudal, dia meminta saya mencari informasi tentang kabar anak Surantih yang meninggal. “Dia kuliah di UIN, aslinya katanya dari kayu Gadang,” begitu kira-kira bunyi pesan tersebut. “Dan tolong dicari kebenaran infonya.” Lanjutnya pula. Ia mendapat kabar ini katanya dari Uwan Syamsu Anwar yang biasa mengurusi masyarakat Pesisir di daerah ini.

Aku langsung mengontak Rudi anak Pak Inuang, orang Surantih yang kuliah di UIN yang saya kenal setelah saya dan kakak sepupu saya Mulhendri. Sebelumnya saya tidak mendapat kabar kalau ada anak Surantih yang kuliah di Yogya selain kami bertiga dan satu lagi Lina Afriani di UGM. Mungkin awak saja yang kurang tahu banyak.

Tetapi jawaban Rudi sama saja, demikian pula sepupu saya. Kemudian saya meluncur ke Suratu Tuo salah satu asrama mahasiswa Minang yang ada di sekitar UIN, tempat yang jarang saya kunjungi juga. Saya ingin memastikan jangan-jangan teman-teman di sini sudah mendengar kabar tersebut. Saya merasa penasaran dan menyesal. Penasaran tentang siapa anak Surantih dengan kabar buruk itu dan menyesal mengapa saya begitu jauh dengan informasi seputar ini. Sama saja, tak ada kabar tentang itu, tak ada yang tahu berita itu.

Bebebrapa waktu kemudian setelah saya kembali ke kos dan mengontak beberapa orang lagi, masuk lagi sebuah pesan yang mengabarkan bahwa jenazah sekarang ada di PKU Muhamaddiyah. Infonya almarhum meninggal di rumah kosnya dan keluarganya dari Padang sedang dalam perjalanan menuju Yogya.

Saya forwad sms tersebut pada sepupu saya dan memintanya ikut saya untuk mengecek kebenaran tersebut. Jika malam ini almarhum ada di PKU berarti dia meninggal sudah dalam jangka waktu yang lama juga. Duh, di zaman teknologi begini mengapa jua begitu susah mencari informasi?

Dan kami meluncur ke rumah sakit. Malam di bulan Juli menggigit tulang kami. Lima belas menit kemudian kami sudah sampai di rumah sakit yang terletak di belakang Malioboro itu. Aku menajamkan telinga, memastikan sesuatu. Tak ada. Pelataran rumah sakit sepi. Ada dua orang yang duduk di ruang tunggu dan empat anak muda yang tampak kelelahan—tiga cowok dan satu perempuan—berada di bangku belakang.

Aku mendatangi petugas jaga dan bertanya perihal mayat yang masuk ruang jenazah hari ini. Petugas itu bertanya identitas jenazah dan membuat saya kelabakan. Saya benar-benar tak tahu, bahkan sekedar nama dan usia almarhum. Lalu si petugas bilang memang ada mayat yang masuk tetapi dari Bogor bukan orang Minang. Aku bingung dan agak panik. Sepupu saya kembali berdialog dengan petugas.

Saya melirik sekeliling. Saya mencurigai empat orang anak muda tadi. Dan salah seorang sedang berbicara di handhpone. Dari logat suaranya aku tahu dia orang Minang. Saya langsung mendekat. Dan bertanya, “Yang mengantar jenazah orang padang itu ya?”

Dan mereka langsung mengangguk lega. Setidaknya bertambah juga kawan yang tahu, bertamba pula dunsanak yang berkumpul. Dari keempat orang tersebut, dua orang berasal dari daerah almarhum tentu juga daerahku. Mereka da Zul dan adiknya si Rambo berasal dari Mudik Koto Panjang, bersebelahan kampung dengan almarhum yang tinggal di Kayu Gadang. Kami satu kecamatan, sementara dua orang yang lain Wawan dan kakak sepupunya yang dari Solo, Wati berasal dari Sago, juga mengenal almarhum lewat sms-sms belaka. Intinya tak ada yang mengenal almarhum secara persis. Kecuali Wawan.

Lalu aku mendapat keterangan sedikit mengenai kondisi almarhum: Nama Halvarizal (si Hal), lahir 1982 (26 tahun), Mahasiswa Pendidikan Ulama Tingggi Muhamaddiyah (PUTM) di Jalan Kaliurang. Meninggal sekitar Senin dini hari 21 Juli 2008 di kamarnya dalam asrama kampus. Almarhum sebelumnya tidak menunjukan gejalah apa pun. Sebelum tidur ia sempat berpesan pada kawan satu kamar, minta dibangunkan untuk tahajud. Tetapi ketika dibangunkan almarhum diam dan si teman membiarkan. Sampai waktu subuh datang dan almarhum belum juga bangun maka diketahuilah berita buruk itu. Ia sudah ‘tak ada’. Maut telah menyapanya dengan begitu lembut dan santun. Begitu saja membawanya diam-diam. Tersembunyi dan sepi, kudus dan dan halus.

Pihak Kampus menghubungi keluarga soal berita tersebut sekaligus bertanya apakah almarhum akan dikirim ke Surantih di Sumatera Barat sana atau akan dikuburkan di sini. Jelas keluarga meminta dikubur di kampung. Siapa yang tidak ingin melihat dan melaksanakan prosesi terakhir almarhum. Tetapi begitu pihak kampus menyebut angka 8 juta lebih untuk biaya pengiriman, keluarga merasa tak bsia menyediakan dana sebesar itu. Kesimpulannya, alhamrhum akan dikubur dan diurus pihak asrama. Lalu jenazah dimandikan dan dishalatkan. Lubang kubur pun sudah disiapkan. Tetapi sebuah kontak kemudian terjadi dengan adik almarhum, seorang anggota TNI muda yang baru sekitar satu setengah tahun lalu bertugas di Bandung. Ia akan menjemput almarhum dan seluruh biaya akan ditanggung olehnya.

Untuk menunggu segala sesuatunya, almarhum dibawa ke PKU Muhamaddiyah yang satu yayasan dengan pihak kampus (sampai di sini aku berpikir, apakah mungkin kampus tak memiliki dana sebesar itu dnegan yayasan sebesar ini? ah, sudahlah!). Dan Da Zul, Rambo dan Wati yang kuliah di UNS yang sengaja datang dari Solo belum mendapat kepastian kapan keluarga akan datang. Sementara Wawan melakukan kontak intensif dengan pihak keluarga dan adik almarhum. Tetapi malam itu, katanya tak ada satu keluarga pun yang bisa dihubungi untuk memastikan keadaan tersebut. Kontak terakhir dengan Si Nof, adik almarhum adalah tadi siang ketika dia menyatakan siap menjemput almarhum.

Dalam kondisi semacam inilah saya datang. Kami tak tahu hendak berbuat apa. Sementara kami membiarkan almarhum di rumah sakit dan besok kami sudah kembali sedia di sini menunggu adik almarhum. Demikian perjanjian tersebut. Kami berganti nomor Hp dan sedikit bertukar kabar. Dan saya mengabarkan hal itu pada Uda Raudal. Dia tentu akan melanjutkan berita itu pada Uwan Syamsu.

***

Pagi aku dan Uda Hen, sepupuku berangkat ke rumah sakit. Di sana sudah ada Wawan yang kuliah di Amikom dan Wati sepupunya. Da Zul dan ‘Rambo’ belum datang. Dari Wawan aku mendapat cerita ia belum bisa menghubungi Nof adik almarhum tapi sudah bisa melakukan kontak dengan keluarganya di kampung. Jadi dari info itulah kami bisa menduga-duga bahwa Si Nof masih dalam perjalanan.

Kondisi ini membuat kami cemas juga. Kami tak tahu handak melakukan apa sementara waktu merangkak siang. Kami sedih membayangkan jenazah yang berada di rumah sakit lebih dari 24 jam. Bagaimana jika Si Nof tak jadi datang? Dalam kondisi itulah kemudian Rudi, Da Zul, Uda Raudal dan Uwan Syamsu datang. Juga salah seorang sepupu dari Semarang, Yora yang kuliah di Undip. Lalu beberapa informasi bisa dihimpun, bahwa Nof masih belum mendapat tiket di Jakarta. Musim liburan tak mengenal duka cita untuk selembar tiket.

Beberapa hal dibahas. Bagaimana kalau sekiranya Nof datang baru sore hari. Kemungkinan-kemungkinan lain membuat kami cemas. Jika dari kemarin kami bisa berkumpuls emacam ini tentu pengiriman almarhum bisa disiasati tanpa harus berlarut-larut semacam ini. pihak rumah sakit memastikan siang nanti jenazah akan dibawa ke RS Dr Sardjito jika pihak keluarga belum mengambil. Kami juga membayangkan kondisi almarhum yang jasadnya sudah bermalam itu. kemungkinannya adalah menunggu adik almarhum sampai tenggat waktu tertentu, mengirimkan almarhum dari sini atau akan menguburkan saja di Yogya.

Si Nof berpesan, jika sampai jam tiga dia belum dapat tiket pesawat dari Jakarta ke yogya dia menyerahkan almarhum pada kami yang berada di sini. Sementara untuk mengirimkan jenazah ke kampung kata rumah sakit harus menunggu besok Rabu karena jadwal pemberangkatan sudah tak ada. Sementara jenazah bisa membusuk jika tak dilakukan tindakan lanjut. Kami merasa bersalah atas ini semua. sekiranya informasi ini bisa menyebar dari kemarin, tentu kondisinya jauh berbeda dari sekarang. Tapi tak ada yang bisa kami salahkan lagi.

Menjelang siang satu persatu dari kami mundur. Beberapa orang masih melakukan koordinasi dengan pihak kampus almarhum. Saya ke taman budaya untuk hal-hal yang lain lalu bergeser ke LIP selanjutnya pulang ke kos dan tetap melakukan kontak dengan kawan-kawan di rumah sakit.

***

Saya bangun malam harinya dan mendapat kabar dari Uda Raudal bahwa Si Nof adik almarhum ada di rumah sakit. Dia tadi sore dan menjelang malam ada bersama Si Nof. “Temani dia di sana, kasihan dia sendirian.” Begitu pesan yang saya dapat.

Kesimpulannya alhamrhum belum juga dikubur.

Lalu ada kabar dari Wawan bahwa besok pagi, Rabu almarhum akan berangkat dari rumah sakit jam sembilan pagi. Berangkat dari bandara jam sebelas. Dan dia sendiri juga perlu istirahat sekarang. Saya lalu mengontak Da Hen untuk mengajaknya ke rumah sakit menemani Si Nof dan mengajaknya istirahat di kos dulu.

Di rumah sakit kami tak menemukan siapa-siapa yang layak kami anggap ‘orangnya’. Setiap rambut cepak kami curigai sebagai tentara dan itulah Si Nof adik almarhum. Karena kami tak begitu yakin dengan beberapa orang berambut cepak dan Hen menghubungi da Zul dan Da Raudal. Kata Da Raudal kemungkinannya dia ada di depan kamar jenazah, demikian tadi kondisi ketika dia tinggalkan. Kami melangkah ke dalam,s etelah bersilat lidah dengan para penjaga akhirnya kami di antar ke kamar jenazah, kali kedua saya mendatangi tempat itu setelah tadi siang pertama kalinya. Tak ada siapa-siapa. Bersamaan dengan itu masuk sms dari da Zul yang mengatakan bahwa Si Nof ada di rumahnya sekarang dan sedang istirahat. kami lega dan kembali pulang.

***

Rabu, kami berdua kembali ke rumah sakit. Kami dijemput da Zul dan langsung di bawa ke ruang jenazah. Di sana sudah ada Si Nof dengan celana ‘loreng’ dan muka yang agak pucat—sedih dan lelah tentu saja, latihan satu setangah tahun lalu dan ‘lembaga’ ketentaraan tentu menggemblengnya untuk menjadi tak cengeng. Selain itu juga ada Rambo, Yora dan seseorang yang dianggap mewakili Lina dari Taratak yang tak hadis siang itu. dan ansib kami, aku dan Lina, kawan satu sekolah untuk tak bertemu selama di Yogya. Kemarin sore ketika aku pulang dia datang ke sini. Sejak lulus sekolah kami sudah tidak lagi bertemus ampai kini.e ntah dia masih ingat dengan saya entah tidak. Tetapi saya rasa, melihat kedekatan kami sejak kemarin malam, mustahil kami akan bisa melupakan dalam kondisi seperti ini. kami yang hanya beberapa orang, sudah sepatutnya melakukan kedekatan secara intens agar peristiwa semacam ini tak lagi terjadi.

Beberapa saat kemudian Da Raudal datang dan mengabarkan kalau Pak Syamsu Anwar pensiunan TNI itu sudha menunggu di bandara. Sebentar kemudian Ambulan disiapkan. Jenazah diangkut. Barang-barang milik alhamrum ikut diangkut. Beberapa kardus buku dan pakaian dan peralatan pribadi almarhum tentu saja dan juga telepon genggam. Buku-buku dan pengetahuan, akan lenyap bersamanya. Segalas esuatu yang dia tahu akan ikut ia ke alam sana. Rambo ikut akut ambulan, sementara saya, da Hen, da Raudal dan Da Zul yang sudah gagap berbahasa minang meluncur ke bandara.

Kami sampai ketika semua orang sudah berkumpul. Hanya seginilah kami. Saya, Pak Syamsu, Da Raudal, Da Zul, Rambo dan Da Hen dan tentu Lina dan Rudi yang tak hadir. Barangkali kedekatan ini harus terus kami bangun. Bukan sebentuk sentimen lokalitas, tetapi untuk hal-hal yang tak terduga semacam ini. sebuah kemalangan bisa terjadi kapan saja. Dan peristiwa semacam ini, tiga hari mayat almarhum terkatung-katung tentus ebuah pengalaman buruk yang tak ingin kami ulang.

Dan kami yang sedikit ini—katanya masih ada warga kami yang ada di Yogya dan tidak saya kenal, Cuma karena sesuatu hal tak sempat tahu dan datang atau ada semacam hal lain yang tidak saya pahami. Sebukan atau hal-hal lainnya yang tak boleh kami tafsirkan sembarangan. Tetapi begitulah, pesawat baru berangkat jam 12.25. waktu masih jam sepuluh lebih sedikit. Di Jakarta tentu transit. Pesawat baru berangkat ke Padang jam empat sore. Saya mulai menghitung perjalanan. Setidaknya jam enam sore jenazah baru sampai di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang jauh tersuruk di Utara Kota. Bukuh waktu setengah jam untuk masuk kota, butuh waktu secepatnya tiga jam untuk sampai di Surantih dan setengah jam pula untuk asuk ke Kayu Gadang. Aku membayangkan jalan yang sempit dan berbukit-bukit, tikungan tajam dan kegelapan jurang. Aih, setidaknya mayat ini baru akan sampai paling cepat jam sepuluh malam nanti di rumahnya. Butuh berapa waktu lagikah ia kembali ke hakikat yang sesungguhnya—kembali kepada tanah? Kembali kepada Allah?

Kami bercakap-cakap singkat tentang almarhum dan Si Nof. Semacam romantisme dan semacamnya. Seperti tadi malam, Rambo adalah kawan Mugil adik da Hen, sekarang pun ternyata Mupil adik da Hen yang lain adalah adik kelas Si Nof di Sekolah menengah Pelayaran di Teluk Bayur. Betapa dunia sempit sebenarnya.

Dan waktu berjalan tanpa peduli akan ada dan tak adanya kita. Segalanya berputar. Dan kesedihan, berlahan bertiup dari kepala kami. Yang bersisa hanya seonggok sesal dan sesal mengapa kami harus berhadapan pada soal-soal pelik macam ini. yang mati akan kembali ke asalnya, yang hidup pun menuju ke sana. Tetapi segala sesuatunya perlu rencana. Dan kami akan memungutnya sebagai sebuah pelajaran berharga. Kematian ini, kehilangan ini, sedikit-banyak telah menyatukan sebagian dari kami yang berpencar.

Sampai Si Nof masuk ke dalam bandara, tenggelam bersama tubuh-tubuh lainnya, menyembunyikan rasa capek dan kesedihannya, kami pun berpisah di simpang jalan. Banyak soal yang membuatku terduga-duga. Bagaimana kalau kabar ini jatuhnya pada kami, bisakah kami sekuat Si Nof yang masih bisa berbagi tawa dan cerita? Saya membayangkan, sebagai seorang tentara yang baru bertugas, dia ingin membaktikan sebuah ketulusan pada keluarga. “Saya akan membawa jenazah ke rumah. Semua biaya akan saya tanggung.” Sebuah tanggung jawab yang akan menjadi miliknya tentu saja. Dan perlu usaha yang keras untuk itu. Aku tak kuat membayangkannya.

Segalanya menjadi mengambang dan serba mungkin bagi saya. Terutama Maut!

Yogyakarta, 23 Juli 2008



21 Jul 2008

Berapakah Biaya sebenarnya mengurus STNK dan Membikin SIM?

Kami—menunjukan saya dengan seseorang—kehilangan STNK. Langsung terbayang di kepala ratusan ribu rupiah harus kami sediakan untuk ini, selain membikin surat kehilangan pada polisi. Soal kehilangan ini akan saya saya ceritakan pada waktu yang lain. Kehilangan yang konyol dan tak masuk akal. Urusan ke polisi ini tentu salah satu upaya agar aman saja di jalan, jika sewaktu-waktu polisi hendak menilang.

Tetapi begitulah, kami harus dua kali berurusan dengan polisi. Lantaran biaya itulah. Kami belum tahu biaya yang pasti berapa yang harus kami keluarkan untuk mendapatkan STNK yang baru. Kata aseorang teman butuh dana 400 ribu. Polisi yang mengurus surat kehilangan itu tak mau menyebutkan angka persisnya selain mengakatakn harus ada bukti iklan di media massa—koran dan radio. Itu syaraty utama. Dua kali pula kami berurusan dengan ini, koran dan radio.

Beberapa bulan kemudian akhirnya kami punya cadangan uang 400 ribu, tentu setelah dikumpul sekian lama itu. lagi ada rezeki pula, kiranya. Lalu dengan deg-degan kami mendatangi kantor yang mengurus surat-surat itu. kantor yang rame dan agak menakutkan. Banyak orang yang mendatangi kami, menanyakan ini-itu. kami sebisanya tak menanggapi dan pura-pura menciduk info.

“250 aja mbak, mas.” Kata seseorang dnegan semacam ancaman, “susah loh kalau ngurus sendiri.” Katanya.

Apa boleh buat, kami sudah sampai di kantor ini. tidak berpanjang-panjang saja, kami pertama-tama disuruh melakukan cek fisik. Kami mulai berdebar, pasti mahal dan repot. Pasti nanti akan disuruh ke sana kemari. Pantas saja banyak orang tak mau mengurus sendirian. Lalu, secepat kilat kami berhadapan dnegan pak polisi berkumis yang ramah. Saya lupa namanya. Padanya kami dapat banyak bocoran. Katanya, “Urus sendiri aja, mbak, mas. Gampang kok.” Katanya.

Dengan berdebar kami bertanya berapa kira-kira biaya yang kami perlukan?
“Gak sampai 50 kok!”

Ha.. Masak sih. Kami saling pandang. Lalus alings enyum. Sisa uangt itu cukup besar bos.

Cek fisik, hal yang pertama-tama mesti dilakukan dikenakan biaya 8000 rupiah. Ingat 8000 rupiah saja.

Saya bersalaman dnegan pak polisi yang baik itu atas bocorannya, jadi kami tak perlu cemas. Sambil memberikan uang kembalian beberapa nasehat darinya membuat kami senang. Intinya kerjakan sendiri.

Kami tak lagi takut ditanya sama banyak orang yang menjadi calo itu. kami sudah tahu kok berapa biayanya. Kami sempat iseng bertanya berapa biaya yang kami perlukan.

“Karena sudah cek fisik, dua ratus ribu aja deh.”

Kami tersenyum saja mendengarnya. Tapi kami masih belum pasti. Masa sih semurah itu. teman kami saja harus mengeluarkan kocek 400 ribu, kawan yang lain katanya lebih.

Lalu kami registrasi. Membayar 25 ribu. “Pembayaran kedua.” Kami saling bisik. Setelah diminta surat kehilangan dan iklan-iklan di media massa, kami disuruh mengisi sesuatu. Yang ini terpaksa kami menggunakan jasa calo. 2500 rupiah. Ndak pa-pa lah, kita kan belum mengerti cara mengisinya. Setelah dilihat hasilnya, masyaallah enteng banget ngisinya. Ternyata tidak semua yang harus diisi. Lalu kami diminta bikin surat pernyataan (Cuma ngisi doang sih sebenarnya).

“10 ribu mas.” Kata calo yang lain. Kami tak mau kena dua kali, memilih mengisi sendiri. Surat itu mesti di foto kopi dan diberi materai 6000. isi, fotokopi, beli materai, beres. Ibu-ibu yang emnjaga foto kopian memberikan beberapa nasehat lagi kepada kami. Intinya di sini banyak calo, ya orang dalam (petugas sendiri) yang orang luar.

Tuhan, beruntungnya kami ketemu orang baik di sarang uang ini…

Setelah itu kami disuruh lagi mengisi formulir pendaftaran yang ini harus ada tanda tangan dari yang berwenang di luar kantor. Jauh di belakang Malioboro tempatnya. Di Polda kayaknya ya. Nah di sana, kami dapat bocoran baru lagi, apa-apa bndak harus bayar. Jadi data kami ditumpuk, nunggu ditandatangani dan ambil. Tak ada biaya apa pun. Saya memastikan dua kali.
“Benar mas, ini gratis.” Kata mbak-mbak, eh, ibu-ibu yang mengurusi kami.

Sambil menunggu saya lihat-lihat orang antri mengurus SIM. Ada tulisan besar, “KALAU BISA NGURUS SENDIRI NGAPAIN PAKAI CALO” wah.. Keren ya, betul juga tulisan di luar pintu masuk tadi, pengabdi masyarakat, coy. Hehehe..

Saya sempat catat-catat sarat untuk bikin katepe itu. gampang dan murah. Gak separah teman saya yang harus ngurus sampai 250 ribu segala. Nih bocorannya:
a. mengisi formulir
b. ujian teori
c. ujian praktek
d. foto

Syaratnya?
a. Foto kopi KTP
b. Surat keterangan dokter
c. KTI/KIPEM atau surat pengantar dari RT

Biayanya?
Cuma 75 ribu rupiah saja.

Cuma 75 ribu lo. Cuma konon dalam ujian praktek ini yang dibuat susah yang pada akhirnya banyak orang tak tahan dan menyerahkan uangnya pada calo alias para petugas juga. Calo liar sudah agak sepi, Cuma orang dalam kayaknya tetap bermain sih. Lagi-lagi sebelum pulang kami bertanya syarat-syarat bikin KTP itu. ya tetap yang itu tadi.

“Kalau KTP bukan Yogya bisa ndak mas, eh Pak?” Saya bertanya.

“Wah, ndak bisa. Mas-e harus ada katepe dzogdza dulu..” Kata petugas piket itu.

Kami melenggang. Parkir ndak bayar. Wah enak tenan iki..

Lalu kami masuk lagi ke kantor yang tadi. Di daerah tugu itu loh, saya lupa namanya kantor apaan tuh. Pokoknya ngurus-ngurus surat kendaraan. Surat cinta mah saya ndak tau.

Kami lalu mengembalikan surat keterangan yang sudah ada tandatangan tersebut. Kalau ndak salah itu bayar lagi, cuma 5000 doang lah. Itu juga kalau ndak salah. Setelah itu kami dikasih kertas baru, nanti beberapa hari kemudian tinggal ngambil STNK yang baru.

Tapi kami datang beberapa minggu kemudian. Registrasi dulu, bayar 8000 kalau ndak salah (emang sih, bayar lagi, bayar lagi) lalu kami dapat deh STNK. Dalam hati kami berjanji, kapan-kapan lagi aja deh, kalau dnak terpaksa kami ke sini lagi. Meskipun sisa uang kami bisa beli lemari kayu dan rak buku tapi ribetnya itu lo.

Jadi berapakah kira-kira biaya untuk kehilangan selembar STNK? Seorang kawan bilang, “Tak kurang dari 400 ribu.” Dan kehilngan itu serupa kiamat; berhadapan dnegan admistrasi yang njelimet, di suruh ini-itu, di minta ini-itu dans egala macem. Tetapi kami sudah mengalami langsung dan dnegan enteng bisa berucap. “Ndak sampai 100 ribu kok. Kecuali di masukan biaya iklan di radio dan koran.”

Jadi, biaya pengurusan itu 25.000 (administrasi)+8000 (cek fisik)+6000 (materai)+500 (foto kopi)+2000 (untuk parkir kalau masuk di pintu yang benar)+2500 (untuk calo yang membantu mengisi formulir, itu tarif tawar-menawar kami lo)+8000 (Kalau ndak salah) untuk pengambilan STNK dan kalau dnak salah ada pendaftaran itu bayak 5000 lagi. Jadi ya.. ndak sampai 75 ribu lah.

Jadi apakah kamu masih takut mengurus STNK sendirian? Bagaimana pula proses dan biaya pengurusan di tempatmu? Sebab, konon, lain padang lain belalang…

Jadi berapakah biaya mengurus STNK dan membikin SIM? Masing-masing tak sampai 100 ribu+capek dan kesel aja. Gitu. Nah, masih dongkol sama polisi? Saya iya kalau ada razia.


9 Jul 2008

membaca peta; pulau yang mungkin kurenangi

Peta, Pulau dan Indonesia: Mari Berlayar.

Saya mengagumi peta, tapi tak pernah berniat ke mana-mana.

Setiap kubentang peta, pikranku akan terbang ke mana-mana. Ada semangat luar biasa yang menggelegak dalam dadaku. Seperti apa itu Singapura, di mana batasnya Antartika, di mana tepatnya pulau bermuda?

Aku mencatat nama-nama pulau yang kecil dan terpencil. Sewaktu-waktu aku melacaknya di googlemap. Tapi sialnya, googlemap bukanlah kawan yang asing untuk melacak sesuatu. Entah saya yang bodoh. Tetapi jika sekali-kali aku bisa menemukan di mana Nusa Lembongan di Selatan Bali itu aku mau berlama-lama di sana, menyusuri tiap inci jalannya hanya lewat internet. Betapa dunia semangkin canggih kini.

Pernah pula aku bertemu sebuah warnet yang menyediakan fasilitas peta dunia. Gila, aku bisa mencari pulau Karimata di Barat Kalimantan Barat dan mengintip pulau Natuna. Pulau yang seruopa bintik kecil di peta kita, ternyata mempunyai keramaian yang liat. Aku bisa melihat dari dekat (aku lupa nama mesin pencarinya, tampaknya masih milik google). Aku melihat pelabuhan yang bagus, pasir yang putih. Aku ingin mencebur ke sana. Ke kedalaman lautnya. Apakah ada minyak di sana?

Kususuri pula Pulau Serutu, Pulau Bawal dan betapa, pulau-pulau yang serupa noktah dan kadang terlupa di dalam peta, memiliki keajaiban-keajaiban yang luar biasa di dalamnya. Pernahkah kau menyisirnya, meski hanya di dalam peta?

Hari itu jantungku berdegup lebih kencang, karena aku membawa ponakanku yang hanya tertarik pada pulau Bermuda. Bermuda?? Ahai, aku dan Tsabit sama-sama sedang menyukai dan penasaran olehnya. Sama seperti dia, ketika kecil aku juga memiliki imaji tentang pulau itu. Segitiga Bermuda, aha, saya hanya tau pulau Bermudanya saja. Hari itu kami mengintipnya dnegan berdebar.
Dan saya pulang dengan sedikit kesal dan berjanji akan datang ke warnet ini lagi.
Beberapa hari kemudian aku datang dan tak menemukan fasilitas pencarian itu. sumpah, aku ingin melihat Wonosobo dari atas langit sebelum kemudian menjelajahinya.
Sayangnya di peta, beberapa tempat tetap tak akan bisa kulihat, beberapa nama tempat ditulis dalam bahasa Indonesia. Bagaimanakah aku melacaknya?
Sudahkah kau pernah melihat pulau karimun, pulau Bawean, Pulau Langean, atau jauh di Selatan, sebuah pulau menantang di antara bongkahan es di kutub selatan, atau menjelajahi kepulauan Hawai yang kadang tak tercetak di dalam peta. Dan menyaksikan ribuan pulau di Oceania yang seperti Mutiara di dalam peta? Adakah mobil di sana? Atau pernahkah kau menyisiri Kergguelen yang aku sendiri lupa di mana tempatnya. Maukah kau bersamaku mengunjungi pulau-pulau kecil di Natuna, melihat Subi, Serasan, Pulau Jejama dan melompat ke Kalimantan? Sebesar apakah pulau Liat di Bangka Belitung dan apakah isinya? Atau maukah kau bersamaku masuk ke Enggano di peraiaran Bengkulu itu? sungguh, dia merasa amat kesepian barangkali. Bukankah di sana ada orang? Mengapa tak ada yang menyapa mereka? atau kita maju ke Utara, sebuah titik kecil, oh tuhan di antara laut dangkal setitik pulau cantik sedang menunggu kita, Pulau Mega. Pulau Mega. Dan kita akan sampai di Pulau Sanding di sepanjang gugusan Pagai. Ahai, pulau yang berhadapan dengan kampungku yang rasanya begitu jauh.
Google, oh, google, kenapa mesti ada kegelapan di antara petamu, sementara saya ingin menyisirinya?
Pernahkah kau mendengar Karimunjaya? Pernahkah kau ingin bersamaku mandi di sana? Di sana, gugusan pulau-pulau nyaris hanya terabadikan di dinding bis. Ah, anak-anak di sana pastilah jago bersampan. Ayo membayangkan kisah cinta manis sepasang remaja yang terpisah antara Pulau Parang dan Pulau Genting. Adakah sekolah di sana? Dari manakah gurunya? Apakah bahasa mereka?
Bawean, Kangean, betapa jauhnya. Di manakah kota pelabuhan mereka? Di manakah ibukota negaranya? Apakah Jawa dan kaki Kalimantan terlihat dari tempat mereka berdiri? Adakah pelabuhan di snaa tempat kita kelak akan singgah? Mari ke Kalambau, ke Matasirih, ke Kadapangan berlayar dari Kota Baru Kalsel. Apakah pulau-pulau yang nyaris menyatu dengan Samarinda, atau Tarakan itu memang begitu dekat? Apakah bisa menyeberangi Ma. Pantuan dengan jembatan bambu ke Kalimantan?
Manakah yang paling jauh jarak ke Jakarta nitimbang Philiphina bagi mereka di kepulauan Nenusa paling Utara pulau kita? Apakah mata uangnya? Apakah bahasa mereka? lebih sering ke manakah mereka berlayar? Apakah makna Indonesia bagi mereka? Ayo ke Talaud dan berendam di pasirnya, bisakah kita berenang ke Mangarang lalu melompat ke Kabaruan? Mengapa di peta semua begitu dekat?
Aku takut, mereka yang di Pulau Medang, Gililawang lebih menderita ketimbang mereka yang tinggal di Pulau Lombok? Apa pekerjaan mereka? adakah anak-anaknya sekolah? Apakah mereka membikin farfum dari sisik ikan? Dan pernahkah orang-orang Pulau Rote dan Pulau Sawu melihat Australia? Pernahkah Jakarta merasuk ke dalam mimpinya?
Ohoi, Jam berapakah di Pulau Senua ketika adzan magrib berkumandang dari Jakarta? Adakah tivi di sana? Adakah siaran radio di Pulau Manuk? Jam berapakah mereka tidur? Jam, berapakah mereka bangun? Apakah mereka akan menunda pekerjaan mereka ketika dari jakarta—kalau tel;evisi benar-benar ada di sana—menayangkan Berita Pagi. Apakah kita bisa berenang untuk menyeberangi pulau Enau dan melelewati pulau-pulau lainnya di dalam peta untuk sampai ke pulau Kula di Timur Ambon dan Selatan papua itu? Apakah orang-orang Wetar tidak pernah nyasar ke laut Dili? Lalu naik apakah orang Timor Barat menuju Timor Timur?
Dari banyak pulau itu, adakah negara pernah mengingat mereka? dan mereka, orang-orang di pulau yang tak terlacak di dalam peta, di negara manakah mereka sebenarnya sedang termaktub? Apakah negara hanya sentimen jika pulau-pulau terdekat dengan tetangga diambil dan dijadikan pusat pariwisata? Apakah hanya rasa iri sementara kita masih perlu menyelidik dan mencari anma baru untuk pulau-pulau jauh di negara ini. apakah kita perlu mejual satu pulau untuk itu? lalu, apakah kita benar-benar kehilangan ketika satu pulau benar-benar hilang dan pulau-pulau lainnya minta diperhatikan. Siapakah yang memerlukan sebenarnya? Mereka yang di pulau itu atau negara di Jakarta?
Apakah pulau-pulau yang hanya titik hanya sebagai penghias peta, agar anak sekolah bergumam, “uh, banyaknya pulau-pulau kita.”
Google, google, berilah jawaban. Berilah petunjuk. Hei, apakah kau—google—milik amerika? Jika begitu, aku tyakut. Jangan-jangan mereka lebih fasih dnegan tanah kita, mengeja dan mengintipnya setiap inci sudut-sudutnya sehingga tak adfa tempat bersembunyi. Jangan perang dengan Amerika, aku takut dia melacak aku di mana. Google, apakah petamu milik depertemen pertahanan dan penjajahjanmu? Oh, aku takut…
Untuk apa peta dibuat?
Mengaopa di sebuah tempat malam lebih panjang ketimbang siang? Sianmg lebih panjang ketimbang malam? Apakah matahari macet di langit mereka?
Apa yang peta inginkan pada kita?
Siapakah yang bisa mentotal pulau-pulau di laut kita?
Kepadamu, aku bertanya dan ayo kita bercakap tentang itu. Sekarang!