25 Jun 2008

pura-puranya esai gitu

Pesta Penyair Nusantara 2008, Gema yang tak Bergaung

Mulai Minggu 29 Juni ini sampai Rabu 2 Juli akan diselenggarakan sebuah acara Pesta Penyair Nusantara 2008, Sempena The 2nd Kediri Jatim Internasional Poetry Gathering. Artinya, ini adalah penyelenggraraan kedua, setelah tahun lalu diadakan di Sumatera Utara oleh Laboratorium Sastra Medan pada 25–28 Mei 2007. Acara ini juga rencananya akan diadakan setiap tahun, antara Mei—Agustus di kota tertentu yang diputuskan oleh musyawarah bersama nantinya.
Acara ini diharapkan sebagai bentuk dan upaya kreatif untuk memepertemukan para penyair senusantara, sebagai wadah pembentukan komunitas sastra, untuk mengetahui perkembangan kepenyairan di seluruh nusantara dan (agak membingungkan) sebagai forum tertinggi dalam Musyawarah Penyair Nusantara. Sampai titik ini,kita melihat ada upaya yang luar biasa dari penyelenggara, baik tahun lalu maupun tahun ini untuk menjadi tuan rumah yang memiliki visi luar biasa untuk kesastraan kita saat ini. Untuk kata Nusantara pun tidak hanya berbatas pada Sabang—merauke saja. Peserta acara ini adalah penyair di seluruh kawasan ASEAN: Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Thailand, Kamboja, dan Laos.
Saya pikir acara semacam ini perlu apresisasi yang lebih. Kita berharap acara-acara semacam ini (penyair se-Indonesia dan se-ASEAN) berkumpul tentu adalah para penyair yang memang mewakili wilayahnya, sebab panitia menempatkan daerah-daerah pada setiap kepesertaannnya. Kita berharap, panitia akan menetapkan sebuah ketentuan khusus untuk penyair yang diundang di setiap wilayah. Dengan harapan jangan sampai acara semacam ini hanya menjadi agenda tahunan yang nanti merasa capek sendiri.
Mengapa gaungnya tak sebesar harapannya? Setidaknya sejak undangan disebarkan sejak maret lalu di sejumlah Milis (mailing list) dan media, tak banyak orang yang membicarakannya. Ini terlihat dari apresiasi di beberapa milis yang saya ikuti. Acara Pesta Penyair nyaris tidak menimbulkan gema yang diapresiasi banyak orang. Di milis, yang saya tahu, di antaranya Apresiasi Sastra, Penyair dan lainnya, memiliki orang-orang yang ‘cerewet’ dan kritis, tetapi untuk acara ini nyaris tanpa respon sama sekali.
Undangan itu dikirim via e-mail ke milis dan e-mail pribadi bertujuan untuk setidaknya tiga hal; satu memberitahukan ke masyarakat pecinta sastra bahwa akan diadakan perhelatan besar pada akhir Juni ini, sekaligus meminta mereka mengirimkan karya untuk diseleksi dan ketiga adalah menyebarkan informasi akan diadakannya lomba baca puisi sejak 26-28 Juni sebagai kegiatan awal dari acara ini.
Dan Yogyakarta, sebagai bagian dari sasaran kepesertaan pun sepertinya nyaris tak pernah membicarakannya. Apakah pada seniman kita disibukkan dengan pesta lain, agenda tahunan kita, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY)? Entahlah. Saya tidak tahu apakah FKY memiliki acara kesastraan, kapan dan siapa dan bentuknya seperti apa. Barangkali memang sudah ada informasi seputar ini, tetapi saya yang tidak mengikutinya, atau bisa jadi sama memang kita sedang malas membicarakannya.
Menyoal acara Pesta Penyair yang sedang berlangsung ini, saya memiliki beberapa hal menarik dan menjadi dasar pertanyaan saya sejak tahun lalu, terutama mengenai kepesertaan. Saya berangkat dari acara tahun lalu di Medan. Peserta dari Yogya ada tiga orang, yakni Mahwi Air Tawar, Fahmi Amrulloh dan Krismalyanti. Sampai saat ini tidak ada alasan yang pasti dari panitia tentang masalah kepesertaan ini. Bukankah peserta adalah isu yang sensitif? Calon peserta diminta mengirimkan karya terbarunya plus biodata plus foto untuk diseleksi. Jika demikian, semua orang, siapa saja, dibebaskan untuk ikut acara ini. Tetapi tentu hanya kepada mereka yang mengirimkan karya dan lulus seleksi saja. Jika demikian halnya, tentu ada celah yang perlu kita bahas. Penyair yang sebenarnya layak ikut acara ini tetapi karena tidak tahu infonya, atau malas ikut-ikutan penyeleksian atau memang tidak mengirimkan karya tentu tidak akan bisa ikut dan terdaftar sebagai peserta. Mengapa panitia menggunakan metode semacam ini? Apakah panitia tidak kenal dengan penyair dari Yogya?
Kita punya berderet-deret nama penyair. Bahkan Taman Budaya Yogyakarta, tahun ini rencananya akan menelurkan sebuah Antologi yang memuat karya yang tentu juga data penyair Yogyakarta dari zaman beuluha sampai generasi terkini.
Sampai saat ini saya tidak mendapat kepastian siapa saja penyair dari Yogya yang ikut acara ini. Ada beberapa kawan-kawan penyair yang diundang tahun ini, di antaranya Komang Ira Puspitaningsih, Mutia Sukma, Ridwan Munawwar dan As’adi Muhammad. Mungin masih ada peserta lainnya yang diundang dari Yogya. Setidaknya berangkat dari keempat nama yang saya tahu ini saya jadi bertanya-tanya, apakah acara ini untuk yang muda-muda? Tidak juga. Atau semacam kolaborasi? barangkali. Tetapi yang pasti, peserta adalah—setidaknya dari Yogya—adalah mereka yang mengirimkan karya ke panitia untuk diseleksi. Itu terlihat dari edaran panitia yang dikirim via e-mail.
Siapa pun boleh menjadi peserta asal jelas ketentuannya, saya rasa. Tetapi pemilihan kepesertaan semacam ini tentu menjadi tanda tanya besar bagi kita. Sebab, sekali lagi bicara kepesertaan adalah bicara perihal yang sensitif. Bukankah pada FKY tahun lalu misalnya, di Yogya kita diributkan soal layak tidak layaknya peserta, dari mana dia berasal dan kenapa pilihan jatuh padanya, bukan? Dan untuk acara besar ini, di mana pesertanya –konon—datang dari berbagai negara di ASEAN tentu akan menjadi pertanyaan pula. Apakah memang untuk mereka yang mengirimkan karya saja?
Mungkin tidak juga. Tahun lalu, pada acara di Medan misalnya, dari luar daerah banyak penyair-penyair dilibatkan yang bisa jadi mereka dipilih panitia tidak hanya lewat penyeleksian, tetapi khusus Yogya dan tentu beberapa daerah lain di Indonesia hal itu berlaku. Itu di Medan, sekarang di Kediri. Saya jadi bertanya-tanya, apakah dari sekian banyak orang yang menulis puisi di Yogya tidak ada yang layak menjadi peserta atau memang nama-nama tersebut tidak dikenal sama sekali oleh panitia sehingga perlu penyeleksian semacam ini? waduh!
Untuk menjadi peserta yang ‘asli’ peserta dikenakan biaya administrasi sebesar 150.000 rupiah. Dan sampai saat belum ada peserta dari keempat orang tersebut yang mentransfer uang, sehingga status mereka pun tidak jelas, apakah sebagai peserta atau bukan. Sebab undangan yang dikirim pun hanya via e-mail. Saya tidak tahu apakah peserta lain dari Yogya yang diundang khusus panitia dikenakan tanggungjawab yang sama atau bagaimana.
Jika dirunut masih banyak kebingungan saya seputar ini. Setidaknya untuk acara besar dengan pembicara sekelas Musthofa Bisri, D. Zawawi Imron, Ratna Sarempuat, Oka Rusmini, Abidah el Khalieqy dah konon juga dihadiri Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jerro Wacik serta pembicara dari Malaysia, Brunai dan Singapura. tentu diperlukan tanggung jawab kerja yang besar. Saya yakin, panitia punya hak jawab yang jauh lebih panjang dari ini. saya ingin membuka dialog seputar ini. Semoga ada yang bisa menjawab kebingungan saya. Wasalam.
Yogyakarta, Juni 08

16 Jun 2008

sebuah foto yang (semoga) berbicara

bukittinggi sebuah kenangan
aneh, tiba-tiba aku ingin posting gambar ini. entahlah.

berita bahagia

Kehilangan yang Manis: Pernikahan Dua Puisi

Kami akan merasa kehilangan setelah ini. hari-hari yang kosong. Sebentar lagi kami akan merindukan suara tawanya yang mungkin akan terasa asing di telinga kami.

Ajaib, cinta merubah cara hidup seseorang.

Begitulah, kami menemukannya dalam keadaan semacam itu; jadi perempuan yang manis, lebih banyak tersenyum dan mengulum tawa dari pada ngakak, duduk dan gaya bicaranya menjadi anggun, matanya berbinar dan penampilannya menjadi sangat rapi dan santun. Ia terlihat sangat perempuan. Saya berani menyimpulkan seseautu sedang terjadi pada hatinya. Sialan, seseorang telah merubah penampilan manusia ini. bisa dipastikan; dia sedang jatuh cinta.

Apakah kami akan bersedih setelah kehilangan ini? jawabnya ya. Selama ini kami merasa dia milik kami, sahabat yang kami cintai dan harus kami jaga. Kami tak ingin laki-laki datang hanya untuk merusak pikirannya. Kalau dia sakit hati, stress, tubuhnya akan semakin penuh dan kami capek ditraktir terus. Kami akan sangat kehilangan. Selanjutnya kami juga akan berbahagia, karena kawan kami yang tercinta ini tidak benar-benar pergi dari kami. Dia hanya sedang meniada dengan seseorang yang kami kenal pula, hingga yang tersisa hanyalah pusi. Bukankah begitu hakikatnya, Romi Zarman? Tidak ada penyair, yang ada hanyalah pertemuan puisi. Dan kawan kami, seorang saudari yang sangat kami cintai sedang ‘memuisi’. Dan aku merasa begitu aneh dan selanjutnya bahagia, seseorang yang mendapatkannya adalah juga seorang kawan, juga saudara yang menjamu dan merawat kami setiap kami berkunjung. Tak ada jarak, yang ada hanya puisi.

Apakah kau mengerti apa yang sedang kubicarakan sekarang ini?

Dia bukan anakmu, begitulah kami menyadarkan diri, bahwa kawan kami ini pun mesti bahagia. Kami tahu, kami amat mencintainya. Menyayanginya adalah membiarkan dia menikmati kebahagiaan dengan penuh. Dan dia sedang bahagia. Dan kupikir ia mulai rajin menulis puisi. Kami mesti mensyukurinya.

Aduh, bagaimana aku hendak menuliskannya?

Begini saja. Bahwa kawan kami ini sedang jatuh cinta. Tidak jatuh cinta. Tetapi benar-benar sedang mencintai dan dicintai. Ia lebur kini. Tak ada Ira, misalnya, yang ada hanya cinta. Bukankah begitu hakekat kasih-sayang, Romi Zarman? Tak ada siapa dan siapa, yang ada hanya cinta.

Siapakah lelaki yang bisa menaklukan hati perempuan yang keras ini? perempuan, temanku, yang kami sepanjang pertemuan akan selalu bertengkar dan saling mengejek, marahan tapi tak sampai dendam. Karena kami, saling menyayangi. Mungkin aku kawan yang jahat padanya. Nyaris empat tahun persahabatan kami, sejak kami sama-sama sampai di Yogya, konon aku tak pernah mentraktirnya apa pun. Jahat sekali bukan?

Dengarlah bisiknya pada (barangkali) pangeran itu:
Za, gerimis Juni datang tiba-tiba serupa bayangmu yang murung. Seperti dongeng para putri raja yang menunggu pinangan, sedangkan musim tak pernah berbincang tentang keinginannya. Pangeran mana yang pasti akan datang? Pangeran mana yang akan pergi dan tumbang?

Apakah kau masih belum paham apa yang ingin kutulis?

Laki-laki itu temanku. Dua kali kepulanganku ke Padang (ah, aku tak pernah merasa pulang, barangkali hanya sekedar singgah) dia yang mengantar dan menjemputku ke mana dan di mana pun. Seorang kawan yang setia. Dia selalu menyediakan waktunya untukku dan kawan-kawan yang datang ke Padang. Dia begitu menjaga kami. Kepulanganku yang pertama, terasa begitu manis setelah bertemu dengannya. Kami berkeliling ke banyak tempat, dari Padang, dalam hujan lebat di sebuah petang, kami meluncur ke Batusangkar, ke rumah chotik. Dari sana kami meluncur ke Payakumbuh, dia mengenal banyak tempat dan banyak orang, sebelum kemudian singgah di Solok. Dia mengajakku ke Pasar Solok, membawaku ke tempat dia KKN dan menceritakan sebuah rahasia tentang lobang paku padaku. Sebuah rahasia lucu dan saru, sebuah kenangan yang tak akan bisa diulang setiap orang. Tak semua orang mau berbagi rahasia bukan? Dan dia melakukannya. Betapa baiknya. Aku juga menginap di rumahnya, ia mengenalkanku pada keluarganya yang ramah. Mengajakku makan dan tidur di sana. Paginya ia mengajakku membeli koran, mengenalkan aroma Padang yang berbau getah. Dengan itu semua aku teringat peristiwa manisku di kota ini ketika aku tinggal di sana setahun saja, STM tapi tinggal kelas dan harus pulang kampung.

Tak sampai di sana, dia mengajakku berkeliling, menawarkan beberapa rencana dan tawaran-tawaran logis untuk menghabiskan waktuku. Dia rajin berkabar sampai kami datang lagi ke sana, satu rombongan manusia liar. Dan dia yang menjaga kami dari awal selain U’um yang sekaranmg tak lagi berkabar. Apakah kami perlu bertanya pada Pak Yoso yang Dwi Raharyoso itu?

Dari Payakumbuh dia mengajak kami ke Bukit Tinggi. Dia menemani kami dnegan tanggung jawab yang luar biasa. Di setiap tempat, di setiap simpang, dia akan bercerita laiknya seorang pemandu wisata. Dia betul-betul menjaga kami dari niat jahat para preman wisata, menuntun kami di lubang jepang, ia lebih lincah dari Kotic atau Azan apalagi Tendra. Ia mencari lokasi yang bagus untuk berfoto, mencarikan angkutan dan menawar nasi kapau. Pada seorang kawan kukatakan, kalaulah dia ini rajin sholat, niscaya cahaya surga akan terpancar dari mukanya. Dia terlalu baik. Kupikir sangat baik dan melindungi.

Pada dialah, kawan kami ini memilih tautan hati. Kupikir bak jangguik pulang ka daguak, sepasang anak daro dan marapulai dalam ingatan. Di bulan Juni ini mereka mempersatukan puisi, mempersatukan hati. Aih, jarak, aih, Padang-Jogja, bagaimanakah mereka berakrab dengan jarak? Mungkin Romi Zarman benar dalam hal ini, segala sesuatu telah meniada, jadi tak ada jarak, tak ada rindu, yang ada hanya cinta. Puisi telah meminang dua manusia baik dan kusayangi dan kukenal ini.

Apalagi? Tentu harapan besarku adalah agar puisi ini tak bisa selesai. Perkawinan puisi, percintan dua penyair dasyat, penyair perfek, penyair monumental, baru saja bermula di bulan Sapardi ini.


Aih, aih, kami tak sungguh-sungguh kehilangan kawan kami yang cantik dan baik hati. Kawan yang baru kini kusadari, selama nyaris empat tahun tak pernah kutraktir apa pun. Aku sedih, ingin menangis saja rasanya. Ternyata kalau pun aku tak pernah mentraktirnya apa pun, selalu bertengkar dan marah-marah padanya, ternyata aku juga menyayanginya. Buktinya, aku merasa bahagia sekali. rasanya aku juga sedang jatuh cinta.

Penutup, aku ingin menambahkan bait terakhir puisi Gerimis Juni yang Lalu, yang (barangkali) sedang meramal nasib mereka:

Za, aku tak memerlukan satu pun penjelasan atas jawabanmu. Karena gerimis Juni berlalu dengan kenangan pertemuan yang memilukan. Gerimis Juni berlalu dan selalu menjelma airmata. Sepertiku yang selalu nyeri bersama tumpukan kertas penuh coretan. Sepertimu yang selalu perih memeram kisah sepanjang jalan.

Aku tak akan mengatakan siapa kedua orang ini. saya juga tidak meminta anda untuk menebaknya.

13 Jun 2008

Percakapan Saban Pulang (1)


Percakapan Saban Pulang (1)


“Kamu di Yogya ngapain aja?”

“Ya ndak ngapa-ngapain.”

“Katanya kamu kerja ya? Kapan selesai kuliah?”

“Gak kerja. Saya masih lama kuliahnya.”

“Oh. Berapa tahun lagi?”

“Bisa dua tahunan lah.”

“lama juga ya. Kayanya semakin lama kuliah semakin tinggi ilmunya ya?”

“Ya, ndak juga.”

“Sihen, Udamu itu masih kapan dia selesainya.”

“Diakan ngulang lagi. Dia pindah kampus, pindah jurusan juga.”

“Oh, kenapa begitu? Ndak termakan di otaknya ya kuliah yang dulu.”

“Ndak begitu juga. Dia pengen aja kali, pindah.”

“Dia masih lama ya?”

“Paling tahun ini selesai.”

“Kamu gimana?”

“Aku masih lama. Kan harus kerja juga. Jadi gak bisa rajin ke kampus.”

“Kerja apa?”

“Biasanya menulis.”

“Nulis di koran itu?”

“Iya.”

“Kamu wartawan dong. Kayak Kudal kakakmu itu?”

“Ndak.”

“Kan nulis di koran jadi wartawan dong. Punya gaji tetap dong.”

“Ya ndaklah. Aku bukan wartawan.”

“Tapi nuliskan?”

“Iya menulis. Tapi bukan berita.”

“Nulis apa? Kau tulislah kami ini biar masuk koran juga. Wahj, panas kamu bawa kamera ke mana-mana. Mau memasukan kami ke koran ya?”

“Aku tuh bukan menulis berita. Tapi menulis puisi kadang juga cerpen.”

“Puisi? Buat apa? Diapain?”

“Dikirim ke koran.”

“Kamu wartawan dong. Punya gaji tetap ya.”

“Gak.”

“Kamukan nulis di koran.”

“Tapi bukan wartawan.”

“Trus apa?”

“Ya nulis aja.”

“Di koran mana?”

“Koran mana aja yang mau memuat.”

“Banyak dong. wah kaya kamu ya. pantas betah di sana. Koran di sini ada gak?”

“Ada juga. Sekali-sekali.”

“Enak dong, punya gaji tetap. Tapi ndak ada namamu dalam berita itu.”

“Aku bukan nulis berita atau wartawan. Dan tidak ada gaji tetap.”

“Tapi kamukan kerja di koran. Masa gak ada gajinya?”

“Ya, akukan bukan penulis tetap.”

“Terus?”

”Ya nulis aja. Untuk makan. Selebihnya aku kuliah?”

“Kuliah di mana?”

”UIN Sunan Kalijaga. Ya IAIN itu lo.” (Ah, para dosen dan kami sedang sibuk berchatting ria kini dengan laptop masing-masing)

“Agama ya?”

“Iya. Tapi jurusanku umum.”

“Tapi IAIN kan, kayak Iyal anak Pak Tami itu.”

“Iya. Tapi aku jurusan umum. Sosiologi.”

“Sosiologi? Nanti tamatnya jadi apa?”

“Ya ndak jadi apa-apa?”

“Kok bisa ndak jadi apa-apa. Kenapa?”
”Ya malas aja. Ndak mau kerja.”

“Kok ndak mau kerja. Oh, karena kamu dah punya kerja ya di Yogya. Kita diajaklah.”

“Aku kuliah. Bukan kerja.”

“Oh. Masih lama ya?”

“Iya. Aku kan juga harus kerja. Jadi jarang ke kampus.”

“Kerja di mana?”

(Silahkan dilanjutkan. Aku capek deh.)

5 Jun 2008

jakarta 2

Di Jakarta aku Ingin Bunuh Diri

Di Jakarta aku jadi kepengen bunuh diri. Entah bagaimana mulanya. Di sini segalanya berjalan monoton. Meskipun semua terlihat sibuk tetapi di mataku, sepertinya segala sesuatu sedang dikontrol. Orang-orang telah berubah menjadi robot.

Di Jakarta aku mengutuk diriku yang tak bisa apa-apa. Bermula dari permainan bilyard. Bagaimana aku bisa dikatakan manusia dan bisa hidup di Jakarta jika menyodok bola putih saja saya merasa tidak tega. Tak hanya itu. Aku tak bisa apa-apa. Dan aku hendak bunuh diri atas ketidakbisaanku ini.

Gusmuh menyarankan aku terjun dari Monas saja, dengan niat setengah-setengah. Tentu aku menolak. Untuk sampai ke sana tentu aku harus bayar dulu. Berapa pun harganya, untuk mati aku merasa tak perlu membayar.

Masa aku macam-macam di Monas. Aku takut dipukuli. Aku takut ngapa-ngapain. Aku merasa ancaman ada di mana-mana. Aku merasa diawasi.

Di Jakarta aku merasa betapa sepinya dunia. Untuk sebuah acara sastra, sangat jauh berbeda dengan di Yogya. Jika tanpa publikasi, rasanya mustahil didatangi banyak orang. Dan dua malam acara launching antologi Puisi IBUMI Kisah-kisah di Tanah di Bawah Pelangi itu nyaris hana dihadiri oleh kita-kita. Kemana orang-orang yang ramai di jalan?

Di Veteran, dekat dari Istana Presiden itu nyaris digegerkan oleh kematianku yang tanpa rencana itu. Aku merasa sepi. Aku melihat Monas seperti simbol kejantanan laki-laki. Apakah Jakarta itu laki-laki? Angkuh dan sangat sombong.

dari pada orang-orang disibukan dengan diriku dan hal-ikhwal penguburan, lebih baik saya pulang ke jogja. dengan demikian bebaslah saya dari rencana bunuh diri.

2 Jun 2008

Jakarta : gumam di pangkal juni (1)


aih, ternyata aku merasa asing dengan kota ini. seperti ungkapan dalam lelucon kawan-kawan, "Ini Jakarta lo." yup, saya di Jakarta, di Ibukota Negara Republik Indonesia. bayangkan.

tetapi betapa asingnya aku. betapa aku merasa tak mengenal pusat pemerintahan negaraku. tempat yang aneh; bising, dan membuat pusing.

barangkali aku merasa tidak cocok saja dengan ini semua. tetapi begitulah, aku ada di Jakarta dan aku merasa tidak nyaman.

mungkin tempatku sekarang yang ada di nirzona sehingga suasana begitu kaku dan agak lain. aku melihat monas, sesuatu yang sering aku percakapkan dulu-dulu sekali. aku ingat Pamanku, yang dengan truknya telah mengantarkanaku dari Lansano-kampung kelahiranku-ke Jakarta. "Tuh, ada monas. kamu belum pernah lihatkan?"

kami tahu, itu semacam lelucon, bahwa Jakarta selalu mengantarkan kami pada bayangan Monas.

dan sumpah, tiba-tiba aku tak begitu tertarik dan tertantang untuk itu, kecuali beberapa kali saya mengajak kawan-kawan ke sana malam-malam untuk mengintip orang yang lagi mojok.

apakah saya sudah kehilangan rasa nasionalisme?

sebentar, saya barangkali masih mengingat Pancasila yang menjadi kewajiban saya dan akwan-kawan di senin pagi, waktu kanak dulu. tetapi, sudah lama aku tak kanak lagi. dan masihkah aku bisa mengingatnya?

lalu, apakah pancasila, yang kemarin saya lihat sepasukan merah2 berpawai di sekeliling Monas dan menyisakan sampah, adalah semacam simbol belaka? saya rasa sila ke lima sudah agak parah tuh. gak adil bener, yang berpawai menyisakan banyak sampah, sementara tukang bersih-bersih di Monas saya lihat hanya beberapa orang saja.

baru seginikah kesadaran kita dalam menghayati makna pancasila? ah, aku memang parah, tak suka memperingati apa-apa. bahkan ulang tahunku sendiri, bahkan ulang tahun pacarku sendiri. dan saya merasa, saya bukanlah seorang nasionalis apalagi pakai sejati. beginilah saya, yang tak merayakan hari kelahiran pancasila dengan berpawai dan semacam upacara. saya juga tak turun ke jalan seperti pasukan HTI yang membawa anak kecil di pawainya lalu diserang oleh pasukan yangd atang dari arah Timur. dan aku melihatnya datang...

mungkin seperti inilah makna kelahiran sebuah kesaktian dan aji kebangsaan kita. beginilah cara kita merayakan sebuah kebangsaan. sebuah kebangkitan; di mulai dnegan harga yang melambung (yang jika dikait-kaitkan BBM tak terlalu berimbas pada itu semua, sebagaimana ketika gaji PNS naik), aksi dan huru-hara. dengan begitu kita sedang memperlihatkan diri kita pada dunia, "ini, banyak kerja yang belum selesai. aku titipkan negeri ini padamu, sekali berarti sudah itu mati, eh salah, hidup adalah perbuatan maksud saya."

selalu ada yang salah, selalu ada yang mau ditatah. jangan-jangan memang (tiba-tiba saya ingat kartun Krisis Oh Krisis-nya Mice en Benny) negara kita berpondasi lontong sayur sehingga begitu rapuh kalau disentuh.

selalu ada yang ingin ditawarkan, selalu ada yang disengsarakan, selalu ada permainan politik. kesadaran bernasionalis yang absud juga lama-lama.

dan apakah saya terlihat begitu absurd hari ini?

dan sudahkah anda absurd hari ini? ah, saya malu pada pancasila yang melulu hapalan ketimbang perbuatan, setidaknya ala PAN.

yuk, sama-sama ikuti saya. siapa tahu seperti Zikir Nasional, kita perlu berpancasila nasional yang--semoga saja-- bisa menjadi semacam rapalan doa, tetapi bukan mantera

Pancasila
1. ketuhanan yang maha esa
2. kemanusiaan yang adil dan beradab
3. persatuan indonesia
4. kerakyatan yang dipimpin oleh hikma kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5. keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

semoga saya benar menuliskannya. semoga saya tidak ditangkap (nanti salah malah sok2an jadi aktivis). semoga saya memiliki bakat selain mengeluh dan melulu miskin. semoga saya bisa naik haji. semoga bangsa ini tidak absurd lagi. dan saya dibebaskan pula dari itu semua.

amin!

eh, ada yang terlupa: MERDEKA!!