28 Nov 2008

perang, amerika, teroris, maut

"Setidaknya enam warga asing telah tewas dan jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 101 sekarang," kata Ramesh Tayde, pejabat senior kepolisian Mumbai seperti dilansir The Times of India, Kamis (27/11/2008). Kelompok "Deccan Mujahedeen" mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang dimulai pada Rabu, 26 November malam waktu setempat itu.



Menurut kepolisian setempat, lebih dari 100 orang terjebak di dalam lift hotel mewah, Hotel Taj Mahal dan Hotel Oberoi saat serangan itu terjadi. Bahkan hingga kini, setidaknya 40 warga asing di kedua hotel itu masih disandera para teroris.

Menurut para saksi, kelompok penyerang mengincar tetamu hotel yang berpaspor Amerika Serikat dan Inggris'

Aku barusan mengutip cerita itu dari Detik.com. baru saja, pukul 01.16 di HP saya. saya jadi terpikir pula dengan tulisan Ben Anderson soal Komunitas Imajiner. Wah apa hubungannya ini?

aku tak tahu. mengapa selalu ada yang mati. mengapa selalu ada korban dan selalu ada teriakan soal itu. bagaimana kalau saya punya kesimpulan konyol begini: perang ideologi itu terjadi setiap saat, sepanjang hayat. tak peduli atas nama apa pun dan kelompok apa pun. bahwa, perang (aksi 'teroris' ini saya dan anda harus sepakat menganggapnya perang) ini merupakan reaksi atas sebuah aksi. sebuah tindakan untuk sebuah eksistensi.

aduh gimana ya membahasakannya... begini, saya orang yang tidak percaya dengan hitam-putih, bukan karena saya buta warna. sebuah persoalan memiliki sudut pandang yang berbeda. kita selalu menduga 'akibat' atas sebuah perbuatan. sebenarnya di belakang itu ada persoalan apa?

dan agama dalam konteks ini saya rasa hanya bagian dari reaksi tadi. bahwa gelombang kekerasan itu datang dari ideologi tertentu untuk tujuan tertentu. ada tindakan berarti ada musuh. lalu ada apa dengan sekelompok muslim itu, ada apa dengan Amerika yang ingin dihancurkan itu.

siapa pecundang sebenarnya. sayangnya tuts keyboard di warnet yang bayak menyediakan bokep (dan inilah tujuan saya datang ke warnet ini sebenarnya) terlalu keras. saya tak kuat mengetik. tapi setidaknya ini bisa menjadi sebuah diskusi menarik buat kita. kalau mau, tentu saja.

wasalam.

3 komentar:

suwung mengatakan...

dah pasti kelompoknya orang muslim?

kuli mengatakan...

Kuli: Hm.. kelompok yang mana dulu ini bung? saya menulis berdasarkan kutipan awal.
benar atau tidak, aku mulai percaya, sebuah gerakan besar sedang dimulai.

zyrajawa mengatakan...

sejujurnya aku tidak terhenyak sedikitpun dengan ketragisan perang. perang bagiku lumrah selama fanatisme ideologi itu ada. karena ideologi memiliki dimensi esoterisnya yang tak terhingga. bagi kaum puritan yang mewarisi semangat asketis tentu saja mengecilkan arti kehidupan duniawi ini. Dunia hanyalah fase perantaraan sebelum manusia pulang kembali ke alam roh.perang bisa juga merupakan sebentuk keniscayaan dalam kerangka "life is struggle". jadi tanpa kita menyisipkan emblem terorisme atau apapun emblemnya, perang kenyataannya selalu berkecamuk. kenyataannya pula bahwa sekelompok orang selalu ingin berkuasa atas kelompok yang lain.
seringkali kita membuat takaran yang kurang semestinya atas perang itu. atas dasar humanisme yang absurd menurut hematku, kita seolah-olah seorang detektif kesiangan yang berusaha mencari jawab berdasar atas pertimbangan salah benar. padahal kalau kita bicara ideologi, setiap ideologi mengemban bobot kebenarannya masing-masing. ya kalau ideologi bunuh-bunuhan memberikan tekanan bahwa membunuh itu benar, apa yang bisa kita bilang. Ya ternyata kitapun anak-anak kolonialisme yang tak segera sadar diri. aufklarung lupakanlah, saphere aude apalagi, terbukti menancapkan taji-taji kesombongan akan sebuah bangunan peradaban par excelent. implikasinya, kita makhluk-maklhuk asing yang kudu digembalakan dalam padang sabana kapitalisme.
tentu saja ini bukan serangan sebuah ideologi terhadap ideologi yang lain. ini hanya pagelaran kecil dalam layar kelir dengan seorang dalang yang netral. Mau bukti? akupun selalu mendukung produk-produk kapitalisme, karena itu berguna bagi umat manusia dan akupun tidak mengingkari bahwasannya ada sebagian masyarakat yang tertindas, terjepit diatara seliweran rudal-rudal setan.
Anyway, to be or not to be, that is question...hhheeehhhh...capek juga ngetiknya sekalipun keyboard ini terasa empuk di jari. OK mpe ketemu Innnn