27 Nov 2007

Igauan Tentang Diri

Igauan Tentang Diri

akhirnya, aku mahir menggambar hujan menirukan langkah-langkah pulang menulis reklame-reklame sunyi dan menempelnya di bebatang pohon sepanjang jalan
(di halte malam jatuh, Zen Hae)

Mungkin beginilah hidupku nanti; Pada sebuah waktu yang panjang, yang tak aku duga saat tepatnya, aku hanyalah sendirian tanpa kawan. Pada suatu pagi, ketika seseorang membangunkanku, ia mendapatiku sudah tak ada. Kepergian yang betul-betul sendiri, di sebuah tempat yang asing. Orang-orang nyaris tak mengenal diriku. Mati dengan sendiri, tanpa ada yang menyaksikan. Aku tak ingin mereka yang hidup melihatku begitu cengeng berhadapan dengan maut.

11 Nov 2007

kenangan tentang kampung


Sesekali Kami Menipu Hujan, Sesekali Tenggelam ke Dalam kabut


Begitulah, peta sudah kadung dibikin Pinto Anugrah malam itu. Empat titik sekaligus. Di sisi Selatan ada Lansano, kampung halamanku di Pesisir Selatan yang beribukota Painan itu. Tiga titik lainnya, yang menurut Pinto saling berkaitan, Singkarak di Solok, Padang Sibusuk di Sijunjung (atau Sawahlunto?) dan Batusangkar, satu titik lagi digoreskah Esha Tegar Putra, lelaki gondrong yang penyair itu.

8 Nov 2007

Sajak Saja

Kepada Perempuan Sukma

kita pernah meninggalkan dan ditinggalkan
suatu ketika, di mana tahun pecah dan
orang-orang merayakan rasa lapar
dengan bualan-bualan kosong. kita tersesat di antara
keributan yang sengaja diciptakan.

6 Nov 2007

hal-hal yang sempat tertuliskan


semua telah jadi puisi. semua telah jadi puisi di sini, di dada ini

1 Nov 2007

Suatu Hari dalam Kelasku

"Jadi mungkin yang menjadi poin besar dalam sistem ekonomi kapitalis adalah keuntungan besar dengan cara membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya." Kataku dengan bersemangat.

"Barangkali bukan?" Ujar temanku, katakanlah namanya Wina, rekan satu kelompok dalam sebuah diskusi kecil di kelasku. "Tapi, dalam buku ini," katanya sambil menunjuk barisan halaman fotokopian kepadaku. "persoalannya adalah lain."

Kampung; Puisi Yang Tak Tertulis

Kau tahu apa yang aku rasakan begitu menginjak tanah kelahiran? Aku butuh beberapa hari untuk meyakinkan diriku bahwa tidak ada apa-apa yang perlu aku takutkan –dan memang tak ada yang perlu aku takutkan. Kampung halaman, tanah kelahiran di mana riwayat dan seluruh masa lalu tumbuh dan bercabang di sana, menjadi buah yang dinikmati banyak orang.