20 Agu 2007

Mengenang kawanku Andi Wiranata-1


Kau Mandanku, Aku Tak Akan memakanmu, In
(Surat Panjang Buat Andi Wiranata)




“Aku tak bisa berkelahi denganmu. Aku tak bisa memukulmu. Tak akan pernah,” Katamu malam itu ketika kita bertengkar hebat tentang sesuatu yang aku sudah lupa, kalimat yang selalu kuingat daris eorang Andi Wiranata. Tentu kau juga. Dan benar, tak pernah ada pertentangan fisik antara kita meskipun dalam banyak hal kita selalu berbeda. Kau terlalu percaya omongan apa pun dari orang yang menceritakan padamu berbuih-buih tanpa fakta.

13 Agu 2007

Abak, dalam Ingatan

kupikir, agustus ini diriku sedang tidak merdeka:


Akhir-akhir ini aku sering ingat Abak. Barangkali karena sudah lama kami tidak bertemu dan kini aku merindukannya. Aku bayang-bayangkan wajahnya yang semakin hari semakin kurus itu, yang bersisa di wajahnya dan tak berubah tentu hanya kumis tebalnya yang kini barangkali pula sudah putih semua. Rambutnya juga. Aih, waktu empat tahun tentu telah merubah banyak tubuhnya. Kulitnya tentu tidak lagi sekencang dulu, banyak kerutannya, urat-urat membentang sepanjang lajur kaki dan tangannya. Bibirnya semakin hitam dan memucat. Tidak, aku tidak tega membayangkan Abak dengan wajah seperti itu.

8 Agu 2007

sebuah sajak


Sajak Kepada Semua Orang
Kepada kalian yang sempat mengenaliku
Padamulah sajak ini kutuliskan
Agar tunai utang janjiku