22 Jul 2007

Penyair Yogya yang Bagaimanakah?




(Soal FKY dari Genthong dan Aguk Irawan; sebuah kegelisahan identitas)
Munculnya polemik seputar penyelenggaraan event tahunan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) telah membukakan mata kita akan ruang-ruang kreativitas yang selama ini abai diperhatikan. Gugatan dan pertanyaan atas siapa penyelenggara, siapa koordinator dan sebagainya telah membukakan kita akan sebuah ‘ranah’ kreativitas. Sebuah gugatan akan lokalitas, tempat dimana sang penyair lahir, tumbuh dan besar. Jika polemik semacam ini menyadarkan kita akan kekosongan ruang kreativitas, boleh jadi ke depan –untuk waktu yang tak bisa dirumuskan– kita memerlukan polemik, setidaknya menjaga dan mempertahankannya untuk keberlangsungan proses kreatif dalam dunia kepenulisan.



Bicara FKY kita bicara pada ranah yang luas. Di sana ada berbagai devisi yang salah satunya devisi sastra. Lalu pertanyaan seputar manajemen, logo dan konsep saya rasa kita perlu forum yang lebih besar. Karena sebagai mana yang saat ini muncul kepermukaan adanya gugatan pada panitia yang mengurusi devisi sastra. Sampai di sini jelas, ada pembatasan antara FKY secara umum dan devisi-devisi secara kuhusus. Hal ini penting untuk memberi ruang batasan perdebatan yang saya rasa akan bisa sangat panjang.
Yogya dan Rasisme

Ada beberapa poin penting yang saya catat. Dibalik ini semua bersarang sebuah tekanan luar biasa. Sebuah pertanyaan yang sama-sama keluar dari tulisan Genthong, Aguk di halaman ini, dan tentu saja banyak insan kesenian lainnya tentang siapa penanggung jawab acara sastra yang berlangsung Agustus mendatang? Yang pasti penanggjawab acara yang sedang dipertanyakan adalah Saut Situmorang dan Raudal Tanjung Banua. Siapa Saut? Siapa Raudal? Dari mana munculnya kedua orang ini? Pertanyaan-pertanyaan kemudian mengarah pada sebuah jawaban yang sudah disiapkan, yakni: mereka bukan orang Yogya meskipun merak tinggal di Yogya.

Sepertinya kepentingan rasial, chauvinisme sedang berputar-putar di kepala kita, disadari atau tidak. Ini tidak main-main. Munculnya Forum Sastra Jogja –diakui atau tidak– adalah respon atas ketidakterimaan akan ‘selera’ panitia FKY yang tidak berimbang pada penyair Yogya. Sampai di sini pertanyaan lain akan bergelayut di kepala kita. Siapa penyair Yogya? Siapa penyair non Yogya? Bagaimana mendefenisikannya?

Dalam ranah kreativitas, dunia menulis membutuhkan sosok personal yang ada di belakang layar ataukah karya yang dihasilkan? Dalam hal ini, kita boleh saja tidak sependapat bahwa “penulis telah mati.” Dalam artian, pengarang dan penulisnya masih diperlukan untuk beberapa keperluan. Karya sastra tidak dilahirkan sebagai wujud narsisisme dan melulu eksistensi. Karya yang baik, tanpa dibicarakan siapa yang menuliskannya akan berbicara jauh lebih luas dari itu. Penulis akan mengikut di belakang karyanya, jika memang tidak mau ‘mati’. Bahwa, pengarang/penyair bisa dikenal tentu seiring dengan seberapa besar karyanya mempengaruhi orang. Tiap kali kita bicara Pengakuan Pariyem, kita akan diingatkan pada Linus. Tapi untuk membaca, membicarakan Pariyem saya kira tanpa menyertakan Linus ia tidak menjadi kosong begitu saja. Bahwa karya yang baik, akan memiliki gema tersendiri yang tidak lagi mutlak milik pengarangnya. Penulisnya boleh saja mati, tapi karyanya akans elalu ada dan hidup.

Selalu dan sungguh melelahkan tiap kali bicara proses kreatif kita selalu dibawa beromantis ria pada masa lalu. PSK. Ada kecenderungan kita melulu melarikan diri ke sana. Bahwa dulu perna ada sebuah wadah proses kreatif di Yogyakarta yang berpusat di Malioboro, kita mengakuinya. Bahwa dari sana muncul nama-nama: Rendra, Emha, Motinggo Busye, Darmanto Jatman, Linus Suryadi AG, Ragil Suwarno, Iman Budhi Santoso dan sebagainya dan sebagainya itu kita akui juga kebenarannya. Persoalannya sekarang adalah sejauh mana mereka mempengaruhi kreativitas penulis sekarang? Siapa yang kemudian dihasilkan dan seberapa besar dan popular karya-karya mereka?

Komunitas dalam berproses tentu dibutuhkan, tapi karya akan tetap lahir dari ruang privasi pengarangnya. Bahwa dalam dunia tulis-menulis, sekali lagi kita membutuhkan karya bukan siapa pengarangnya. Dunia kepenulisan tentu bukan dunia selebritis, dimana pelaku lebih terkenal dari karyanya. Pertanyaan saya, PSK yang kita bangga-banggakan itu seberapa besar memberikan kontribusi pada proses kepenulisan berikutnya, sampai pada generasi sayab sekarang? Masihkan ruang kongkow di Yogya menghasilkan penulis-penulis sekelas mereka yang kita sebut-sebut tadi? Sejauh apa karya-karya mereka dikenal dan mempengaruhi dunia kreativitas dan diwariskan oleh generasi berikutnya?

Apakah penyair Yogya adalah mereka yang merasa pernah hidup dan berkumpul periode 70-an di Malioboro dan sekarang Taman Budaya? Kalau ya, masihkah mereka mengeluarkan karya-karya puisi? Seberapa besar kontribusinya? Atau jangan-jangan karya mereka lebih dulu mati sebelum sampai di tangan kami para generasi muda ini sehingga kami begitu terbata-bata mengeja nama mereka. Kami mengenal nama, tapi tidak karya mereka. Sekali lagi, dalam proses kreativitas kita butuh personal atau karya yang dihasilkan?

Lalu, mereka yang tidak nuwun sewu, dan bergesekan dengan kelompok-kelompok semacam ini bukan penyair Yogya? lalu bagaimana kita menyebut mereka yang tinggal di Yogya dan melakukan proses kreatif di sana dan masih terus menelurkan karya tetapi tidak bergesekan dengan mereka yang masih menyisakan ‘aura’ Umbu? Disebut generasi apa mereka ini?

Siapa Aguk?

Aguk mempersoalkan nama-nama serupa Saut yang bukan orang Yogya dan menulis sedikit karya sastra. Juga Ts Pinang yang konon hanya menulis di dunia Cyber. Pertanyaan yang sama tentu bisa saya pertanyakan juga sebagai orang awan dan bodoh: siapa pula Aguk?

Bagaimana kita mengkategorikan seseorang sebagai penyair atau bukan penyair, Bung? Dari penampilannya? Jumlah buku yang hasilkan? Jumlah publikasi media massa? Saya pikir dua hal terakhir ini adalah dampak dari dunia kepenulisan, bukan hasil. Jika berhitung jumlah buku, jumlah publikasi, dijadikan patokan ketenaran seseorang, sejauh mana pula generasi-generasi yang mengaku dirunya sebagai penyair Yogya tadi menghasilkan karya? jika publikasi dan jumlah buku yang menjadi tujuan kepenulisan, seberapa besar karya-karya mereka mempengaruhi masyarakat? Dalam posisi ini, Aguk di mana? Aguk tidak tampil di antara nama-nama sastrawan tua yang dihapal di luar kepala, atau pun generasi-generasi muda yang ‘melompat’ dari generasinya semacam Puthut, Hasta, atau Herlinatiens misalnya.

Lalu seberapa besar media publikasi Aguk di media massa? Bagaimana pula pandangannya terhadap menulis di dunia cyber semacam blog, milis atau website? Bukan karya? Saya pikir dunia cyber bukanlah melulu sebentuk ‘pelarian’ mereka yang gagal. Jika bicara idealisme dan pilihan, saya kira mereka punya wilayah yang jelas. Tidakkah Aguk mengenal nama-nama Moedy Lukito, Hasan Haspahani, Johanes Sugiharto, Nanang Suryadi, Leowiens SP, untuk sedikit nama yang dikenal dan memilih milis dan blog sebagai ruang krativitas mereka?

Saya sebagai orang baru yang bersentuhan dengan dunia puisi rasanya lebih mengenal TS Pinang ketimbang Aguk Irawan. Jika tidak pernah berjualan buku mungkin saya tidak kenal nama Aguk Irawan ini.

Sampai di sini, sebuah pertanyaan yang sama adalah gugatan atas penyair Yogya dan luar Yogya jelas menjadi persoalan penting dan menjadi pertanyaan. Keraguan Aguk dan Genhtong jelas keraguan identitas. Sudah berapa lamakah Aguk tinggal dan berproses di Yogya? bukankah buku-buku Aguk itu muncul sewaktu dia belum di Yogya? sejak kapan Aguk masuk Yogya dan menjadi bagian dari mereka penyair Yogya? Lalu bagaimana dengan saya dan generasi saya menempatkan diri? (Sebuah generasi yang lahir tanpa romantisme. Sebuah dunia yang penuh daya kejut teknologi. Generasi yang mau tidak mau merespon wilayah itu)

Bagaimana menempatkan mereka dalam peta kepenyairan di Yogyakarta yang selama ini nyaris sepi dari kegiatan berkesenian? Jika perlu nuwun sewu, kepada siapa? Di mana mereka selama ini? Mana karya mereka yang hendak kami baca dan jadikan contoh itu? Betapa fioodalnya kita kalau begitu? Inikah kebebasan berkarya? Apakah sastra memang perlu identitas?

Barangkali Yogya memang memerlukan polemik untuk menghidupkan kreativitas yang ini hambar dan didominasi romantisme. Ba’a kaba?

Yogyakarta, 16 Juli 2007

6 komentar:

zen mengatakan...

Masih ada orang macam aguk ya ternyata? Heran. Heran.

Selain ada editor katrok, ternyata ada juga penyar katrok yang unjuk tampang.(selain si koto-khan tentu saja.)

Tentang Lelaki Pelabuhan mengatakan...

hahha... kau ternyata sudah baca toh. media pembelajaran saya sebagai yang dianggap 'orang luar' dan yang tak bisa berkata-kata. semoga saya bisa belajar menulis dan mendesain blog.. hehhe

haris mengatakan...

ah, kenapa ya mas, soal identitas saja dipersoalkan dlm sastra? mngkn si aguk itu sudah kehilangan kemampuan kreatif hingga perlu membuatsebuah polemik yg sebenare ga mutu dan ndeso. ha2

koto mengatakan...

indentitas di satu sisi merupakan 'tempat lahir' tapi di sisi lain merupakan sebentuk karakter yang akan menunjukan 'kita-mereka' 'kami-kalian'. masih perlukah dalam kancah yang besar ini perseteruan identitas? tidakkah 'pertempuran' produktifitas jauh lebih dewasa? ia yang akan menentukan 'layak' tidak layaknya kita 'hidup' bukan? tx

TSP mengatakan...

saya juga lebih kenal nama Indrian Koto ketimbang Genthong HSA :-D aih... Koto yang sunyi di mulut, ramai di tulisan, jauh lebih menyenangkan mengenalmu ketimbang mengenal para sastrawan tua yang ramai ngobrol di warung tapi lupa menulis...

budhisetyawan mengatakan...

Apa kabar? Ada isu baru apa yang menyentuh tubuh sastra di Yogya? Atau sekarang cuaca lagi cerah ombak tenang, dan kapal-kapal pun lancar berlayar.........