31 Okt 2008

sajak ah...

Ketapang—Gilimanuk

laut menghanyutkan kami
di laut yang ombaknya begitu nyinyir

29 Okt 2008

Reunian Para Penyair Jawa Tengah di Solo

Nekad juga, merasa tak enak dengan Sukma akhirnya kmi meluncur ke Solo di sore yang hujan itu. Perjalanan dalam hujan tentulah rada-rada gimana gitu. Tapi kita sampai juga to. Malam itu akhirnya aku kembali bertemu dengan wajah-wajah muda anak-anak Surakarta. Kabut dan Pawon barunya, aku denger2 Kabut Institut punya empat esais yang rajin menyerang media. Mungkin kabut, Ridho al-Qodri, Haris Firdaus dan entah siapa lagi. Yang lain kami sudah kenal muka tapi aku selalu susah menghapalkan nama. Datang Joko Sumantri dnegan berat badan bertambah, wajahnya jauh lebih dewasa dan sedikit tua.

28 Okt 2008

Elizabet yang Mewah

Elizabeth The Golden Age;
Perempuan Pemimpin dari Eropa


Pemain: Cate Blanchett (Elizabeth)
Clive Owen (Walter Releigh)
Geoffrey Rush (Francis Walsingham)
Abbie Cornish (Bess)
Jordi Molla (Philip II)
Samantha Morton (Marry Stuart)
Sutradara: Shekhar Kapur


Apakah pemimpin itu layaknya dihormati atau ditakuti masyarakatnya?

27 Okt 2008

kerjaan iseng

pertama kalinya aku membuka Photoshop, Corel Draw, Corel-Foto. heran aku, ternyata aku gak ngerti apa-apa. aku membuka sebuah majalah untuk panduan, buku yang aku beli tidak lengkap referensinya tambah lagi buku tentang desain distro dari tetangga kamarku.

23 Okt 2008

sepupuku menikah

Lihatlah sepasang pengantin ini: ini adalah sepupu saya yang usianya bertaut sepuluh bulan lebih tua dari saya (duluaya memanggilnya uda, tetapi kemudian saya memanggil namanya saja: Mugil). Sepupu saya ini: Mugil Jendri menikah pada tanggal 10 Oktober 2008 kemarin. foto-foto ini saya dapat dari kakaknya yang tentu juga sepupuku, Hendri Tanjung Manaf.

14 Okt 2008

Catatan Pembunuh

Prolog: tadinya saya mau posting foto-foto semacam narsisme bahwa saya pernah keluar Yogya juga. tapi tiba-tiba yang terjadi saya malah menulis ini. aduh...
Sebelum Ajal
(Catatan Seorang pembunuh)

Dari dulu aku tak pernah sangsi dengan mati. Bagiku ia niscaya. Dalam hidup berkali-kali aku berhadapan dengan maut, berkali pula aku terselamatkan olehnya. Aku percaya, sebelum ajal, sebelum Tuhan berhendak, tak akan nyawa ini pergi.
Aku menyadari setiap pekerjaan memiliki resiko yang berbeda. Ketika aku memilih pekerjaan ini, aku paham betul kemungkinan dan segala konsekwensinya. Apa yang kudapat kini, sudah terpikir sebelumnya. Aku telah membunuh, sebentar lagi aku juga akan dibunuh. Sebuah konsekuensi logis yang harus kuterima. Tapi percayalah, membunuh bukanlah pekerjaan sederhana. Dan aku, sebagai manusia biasa, dalam hal-hal wajar aku akan menolaknya. Tetapi selalu ada hal-hal yang muncul di luar kesadaran. Aku meyakini itu, bahwa apa yang dianggap baik, bisa jadi sesuatu yang buruk.
Dan aku memutuskan untuk membunuh sebagai bentuk pernyataan diri. Siapa dan untuk apa aku membunuh bukan lagi menjadi soal dan tak perlu kutulis di sini. Aku ingin mengatakan apa yang diyakini sekelompok orang bisa jadi ditolak sekolompok lainnya. Kebenaran relatif sifatnya dan kurasa tak perlu diperdebatkan. Sekali lagi kukatakan, dalam hal-hal normal, membunuh adalah tindakan biadab dan aku betul-betul meyakininya sampai hari ini. Menjadi pembunuh dan untuk dibunuh bukanlah sebuah cita-cita.
Aku telah membunuh, semua orang tahu itu dan tak perlu lagi kusembunyikan. Kenapa dan untuk apa aku membunuh bukanlah sebuah retorika dan perlu analisis. Aku membunuh karena aku menginginkannya, apakah itu bukan sebuah konsesi logis? Tak sesederhana itu memang, tetapi bukankah kebenaran bagi satu orang—semacam saya—bukanlah kebenaran bagi yang lain? Saya tak percaya dengan hitam-putih. Semua berasal dari satu warna saja. Hitam atau pun putih. Kebenaran adalah milik semua pihak, dan kesalahan merupakan tanggungjawab keduanya. Tanpa api tak akan ada asap.
Di tempat mana pun, apa yang sudah aku lakukan—membunuh dengan rencana matang dan kesadaran penuh—adalah pekerjaan bejad dan tak layak dilakukan. Alasan bagiku tak lagi penting; apakah seseorang berada dalam kondisi terjepit atau dalam keadaan perang. Membunuh bisa dilakukan kapan saja dalam situasi apa saja, sekaligus bisa ditolak kapan saja, dalam keadaan apa saja. Tetapi membunuh adalah membunuh, menyudahi hidup seseorang—atau banyak orang.
Pembunuh adalah perantara malaikat maut.
***
Aku begitu pasti, sebentar lagi aku akan sampai di ujung kehidupan. Aku akan mati, sebagaimana mereka yang pernah saya antar ke sana. Sebagai orang beragama, saya percaya akan adanya hari akhir.
Setiap orang memiliki keyakinan masing-masing. Mereka boleh saja mengutukku, memintaku untuk segera dilenyapkan. Tapi pahamkah mereka, dengan melenyapkanku, peristiwa lampau tak akan bisa dikembalikan? Hakikat manusia dipenuhi dendam. Bagi mereka, dengan menyudahiku semua akan selesai. Tentu mereka berdoa dan berharap aku ditempatkan di neraka yang paling nista.
Begitulah adanya. Aku mencium bau maut begitu santer. Orang-orang mempercakapkanku tanpa ampun seolah Tuhan yang akan menyelesaikan semua riwayatku.
Tapi baiklah, jika kematianku ini yang ditunggu, jika bisa menyelesaikan banyak hal, meski—bagi mereka—tidak dosa-dosaku, baiklah. Aku telah siap dieksekusi. Dari dulu malah, dari awal ketika aku melakukan kejahatan sebagaimana yang mereka pikirkan aku sudah menyadari resiko ini.
Aku bisa menghitung sisa usiaku. Kau tahu, menghitung usia sendiri, mengetahui jadwal mati bukanlah menyenangkan. Tapi apa yang tidak mendebarkan dalam hidup?
***
“Aku minta digantung di alun-alun kota, biar semua orang bisa melihat kematianku.”
Hanya itu permintaan terakhirku.
Mereka pikir ini main-main? Tidak ada mati yang tidak serius, tidak ada mati yang tidak disiapkan. Jika aku bisa mengetahui kapan kematian mendatangiku, kenapa pula aku tak bisa meminta tempat dan menentukan caranya?
Selalu ada unsur politik menjelang pemilu ini. Orang-orang menyeretku dalam setiap pembicaraan untuk tujuan-tujuan yang telah dipolitisir. Dan kematianku, untuk mengantarku pada malaikat maut dan memelintir peristiwa yang berhubungan denganku mereka harap akan mendongkrak nama mereka.
Aku hanya ingin digantung di alun-alun kota. Kenapa kalian begitu payah mengabulkan permintaan ini? Kalian tak ingin dianggap kejam, memeperlihatkan kematian di hadapan banyak orang? Omong kosong itu semua, kalian kira mati oleh peluru, di penggal dengan pedang, dibius sampai mati tidak sama kejamnya?
Aku punya alasan untuk itu. Aku ingin semua orang menyaksikan kematianku agar ada hikmah yang bsia diambil dari ini semua. Bukankah kebenaran itu relatif? Bukan untuk mencari simpati jika aku menginginkan ini. Aku mau, jika nanti aku mati, kalian paham, ini tak boleh diulangi lagi. Agar anak-anak muda tidak meniru tingkah saya. Agar kalian percaya kematianku tidak sedang dipolitisir.
Dan aku minta, siang ini, di alun-alun kota kalian mulai eksekusi ini. aku capek menduga-duga maut. Penundaan adalah kematian lain bagiku yang hanya bisa menunggu.

Yogyakarta, 2008

4 Okt 2008

beberapa catatancatatan

Catatan Satu Oktober 2008

Ini tangal satu oktober. Pada kalender Masehi tahun ini di indonesia diperingati dengan hari kesaktian pacasila. Sebuah momentum yang diciptakan enguasa orde baru untuk menciptakan ikon kepahlawanan mereka dengan mengambil unsur mistik; garuda sebagai simbol perkasa yang melindungi bangsa.
Peristiwa ini, kematian para pahlawan revolusi dan akibat yang ditimbulkan setelahnya; dibubarkannya partai merah PKI, pembunuhan massal sebagai efek “balas dendam” kebangsaan, tumbangnya orde lama, terjadinya inflansi gila-gilaan, krisis ekonomi dan krisis moral.

sejarah hari ini tak akan mampu merasakan seperti apa peristiwa 42 tahun yang lampau itu, yang jika dihitung tidaklah terlalu tua untuk sebuah sejarah. Tapi hari ini, sejarah tak lagi memiliki mistisisme yang terlalu membanggakan. Siapa yang mengenang selain mereka yang mungkin bersinggungan dnegannya?

Peristiwa selalu begitu, hanya milik mereka yang palingd ekat dengan sejarah yang mampu merasakan keperihan, kebahagian dan susana semacam apa. Orang lain tak akan sungguh-sungguh mampu. Meskipun saya dan generasi seangkatan masih lahir dari rumpun sejarah yang sama, apa yang bisa dikuatkan oleh prasasti yang tak berwujud itu? Apa yang bisa kami petik dari segala peristiwa? Kematian sepanjang waktu hilir mudik menerkam siapa saja. setiap deting ada sepuluh juta peristiwa berbeda yang dialami oleh manusia. Sebagaimana di jalan raya, kau disibukkan oleh urusanmu, bis melompat dengan kesibukan lain, seseorang menyeberang tak kalah sibuk, ambulance meraung tak kalah sengit, semua bergegas untuk diri mereka dan kepentingan yang saling bertabrakan.

Dan hari ini, yang tak akan berulang sepanjang tahun kami, kaum muslim merayakan lebaran. Tidak seperti tahun-tahun yang lalu, keributan sering terjadi ketika penentuan hari H. dan aku merayakan lebaran kali ini di Bali dan seletalh tanggal 3 nanti aku akan kembali ke Yogya.

Bagiku, lebaran di mana pun sama saja. usia cukup berpengaruh bagi saya untuk kemudian meraya lebaran amkin tak nikmat. Pengalaman adalah hal berikitnya. Hal yang sama berulang-ulang bukan lagi sebuah perayaan, melainkan rutinitas.

Dulu, awal-awal saya meninggalkan kampung, syaa mreasa lebaran paling indah itu hanyalah di tempat aku dilahirkan. Tetapi ketika aku kembali mencobanya—merayakan lebaran di kampung—moment iyu tidaklah tepat. Saya merasa hambar. Barangkali ada faktor ketiga yang mempengaruhi saya yakni kurangnya kadar religiuitas dalam diri saya. Dan mungkin faktor lain, yang ada absurd tapi bisa dianalisis, bahwa lebaran menjadi sebuah simbol yang diperebutkan banyak kepentingan.

Sehingga lebaran di Bali, Yogya, kampung atau di mana pun sama hambarnya. Sebab saya merasa ia telah menjadi tunggangan banyak orang. Apa yang menikmatkan dari budaya massal ini.

Jika ideologi dan nilai tauhid sudah bisa direkayasa begini, sejarah tentu tak kalah buruknya dengan itu semua.

***
Mengapa selalu ada mayoritas dan minoritas? Setiap yang merasa paling berkauasa selalu ingin menginvasi yang lain? Aku sudah lama tak mengikuti perslan politik yang begitu rumit. Amerika merudal pakistan, tudingan-tudingannya atas negara yang tak patuh dengan kekuasaannya, pembelaan-pembelaan yang curang, peristiwa berdarah berlangsung setiap hari. Selalu ada yang mati karena kepentingan orang lain. Ada yang mati karena rebutan zakat, partai sibuk dengan lobi-lobi politik, ada yang jatuh dari amsjid, makanan cina yang terus saja bermasalah.

***
Dan aku bermalam-malam dicemaskan dnegan kematian; mengapa mati, bagaimana rasanya, kapan waktunya, apa setelahnya?
Kecemasan ini dikarenakan saya mempercayai satu agama. Bukan saya meragukannya. Lantaran aku mempercayainyalah maka aku merasa mati susatu yang tak lagi nisbi. Kapan waktuku akan datang? Suasana yang seperti apa yang membuat aku harus mati? Apakah aku tidak akan sedih meninggalkan banyak rencana yang terbengkalai? Apakah aku tidak akan merindukan dunia yang membuat saya betah setidaknya dua puluh lima tahu terakhir ini?

***
Kau tidak merasa hidup ini rumit? Sesuatu terjadi begitu saja. saat aku menulis ini kau bisa pastikan di suatu tempat kau akan emlihat atau sedang melakukan sesuatu, seseorang menahan sakit, seseorang berjalan dengan eksedihan yang lain, seseorang menampar seseorang yang lain, seseorang selingkuh, seseorang meninggalkan seseorang karena seseorang yang lain yang mungkin juga meningalkan seseorang yang lain pula, seseorang menipu seseorang, seseorang menunggu kendaraan menuju sebuah tempat, seseorang antri di kamar amndi, seseorang sakit gigi, seseorang bernyanyi di kamar mandi, seseorang telanjang bulat di dalam kamar, seseorang sedang menyetubuhi seseorang, seseorang sedang emnunggu seseorang, seseorang sedang makan, seseorang sedang puasa, seseorangs edang beribadah, seseorang meninggal, seseorang merasa terlambat, seseorang lapar, seseorang menyanyi, seseorang perlu uang untuk amkan, seseorang merindukan seseorang, seseorang sibuk menelpon, seseorang mencari sesuartu yang tak begitu penting di kamarnya yang cekung, seseorang harus bangun lebih cepat, seseorang malas bangun dari tidurnya, seseorang marah pada seseorang, seseorang sedang merancanakan sesuatu yang jahat, seseorang sedang mengintai musuh, sekelompok orangs edang memfupakati sebuah rencvana jahat, seseorang di rampok, seseorang menunggu suaminya, seseorang menahan kakinya yang bengkak, seseorang menangis, seseorang bercerai, seseorang onani, seseorang ingin kawin, seseorang bercakap dengan seseorang dan banyak orang, seseorang kehilangan sesuatu, seseorang sedang menjahit sesuatu, seseorang sedang memaki sesuatu, seseorangs edang merokok, seseorang ingin bunuh diri, seseorang dalam perjalanan yang jauh, seseorang mencuci pakaian, seseorang berlari, seseorang ketakutan, seseorang menuntun sepeda, seseorang melamun, seseorang membuka toko, seseorang menjual koran, seseorang membikin the, seseorang menyiapkan air panas, seseorang tangannya luka,s eseorang memasak, seseorang mengoda seseorang, seseorang berjemur, seseorang kehilangan dompet, seseorang membaca sesuatu, seseorang membeli bir, seseorang memotong kuku, seseorang sedang berkaca, seseorang membeli lipstik, seseorang membeli baju, seseorang meningalkan seseorang, seseoang menemukan sesuatu, seseorang kepanasan, seseorang menggigil ekdinginan, seseorang merasa kepalanya pusing, seseorang bertelanjang di jalan raya, seseorang berteriak memanggil penumpang, seseorang mengantuk, seseorang sedang emncium seseorang, seseorang seang memandikan burungnya, seseorang sedang membeli sabun, seseorang merasa kesasar, seseorang main layang-layang, seseorang sedang berenang, seseorang kepalanya bocor, seseorangs edang mengetik, seseorang menunggu sesuat, seseoramg sedang bermimpi, seseorang sedang menulis, seseorang sedang emnggumam, seseorang memperbaiki rumahnya, seseorang menuntun sepedanya, seseorang membeli mobil, seseoang membayar tagihan listrik, seseorang merasa kesepian, seseorang berputar-putar di sebuah yikungan., seseorang emnahan kencing, seseorang berak, seseorang membeli shampo, seseorang nenonton televisi, seseorang sedang menyiapkans ebuah kejutan, seseorang mengusap keringat, seseorang menggaruk kelaminnya, seseorang bisulnya meletus, seseorang memotong rambu, seseorang kukunya patah, seseorang menyapu, seseorang mendouload sesuatu, seseorang sedang chating, seseorang mendorong mobil, seseorang membuka almanak, seseorang tergelincir, seseorang mengaduk semen, banyak orangmengantar orang mati, beberapa orang menggali kuburan, seseorang mencangkul di sawah, seseorang kehilanagn kunci, seseoang kehilangan alamat, seseorang menyeberang, seseorang kehabisan kopi, seseorang berteriak, seseorang kencing di balik pohon, seseorang membaca tulisan ini,
Seseorang...
Seseorang...
seseorang..
beberapa orang..
banyak orang..
semua orang...