8 Apr 2008

Sajak Sutan TSabit Kalam Banua

Polemik Kebudayaan dan Epistimologi sastra

(Ah, sebenarnya saya sedang menipu anda dengan judul tulisan di atas. Saya sedikit pun tak akan menyinggung perihal gonjang-ganjing itu. Sumpah, ini hanya sensasi saja. Tak pula memaksa dan memancing emosi anda. Percayalah.
Saya akan bercerita tentang sebuah perihal sederhana. Tentang seorang bocah kelas satu SD yang beberapa waktu belakangan puisinya pernah saya postingkan puisinya di blog ini juga. Dan ini bukan pengantar untuk itu.
Bocah itu suatu kali mendatangi ibunya dengan mimik setengah serius. “Bunda,” katanya. “Kirimkanlah puisi Tsabit ke koran biar Tsabit bisa membeli sepatu.”
Yup. Dia Sutan Tsabit Kalam Banua. Aih, bagaimana anak sekecil itu paham bahwa koran, lewat puisi bisa memenuhi fasilitas hidup? Dulu, di waktu yang jauh dia pernah ingin mengirim puisinya ke koran agar bisa membelikan rumah buat bunda dan papanya. Masa itu tidak seperti sekarang saudara, di mana ada hadiah besar yang ditawarkan untuk penyair, barangkali bisa mencicil kredit rumah. aha...
Setelah diberi pengantar oleh ibunya, pilihan menjadi penyair bukan soal keinginan memiliki sepatu, maka bocah ini dengan lantang berteriak. “Tsabit kirim puisi ke bunda sajalah, biar dibelikan sepatu.”
Saya tak akan menjelaskan hubungan sebab-akibat soal media dan sepatu itu saudara. Di sini. Saya hanya ingin bertanya pada diri saya, adakah ini efek positif atau negatif dari sastra media? Entahlah.
Hm.. saya sudah terlalu panjang rasanya. Ada baiknya saya kutipkan dua puisinya yang akhirnya dikirimkan kepada sang bunda. Tak ada bahasan tentang puisi itu. Saya pikir anda sungguh cukup dewasa dengan itu. Sebagaimana takdir sebuah sajak.
Dua sajak di bawah ini boleh jadi tidak dihafal dia dengan baik. Tapi percayalah, jika suatu waktu anda membacakan puisi ini di depannya dia akan tau itu sajak siapa dan untuk satu kesalahan yang anda lakukan dalam membacakan puisi ini bersiaplah anda dimarahi. Dia akan tahu ketika kata “tidak” anda baca “tak” atau tanpa sadar anda menghilangkan kata “dan” dalam sajaknya.)

Sajak Sutan Tsabit Kalam Banua

Aku Ingin Sekolah Itu Hancur

aku ingin sekolah itu hancur
aku ingin membalas kemarahan ibu guru kepadaku
tetapi aku tidak tahu kapan waktu yang tepat
aku ingin tidak melihat lagi ibu guru yang memarahiku
lalu mengapa aku tidak akrab dengan pak guru?

aku memandang sekolah itu seperti aku sedang menyetir bis
dan teman-temanku itu penumpang
dan ibu guru sebagai pengamen memainkan gitar dan biola
supaya aku ceria menyetir bis
tetapi setelah memasuki terminal
penumpang-penumpangku hilang
pengamen itu juga hilang
dan aku memasuki dunia hampa

sawit, 19 maret 2008
17:55

Sajak Sutan Tsabit Kalam Banua

Bumi Semakin Mendekati Matahari

bumi semakin mendekati matahari
dan orang-orang di bumi semakin lenyap
yang tersisa hanya hati, otak dan mata
pabrik-pabrik, kapal-kapal, pesawat-pesawat
telah lenyap

matahari membuat kehancuran
matahari yang terisi hanya api dan api saja
di dalam matahari itu tiada puisi
di sana hanya ada kehancuran dan kesedihan
yang terlihat kini hanya sehelai rambutku saja
cita-citaku kini telah hancur
dan kesedihan semakin mendekatiku

sekarang tidak ada kesenangan
dan bumi telah hancur
sekarang matahari ada dua
bumi telah terbakar dan menjadi matahari
api, api, api hanya membuat kehancuran dan kehancuran
air lebih berguna dari pada api
aku berharap ada bak yang berisi air sebesar bumi
dan menghentikan bencana api ini

sawit, 19 maret 2008
17:40



4 Apr 2008

Buku, Sepenggal Kenangan(1)

Buku yang Mengalahkan…

Saya ingat ketika datang pertama kali ke Yogya awal tahun 2004, saya kaget melihat begitu banyaknya buku dikoleksi secara pribadi. Setiap orang yang saya kunjungi memiliki rak-rak buku yang tertata rapi dengan kemasan yang menggoda minat saya. Rasa kaget itu berubah panik begitu melihat ada beberapa buku yang pernah saya dengar judulnya, pernah disebut-sebut pengarangnya. Keinginan saya meledak-ledak untuk segera membacanya. Keinginan semacam itu menjadikan saya seorang yang rakus; menumpuk sebanyak-banyaknya buku tanpa ada selera untuk membacanya.

Tragis memang, justru dalam kondisi seperti itu saya jadi kehilangan selera membaca. Kerakusan saya mengamati dan mencomot buku-buku tidak serta-merta diikuti keinginan membaca yang kuat. Begitu saya baca beberapa lembar buku yang ini, saya tergoda pula dengan buku yang itu. Untuk menyiasatinya saya kadangkala hanya membaca pengantarnya saja.

"Nanti kalau punya waktu kan bisa dibaca serius." Janji saya dalam hati. Janji yang sampai kini kadangkala sering terlupakan. Penyakit apa yang menimpa saya ini?

Di kampung, saya hanya mengenal pustaka sekolah sebagai tempat bersarangnya buku-buku pelajaran dan sedikit buku sastra. Di rumah saya memiliki beberapa buku dan majalah-majalah bekas. Teman-teman saya sering berkunjung ke rumah untuk numpang membaca.

Sejak kecil saya terbiasa dengan buku. Saya membacai buku-buku yang dipinjam dua kakak saya dari sekolahnya. Kebetulan mereka orang yang suka dengan bacaan. Waktu itu saya masih bocah kelas tiga SD yang tersedu membaca puisi "Karangan Bunga" Taufik Ismail. Saya terisak-isak membaca beberapa cerpen-cerpen sedih dari majalah remaja dan mencuri-curi kesempatan membacai novel Fredy S. yang dipunyainya. Setiap kali dia melarang, setiap kali itu pula muncul keinginan saya mengetahuinya.

Kakak sulung saya pindah ke kota provinsi dan saya yang masih tetap bocah yang sering dioleh-olehi komik dan buku-buku cerita. Bukunya bagus-bagus dan lucu-lucu. Ada Petruk-Gareng, ada cerita-cerita silat, ada bundelan majalah Bobo dan Donal Bebek, ada beberapa novel-novel ringan petualangan. Sebulan sekali saya menunggu oleh-oleh itu. Katanya dipinjam dari taman bacaan. Satu yang tersisa di kepala saya adalah, taman bacaan itu ternyata memiliki buku yang banyak, jauh lebih banyak dari perpustakaan sekolah. Di SD saya rata-rata buku-buku yang bertuliskan "milik negara, tidak diperdagangkan" di mana buku-buku itu rasanya terlalu membosankan dan banyak nasehat. Bayangkan, dia mengajarkan cara menanam singkong, membikin kolam ikan, menjaga hutan, melindungi satwa dalam buku panduan yang diisi cerita kepada anak desa semacam saya. Ah...!!

Taman bacaan bermain-main di kepala saya. Saya belum pernah ke sana, sekedar meliatnya pun belum. Saya hanya ingat stempel-stempel yang dipasang di hampir tiap bab buku yang kubaca, "TB Agung", "TB Dewasa", "TB Indah", misalnya. Kesempatan itu datang begitu saya dapat kesempatan sekolah di kota. Nyaris setiap hari saya mengunjungi taman bacaan yang terletak di kompleks Padang Theater yang terkenal banyak salon itu. Nyaris setahun saya hanya bolak balik dari kos ke taman bacaan, tempat imajiner di kala saya kanak dulu.

Di sini minat bacaku tumbuh semakin pesat. Aku membacai apa saja, membeli koran dan majalah apa saja. Saya mulai pula mendatangi toko buku dan numpang baca pula di sana. Di kos kamarku dipenuhi buku dan majalah hingga seorang kawan memberikan beberapa kotak kayu untuk dijadikan tempat buku-bukuku bersarang. "Jangan terlalu sering ke taman bacaan. Tidak bagus!" Kata saudara sulung saya yang baru pulang dari Yogya. Saya kaget juga tetapi saya mulai tersadarkan, bacaan itu ternyata tak melulu komik, cerita petualangan, buku pelajaran dan novel misteri. Saya hanya bisa setahun di kota, tidak naik kelas, lantaran jarang datang ke sekolah.

Di kampung saya kembali tak bisa berbuat banyak. Beberapa buku yang kupunya dibaca berulang-ulang sampai saya bisa menghapal detail peristiwa apa yang terjadi di halaman berapa dan seterusnya. Buku-buku itu kebanyakan tulisan tangan kakak saya yang dikemas dengan jilid yang rapi.
Dan tiga tahun kemudian saya tiba di Yogya. Apa yang selama ini saya baca dan saya koleksi, di sini tak satu pun saya temukan. Buku-buku mereka tebal, berat dan serius. Dan untuk beberapa bulan pertama saya tetaplah seorang yang rakus mengacak-acak buku dan tak berselera membacanya. Setiap tempat yang datangi selalu memiliki banyak buku yang berbeda antara satu dengan lainnya. Kadang saya berpikir, seandainya dulu tidak terbiasa dengan buku mungkin tak ada beban apa-apa ketika melihat buku-buku sebanyak itu. Sebab, sampai saat ini saya tetaplah pembaca yang payah.

Jika dulu di desa saya penakluk buku, di kota saya takluk oleh buku. (Bersambung Tentu Saja)