22 Des 2006

Cerpen Perempuan senja


Perempuan itu selalu muncul saat di mana siang merasa kalah. Tepat ketika matahari mulai tenggelam dan segalanya berwarna hitam. Dia hadir begitu saja dari ujung cakrawala. Sesekali dia muncul di antara barisan burung camar dan gumpalan awan. Tak jarang dia hadir ketika sampan-sampan nelayan bersandar di bawah pohon ketapang. Barangkali juga dia tercipta dari butiran pasir dan buih-buih.

Perempuan yang merindukan Hujan di Malam yang Lain


SORE jatuh di ujung gedung, digantikan senja yang temaram. Segera, malam menaburkan kegelapan yang paling kelam. Langit menyajikan sekeping bulan yang patah--serupa goresan luka kecil pada wajah. Bintang bertebar di pipi malam, mewartakan batas langit dari ketinggian.

cerpen kampung bunian

KABIN tahu betul hukum rimba banyak pantangnya. Sebagai orang yang mengenal seluk beluk hutan dan terbiasa hidup merimba, toh dia bisa juga tak tahu jalan pulang.
Dalam hutan begini, apa pun bisa terjadi, kalau tak inyiak balang, mungkin saja ular besar yang bergelantungan. Maut mengintai kapan saja.

Rama-rama yang Hinggap di Jendela

Bermula dari seekor rama-rama yang hinggap di jendela rumah. Sejak sore gerimis itu Ibu tampak banyak melamun dan mengunci diri di dalam kamar. Bukan itu saja. Sejak sore celaka itu juga, Ibu jarang sekali bicara. Kalau pun beliau duduk di meja makan, tak lebih dari sekedar menemani kami saja. Kalaupun bicara melulu soal ayah yang akan membuat matanya basah.

10 Des 2006

lebaran untuk seorang perempuan

Lebaran Untuk Seorang Perempuan

lebaran, suatu waktu saat di mana sajadahku
basah oleh sesal dan duka lara
- sungguhkah aku kembali suci sebagaimana matamu
yang bening dan kekanak-kanakkan?
setiap putaran waktu, akan mengembalikan sepenggal kisah
yang sama dan berulang;
dan lebaran.