28 Agu 2006

Orang-orang, perempuan, kau dan aku........

Kabar Akhir tahun
~ Maria

izinkan aku berkabar sebab
desember selalu hujan…

hujan basahkan
kenangan patah
tak habis-habis aku mengutuk
sore yang gamang

15 Agu 2006

karena rumah adalah kepulangan, maka singgahilah aku, muara bagi segala keberangkatanmu

3 sajak tentang hidup, cinta, maut dan luka...

Tentang Maut

batu-batu berguguran dari tubuhmu
serupa gerimis yang lepas dari tampuknya
dan cinta hanyalah bahagia yang pura-pura

sungguh sederhana,
begitu saja kau pahami hidup
sebatas dada, menyusun onggokan
peristiwa di nian batang tubuhmu

sajak: Sepasang Mata

sepasang mata

kota telah tumbuh di matamu,
kata mereka
tapi aku melihatnya
seperti kunang-kunang di kuburan
mereka yang melihat kota di matamu
berebut ingin singgah
lalu tersesat di dalamnya
dan aku cukup menyaksikan
betapa kesunyian tersimpan
rapat di celah cahaya itu.

rumahlebah, 2006

Semua Orang, Sempatkan waktumu mendengarku

Ah, aku bingung hendak memulai dari mana dan dengan cara apa saya mengungkapkannya. Singkatnya begini, saya – tepatnya bersama beberapa rekan– berencana membikin sebuah ruang baca yang nyaman. Berawal dari sebuah perkumpulan kecil-kecilan yang kami namakan 'wisma poetika' berproses bareng. Menulis, tentu saja. Sampai lama kemudian, saya merasa ruang (selama ini kos-kosan) yang ada sudah tidak kondusif. Terbitlah sebuah keinginan mencari sebuah rumah yang tenang untuk semakin 'menjadi'. 'rumah poetika' kami menyebutnya seperti itu, karena kata 'wisma' agak terasa elit di telinga, sedang kami hanya mahasiswa sederhana yangh tidak tahu apa-apa.

Dan begitulah, bebebrapa kawan, sampai saat ini masih tangah berusaha mencari kontrakan yang dekat dari kampus dan enak di kantong. Seperi iklan, 'nyaman di sana nyaman di sini'. Dan kita masih saja garuk-garuk kepala ketika obrolan sampai pada persoalan dana. Uang kontrak, tentu saja. Mengingat, sekali lagi, kami hanyalah mahasiswa sederhana, yang tak tahu apa-apa. Kami hanya punya rencana dan cita-cita.

Begitulah. Ruangbaca yang nyaman sekaligus 'ruang publik' yang enak. Sebuah rumah nyaman untuk dikunjungi dan didatangi. Kami berharap, 'rumah poetika' kemudian menjadi 'rumah' atau wisma di mata kami menjadi kunjungan anda semua dari mana saja ketika mampir ke Jogja. Kami akan mencoba menggunakanb moment tersebut sebagai silaturahmi dan ajang 'merampok' ilmu dan pengalaman.

Demikianlah, sampai akhirnya saya pun gagap untuk menuliskannya. Saat ini, saya dengan hati berdebar menunggu komentar, kritik, caci maki, tudingan dan dari anda, tentang ruang baca dan ruang nyaman dan inspiratif, menurut kami ini.

Satu lagi, untuk memenuhi kebutuhan itu semua, dari buku-buku yang sudah ada, sepertinya kami merasa belum penuh (bukankah takdir manusia yang selalu tidak puas?) dan puas. Sudilah anda yang punya byku layak baca untuk menyumbangkan kepada kami. Dengan motto, “Menyumbang Satu Buku untuk Sejuta Ilmu.”

kami berikan alamat untuk lebih serius lagi;
Indrian Koto
d/a Wisma Poetika
Jalan Wahid Hasyim gang kemiri 166
Nologaten Caturtunggal
Depok Sleman Yogyakarta

dari hari ini kami mulai menunggu. Seperti anda tahu, menunggu adalah sesuatu yang menjenuhkan. Kami tunggu apa saja.
Saya harap obrolan ini tak sampai di sini saja.

Salam kreatif,

Indrian koto

dermaga, tempat segala kapal diberangkatkan

dermaga, tempat segala kapal diberangkatkan

7 Agu 2006

ombak

Kepada Bayang

"Hai, apa kabar?
Ke mana menghilang?
Tidur di mana semalaman?"

"Kau tampak pucat dan kelihatan
semakin kelam."
Bayangku hanya diam menggaruk malam