19 Okt 2013

Lupa

 

Tulisan ini merupakan tema yang diberikan teman-teman yang keren-keren. Mereka sedang menulis perkara Lupa. Saya cukup verbal menerjemahkannya, makanya saya beri judul tulisan ini, LUPA. Sebelum saya lupa lagi dengan tema dan deadline dan saya dihukum mereka, sebaiknya segera saya tulis dan semoga tidak lupa mempostingnya.

Sumpah mati saya adalah orang yang pelupa. Tidak, jangan bilang saya lupa dengan pacar sendiri, atau saking pelupanya saya mengaku-aku setiap perempuan sebagai pacar. Tidak sampai segitunya saya. Saya pelupa, nah saya juga agak lupa seperti apa pelupanya saya dan bagaimana bentuk kejadiannya. Maklum, saya pelupa.


Apakah pelupa punya hubungan dengan penyakit di hari tua kelak? Semoga tidak. Pelupa ini semoga hanya jadi kebiasaan saya yang kelak di hari tua bisa saya lupakan.

Lupa itu seringkali menjengkelkan dan terasa sangat hiperbolis. Saya yang misalnya lagi pegang HP lalu melakukan sesuatu, maka tak lama kemudian saya akan menjerit sendiri, “HP saya tadi mana?” Saya paling sebal kalau sudah lupa menaruh kunci motor. Saya juga kadang lupa di mana saya pernah menyimpan uang. Saya lupa mencatat pesanan buku orang. Saya lupa ada buku yang harus dibeli hari ini, saya lupa si A pernah utang berapa dengan saya, dan berapa saya punya utang ke si B. Dan yang paling menjengkelkan di antara semua itu adalah saya selalu bolak-balik dari kamar ke pintu depan karena saya lupa apakah pintu rumah sudah di kunci atau belum. Sekali lagi saya berharap ini bukanlah gejala penyakit di hari tua.

Lupa itu mengesalkan. Saya lupa film dan apa judulnya yang sudah saya tonton, saya lupa buku apa yang sudah saya baca, saya lupa sudah makan apa belum, saya lupa sudah merokok berapa batang dalam sehari. Meski tidak selalu, tapi tetap saja itu mengesalkan. Sebelum menjadi lupa beneran saya [ernah mencatat judul film yang sudah ditonton, judul buku yang sudah dibaca (untuk buku kasusnya cuma satu-dua, misal buku Norwegian Wood-nya Murakami, Potrait of The Artist as a Young Men-nya Joyce) Lupa yang paling sering saya bikin-bikin juga ada, misal: 1. Pura-pura lupa kalau sebenarnya saya belum sholat, dan pura-pura tertidur di jum’at siang, 2. Lupa kalau hari ini ada janji.
Penyakit lupa itu memang sialan. Bayangkan ketika kamu sedang menulis SMS dan tiba-tiba lupa kepada siapa SMS itu akan dikirim, atau yang tak kalah absurdnya adalah tahu orang yang dimaksud tapi lupa namanya di phone book. Saya juga suka lupa aklau saya agak bermasalah dengan warna, sehingga menaruh barang macam HP, kunci, dan benda kecil lainnya itu sembarangan. Nah barang itu ternyata tidak kemana-mana, ada di situ-situ saja, tapi kondisi di sekitarnya adalah warna yang agak mirip dengan barang saya, seketika barang itu terlihat tak ada. Ajaib. Dan saya suka lupa dan berkali-kali terjebak pada kondisi ini.

Saya paling susah menghapal nama, tempat, dan semua-mua hal. Tidak selalu, tetapi cukup sering. Saya lupa bertemu si C di mana, saya suka lupa dengan si D yang ngobrol dengan saya itu siapa dan mati-matian mengingat si E ini mananya siapa sih. Mengecewakan, itulah saya. Tapi tentu, tidak selalu. 

Yang cukup berbahaya adalah salah membuang barang. Saya suka menjatuhkan barang ke tempat sampah yang seharusnya bukan   yang itu yang saya buang. Saya bermasalah kalau memagang barang dengan dua tangan dan mesti membuang. saya lupa yang saya masukan ke asbak itu adalah rokok dan abunya saya taruh di gelas kopi. Saya suka lupa gelas kopi yang mana yang baru dan mana gelas lama kalau gelasnya sudah sama-sama kosong. Ini jelis pelupa yang paling biadap. Membuang yang bukan seharusnya. Tampaknya lupa dan pikun memang sedarah.

Sampai di sini, saya lupa mau melanjut tulisan saya. Saya lupa, sumpah. Padahal tadi ada yang keren-keren di kepala saya, tapi karena lupa mereka sudah tak ada. Oh ya, Selain pelupa saya ini sangat pemalu dan kaku. Ah, saya nyaris lupa, tentang ini, bukan di tulisan ini tempatnya. Dan cukuplah membongkar aib sendiri macam begini, gak perlu saya tulis juga kalau saya tidak bisa menyeberang jalan, takut darah dan sebagainya itu. Buat apa coba. Lagian tulisan ini isinya tentang lupa saja kok.

Sial, saya lupa lagi kalau tadi  saya sudah mau menutup tulisan ini. Kali ini saya tidak mau lupa lagi. Cukup sekian, terima kasih. Ah, saya tidak terlalu pelupa, ternyata. Tapi saya yakin, kalau ini saya mention ke teman-teman2 kamisan, saya pasti akan lupa nama-nama akun mereka meski saya tahu orangnya. Lupa dan gugup mungkin bersaudara kandung.

Sabtu, 19/10/2013, untuk #kamisan

4 komentar:

Aria Anggana mengatakan...

Aduuuuhhhh, Min kalau aku ngetawain mimin yang kayak gitu nanti bakal kena karma nggak sieh? :|

April's Corner mengatakan...

bwahahahaha, =)) mimin...mimin...

entahlah. soal penyakit lupa seperti kasus mimin barangkali bersahabat juga denganku. Eit... jangan senang dulu, aku sudah cukup (agak) sembuh dari penyakit ini. Tau kenapa? Ya, pertama karena punya ayah yang suka pelupa (buah jatuh gak jauh dari pohonnya), kedua, punya pacar yang setipe pelupanya dengan ayahku, jadilah akhirnya pelupa itu bisa dikurangi kadarnya :p

Tapi menyoal lupa, lupa itu klise, lupa itu hiperbolik, lupa itu alasan, alibi? atau kadang lupa itu hanya sebuah pembenaran.

ya ampun , ngomong apasih aku di lapak mimin, udah ah #kabur

Aria Anggana mengatakan...

Kalian mah alibi mulu :P *kabuuurr*

Alris mengatakan...

Saya juga pernah kejadian, hp ditarok dibawah bantal. Setelahnya "basipetiang" awak mencarinya. Setelah ada panggilan masuk baru tuh ketemu hp.
"ondeh palupo bana sanak ma, hehe.."