31 Okt 2013

#Kamisan: Ia Tak Tahu, Sebentar lagi ia akan mati


            Ia tak tahu sebentar lagi dia akan mati. Begitu pun teman-teman dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Tak ada yang menduga secepat itu ia akan pergi. Adakah maut begitu ajaib sehingga tak meninggalkan sebiji tanda? Malam sebelumnya mereka masih sempat bercakap-cakap banyak hal. Bahkan ingatannya akan hutang masih begitu kental.
            Tak ada yang menyadari kalau maut tengah mengintai dia. Sekiranya ada yang bisa membaca isyarat dan tanda barangkali satu-dua dari temannya akan mengadakan pesta perpisahan untuk kelak sebagai kenang-kenangan bagi mereka. Setidaknya sisa waktunya tentu akan dihabiskan untuk sekedar bercakap-cakap dengan Tuhan yang sudah lama ia lupakan. Tapi yakinlah, di sisi hatinya yang paling dalam masih menyimpan semacam kepercayaan itu.
           
Waktu berjalan seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sesuatu yang besar akan terjadi. Dia tetap tidur dini hari lantaran insomnia akut menyerangnya dan terbangun jauh setelah matahari berada di atas kepala. Setelahnya ia akan memulai kegiatan serupa biasa. Membikin secangkir kopi, membakar rokok dan berselonjor di dalam kamar sambil membaca beberapa lembar buku baru kemudian ke kamar mandi. Setelah ritual jorok itu ia akan melangkah keluar rumah, mengisi perut. Sesekali ia tak langsung pulang tapi sesekali ia akan pergi ke sebuah tempat yang mungkin sudah di rencanakan. Lain waktu ia akan pergi ke sebuah tempat yang tidak ada dalam bayangannya. Bercakap-cakap dengan seseorang yang dikenal atau diduk di sebuah tempat yang tiba-tiba baginya begitu nyaman. Dan sisa malamnya, kalau tak di habiskan di luar, dia gunakan bercakap-cakap dengan kawan-kawannya dan teman-teman yang datang ke kamar sempitnya.
            Tentu ada pengecualian dari kegiatannya. Tak ada yang sungguh-sungguh bisa mengulang peristiwa persis sama, bukan?
***
            Ia tak sadar kematian tengah mengintainya. Tapi siapa yang bisa tahu kapan ia datang. Tidak juga dia, juga kawan-kawannya.
            Seperti biasa dia melewati waktunya dengan kegiatan yang hampir sama. Beberapa hari ini ia memang sedikit lelah. Setelah perjalanan ke luar kota dan datang ke beberapa acara lalu mengurung diri dengan buku-buku tentu tak hanya menguras tenaga. Tapi juga otaknya. Maka, beberapa hari ini ia menghabiskan lebih banyak waktunya di dalam kamar.
            Dan malam itu, malam di mana dia bercakap banyak hal dengan kawan-kawan yang berkunjung dengan keceriaan yang tak berlebihan. Ia menceritakan perjalanannya ke luar kota, malam-malamnya di alun-alun kota, tentang peluncuran buku yang dihadirinya. Dia begitu fasih mengingat banyak hal, dari perempuan yang sempat ia kenali, rasa bakwan, sampai aroma kopi yang sempat diminum. Setelah ceritanya selesai, mereka mulai mendebatkan sesuatu yang tak masuk akal. Mulai dari perempuan sampai Tuhan. Rokok mulai tinggal puntung, perdebatan berganti pada siapa yang akan mau mengeluarkan uang serta siapa yang akan pergi belanja ke warung.
            Percakapan itu kembali mengalir sampai jauh tengah malam. Tentang puisi yang baru selesai mereka tulis, utang yang bertumpuk, nama, alamat e-mail dan nomor kontak redaktur sastra koran minggu. Satu-dua orang mulai terlihat mengantuk, yang lain merutuki koran minggu yang tak kunjung memuat karyanya, yang lain terlihat acuh. Seorang kawan mengeluhkan penulis yang akhir-akhir ini terlihat membosankan karena hampir melulu setiap minggu namanya terbaca. Yang lain menghirup kopi, yang lain mengacak-acak tumpukan koran tanpa berniat membaca.
            Waktu bergerak cepat ketika kau sedang menikmati sesuatu yang terasa indah. Dia sadar, begitu saja teori relativitasnya Einstein dia teriakkan. Teman sebelah kamarnya memukul dinding, sebagai peringatan bahwa ini sudah malam. Dia membalasnya dengan tertawa keras-keras. Kemudian mereka bicara tentang buku, tentang penerbit, tentang pendistribusian, penulis yang sering menulis buku, buku yang baru mereka baca. Mereka kembali mempercakapkan koran minggu. Tentang cerpen, tentang sajak, tentang penulisnya, tentang mereka yang di black list, tentang opini mereka yang diganti nama dan dikirim ke koran lain, tentang resensi buku yang selalu ditolak, tentang…
            Tak ada yang berbicara tentang maut apalagi kematiannya.
            Setelahnya mereka pulang. Tinggallah ia sendirian memberesi bungkus kacang, kertas yang bertebaran, abu dan puntung rokok. Asbak sudah dari tadi penuh. Mereka meninggalkan dia dengan kegairahan yang hampir sama. "Sukses, bung!" teriaknya kepada mereka. "Sukses!" Jawab mereka kepadanya. Tak ada yang menangkap keanehan pada raut muka dan gaya bicaranya. Semua tampak biasa saja.
            Seandainya malam itu dia tahu akan segera mati tentu akan lain ceritanya.
            Tak ada yang benar-benar tahu kapan ia akan mati. Tak ada kepastuan tentang itu.  
            Dia mengakhiri malam itu dengan mencoba memicingkan mata. Sudah lama rasanya ia tak tidur di waktu yang tepat. Sebelumnya ia sempat ke kamar mandi, memastikan pintu terkunci dengan rapi. Setelahnya ia mematikan lampu. Kegelapan menyerangnya begitu saja.
            Dia akan mati, sebentar lagi.
***
            Cerita ini tidak akan pernah selesai, malam telah berlalu dan saya dihajar rasa kantuk. Tidak selalu yang direncanakan berjalan dengan baik. Tentang bagaimana dia mati, kenapa harus mati, tak lagi menarik untuk dikaji. Saya ingin tidur.         

1 komentar:

Aria Anggana mengatakan...

Lanjutin dong, Miiin :3