22 Apr 2013

Kehilangan tak Pernah Mengenal Musim



"Seperti di negara utara dan selatan itu, kita juga empat musim loh bung," ucap lelaki kurus murah senyum itu di sebuah dinihari yang dingin di komplek Pondok pesantren di daerah Nologaten. "Selain musim kemarau dan musim hujan kita juga punya musim kawin dan.." yang terakhir ini saya lupa musim apa yang dibilang oleh kawan baruku itu. Kejadiannya sudah cukup lama. 2007 jika bukan 2006 atau bisa jadi 2005. Ingatan selalu kacau jika bicara waktu yang berhubungan dengan kenangan.
Fahmi Amrulloh yang tak kalah kurus itu mengenalkannya pada saya yang sama kurusnya. Saya dijemput tengah malam. "Ada orang yang ingin kenalan." begitu ceracaunya waktu itu. Saya diajak bertemu dengan lelaki ini dan seorang temannya yang lain. Mereka 'komplotan' peresensi buku yang mumpuni waktu itu. Profesi gagah yang dilakoni para mahasiswa yang bertahan hidup mandiri di Yogya. Resensi buku, opini dan sastra. Alangkah hebatnya jika bisa melakoni ketiganya. "Tasrik," ia menyebutkan lafaz namanya demikian.

Kami seperti berkenalan lama dan membincangkan banyak hal, termasuk soal musim.
 ***
 
Tasyriq Hifzhillah namanya, ketika malam ini saya menulis catatan singkat ini dia dalam perjalanan menuju dua kampung halamannya, surga yang dijanjikan tuhan, dan Probolinggo sebagai tanah kelahiran. 
 ***

Kami bukanlah teman karib dan jarang bertemu. Dia sangat sibuk dan belakangan sangat bersemangat dengan persoalan korupsi di tanah air. Suatu malam setelah ia keluar dari tempatnya bekerja dia berkunjung ke kosku. Ia bercerita soal deklarasi http://www.infokorupsi.com yang tengah digagasnya. Saya, Kiting dan Fahmi boleh membantu apa saja. Secara pribadi saya suka dengan semangatnya, suka dengan ekspresi dan gaya bicaranya yang sangat akrab dan khas, dan serta senang dengan misuan a la Jawa Timurannya.

berbulan-bulan lalu saya mendengar kabar darui fahmi bahwa teman kami  Tasrik, Tasyriq Hifzhillah sakit. Dia mesti cuci darah. Saya merinding, pacar saya langsung ngomel soal kesehatan dan gaya hidup saya yang berantakan. Kami berdoa untuk kesembuhan teman kami itu. "Baru prediksi sih.." kata Fahmi soal kemungkinan penyakit berbahaya semacam apa yang menjangkiti kawan kami yang bersemangat itu. Diam-diam kami berharap itu selesai di sekedar prediksi dan Tasyriq akan kembali pulih dan kembali dengan aktivitasnya, melupakan kesedihan kematian anaknya dan bersiap dengan kehamilan istrinya.

Saat itu saya berencana untuk datang ke rumah sakit untuk menengoknya.
***
Saya memang bukan kawan yang baik dalam artian yang tanpa metaforis. Bahkan sampai kabar kematiannya sampai di telinga saya, kami belum pernah ketemu lagi. Saya kira, meskipun saya, Fahmi, Simbah, Kiting atau Afthonul Afif sedang bicara, nama Tasyriq Hifzhillah selalu terselip. Tasyriq adalah orang yang diam-diam sebuah legenda dan semua visi-visi terbaiknya.

Minggu, 21 April 2013, menjelang jam sebelas siang kematian itu datang. Saya mendengarnya 3 jam kemudian dari Simbah. Saya tak percaya dan merasa kehilangan. Pertemuan kami yang beberapa kali melintas. Dan saya merasa demikian akrab dengannya, merasa sebagai kawan baik yang memberikan peringatan kepadaku. Setiap kehilangan, demikian banyak penyesalan dan pengandaian yang muncul.

Tapi ia telah pergi menghadap sang ilahi. Kami yang melayat antara ketergesaan duniawi menemukan ambulance dengan peti mati kawan kami itu. Bahkan sampai ia pergi dan kembali ke kampung halamannya ke Probolinggo saya tak bisa melihat dia lagi. 

Saya kembali terkenang soal musim yang dibicarakan di pertemuan pertama kami bertahun lalu itu. ulisan ini saya bikin untuk mengatakan satu hal pada dia: Selain kemarau, hujan dan kawin, kita juga punya musim yang lain kawan. Musim kehilangan. meski kehilangan tak mengenal musim. Tapi soal kehilangan ini pula yang Tasyriq perjuangkan: kebiasaan melupakan. Soal utama negeri ini: Korupsi. Lihatlah twit dan status fb nya, bahkan di masa-masa menjelang hari kepergian lelaki kelahiran 09 Oktober 1981 itu ia masih sangat lantang mengkritisi masalah kehilangan yang satu ini. 

Saya merasa musim kehilangan itu kini, kehilangan kawan yang saya sesali kenapa kami tak banyak bertemu dulu. Kawan Tasyriq Hifzhillah  begitu getol melakukan perlawanan terhadap kejatahan fundamental bangsa ini. Kurasa, malam ini saya merasa, kepergian kawan Tasyriq Hifzhillah adalah sebuah kehilangan tapi bukan peristiwa melupakan. ia anak muda dengan semangat yang keras. ia pergi, tetapi bukan untuk dilupakan.

Ketika paragraf terakhir ini saya tulis, ia masih dalam perjalanan menuju kampung halaman, dan di belakang ada Fahmi yang menyetir membawa istri dan alak almarhum,  yang mengenalkan aku dan Tasyriq dulu. Kehilangan tak pernah mengenal musim, memang...


22 April 2013

7 komentar:

M. Faizi mengatakan...

Dia adalah teman bersama. Senyum yang selalu mengembang seolah menganggap yang lain tidak penting, kecuali kebahagiaan dalam persahabatan

Kuli Pelabuhan mengatakan...

Iya Lorah. Dia teman yang hebat. Orang2 hebat tak selalu diberikan lama-lama untuk kita :-(

An Ismanto mengatakan...

Tasriq adalah jenis teman yang ngangeni. Kadang2 clekopannya bikin anyel, tapi sebentar kemudian kita bisa ketawa. Aku menyesal saat dia sakit aku tak juga sempat menengoknya. Saat melihat ambulans itu, aku sungguh sedih. Bahkan di saat terakhirnya di bumi Allah ini pun aku tak sempat menyalaminya atau menyalatkannya. Ketika ambulans berangkat, kutepuk mobil itu dan kuucapkan "ngati2, lek, nyangoni slamet. mbuh kapan taksusul." merasa belum cukup, kutepuk lagi mobil itu, tapi tak kena. dalam hati kukatakan, "wis saiki urusanmu karo gusti Allah."

Jusuf mengatakan...

Tasyrik, entah kapan terakhir aku bertemu dengannya. sepertinya sudah sangat lama. Semoga bahagia bersama-Nya.

indrian koto mengatakan...

terima kasih kawan2 sudah membaca. Simbah juga sudah mulai menulis obituari tuh, sangat pilu, sangat menyentuh

artika maya mengatakan...

utk yg ditinggal: kehilangan sesuatu yang berharga tidak pernah mudah ya. mungkin cuma waktu yg bisa mengikis kesedihan itu pelan2. yg tabah koto.

utk yg pergi: semoga jalan yg dituju saat ini jauh lebih menyenangkan.

koto mengatakan...

Iya mbak. Hidup itu memang meninggalkan dan ditinggalkan. Hanya saja soalnya adalah siapa yang lebih dulu pergi dan siapa yang menyusul, ya?