11 Mar 2013

Epitaf

Boedi ISmanto SA, saya, Rachmad Budi Muliawan, dan Dea Anugrah
 -mengenang Boedi Ismanto

Ketika maut menjeput, ucapan belasungkawa menjadi abadi di dunia maya. 

Suatu malam saya menggigil mengetahui seorang kawan di FB, yang secara pribadi kami tak saling kenal, meninggal dunia. Ia meninggal sudah berbulan-bulan ketika saya iseng melihat-lihat beberapa nama yang tak kukenal. Saya membaca ucapan dukacita, kesedihan orang-orang yang menyempatkan waktu menulis di dinding facebooknya. Bertumpuk di bawah iklan, ptomo HP, produk kecantikan, dan catatan-catatan. Bagaimana seorang yang meninggal masih dikirim hal-hal semacam ini? Mereka yang melakukan hal ini mungkin sepertiku, acak dan tak mengenal seluruh orang di jaringan pertemanannya di dunia maya.


Saya tertegun membaca tulisan-tulisan di dinding almarhum, kesedihan sang pacar, saat-saat almarhum dirawat. Saya membaca status terakhirnya yang mendebarkan, “Mulai sekarang waktu bergerak mundur...” Tak lebih 24 jam setelahnya dia kecelakaan, sebelum akhirnya meninggal di rumah sakit.

Membaca status mereka yang meninggal meninggalkan debaran lain dalam diri saya. Saya berdebar, berharap satu-dua kata kunci bisa terhubung, atau saya hubung-hubungkan. Maut, sungguh saya amat risau pada itu.

Saya membaca mundur waktu mereka yang lebih dulu meninggalkan semesta di mana catatannya di dunia maya seperti FB atau blog masih bersisa. Saya seakan membayangkan detik-detik maut itu datang. Apakah ia tersirat dan metaforis, atau jangan-jangan tak ada tanda apa pun sebelumnya. Tuhan, mengapa maut terasa begitu ganjiil?

Seperti biasa, saya menyesali beberapa hal sebelum seseorang itu tak ada lagi di bumi ini. Saya mengenal banyak nama para sastrawan yang lebih dulu pergi. Dia tak mengenal saya, demikian juga saya, kecuali karya-karya mereka. Tapi ketika maut menggunggung mereka pergi, saya merasa betapa akrab dan dekatnya kami. Semua hal jadi penanda. Semua hal seperti mendekatkan saya padanya ia sebelumnya. Di saat-saat seperti  itu, saya merasa mengenal almarhum/almarhumah demikian akrab, demikian karib. Dan saya sedih dan menyalahkan diri sendiri.

Di dunia maya ini, ketika maut menjemput segala sesuatunya hadir dengan sangat cepat. Kita tinggal membaca dinding yang penuh dengan coretan dan ucapan dukacita. Tersimpan di situ, selamanya, jika suatu hal tidak mengacaukan dan meniadakannya. Lalu kemudian dunia di dinding itu bisa jadi bertumpuk ilklan dan tenggelam bersama semesta yang terus bergerak, bertumpuk bersama kesedihan yang lain.

Beberapa alhamrhum yang namanya saya kenal ternyata belum berteman di FB saya add. Entah apa maksud saya. Tapi saya membayangkan suatu kali salah satu dari mereka mengkonfirmasi. Saya tak tahu kalau itu benar-benar terjadi. Bukankah sangat mungkin ketika seseorang bisa masuk ke akunnya dan melakukan hal tersebut?

Saya sedih membaca dinding Facebook ketika seseorang peri selamanya dari dunia ini. Saya mengenang satu dua hal yang bisa membuat saya dekat dengannya. Seperti malam ini, setelah kepergian seorang penyair Boedi Ismanto. Begitu saya mendapat kabar ia meninggal dunia semua hal menjadi terhubung antara kami. Semua menjadi demikian dekat. Saya mengenang semuanya. Saya mengingat semuanya.

Di antara sebagian yang pergi mas Boedi mungkin yang agak intens dengan saya. Tiga hari atau dua hari dia masih mengomentari statusku di FB. Dia sering onlen ketika subuh, entah begadang atau memang sudah bangun. Saya menyesal lagi, kenapa ketika itu kami tak bicara sesuatu yang substansial? Kami lebih banyak membicarakan kucing.

Kami dekat meski tak terlalu akrab. Saya tak mengenal beliau dengan baik. Beliau seringkali mendekati kawan-kawan penulis yang muda usia. Setiap bertemu kami selalu say hallo. Saya tak percaya kalau kemudian ia pergi dan saya mengenang yang seperti ini.

Kami dekat tapi tak terlalu akrab. Kami sering chating dan sekali lagi bicara soal kucing, kami pernah ke Semarang bersama Syam Chandra dan mas Ismet. Belakangan beliau giat ingin membikin kegiatan-kegiatan sastra di Yogyakarta. Setahun lalu, saya orang pertama yang karyanya dibedah di acara yang diketuai sendiri. Acara ini pula yang membuat saya agak sedikit berbeda melihat beliau. Saat ini saya merasa betapa tulusnya ia. Acara rutin itu masih ada kini, tetapi berganti kepngurusan...

Dia telah pergi. Kita tak pernah tahu seperti apa alam di sana. Hanya agama tiap-tiap kita yang membukakan tabir akan hal itu. Saya berduka cita. Tapi kali ini saya tak menulis di dinding beliau, tetapi memilih menulis catatan ini sebagai penambah obituari. Saya mungkin terlalu melankolis dan mendramatisir perasaan. Saat-saat ini saya membaca tulisan di dinding FB beliau.

Saya berpikir, masih pentingkah dunia maya dan kesedihan ini semua? Mungkin jika saya mati, saya ingin semua jaringan dunia maya saya juga ikut lenyap. Apa yang mampu diungkit lagi pada yang mati selain kenangan? Kepada seseorang mungkin akan saya bagi dari sekarang id dan pasword semua akun saya. Tak ada yang tahu, kematian tak pernah mampu ditafsir. Seperti mas Boedi Ismanto SA, ajal datang ketika ia menunggu antrian untuk membaca puisi. Tadi siang, saya berdiri di antara ratusan penziarah yang melepaskannya. Saya memilih tulisan singkat ini sebagai penanda sederhana.

Maut selalu mengejutkan saya. Setelahnya nyaris tak ada apa-apa. Oleh waktu kita sepenuhnya melupakan.

Yogyakarta, 11 Maret 2013

2 komentar:

M. Faizi mengatakan...

Jangan, Koto, tunggu dulu, nulis lagi dulu. ya, memang kita kadang bingung bagaimana harus bersikap. Kadang saya bahkan nggak tega melihat dinding orang di facebook yang sudah tiada tetap di-tag oleh produk-produk BlackBerry oleh akun temannya yang dirasuki spam

Titipkan password Anda di tempat yang agak tersembunyi dan rahasia namun suatu saat akan ditemukan saat Anda telah tiada :-(

indrian koto mengatakan...

biarkan dulu dinding fb sampai 3 hari setelah itu ia mesti ditutup. serupa kenangan buruk, kadang harus ada yang dihilangkan :-(