13 Apr 2012

Hari Minggu


            Saya merasa hari minggu selalu berbeda, lain dari hari-hari biasa. Libur? Pasti. Tapi bukan sekedar itu. ini mungkin sugesti belaka, tetapi itulah yang kupercaya.
            Jika saya tak pernah menjadi anak-anak, mungkin hari minggu tetaplah hari sebagaimana senin, selasa, rabu, kamis. Tetapi masa kanak membuatku merasa hari minggu selalu beda. Saya tak tahu itu apa. Meski hari minggu tetap saja jatuh seetalh hari sabtu dan akan dilanjutkan lagi dengan hari senin, tetapi minggu itu lian. The other. Sesuatu!
            Apa yang membuat hari minggu menjadi istimewa yang hingga kini saya percaya? PASAR. Barangkali pasar telah mengubah hari minggu menjadi hari yang tak bisa sama dengan hari-hari lainnya. Pasarlah pertama-tama yang mengnalkan saya pada hari minggu, jauh sebelum saya masuk pada masa sekolah.

            Hari minggu adalah hari pasar. Hari minggu adalah hari pakan (pekan), hari akad (ahad), hari balai. Hari minggu adalah hari raya ketiga kami selain idul fitri dan idul adha, yang kami rasakan setiap hari minggu.
            Pasar! Tidak, tidak hanya di hari minggu ada pasar. Setiap hari selalu ada hari pasar di tempat kami. Senin ada hari pasar di Batang Kapas, Selasa ada hari pasar untuk masyarakat Balai Selasa, rabu ada pasar di Amping Parak dan Taluk, Kamis ada pasar kamis di Tarusan (kalau tak salah) dan dulu ada Balai Kamis di Taratak, Bahkan jum,at pun ada hari pasar untuk orang Tapan, dan Sabtu, sabtu adalah hari pasar orang Kambang. Belum lagi pasar lain di tujuh hari tersebut akan selalu ada di kecamatan-kecamatan yang lain. Tetapi minggu adalah hari Pasar Orang Surantih, dan saya tinggal di daerah itu. Hari pasar, dan minggu pula. Aha, apa tidak menarik, sekolah libur, kami bisa pergi ke pakan akad. Aha.
            Pasar barangkali adalah kata yang terdengar feminim di kampungku, entah di tempat lain. Hari pasar adalah hari para ibu. Meski di pasar selalu ada pedagang lelaki, tetapi mereka yang ke pasar, yang belanja bawang-cabai, menukar gula-garam adalah milik perempuan. Tetapi tak jarang para lelaki menyempil di situ. Di los pedagang cabe, bawang, kunyit, akan selalu ada yang tersenyum jika melihat ada bapak-bapak yang belanja. Tugas dapur sepenuhnya dikuasai perempuan.
            Saya suka hari pasar karena saya bisa naik oto tambang balai (mobil angkutan ke pasar) yang merupakan jenis L300 yang diberi tenda dan bangku kayu memanjang. Para penumpangnya duduk berhadap-hadapan. Sembilan di kiri, sembilan di kanan. Lain dari itu, ke balai, saya akan memakai celana dan baju yang dibeli menjelang lebaran. Bau kapur barus dan cirit kepundung menyebar di pakaian kami. Kami harus tampak rancak dan gagah. Hari ke balai seminggu sekali. Orang-orang dari hilir sampai mudik pasti keluar membawa hasil bumi dan menukar dengan isi dapur.
            Dan aku menyempil di situ. Membawa sendiri kopi yang ditumbuk amak barang dua-tiga kilo, saya berangkat ke pasar sendirian. Saya yang masih dihitung anak-anak tinggal mengikuti orang dewasa di kampungku untuk ikut ke pasar, demikian juga ketika pulangnya, tergencet di sela karung dan barang-barang.
            Dua kilo kopi mesti ditukar dengan cabe barang setengah-satu kilo, bawang seperempat kilo, kunyit dan sipade agak segenggam, garam dan seplastik kue galang-galang. Sisanya, oleh amak aku dibebaskan untuk membeli majalah bekas. Selebihnya aku bisa memandang takjub penjual obat. Dan cita-citaku saat itu hanya satu: menjadi tukang sulap.
            Di musim-musim paceklik, ketika amak hanya punya segenggam kopi, akulah yang diutus ke pasar. Bukan diutus sebenarnya, sayalah yang ke-bondek-bondek-an ingin ke pasar. Padahal saya sudah menanjak ke kelas lima. Tiga hal yang membuat saya merindukan hari minggu adalah: majalah bekas dan komik, penjual obat dengan tenda dari karung tepung, dan menonton RCTI di sebuah warung yang punya parabola. Power rangers tentu saja, apalagi?

Majalah bekas
            Ibu itu sepertinya masih muda ketika saya kanak-kanak dulu. Dia duduk anggun di lapak satu-satunya yang menjual buku dan majalah. Saya bisa mengingat dengan baik tumpukan lapaknya. Dia berada di los penjual minuman dan di samping los tembakau. Saya tak pernah diajak masuk ke situ. Mahal, kata amak. Tempat gado-gado, es putar, nasi rames dan makanan lain tersedia. di lapak majalah itu berjejer buku doa dan bacaan shalat di bagian paling ujung-atas. Di bawahnya berebutan majalah remaja dan majalah wanita yang aku sungkan untuk merabanya. Di sampingnya berjejer pula buku-buku mujarobat dan kitab-kitab silat, beberapa seri Wiro Sableng dan novel Fredy S. di bagian agak ke bawah ada majalah Bobo, Ananda, Donal Bebek yang sudah tua, berjejer dengan komik petruk-gareng, Serial Tapak Sakti dan Drunken Master milik Tiger dan Toni Wong. Lalu aneka poster artis macam Desi Ratnasari, Paramitha Rusadi, Ayu Azhari dan pemain sepak bola serie A yang saya tak paham.
Nah, nah, di situlah saya betah berlama-lama dan paling pagi untuk memilih satu-dua majalah. Tentu jatahnya lebih sering satu. Majalah Bobo dengan seri Deni Manusia Ikan atau Pak Janggut, atau majalah Ananda dengan Guci Wasiat dan Gudang Tertawanya? Bobo 400, majalah Ananda 350. Komik serial China 1000 dan 500 untuk Donal Bebek. Petruk-Gareng 250. Jatah saya paling besar dari 6000-7000 hasil jual kopi tentu tak lebih dari 20% jika harga cabe sedang tak bermasalah.
            Saya penasaran dengan majalah-majalah yang tak jadi saya beli. Jika ke pasar sama amak, sepanjang jalan saya akan merungut dan amak akan membiarkan. Barulah ketika pulang, jika uang masih sisa, aku kembali diseret ke tempat majalah itu: majalah yang sebelumnya urung dibeli akan saya dapatkan lagi. Penjualnya akan tersenyum karena saya berhasil membujuk amak dan saya dapat dua majalah.
            Lalu ada jilid majalah Bobo yang bercampur dengan majalah anak Nasrani. Tapi saya suka. Ada beberapa komik yang saya suka tapi sekarang sudah lupa. Jilidan itu harganya 2500. tak selalu saya dapat membeli yang itu. saya menandai setiap majalah yang urung saya beli dan minggu depan saya akan mengambil dan sialnya, tiap itu pula akan ada majalah baru yang sepertinya tak kalah seru. Apa boleh buat. Jangan-jangan di masa-masa itu, sayalah satu-satunya pelanggan setia di sana.

Penjual Obat
            Bagaimana saya tidak terpesona melihat penjual obat jika cara bicaranya yang teratur dan demikian jago itu diselingi dengan tiupan-tiupan ganjil dari kepala mikropon yang sudah ditutup kain. Suaranya yang mengucapkan “Fhyuhhh…” di toa kecil yang dipasang aki yang sudah soak itu terdengar khas. Setiap kali bunyi tiupan itu terdengar di sekitar pasar, saya meloncat ke kerumunan para bapak dan anak-anak yang sudah mengelilingi tenda penjual obat yang sudah dipagari kapur dan gambar-gambar tua aneh yang disebar di tengah-tengah arena.
            Penjual obat adalah keajaiban luar biasa di hari minggu. Dia membawa berita-berita aneh dari luar sana, mengalaman si pedagang bertemu dnegan orang asing, tersesat  di tengah hutan, bertarung dengan hewan buas, membuat saya takjub. Belum lagi penampilan mereka yang membuat terkesima, bahasa Indonesianya fasih, atraksi-atraksinya hebat. Jika ia sudah bicara, “yang seguru-seilmu dimohon jangan mengganggu,” tangan amak tak akan kuasa menahan hentakkanku untuk mengikuti asal-muasal suara bisikan mistik itu. “Pasti ada pertunjukan hebat”. Kepala yang dipotong tapi perutnya masih bernafas, anak yang diikat dan dikurung ke dalam tenda. Dan saya tak pernah bisa menyaksikan pertunjukan itu sampai akhir. Tak pernah bisa. Dan saya juga tak banyak tahu apa yang dijual pedagang obat, kurus, berkeringat dan selalu menyetel lagu dangdut dan musik India di sela pertunjukannya. Ular, hoo.. tentu saja pertunjukan lain yang demikian mempesona.
            Setiap minggu selalu ada penjual obat yang lain. Mereka bergantian, dan membuat saya terus penasaran.

Menonton TV
            Dari majalah bobo saya menikmati halaman RCTI Ceria yang menampilan petikan film macam Power Rangers, dan beberapa film lain yang saya tak tahu. Saya menghapal setiap fragmen ceritanya. Dan suatu ketika, di pasar Surantih ada sebuah warung yang memiliki parabola dan setiap pagi memutar RCTI. Keajaiban baru telah tiba. Dan saya menjadi sumber pertanyaan orang asing di samping saya yang terperangah ketika saya dengan tak sabar menceritakan kelanjutan dari kisah yang sudah saya baca di majalah.

            Jadi rasanya saya punya alasan untuk demikian mengistimewakan hari minggu, bukan?
            Jika saya tak ikut ke pasar tentu saya akan memesan majalah dan kue galang-galang jika bukan martabak horas. Setiap orang punya makanan kesukaan masing-masing. Abak, tanpa meminta sekali pun akan mendapat seperempat (jika beruntung dapat setengah) martabak Kambang, yang besar dan paling terkenal itu. Uda, jika sedang di rumah dengan sendirinya akan dibelikan Kue Putu. Sesekali dia berpesan belikan sabun Lux, yang membuat amak pusing sepanjang balai ketika dia meminta, “Lux yang untuk kulit kering.” Orang-orang hanya tahu warna, tapi bukan fungsinya.
            Di hari selain minggu saya hanya merindukan tanggal merah dan hujan pagi. Hari di mana saya bisa tidak berangkat ke sekolah. Doa yang hanya sesekali dikabulkan Tuhan. Tetapi hari minggu, saya bisa mendapatkan dan melakukan hal-hal macam begini:
  • Beli makanan istimewa, Chiki, Chitos dan Potato yang hanya dijual di Pasar Surantih oleh pedagang dengan kacamata tebal.
  • Menjual kopi dan ketika lebih dari dua kilo, semua uang adalah hak saya untuk dibelikan majalah.
  • Hari minggu saya bisa ke balai dan berdiri di belakang oto tambang balai.
  • Hari minggu saya bisa pulang ke kampung naik sepeda, dan menonton televisi sepanjang malam minggu dan hari minggu siang. Ini istimewa. Ketika TV masih hitam putih dan listrik belum ada, hari sabtu adalah tontonan hebat. Akan ada Film Akhir Pekan setelah berita terakhir di TVRI. Saya akan duduk-cerewet-tak mampu menjaga mulut sejak acara Dari Desa Ke Desa, Dian Rana hingga Berita Malam TVRI diputar. Saya akan mendekat ke televisi di rumah Mak Gaek Palak Kiambia (Tak usah saya terjemahkanlah ini) saya akan mendengarkan pembawa acara menyampaikan rangkaian acara malam ini hingga nanti malam. Saya bisa menghapal narasi pembawa acara yang tidak singkron dengan teks yang berada di sisi sebelah kirinya. Kami akan berteriak ketika dia menyebutkan acara besok hari kami bisa menonton Album Minggu Ini besok minggu jam 9 pagi. Lalu melongo lagi. Berteriak jika setelah Dunia Dalam Berita akan langsung ada acara Aneka Ria Safari, Kamera Ria atau acara musik sejenis. Tertunduk lesu jika ada laporan khusus atau siaran langsung bulu tangkis. Dan yang paling ditunggu-tunggu tentu saja kalimat, “Usai Berita Terakhir, acara akan kami tutup dengan Film Akhir Pekan yang kali ini berjudul bla-bla-bla.. dengan para pemain bla-bla-bla..”
  • Hari minggu kemudian kami bisa menonton parabola. Sungguh alhamdulillah kemudian listrik masuk ke kampung kami menyala dari jam 5 sore sampai jam 7 pagi. Di hari minggu, tahun-tahun kemudian mereka juga menyala di siang hari. Listrik menyala di hari-hari biasa adalah hari yang istimewa.
  • Hari minggu adalah hari libur sekolah
  • Hari minggu saya bisa pulang kampung bertemu dengan sepupu dari abak: Icam, Uda Uman, Uda Gadang, Depot, Kudil, Eka Pandak, Kudil, Uni Musi, Uni gadang, mak Gaek Palak Kiambia, Uda Kamba, Ayek, dan kue talam. Horeee.. Berkumpul dengan keluarga dari amak: Abang Mugil, Mupil, Bencuik, Uwan Odol, Uwan Gomok, dan yang lainnya.
  • Hari minggu adalah hari makan sate Simai, Makan Picel Ujang Es.
  • Hari minggu adalah hari tanpa sekolah.
  • har
Berikut-berikutnya hari minggu semakin istimewa:
  • Hari minggu adalah hari pesta pantai.
  • Hari minggu adalah hari tanpa uang saku
  • Malam minggu adalah hari begadang
  • Hari minggu adalah hari petualangan: menyetrum ikan, naik sepeda keliling kampung, mandi di pantai sampai puas dan sebagainya.
  • Hari minggu tentu saja hari ke pasar.
Demikianlah kira-kira kenapa hari minggu menjadi demikian istimewa bagi saya. Sampai hari ini. meskipun tak lagi sama, hari minggu tetap saja menakjubkan bagi saya dan getarannya masih ada. Hari minggu sekarang adalah saatnya berbaring di tempat tidur dengan membaca-baca koran Minggu tempat seluruh berita sepekan terkumpul jadi satu.
Tak ada yang bisa menandingi hari minggu di masa kanak saya. Pengalaman yang tak bisa dengan detail saya ceritakan.
Yogyakarta, 12 April 2012

9 komentar:

M. Faizi mengatakan...

saya membayangkan berdiri di belakang oto itu, pakai sarung yang berkibaran.
Tapi, di tempat saya, hari minggu adalah hari Jumat.

Rain mengatakan...

itu beneran kisah masa kecil bg koto?
banyak ya yg di ingat..

jamanku, harga bobo rasanya sudah Rp. 1.000. Dan masa kecilku banyak dihabiskan di hutan (maklum, belakang rumah ada hutan). jadi hidupnya penuh dengan petualangan di atas kuburan-kuburan jaman yang tidak ada lagi nisannya.

tapi sisanya, aku lupa.
hahahaha.. salut bg koto :)

Tuan Rumah mengatakan...

M Faizi: hari Liburnya lai jumat Ki. Hehehehhee... Berdiri di belakang, di masa remaja itu keren sekali. semasa SMP itu terlihat sangat gagah. Lebih gaul lagi kalau sudah duduk di atas tenda. rasanya.. hem.. hanya Tuhan yang tahu

@Rain:
Itu masih kalah banyak Rain. Masih buanyak banget, cerita2 yang tak menarik itu. Dan apalagi soal hari minggu. Bobo sudah seribu? Itu menunjukan kita lahir sebagai generasi yang berbeda. Hahaha...

indrian koto mengatakan...

ALL:
Ada lagi tambahan yang paling penting dan saya lupa tuliskan soal hari minggu:
-Hari minggu adalah hari pulang kampung jika sekolah di kota. :-)

An Ismanto mengatakan...

wah, masa kecil yang menyenangkan. kalau saja kita bisa kembali jadi anak-anak ya.

indrian koto mengatakan...

@an Ismanto:
Mau bangeet. kembalikan saya, kembalikan..

Cyberguru mengatakan...

hari minggu adalah hari ketika saya momong dari pagi sampai malam... haha..

indrian koto mengatakan...

Jusuf AN: Aih, keren.. wajib dicontoh. hahahha

Anonim mengatakan...

luar biasa Mamak...setiap kali membaca tulisan ini, serasa diajak pulang lagi ke minggu-minggu itu.Dimana di kampung kita hari raya itu sekali seminggu,di hari minggu.....