31 Mar 2012

Menunggu




Keriuhan terjadi di jalan-jalan. Mahasiswa membakar ban, jalan-jalan diblokir, ban dibakar, semprotan gas airmata terus dikucurkan. Pagar jebol, kaca pecah, pentungan dan kejaran aparat. mahasiswa dan polisi sama-sama terluka. dan saya masih di depan televisi menunggu apakah harga Bahan Bakar Minyak ini akan tetap naik atau tidak.

Duduk dan hanya menunggu.
 
Tak ada ruang untuk membela diri dnegan mengatakan bahwa saya diam-diam berdoa untuk keselamatan kawan-kawan yang ada di jalan, berharap tidak terpancing provokasi, tak ada kericuhan, tak ada ambulance meraung, dan sidang para wakil kita berjalan dengan tenang dan aman. Saya berharap, sebelum magrib datang, keputusan sidang paripurna kelar, mahasiswa kembali ke kampus masing-masing dengan gagah, naik atau tetap, bukanlah semata-mata soal menang atau kalah. Itu pikiran saya sore tadi, ketika duduk dan menunggu.

Sampai malam ini, saya masih duduk dan menunggu. Sidang diskors sampai jauh malam, mahasiswa mulai diusir, dan besok pagi sebagian dari kami, rakyat yang hanya di kamar ini, akan mendengar keputusan besar.

Kenapa rapat di skors sedemikian lama? Lobi-lobi politik? Saya mulai jengkel dengan penundaan ini. Mahasiswa yang ingin aksi dibatasi waktunya, sementara sidang akan dilakukan malam hari. Apa-apaan maksudnya ini? Sumpah, saya tak paham politik, saya tak mengerti hitung-hitungan ekonomi. Saya tak tahu apakah ketika BBM mulai naik, saya akan cemas harga makan, bakwan, teh hangat atau rokok naik.

Tapi saya tak mengerti soal politik ekonomi, hanya duduk dan menunggu.

 
Awalnya aku khawatir aksi-aksi di jalan yang berujung kerusuhan. Tapi isu kenaikan BBM ini mungkin hadir di saat yang tidak tepat sama sekali. Ketika korupsi riuh dibicarakan, ketika semua orang menunjuk hidung penguasa, kita dihadiahi isu kenaikan harga BBM. Skandal macam apa ini, lalu kemana peristiwa-peristiwa penting lainnya?

Jauh lebih mengharukan melihat Indonesia Idol atau musik di TV bagi saya yang ada di kamar ketimbang mendengar celutakan-celetukan aneh di mikrofon para wakil kita. Perpanjangan waktu, protes ini-itu, berdiri, riuh, ricuh, walk-out, anu ini. Mengurus negara memang lebih rumit dari mengurus organisasi, tapi terkesan lebih main-main.

Apalah saya yang tak paham hitung-hitungan politik dan dan ekonomi. Saya hanya duduk dan menunggu. Perhatian kita sudah disulap untuk fokus ke persoalan ini, melihat anggota dewan yang berbicara "atas nama rakyat", "Suara Gol*** suara rakyat"lah, soal "Hidup Penderitaan rakyatlah", "Soal Menang-kalah". Sampai sekarang saya hanya duduk dan menunggu.

Politik itu mencemaskan. Saya kira Joyce itu sudah paling rumit. Salah saya.

2 komentar:

M. Faizi mengatakan...

Biasanya duduk-duduknya tetap di angkringan, ya... baik mikir kenaikan BBM atau nasib setelah lulus atau pacar atau mikir apa pun, tetap angkringan tempatnya :)

indrian koto mengatakan...

sekarang angkringan sudah diganti warung kopi je