20 Jan 2012

Koruptor Dibakar dan Digebuk Massa, di telanjangi, Kuku Dicabut, Jari Diinjak, Di Sundul Rokok, Mati di Sel, ....



 Sudah saatnya koruptor dianggap sebagai tindak kriminal yang layak masuk Meteor, Merapi, Pos Kota, Lampu Hujau dan koran kuning apa pun di negeri ini, dengan narasi dan foto2 yang 'berani'. Sudah saatnya koruptor masuk buser, patroli dan berita kriminal sejenis di televisi. Kita memperlakukan koruptor terlalu wah, menempatkannya dalam isu politik dan hukum, menjadikannya headline di sejumlah media bercampur dengan peristiwa politik, sosial, bencana dan semacamnya.


Koruptor adalah maling, harusnya juga bisa digebug warga, ditelanjangi, diarak keliling kampung, diantar beramai2 ke kantor polisi dengan wajah tak bnerbentuk. Dia itu pencuri yang dibakar massa, dia itu resedivis yang yang mengambil sesuatu sembarangan, yang mendapat nilai buruk dari masyarakatnya, tak dianggap, diomongkan di setiap pembicaraan para tetangga, tak diterima di tempat ibadah, terhina dan tak punya pekerjaan. Koruptor itu pemerkosa dan pembunuh, maka balsem saja kelaminnya, tempatkan dia dengan rombongan penjahat homo. Karena dia menipu, maka telanjangi dia, hajar telinganya sampai pekak, pukul mulutnya biar darah menyebur dari situ, giginya patah, dan wajahnya remuk...

Koruptor adalah kriminal, jempol kakinya harus diinjak bangku dan kaki meja, kuku2nya harus dicabut, bahu, tangan, perut dan pahanya harus dibakar rokok. Dia harusnya berjalan terpincang2 dan meraung2 pada keluarganya minta dibebaskan. Koruptor harusnya penjahat yang mati di kantor polisi dengan wajah hancur lalu dibilang bunuh diri, dilakukan otopsi sekadarnya, dan kasus selesai. Koruptor adalah ia yang ditembak dan pelurunya diambil tanpa dibius.Koruptor adalah ia yang ditemukan mati mengambang di sebuah kali. Koruptor adalah wajah yang berminggu-minggu di kamar mayat tanpa ada yang mengenali, Koruptor adaah mayat yang dimutilasi...

Karena koruptor adalah pelaku kriminal yang lain, maka perlakukan ia sepereti maling ayam, pencuri celana dalam, tukang palak, perampok di angkutan umum, maling penjebol atm. Atau perlakukan maling, pembunuh, pemerkosa kelas coro agar hak yang sama dengan koruptor. Bersih, rapi, dan gagah, elegan, penuhs enyum ke pengadilan, bis atak adatang alasan sakit, bisa diperiksa ke rumah sakit, disorot media berkelas dan menjadi selebriti....

Siksa dia seperti menghukum teroris. berlakukan tembak di tempat untuk koruptor, giring dia seperti layaknya maling besar (dan memang maling besar) dan pengamanan tetat batapa ia adalah teroris sejati. Serbu rumahnya, panggil media untuk meliput pengepungan semalam suntuk, besoknya tembak dia di kamar mandi, katakan, inilah penjahat yang sudah lama kami cari-cari. nanti boleh saja dianggap salah tangkap, asal masih koruptor sejenis...Kita tak menganjurkan kekerasan, tapi jika kekerasan bisa dialami dan diderita oleh penjahat2 kecil atau mereka yang dituduh penjahat kenapa tak bisa juga hal yang sama dialami koruptor? Mereka lebih brengsek lo, lebih kejam lo, lebih sadis, lebih najis, lebih tak berperikemanusiaan, lebih tidak manusiawi, lebih tak bermoral, tak beradab, busuk, kotor, hina, dari penjahat lainnya. Setidaknya, dia tak lebih baik dengan apa yang kalia pikir tentang penjambret, pemerkosa, lonte, pemabuk mana pun di dunia. Koruptor adalah BAPAK KEJAHATAN.

Stop korupsi dan yang lebih penting, BERHENTILAH UNTUK MELAKUKAN KEKERASAN.  Ane akan pertamax, gan! Tolong, jangan biasakan kami dengan peristiwa kotor, darah, teror dan ancaman ketakutan. Jangan wariskan anak-anak kami dengan kongkalingkong tengik, busuk, najis, gak hue banget, lu-gue, end. Anak-anak kami akan terbiasa dengan hukum kentang dan lebay itu. Plis dech. Jangan over ke orang kecil, jangan banyak alasan untuk membela yang besar. Hukum, bertingkalah yang sama dan adil. Kami memang tak tahu hukum, tapi apakah maling yang tewas di pasar itu mengerti hukum dan hak-hak terdakwa, apakah penjambret itu paham akan teori hukum pidana yang diperdebatkan di layar kaca, ketika kasus seorang korupror sedang 'pura2' di meja hujau?


Biarkan anak-anak kami merasa ngeri dengan kata 'korupsi'. Biar mereka dengan wajah tegang menyimpan masa lalu generasi kita. "Cerita gag ea......"

4 komentar:

Wins mengatakan...

sangat setuju pak, tulisan yg menarik..., padahal aku pernah berfikir punya cita2 jadi koruptor..

artika maya mengatakan...

jengkel selangit liat para koruptor. sudah lama menjauhi berita karena cuma bikin sakit kepala.

nice writing :)

mbah im mengatakan...

wah, segitunya yak bung....hehe

indrian koto mengatakan...

mampus, mampus, biar mampus... *tumben saya bisa sadis juga.. Horeee*