Beberapa minggu
yang lalu saya melihat dinding seseorang yang menjadi teman di facebook. Kami
sepertinya tak saling kenal. Saya memperhatikan dindingnya yang masih bersisa
ungkapan kerinduan. Aku baru sadar pemilik ‘rumah’ itu telah meninggal. Usianya
masih muda. Aku mencari-cari ke bawah,
beberapa sapaan akrab, penuh rindu masih ada bersisa di situ. Beberapa sapaan
seorang gadis makin ke bawah kulihat semakin banyak. Tepat, November 2009 dia
meninggal dan kau tahu gadis itu pacar almarhum. Status terakhir almarhum
menyebut soal waktu pernikahan mereka dengan menyebut tanggal setahun ke depan
dan mengatakan “Mulai sekarang, waktu berjalan mundur.”
Itu dia tulis
malam hari, siangnya ia kecelakaan dan koma selama lima hari. Tulisan itu
sekaligus sebagai ‘pertanda’ kepergiannya. Saya lihat facebook sang pacar yang
tak berteman dengan saya: ia memakai pakaian pengantin, beberapa bulan lalu
baru menikah.



