Ekspresi
kemarahan masih terpancar di wajah teman saya ini. Ia merasa benar-benar gondok
dan dibodohi. Ia baru saja diundang menjadi pengisi acara di sebuah kampus yang
diselenggarakan oleh sebuah lembaga kebudayaan. Bungkusan bermotif batuk
kenang-kenangan dari panitia tersandar di sudut rak bukunya.
“Saya hanya
diberi sebuah buku dan sertifikat sebagai pembicara,” ujarnya masih dengan
ekspresi kemarahan. Saya bisa memaklumi kemarahan saya ini. Pasalnya, ia
diundang secara resmi oleh lembaga tersebut untuk menjadi salah seorang pengisi
acara bersama dua narasumber lain. Undangan itu bersifat formal, dan terlihat
begitu profesional. Mereka mengirimkan proposal dan meminta kesediaan teman
saya membikin makalah. “Saya memang tak membuat makalah. Tapi saya lihat
makalah Afrizal Malna demikian tebal dan tentu digarap dengan serius.”



