18 Mei 2011

Ajarilah Sastrawan Generasi Muda Ini Agar Lebih Beretika

(Membaca Kesastraan Yogya Hari Ini)

Saya merasa agak kaget dengan “kenekatan” Mahwi Air Tawar, seorang sastrawan muda ketika menulis di Minggu Pagi No 05 Th 64 Minggu V April. Tulisan yang berjudul “Perihal Penghargaan Sastra” tersebut secara umum mempertanyakan tanggung jawab penyelenggara hadiah-hadiah sastra di Yogyakarta beberapa tahun belakangan.
            Begitu membaca tulisan ini, saya sudah berpikir akan ada banyak tanggapan yang dialamatkan padanya. Sisi baiknya, akan terjadi sebuah dialog yang menarik, di sisi lain, kekhawatiran saya—dan itu menjadi benar—respon tersebut akan lebih membicarakan soal lain-lain.
            Rasanya tak sabar saya ingin ikut terlibat dalam diskusi itu. Saya yakin diskusi ini akan bergulir beberapa minggu ke depan. Saya menjadi berpikir apa yang saya omongkan akan menjadi sia-sia belaka dan justru akan menimbulkan polemik baru.

15 Mei 2011

Berguru Pada Pesohor Resensi Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan



Judul Buku      : Berguru Pada Pesohor
  Panduan Wajib Menulis Resensi Buku
Penulis             : Diana AV Sasa, Muhidin M Dahlan
Penerbit           : 1# dbuku
Cetakan           : I, April 2011
Tebal               : 266 halaman

Harga             : 60.000

            Saya memulai paragraf pertama ini sesuai petunjuk yang ada dalam buku yang baru selesai saya baca berjudul Berguru Pada Pesohor Panduan Wajib Menulis Resensi Buku  Berguru pada Pesohor Panduan Wajib Menulis Resensi Buku, uh pasti buku tips lagi nih. Dalam buku ini dikatakan, jika paragraf pertama  bisa ditaklukan, maka (paragraf) selanjutnya akan lebih mudah (hal. 92). Lalu ia memberikan beberapa model paragraf pertama yang biasa dipakai dalam menulis sebuah resensi buku.

1 Mei 2011

Kisah Seruas Jalan

Jalan Utama
Saya ingin memposting ini sebagai peleps ingatan saya atas kampung halaman.
 

Kisah Seruas Jalan
Indrian Koto & Sunlie Thomas Alexander 
Jalan Pembuka
Begini mula-mula, kami seringkali berebutan jika bicara masa lalu yang lekang di ingatan. Mulai dari jenis mainan, kebiasaan ketika pulang sekolah, buku yang kami baca, hingga jalan-jalan yang menempel di kepala. Meski kami tinggal tidak satu kota, usia yang relatif berbeda dan memiliki perbedaan latar budaya, kami merasa sepakat, ada banyak persamaan di antara kami menghabiskan waktu di masa kecil.
      Setiap kali membicarakan masa lalu, kami seperi sedang reuni, seolah lawan dan teman main. Kami merasa samsa-sama mengumpulkan kertas rokok, lidi korek api, dan memainkan gambar umbul. Rasanya kami teman yang sama ketika bergerombol di rumah tetangga menonton televisi. Kami seperti kawan seperjalanan yang berombongan naik sepeda di sore hari atau di hari minggu yang cerah. Menjelajahi jalan-jalan bersimpang hingga jalan-jalan tikus dan merasa kami adalah penakluk dunia.
      Entah siapa di antara kami yang punya ide mengenai ini. Kami menuliskan bagian-bagian yang lekat di ingatan dan di mulai dari jalan. Dengan begitu, kami merasa akan mendapat porsi yang sama dalam bercerita. Di mulai dari jalan-jalan yang lekat di ingatan, siapa tahu, kelak kami akan sampai pada ceritera-ceritera yang lain pula.