14 Feb 2011

Film yang Kutonton (Februari-1)

Catatan: Takut kepanjangan tulisannya ntar jadi aku posting dulu pilem (sekarang bukan pelem lagi) yang kutunton awal-awal bulan ini.
1. The Tourist (2010)
Ditonton, senin 7 februari 2011

            Setelah berulang-ulang kupikir, semoga dugaanku tidak terlalu salah, Hollywood dengan film-filmnya yang mewah dan gagah tak jauh beda dengan film-film Bollywood yang penuh kejutan dan dramatisasi di mana-mana. Dan seringkali saya merasa ditipu dengan permukaan yang wah. Sekarang pun, ketika saya menonton The Tourist, saya menemukan kesan itu lagi. Fokus cerita yang pada akhirnya jadi sangat murahan tapi penuh sensasi atau sekedar menampilkan sensasi murahan, kali ya? Saya dibuat deg-degan sejak awal kisah, Elise Clifton-Ward, Angelina Jolie tokoh utama kita yang konon seksi itu, diawasi ketat polisi. Saya disuguhkan kemewahan Paris, perjalanan kereta menulu Itali, hotel mewah dan kehidupan kaum jetset dan dunia gengster. 

4 Feb 2011

Film yang kutonton (Januari)

1. Inception (2010)


 Pemain: Leonardo di Caprio
Cerita tentang dunia mimpi. Polanya hampir sama dengan Sutter Island (2010) yang juga dimainkan Leonardo di Caprio. Bagus, bagus, saya suka. Lagi-lagi pelem ini mengajak kita untuk mempertanyakan yang mana sih mimpi, yang mana sih yang nyata. Sederhananya saya yang bloon ini berpikir, “wah mimpi aja sudah tidak lagi privasi nih. Gawat.” Wah ini seperti bicara apa itu postmodern, posrealitas, pos-pos gitulah kira-kira.
Polanya kek Matriklah, yang jelas-jelas membawah nama filsuf ke dalam pelemnya. Pelem ini keknya juga begitu deh, Cuma saya kan bego dan tidka paham apa-apa, jadi Cuma ngira-ngira doing. Ada yang mau beri penjelasan gak ya?

1 Feb 2011

Semacam Catatan Perjalanan tapi Ngawur (1)

(Nyaris) Keliling Sumbar:
“Terjebak” Perjalanan yang Mengasyikkan
Entah bagaimana caranya, saya pada akhirnya “terjebak” pada perjalanan yang tanpa rencana tetapi menyisakan kenangan yang dasyat. Perjalanan ratusan kilo yang tanpa rencana dan memberikan pengalaman luar biasa bagi saya.
            Semula saya berniat ke Padang—kota provinsi kami yang berjarak 120 dari kampung saya, Lansano—dengan mengendarai motor. Saya ingin seperti kawan-kawan dan anak-anak muda lainnya yang kuliah di kota, maupun yang merencanakan sesuatu di kota dengan mengendarai motor. Keinginan itu sudah lama menggelayut di kepala saya.