11 Des 2011

Honor



1
Ungkapan klasik tentang “terimalah honor sebelum keringatmu mengering,” (emang ada filosofi macam begitu?) rasanya jauh dari dunia tulis-menulis, apalagi sastra, kacangan pula macam saya. Buku-buku sastra kalau pun diterbitkan belum tentu akan membuat si penulis memiliki anggaran untuk merancang liburan dari hasil penjualan. Beberapa penulis, memilih mempromosikan sendiri bukunya. Untuk yang ini pun nasibnya berbeda-beda. Nama dan siapa, menjadi demikian berharga. Penulis yang dianggap belum punya nama, meskipun karyanya bagus, tak bagus pula promosi, alamat lebih banyak memeras keringat, dibanding mereka yang sudah dikenal, pintar pula strategi dan pemasaran, selamatlah ia, nasibnya tak seburuk penulis kacangan kelas kampung dan namanya tak dikenal. Bah, kenapa karya kemudian menjadi pembicaraan paling akhir dalam dunia publikasi?

Mungkin itulah untungnya bagi sebagian besar penulis yang mempublikasikan karyanya lewat media. Setidak-tidaknya dalam soal publikasi dan nama. Siapa yang tidak gemetar ketika sebuah komentar begini terdengar: “Siapa sih penulis ini? Karyanya dimuat di mana?” Publikasi di media, salah satu dampaknya, dari berjuta alasan, adalah menjadi jalan untuk mengatakan kepada publik: “Hoi, orang banyak, ini loh saya… Ini loh karya saya.”

Di negeri ini isi memang selalu menjadi nomor sekian setelah banyak faktor di belakangnya. Tentu tak perlu kita bercakapkan dulu soal itu. Bahwa yang paling ujung dari publikasi karya adalah perkara honor. Honor, royalti sodara-sodaraku yang tercinta. Mungkin ada yang menganggap honor tidak penting dengan berbagai kemungkinan: bisa jadi dia sudah demikian mapan dan merasa risih dengan duit, penulis yang masih memperjuangkan publikasi dan namanya, menganggap duit dari koran haram, penulis santun yang selalu ingin beramal, dan lain sebagainya. Ini tentu tak akan kita perbincangkan lebih panjang di sini.

Tahun-tahun belakangan kita dibuat tergetar karena haru, bangga dan rasa cemas melihat nama-nama penulis (sekali lagi penulis, bukan karya) yang pertumbuhannya luar biasa. Setidak-tidaknya kita bisa lihat di status minggunya Bamby Cahyadi yang kemudian menjadi rujukan bagi sebagian kawan-kawan. Perbincangan hangat, lucu, keren, norak dan unyu bercampur jadi satu. Kita bisa melihat demikian banyak, demikian besar antusias para penulis, baik yang sudah senior hingga yang baru coba-coba mengirim karya. Kita seperti bisa membaca, demikian besar minat orang terhadap karya sastra, jauh lebih besar dari partai politik, dan tentu lebih bersih.

Di luar kegembiraan di hari minggu itu, terselip rasa pilu bagi sebagian penulis. Honor dari tulisan yang dimuat berminggu bahkan berbulan lalu tak juga sampai ke tangan mereka. Gerangan apa pula ini? Sastra tentu tak sekedar dimuat di koran, ucapan selamat, dan sekedar angkat gelas. Itu pembicaraan berat, membuat rumit penulis. Itu tugas calon akademikus sastra macam Eko Triono.

2.
Pernahkah kita bertanya, apa sih maunya koran memuat karya sastra setiap hari minggu? Sungguh, saya tak tahu. Untuk menaikkan oplah rasanya tidak. Tak semua penulis karya sastra di koran membeli koran setiap minggunya, mungkin membeli jika sewaktu-waktu tulisannya dimuat. Apalagi mereka yang tak mengirimkan karya ke koran. Beberapa nama Besar (dengan b besar) mungkin akan cukup membantu penjualan barang 10-20 eksemplar karena ada pembaca yang tertarik dengan nama penulisnya—membuat pelanggan eceran koran minggu kebingungan mengetahui koran yang dicari habis di loper langganannya. Rasanya pemuatan karya bukanlah keuntungan besar bagi media. Tapi entahlah, saya belum pernah bekerja di media.

Jawaban ringannya mungkin sebagaimana sering kita dengar, bahwa hari minggu adalah waktu bersantai, saat berkumpul keluarga, jadi pembaca harus dimanjakan. Berita penting hanya ada di halaman utama, sisanya rangkuman macam-macam peristiwa. Mulai dari trend, mode, tempat wisata, teka-teki silang, halaman anak, konsultasi, hingga cerpen dan puisi. Aih, aih, aih.

Tidak, tidak bukan soal sastra dianggap pelengkap saja yang saya maksudkan (Hem… berat memang ya, jika sastra selain menjadi ruang hiburan, ia ikut pula menanggung beban “kontekstual”).  Karena lebih sebagai rangkuman pula, makanya ada koran minggu yang bahkan sudah terbit sejak hari jum’at. Saya pernah melihat Suara pembaruan terbit macam begitu. Rugilah dia kalau ada peristiwa besar dan menarik di sabtu malam. Media macam Jurnal Nasional bahkan hari minggunya terbit dengan konsep tabloid (yang Jurnas Minggu belakangan saya tidak tahu).

Yang repotnya, kadang bersantai-santai ini jatuh juga pada soal pembayaran honor penulis. Nah ini yang sebenarnya ingin saya tulis. Sayangnya, pengantar sudah cukup panjang, saya akan membahasnya lagi berpanjang-panjang. Plis, jangan bosan ya?

Setiap penulis cerpen dan puisi (maaf, saya tidak tahu nasib mereka menulis artikel, laporan perjalanan, esai, resensi dan semacamnya, semoga saja nasib kita berbeda. Amin! Atau jangan-jangan teman-teman ini juga mau curhat) pasti pernah mengalami honor yang tak dibayar hingga tulisan ini saya tulis. Entah dimuat bulan lalu, berbulan, atau bertahun lalu.

Perlakuan media terhadap penulis berbeda-beda. Di media yang sama pun perlakukan terhadap penulis, terkait honor, kadangkala berbeda pula. Ada koran yang lancar dan gampang pembayarannya, kecuali penulisnya berniat menyumbangkan honornya, atau sengaja/lupa tidak melampirkan no rekening. Ada koran tertentu bagi sebagian orang pelit honor, bagi yang lain malah sangat gampang mengurusnya. Namun ada pula koran yang benar-benar tak beres dengan pembayaran dan 99% menyetujuinya. Menyebut Republika mungkin banyak jari yang mengacung jika ditanya: “Siapa yang belum dibayar honornya?” Tapi saya belum pernah dimuat di Republika, jadi tidak tahu kebenarannya.

3.
Saya ingin bercerita pengaman saja, semoga tidak membuat media tertentu tersinggung, menutup halaman sastranya macam Media Indonesia dan mengatakan saya merusak nama baik mereka. Ah tulisan macam ini, apa yang diharapkan darinya, Pak?  

Pengalaman dan motivasi kita pastilah berbeda-beda ketika mengirimkan karya ke media. Ini lagi-lagi Pe-ernya Eko Triono. Saya mengirimkan tulisan ke koran/majalah dengan pertimbangan masih memungkinkan saya melacak, setidaknya tahu info pemuatannya, meskipun pada akhirnya saya tetap tak punya arsip. Di awal-awal menulis di media saya pernah punya pengalaman buruk. Judul cerpen saya dipotong, bahkan isinya dimutilasi jadi semacam ringkasan, dan honor saya tak dibayar. Saya bela-belain datang ke kantornya, karena kebetulan ada teman yang berniat meminta honor juga. Hari sabtu yang menyedihkan ketika itu, saya selalu mengingatnya dengan baik. Kami mencemaskan bensin buat pulang, karena si teman berpikir akan mendapat honor. Apa daya, “hari sabtu, koran kami tidak melakukan pengeluaran apa pun.” Setengah menangis kami keluar dari gedung megah itu, berdoa agar bensin kami tak habis di jalan dan ban motor tidak bocor. Ketika itu Tuhan masih gampang memberikan keringanan bagi mereka yang teraniaya (Tidak macam sekarang, waktu di mana semua orang merasa teraniaya). Ketika itu saya sempat menanyakan honor tulisan awal saya yang dimuat di media mereka, setahun lampau itu. “Kamu di black list, karena selain di Solo Pos (ups, saya menyebut medianya juga), cerpen itu juga dimuat di majalah wanita.”

Dimuat di majalah lain? Di black list karena pemuatan ganda setelah cerpen saya diacak-acak? Majalah wanita mana yang dimaksudkan? Kenapa tidak boleh mengirim karya yang dimuat di media lokal tertentu ke media lokal lainnya, apalagi di zaman itu tak semua koran punya situs dan selalu update sastra, dengan pertimbangan sastra diapresiasi lebih luas? Apa-apa pasti penulis yang disalahkan. Soal pemuatan ganda, penulislah yang ditunjuk hidungnya sebagai biang kerok. Media tak pernah mau introspeksi, bahwa keterbatasan mereka mengamati media saingan juga berlaku, atau soal mereka menumpuk naskah berbulan-bulan lamanya tanpa kabar. Pokoknya penulis, kenapa tidak sabar, kenapa ngirim ke beberapa koran, kenapa begini, kenapa begitu. Macam lagi anak-anak banget deh. Aduh, aduh, kita gak usah ngomong ini dulu ya?   

4.
Saya langsung ke poin saja deh. Pengalaman belakangan ini membuat saya jengkel jika mengingatnya adalah ketika puisi saya dimuat di Seputar Indonesia Agustus lalu. Sebulan saya tunggu, tak ada kabar. Di televisi milik jaringan mereka saya lihat mereka menambah jaringan radio, portal berita online dan televisi jaringan serta keterlibatan mereka ke dunia politik (apa hubungannya denganku coba). Kaya sekali mereka, pikirku. Berapa sih ya honor karya sastra? Saya kembali meradang mengingat honor saya tak diberikan. Kekesalan saya yang lain, berkait dengan pertanyaan saya beberapa paragraf di atas, yakni: “untuk apa sih sebenarnya media memiliki halaman sastra (dan kenapa pula sekarang berkumpul di hari Minggu?” Nah, karena saya tak punya jawaban, saya kemudian berpikir, Sindo pun seperti tak punya jawaban. Buktinya, tidak selalu sepanjang minggu ada halaman sastra. Sewaktu-waktu puisi bisa hilang, tak jarang paket puisi dan cerpen raib diganti halaman iklan.

Apa sih komitmen media mengenai sastra? Lagi-lagi saya bertanya, kali ini dalam hati. Benar, sepertinya mereka memang tak punya tanggung jawab sebenarnya. Sekedar ikut-ikutan, biar sama dengan media lain, atau kebetulan ada wartawannya yang penulis jadi perlu juga nih bikin halaman sastra (tentu setelah sang wartawan mati-matian mengungkapkannya di sidang redaksi). Ah, pasti tidak sesederhana itu, tapi PR aja deh ya.

Melihat cara media yang dengan “seenak mereka” memperlakukan sastra, kita dibuat jengah juga. Mentang-mentang mereka tak punya kewajiban, lalu bisa dengan enteng berujar, “sudah enak lu gue kasih ruang publikasi.” Ih, sehina itukah sastra, jika pun iya, maksud saya, “jika elo emang media yang sudi menghibahkan halamannya untuk publikasi karya sastra yang sama sekali gak ada hubungannya dengan orientasi media elo, bayar honor gue juga dong.”

“Ini bukan semata-mata perkara uang,” hati kecil saya berbisik. “Ini masalah Hak!” Pasti banyak orang sependapat dengan saya. Kenapa sih hak kita sebagai warga negara terus-terusan dirampas di negeri ini? Terlalu keras kita nanti dituduh mencemarkan nama baik, terlalu ngotot kita dikira rakus. Tak enak memang menjadi rakyat, tapi menjadi wakil rakyat lebih berbahaya.

Suatu malam, di sela-sela status norak saya di FB saya menulis surat ke redaksi Sindo (Nah, kembali ke Sindo nih) yang intinya menanyakan honor saya. Besoknya saya lupa dengan surat tersebut, tapi mereka tidak. Saya kirim email tengah malam, di pangkal hari rabu, saya di telepon ketika adzan magrib berkumandang hari rabu itu juga. Intinya mereka membaca e-mail saya dan bilang setelah dicek, tidak ada nomor rekening saya.

“Tapi tak ada nomor rekening, jadi kami tak bisa mengirimkan. Kalau tak ada nomor rekening, kami tak akan mengirimkan sampai kapan pun.”

Sejenak saya membayangkan honor saya yang sudah disiapkan itu berlumut, uang koinnya mulai berkarat, jika terbuat dari coklat, honor saya pasti sudah meleleh dan dirubung lalat, ulat dan belatung. Mengingat itu segera saya sebutkan nomor rekening dan diulang oleh mereka. Wah besok saya bisa ngenet semalam suntuk nih, ucap saya dalam hati.

Sebelumnya Sindo dalam sebulan sudah dikirim, meskipun kadang mesti ditelepon. Tapi sekarang agak ribet. Saya katakan itu pada mereka. “Ini bukan tulisan pertama saya di Sindo, tapi pengalaman pertama yang tak dikirim setelah beberapa bulan. Tapi teman saya yang lain juga belum dikirim lo, Mas.”

Dia lalu bertanya nama teman saya, saya sebutkan, dia bertanya bulan pemuatan, saya kira-kira saja, mereka menemukan dan bilang memang belum dikirim honor teman saya itu. Mereka minta nomor kontak. Kabarnya, teman saya langsung mereka di tengah magrib itu juga. Sekali lagi saya membayangkan bisa semalam suntuk di warnet. Saya tersenyum lebih bahagia lagi membayangkan teman saya akan dengan girang SMS, “Dasyat bung, honor saya sudah dikirim.”

Berhari, dan seminggu pun lewat. Saya yang penuduh ini beranggapan, “karena mereka disentil saja maka langsung klarifikasi.” Nama baik. Karena seminggu lewat dan belum dikirim juga nonor yang kami percakapkan itu, saya bikin email kedua, menyatakan protes saya dengan bahasa yang sesantun-santunnya versi saya. Kepada Bung Budi Hutasuhut dan Muhammad Ali Fakih, rekan senasib, saya lampirkan surat itu.

Hingga hari ini tak ada lagi telepon, tak ada uang yang masuk. “Kita sudah berbuat Nak Nyo. Kita sudah melawan sebisa-bisa kita,” kata Nyi Ontosoro pada saya. Eh, itu kan Minke, bukan saya. Dampaknya mungkin kira-kira begini: “Awas ya, gak bakal gue muat lagi elo. Berisik sih” Mungkin begitu bunyi geramnya. Dan inilah yang banyak ditakutkan oleh banyak kawan-kawan yang tidak menerima honor, mungkin. Dengan rendah hati sebagian orang mengalihkan kesedihannya dengan hiburan, “Ah, yang penting dimuat saja sudah cukup. Perkara duit itu sensitif.” Nah, ini juga perkara bagi saya. Gak bisa dong, untuk media yang komersial, dan jelas-jelas pula ada bayarannya, saya pun harus dibayar. Saya tidak ingin melakukan kerja amal begitu saja. Gak mungkin juga saya mau mengirimkan karya untuk sekedar hiburan (syukur-syukur ada pembacanya) ke media yang secara orientasi dan pembacanya sudah berbeda dengan saya. Kecuali saya mengirimkan ke media alternatif, dan saya juga bisa tulus. Saya juga mengirim tulisan ke media di daerah—itu pun dengan beberapa pertimbangan yang sudah saya sebutkan tadi dan diulang lagi. Setidaknya: Saya tahu dimuat dan kapan waktunya.

5.
Soal honor kasusnya lebih sering sangat sederhana. Dia tidak berhubungan langsung dengan kebijakan, redaktur atau apa pun. Perkaranya ada di bagian keuangan. Ya, gak? Bahwa memang ada koran yang pembayaran tiap tanggal berapa setiap bulan, ada yang memang dalam satu minggu anggaran pembayaran turun. Soal kedua mungkin kebijakan pengiriman honor. Bagian keuangan entah mengabaikan, atau karena memang terlalu banyak kerjaannya (mungkin aja toh, ada wartawan yang minjam duit, ngambil honor mingguan, atau bayar kredit apa gitu) sehingga tak ada waktu untuk mentransfer uang.

Persoalan lain dan menjadi keluhan bagian keuangan tentu saja beragam Bank yang hendak dituju. Maka jika sodara-sodara menelepon media tertentu, mereka minta, kirim dong rekening bank yang ini aja. Kalau gak ada, pinjam teman deh, gitu. Tapi bukankah juga sekarang perkara transfer lebih gampang dan untuk beberapa bank bisa lewat satu bank saja. soal biaya toh dipotong dari honor kita juga, tak apa kan? Seperti pajak, kita kan demikian taat membayarnya. Astaga, kita ternyata pembayar pajak yang rajin sodara-sodara, lalu mengapa sastra demikian tak terperhitungkan di negeri ini. Mau sastra dihargai macam FFI? Gak deh, pliss…

Nah, balik lagi soal bagian keuangan. Kadang ada bank yang bagian keuangan yang mungkin kerja sendirian. Ya ngurus karyawan, ngurus wartawan, ngurus pengeluaran lain-lain sehingga gak ada waktu lagi untuk untuk ke Bank atau ATM. Kasian sekali mereka ya. Maka, kadang-kadang kawan kita ‘memegang’ redakturnya. Nah redakturlah yang kadang datang ke bagian keuangan, meminta honor si ini, dimuat tanggal segini, lalu menunggu dan mentransferkannya untuk kita. Sungguh mulia. Sayangnya yang baik-baik tak selalu tersedia banyak di negeri ini. Kitanya juga suka gak enak toh?  

Persoalan lain dalam kirim-mengirim honor adalah, bagian keuangan tidak tahu nomor rekening penulis. Dia tahu ada honor yang belum dikirim, tapi mau dikirim ke mana? Ada memang penulis yang lupa melampirkan no rekening, tapi rata-rata mereka melampirkannya bersama biodata. Persoalannya adalah mungkin redaktur lupa memberikan nomor rekening ke sekretarisnya, kalau punya, atau lupa memberikan ke bagian keuangan.

Yang agak seram adalah cerita kawan saya. Dia wartawan di suatu media nasional, milik partai pula. Suatu ketika honor tak datang-datang, jadi mesti ditelepon dulu. Honornya juga berkurang jumlahnya. Nah inilah istimewanya kita. Seiring naiknya harga dan gaji pegawai, tapi honor sastra di media cenderung monoton juga banyak yang turun. Logika terbalik nih. Misalnya Pikiran Rakyat honor cerpen yang 400 ribu dan dipotong pajak tiba-tiba turun jadi 200 ribu sekarang ini. Misal yang lain nih, saya pernah liat wesel dari Suara pembaruan untuk honor puisi akhir tahun 90-an 150 ribu, sekarang juga gak beda-beda amat kan? Duh, Silet, pil, dan rokok saja naiknya ratusan persen, kok honor tulisan gak ya? Perbandingan honor di setiap media juga berbeda lo. Silahkan cek!

Eh, eh, eh, sampai di mana tadi? Oh ya, soal honor di koran tempat teman saya bekerja itu.. Nah, usut punya usut, teman saya cerita bahwa bagian keuangannya akhirnya dicopot dnegan tak hormat, karena ternyata dia memakai duit perusahaan untuk bikin usaha diluar. Jadi honor penulis ‘dipinjam’ dulu. Dan tragisnya, yang mengurus keuangan ini punya kebijakan sendiri, memotong sendiri honor penulis yang seuprit persen jika dibandingkan gaji wakil kita yang menyokong media tersebut. Dia mengkorupsi honor. Bayangkan jika ternyata honor sodara di sebuah koran bukan 200.000 tapi dua juta. Hayoo.. lagian para penulis kan terlalu baik hati, selalu terima dan alhamdulillah aja….

Media memang perlu ketegasan dalam pembayaran honor. Pengetatan itu tidak rumit, tinggal melimpahkan tugas ke bagian keuangan (pasti kesian kali si ibuk itu). misalnya, tanggal segini tugasnya ke bank untuk transfer sebulan ini, dan demikian pula bulan depannya. Keren ya. Kita merindukan media macam kompas yang bayar honor dalam minggu itu juga. Seandainya, seandainya, lancar saja dulu aja pembayaran honor, betapa menyenangkan menjadi penulis di ngeri ini.

Biasanya yang agak bermasalah adalah ketika pertama kali tulisan dimuat di media. Kealpaan redaktur memeberikan nomor rekening penulis, atau penulis yang terburu-buru membuat bagian keuangan juga tak bisa apa-apa. Namun seharusnya, penulis yangs udah menulis beberapa kali dengan sendirinya sudah tercantum di arsip keuangan lengkap dengan nomor kontak, sehingga gampang jika hendak mengirimkan jika sewaktu-waktu tulisan dimuat lagi. Asal tidak berganti-ganti nomor rekening.

Sepertinya, bercita-cita jadi penulis (apa lagi puisi) di koran minggu adalah sebuah kesenangan semu. Seperti atlet yang berjaya di lapangan, tapi teronggok pasi di akhir-akhir masa hidupnya. Tapi atlet pun sudah berbeda nasibnya, negara mulai memperhatikan mereka. Tapi koran dan sastra di hari minggu punya siapa? Apa ada kontrak media dengan pemerintah, tidak kan? Atau, hmm… jangan-jangan kita memerlukan reward untuk karya-karya yang dimuat di media tertentu dari pemerintah. Meski ada yang menolak, tapi mungkin akan banyak yang setuju soal ini. Artinya karya sastra yang dimuat di media tertentu akan mendapat honor dari pemerintah, sebagaimana yang dilakukan penerbit atas buku-buku mereka yang diresensi para penulis. Tapi negara kan bukan penerbit. Rasanya, membicarakan karya di koran minggu, lalu penulis dibayar sama pemerintah, seperti memegang tai saja: bau; memalukan; jijik; najis; tabu; dan kayak gak ada kerjaan aja; serta ngapain elo?

Duh, sastra di koran minggu, sastra di hari minggu, apa sih maumu?

6.
Setiap penulis punya kerumitan yang berbeda di koran yang berbeda. Mungkin diperlukan siasat. Nah, sebagai penutup ini mungkin semacam pengalaman yang tiap teman-teman pasti punya tips sendiri-sendiri. Untuk koran Lampung Post, biasayanya saya meminta tolong sama Arman AZ (Saya sering tidak enak sama almuqaram ini, karena harus repot gara-gara saya), untuk Riau Pos, kadang jika kondisi sudah benar-benar terjepit saya minta tolong bang Harry Kori’un, sekali lagi memang tak enak, karean pastilah doi punya kesibukan lain. Dan kadang saya tak tahu apakah benar ada, atau berapa tulisan saya di Riau Pos yang belum dikirim. Jika ke Haluan ada jeng Yetti A. KA dengan sangat luar biasa memperjuangkan honor saya. Hihihi… Padang Ekspress sewaktu-waktu saya pulang, honornya diambil, dan kadang-kadang diambilkan teman-teman.  Suara Merdeka ada kantor cabangnya di Yogya, Pikiran rakyat saya biasanya telepon kantor cabang di Yogya. Untuk KR, Minggu Pagi, dan Merapi saya ambil langsung ke redaksi. Bagi teman-teman yang punya tulisan di 3 media terakhir ini, bisa diambilkan ke redaksi macam yang dilakukan bang Arman AZ dengan Lampung Post, tetapi mesti menggunakan surat kuasa, pakai materai dan tanda tangan serta fotokopi KTP.

Cara-cara macam ini mungkin menjadi salah satu jalan, meski saya tidak mengharapkan ini terus-terusan berlangsung apalagi Anda nanti menghubungi mereka pula. Itu langgananku tau.. hahaha… Yang lain mungkin punya pengalaman berbeda-beda. Silahkan dibagi ke yang lain pengalamannya.

 
Yogyakarta, 11 Desember 2011

10 komentar:

M. Faizi mengatakan...

Ah, nama saya tidak disebut; tidak diwarnamerahkan :-(( tapi tak mengapa karena kita memang baru saja kenal.

Oh, ya.. pengalaman honor kita dan hampir semua penulis banyak seragamnya, ya.. memang, masalah honor itu sangat ajaib. Ada bahkan yang tidak sekadar meminjam duit honor penulis untuk bikin usaha di luar, tapi ada yang dengan tegas 9atau tega) memarahi penulis yang menagih honor untuk 5 X pemuatan resensi bukunya karena si penulis sudah dianggap tahu bahwa di koran tersebut memang tidak ada honornya.. (ini contoh kalimat panjang yang tidak boleh ditiru untuk mendapatkan honor)

M. Faizi mengatakan...

Namun, yang lebih mengherankan adalah tulisan yang panjang ini, yang lengkap ini, yang berisi pertanyaan-pertanyaan retoris ini...Sungguh, saya heran sama si kuli ini karena dia menulis untuk media yang tidak memberi honor dengan semangat yang berapi-api... Pak Blogger... hehehe....


Saluuuuuuuuut..... Indrian Koto memagn top

kuli Pelabuhan mengatakan...

M. Faizi: Seharusnya saya merahkan, benar, sumpah. Saya sedang berpikir demikian. Tapi harus saya pasang di mana. begitulah nyatanya.

Saya berharap tulisan ini tidak dianggap memojokkan, karena jujur saja, saya takut jika dituduh demikian, saya dipenjara (namun saya juga berpikir, ngapain juga tulisan macam ini akan dianggap demikian perlu), jangan sampai deh, ampun, saya suka keringatan dan gugup kalau ditanya, kalau tak percaya tunggu saja postingan saya minggu depan (sebuah contoh kalimat panjang mendeskripsikan ketakutan yang ssungguhnya).

Nah, saya sengaja menulis ini agar ada bagi-bagi pengalaman, bagi2 info bagaimana seharusnya berhubungan dengan media tertentu (soal honor maksudnya), pasti setiap orang punya pengalaman,s emakin sering ia, semakin lama dia, semakin membuat pengalamannya bertambah banyak.

Dan tulisan inisemacam perwakilan suara teman-teman. Nah ini bukan sekedar perkara uang lo, tapi hak. Juga, untuk apa sih sebenarnya media punya ruang sastra?

Jawaban berikutnya, kalau boleh Ki Faizi menambahkan, bisa poin per poin. Tiap nomor punya substansi berbeda, meskipun sangat kacau.

kuli Pelabuhan mengatakan...

Temanku punya arsip keren nih.

http://www.facebook.com/notes/m-faizi-von-guluk-guluk/honor/10150264715766439?ref=notif&notif_t=note_tag

M. Faizi mengatakan...

Iya, ya... benar sekali yang kamu tulis begini "Pernahkah kita bertanya, apa sih maunya koran memuat karya sastra setiap hari minggu? Sungguh, saya tak tahu. Untuk menaikkan oplah rasanya tidak. Tak semua penulis karya sastra di koran membeli koran setiap minggunya, mungkin membeli jika sewaktu-waktu tulisannya dimuat. Apalagi mereka..."

Saya jadi terheran-heran sendiri dan berpikir, "kok,. iya..ya...?" Wah, honor memang menakjubkan... mari bikin honor. Saya jadi rindu untuk bikin honor. Sekarang, ah.. Terima kasih, Indrian Koto Keren....

kuli Pelabuhan mengatakan...

bikin honor untuk saya saja. hahahhaa..

Tapi saya memang tak punya jawaban soal itu Ki.

Ismanto mengatakan...

Saya DULU masih bisa ikhlas kalau ada honor yang tidak dibayarkan. Sekarang, saya tidak pernah dapat honor lagi. Pasalnya, tidak pernah menulis. :D

indrian koto mengatakan...

Ismanto: kau terlalu penyabar sih. Dan persoalanmu yang terakhir itu anak muda jelas sangat berbahaya. Dan parahnya: itu menular

Anonim mengatakan...

bagaimana dengan ini:
bukumlaku.wordpress.com/2011/12/25/membumikan-gagasan-buku-mlaku/

hehehe....

indrian koto mengatakan...

keren juga anonim