25 Des 2011

Facebook dan Kematian



Beberapa minggu yang lalu saya melihat dinding seseorang yang menjadi teman di facebook. Kami sepertinya tak saling kenal. Saya memperhatikan dindingnya yang masih bersisa ungkapan kerinduan. Aku baru sadar pemilik ‘rumah’ itu telah meninggal. Usianya masih muda.  Aku mencari-cari ke bawah, beberapa sapaan akrab, penuh rindu masih ada bersisa di situ. Beberapa sapaan seorang gadis makin ke bawah kulihat semakin banyak. Tepat, November 2009 dia meninggal dan kau tahu gadis itu pacar almarhum. Status terakhir almarhum menyebut soal waktu pernikahan mereka dengan menyebut tanggal setahun ke depan dan mengatakan “Mulai sekarang, waktu berjalan mundur.”

Itu dia tulis malam hari, siangnya ia kecelakaan dan koma selama lima hari. Tulisan itu sekaligus sebagai ‘pertanda’ kepergiannya. Saya lihat facebook sang pacar yang tak berteman dengan saya: ia memakai pakaian pengantin, beberapa bulan lalu baru menikah.


Saya pernah mendengar seorang adik kelas meninggal ketika melahirkan. Aku melihat facebooknya dan suaminya. Dunia berjalan maju demikian cepat, meninggalkan luka hari ini yang secepat kilat dapat disembuhkan. Tapi waktu di dinding facebook terasa diam dan beku. Ia menjadi lebih abadi dan awet. Rasanya, tiap kali melihat dinding mereka yang sudah pergi, waktu berhenti. Semua seperti baru saja terjadi.

Saya sering agak menyesal ketika teringat beberapa nama-nama yang saya tahu di dunia sastra tiba-tiba tiada. Kenapa saya tak menggunakan waktu saat kami sama-sama ada ini dengan menyapa? Kenapa setelah ia pergi rasanya ia menjadi dekat sekali? Nama-nama yang menjadi teman di facebook kadang kita biarkan terlantar tanpa tegur sapa. Kita menyimpannya dan membiarkan demikian saja.

Wan Anwar, tiba-tiba saya berpikir ah, mengapa saya tak mengenalnya lebih jauh dulu di facebook? Saya belum sempat berteman dengan beliau, tiba-tiba ia sudah tak ada. Lalu Kang Asep Sambodja sebelum tawaran pertemanan saya dikonfirmasi, saya dengar beliau meninggal. Sakit apa? Astaga, mengapa saya tak pernah tau catatan dan kabar kawan-kawan saya di facebook. Rasanya facebook seperti apartemen, yang kita berkumpul dalam satu rumah tapi memiliki tetangga sendiri-sendiri. Lebih mengagetkan lagi ketika saya tahu beberapa hari setelah beliau meninggal, kami telah berteman. Astaga!

Beberapa waktu yang lalu Ibu Ratna Indraswari Ibrahim. Justru di hari beliau meninggal saya baru menyadari kalau kami blum berteman. Saya hanya bisa mengamati dinding facebooknya dengan lebih serius. Apa makna pertemanan di facebook itu sebenarnya?

Agak perih dan cukup menyentak saya adalah ketika saya menemukan info penjualan buku Mbak Nurul F. Huda, penulis dasyat dari FLP itu. Saya baru tahu kalau beliau sakit dan sedang dirawat di rumah sakit di daerah Yogyakarta. Saya minta berteman, berharap kondisi beliau baik-baik saja, dan suatu waktu pertemanan saya akan dikonfirmasi. Di waktu yang hampir bersamaan, tiba-tiba saya membaca di dinding FB beliau, bahwa beliau baru saja menghembuskan nafas terakhir. Inalillahi wa inailai rajiun. Permintaan pertemanan sya masi menggantung hingga kini.

Kami tak sempat berteman di facebook, bahkan berhari-hari kemudian hingga kini pun. Mungkin saja, password FB beliau hanya diketahui sendiri. Saya hingga kini tak tahu, perlukah password e-mail, FB dan semacamnya kita wariskan? Di satu waktu saya senang sekaligus kaget melihat dinding ia yang meninggal masih saja aktif menulis status. Kadang saya demikian nayaman dan gamang meihat dinding seseorang yang telah pergi ikut-ikutan sepi.

Dan hari ini, 25 Desember 2011 ketika saya masih online, saya membaca status seorang kawan yang mengabarkan seorang Lan Fang meninggal. Ha, Lan fang meninggal, pikir saya. Saya memastikan ke dindingnya, benar, sudah ada banyak komentar dan ucapan belasungkawa. Seperti biasa, saya mencari status terakhirnya yang semoga saja bisa menjadi penanda. Saya tak menemukan dan merasa pusing. Betapa asingnya saya dengan beranda ini. Kami berkawan, tapi nyaris tak pernah menjenguk barang sebentar.

Saya masih merasa tak percaya dengan kepergian macam ini. Meski internet mengabarkan lebih cepat dari sms yang kemudian masuk. Sebentar, saya merasa akrab dengan seorang Lan Fang, merasa tak percaya bahwa ia telah tiada. Rasanya begitu tak mungkin, meski perkara maut tak ada yang bisa menafsirkan.

Setelah itu facebook akan kembali ke bentuk semula, saling tertawa, menawarkan kesedihan, kemarahan, kegembiraan dan status-status gila lainnya. Bagaimana jika tiba waktunya saya? Adakah seseorang yang akan berkunjung dan menengok semacam kuburan maya ini?

Di hari keberangkatan seseorang, yang namanya mungkin kita kenal, rasanya kita menjadi demikian karib dengannya, dan memiliki secuil dua cuil kenangan kecil, baik langsung atau tidak. Makin hari, barangkali ia makin sepi, makin lenyap dan ikut tiada. Barangkali juga tidak!

Setelah kematian seseorang, masihkah dinding FB itu sempat ditengok olehnya?

Yogyakarta, 25 Desember 2011


4 komentar:

artika maya mengatakan...

dengan ibu ratna indra swari kami pernah beberapa kali saling balas membalas inbox via fb. meskipun saya merasa yakin akun tsb dipegang oleh putri beliau, atau rekan beliau.
paling tidak, kesan yg saya tangkap beliau ramah.
kemungkinan fb dianggap semacam koran pribadi pemilik akun. banyak org yg hanya sekadar ingin tahu bgm kehidupan org yg bersangkutan, ada yg sekadar ingin list temannya bertambah, ada yg memang benar2 ingin berteman dan menyapa, dsb.
btw, kalau nanti tiba saat saya, saya sih lebih ingin akun fb itu spt semacam kuburan maya. tak perlu lagi ada status2 baru stlh kepergian saya.
btw lagi, nice writing :)

M. Faizi mengatakan...

Ya, saya turut bersedih untuk berita-berita kematian. Apa boleh buat, jika ada waktu, saya usahakan untuk melipur rumah duka dan mendoakan mereka yang pergi dan yang ditinggalakan.

Oh, ya. Saya punya cerita mengesankan sekaligus mengharukan dengan dia.l Puasa dya tahun yang lalu saya datang ke rumahnya pada jam 1 siang. Dia menyiapkan makan siang untuk saya. Memang, saat itu bulan puasa, namun karena dia tahu saya sedang musafir (sedang dalam perjalanan dan itu artinya boleh tidak berpuasa dan menggantinya di hari yang lain) dia meniakan makanan untuk saya.
Tiba di sana, ternyata, ada dua teman saya yang ikut. Kedua-duanya anak surabaya dan mereka berdua sedang berpuasa. Demi menghargai, kami tetap berpuasa dan Ce Lan Fang juga rela tidak ngemil apa pun sampai azan maghrib tiba. Kami baru makan setelah azan maghrib (kira-kira pukul 17.45 ketika itu) berkumandang.
:-((

Usup Supriyadi mengatakan...

sesekali justru saya yang kerap berkunjung kepada account yang sudah ditinggal meninggal oleh pemiliknya. ya, soal apakah yang bersangkutan menengok, wallahi, semoga semuanya damai di sisiNya

indrian koto mengatakan...

Mbak Artika Maya, Lora Faizi dan Bung Usup, terima kasih masukan dan komentarnya. Semoga kita terus hidup ya? amin....