13 Nov 2011

Pasangan




Sering kita mendengar—dari siapa dan dari mana itu tak penting—komentar tentang sebuah pasangan. “Si Anu dan si Itu kok aneh ya. Mereka suka begini lo…” Tak jarang pula komentar takjub bisa saja meluncur. “Ih, hebat ya si Nunu dan Nini. Mereka tuh kreatif banget..” Atau: “Saya dengar si Itu dan si Ini lagi bikin anu lo…” Di belakangnya selalu ada decak kagum dan kalimat-kalimat pujian seperti: hebat, dasyat, monumental, keren, ajaib, luar biasa, keren, mantap, inspiratif, maknyus, super. 

Tadinya saya tak terlalu kepikir soal itu. Setiap orang, eh setiap pasangan punya ragamnya masing-masing. Ada cocok dan tidak cocok. Ada sesuai dan tak sesuai. Namanya juga pasangan, terdiri dari dua orang, berbeda jenis kelamin pula. Belum lagi soal kebiasaan, hobi dan segala macam soal lainnya. Jadi semua pasangan menurut saya selalu hebat.

 Setiap orang akan selalu memiliki pasangan. Nah, itu merupakan keyakinan siapa pun dan tak perlu diuji keabsahannya. Pasti. Berarti memang ada. Jadi soal seperti apa dan bagaimana pasangan kita, ya terima aja. Namanya juga paket.

Sebagai orang yang sedang mencari-cari pasangan, saya seringkali dibuat terkagum-kagum dengan pasangan-pasangan yang baik saya kenal dan yang mengenal saya. Bisa jadi komentar-komentar decak kagum di awal paragraf ini adalah kalimat yang terlontar dari mulut saya.

Selain mengagumi, saya adalah orang yang lebih suka pesimis pada sesuatu. Selama ini, jika ada yang bilang, “mereka itu lo…” aku akan bilang: “ya, tapi kan anu…”, “Aah.. itu kan anu…” Sekarang, setelah saya pikir-pikir ulang, betapa banyak yang secara tidak sadar saya mengagumi pasangan-pasangan dan berusaha menyerupai orang-orang di sekitar saya. Mereka hebat-hebat, sudah lama saya tahu itu. Sebagian besar kawan-kawan saya ini sudah menikah dan berkeluarga.

Apakah menikah itu sungguh-sungguh sebuah penjara, sebagaimana pikiran itu hidup di kepala saya. Rasanya tidak juga. Tak masuk akal menang, jika pikiran itu bisa menempel di pikiran saya. Kawan-kawan saya yang sudah berkeluarga misalnya, saya lihat sangat pas dan klop. Sebut saja Dahlia dan Sunlie (tentu nama sebenarnya), mereka pasangan yang selalu riang dan seperti pengantin baru. Mereka masih suka berdua-dua, maklum saja mereka memang cuma berdua. Maksud saya belum punya momongan. Bahagia. Fantastis, pikir saya.

Ada juga pasangan Mahwi dan Erna (lagi-lagi nama sebenarnya), meski sudah punya anak, saya melihat mereka masih seperti pacaran. Ira dan Ipur, mereka juga tetap punya aktivitas. Muchlish dan Zizi, Jusuf dan Mifta. Belum lagi yetti Aka dan Bang Sondri, Faiz dan  Agnes. Aduhh... Lalu apa sebenarnya yang menjadi soal bagi saya soal pernikahan? Jika saya runut lagi ada sederet nama yang memiliki keluarga namun ia tampak demikian merindukan rumah.

Saya percaya pasangan-pasangan bahagia itu bukan tak memiliki masalah. Kepercayaan saya, mereka selalu punya cara menyelesaikannya. Dan memang selesai, meskipun masalah baru akan selalu ada. Masalah itu kan seperti rumput, dipotong ya dia bakal tumbuh lagi.

Tadi saya membaca Kompas yang membahas pilem Mata tertutup karya Garin nugroho. Saya baca nama Eka dan Iman, eh Roman di sana. “Hebat ya mereka, bisa main pilem bareng-bareng…” Saya tahu mereka adalah sepasang anak muda yang sedang pacaran dan membagi kebahagiaan di mana-mana. Dulu saya mungkin pernah begitu juga. Namun mereka jauh lebih serius ketimbang saya.

Bagi saya melihat kekompakan pasangan lebih ideal adalah ketika mereka sudah menikah. Teman-teman yang tadi sudah saya sebutkan misalnya. Anda sendiri mungkin akan punya daftar panjang tentang pasangan ideal di sekitar anda. Tapi bukan tak mungkin juga mereka yang masih pacaran memberikan inspirasi bagi saya.

Pacaran. Uh, makin mencemaskan saja bagi saya. Saya memiliki mimpi yang macam-macam dengan pasangan saya. Pasangan saya pun pasti punya mimpi yang macam-macam pula. Hubungan macam itu, meskipun bisa saja hilang tanpa bekas, tapi kenangannya kan selalu saja hidup. saya selalu senang melihat teman-teman saya dengan pasangan mereka, meskipun beberapa sudah berganti. Tak apa. Namanya juga masa percobaan. Saya suka Eka dan Simbah, Kiting dan Dhini, Romi dan Adek, Esha dan Dhini, Stanis dan Ira. Dulu, duluuuu…. Sekali ada Fahmi dan Indah.

Dan tentu juga saya. Eh, maksudnya, kami.

Saya benar-benar bingung sedang membicarakan apa. Bah!  Jadi Nobita bagi Sizuka kurasa pilihan paling bijak ketimbang jadi Romeonya Juliet.

November 2011

 

8 komentar:

M. Faizi mengatakan...

Segera masuklah ke dalam, dan kamu akan menemukan sesuatu itu, sesuatu yang tidak ada di luar. Mari, Koto. kamu pilih ya.. saya sebutkan nama-nama

:-)

kuli Pelabuhan mengatakan...

Itulah. ketika saya siap menuju, yang dituju itu yang tak ada. mungkin ki Faizi punya bayangan, santri misalnya? *ngarep*

sheila mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
artika maya mengatakan...

kata kuncinya ya mencari, mencari sampai dapat. hehehe..

selamat berjuang ya ^^
tar klo nikah, undang2 saia.

Kuli Pelabuhan mengatakan...

Hai Sheilla: hehehehe... keren, pengen bikin novel keren buat Sheilla ah>>

Artika: Heran deh, padahal tulisan ini mau memuji2, kok jatuhnya malah curhat ya?

artika maya mengatakan...

muji2 nya jg dapet kok, curhatnya apalagi, hehe..

eniwei, silakan kirim novelnya ke kami (sheila) ^^

Titos du Polo mengatakan...

Saya kulinya M. Faizi dan sudah mendapatkan pasangan. Terima kasih. Salam untuk mas Indrian Koto. Calon masih belum ada jika buru-buru karena antrian masih agak panjang, banyak peminat rupanya :-)

kuli Pelabuhan mengatakan...

Artika Maya: Horee... sebenarnya pengen curhat lebih banyak. hihihihi...

Wah, ane mau bikin novel yang bikin orang ngakak sampai pingsan dan nangis sampai guling2...


Titos: wah, besok kalau ane sampai madura diajak jalan2 ya??? hehe