28 Nov 2011

Apresiasi Terhadap Sastra(wan)



Ekspresi kemarahan masih terpancar di wajah teman saya ini. Ia merasa benar-benar gondok dan dibodohi. Ia baru saja diundang menjadi pengisi acara di sebuah kampus yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga kebudayaan. Bungkusan bermotif batuk kenang-kenangan dari panitia tersandar di sudut rak bukunya.

“Saya hanya diberi sebuah buku dan sertifikat sebagai pembicara,” ujarnya masih dengan ekspresi kemarahan. Saya bisa memaklumi kemarahan saya ini. Pasalnya, ia diundang secara resmi oleh lembaga tersebut untuk menjadi salah seorang pengisi acara bersama dua narasumber lain. Undangan itu bersifat formal, dan terlihat begitu profesional. Mereka mengirimkan proposal dan meminta kesediaan teman saya membikin makalah. “Saya memang tak membuat makalah. Tapi saya lihat makalah Afrizal Malna demikian tebal dan tentu digarap dengan serius.”

Kemarahan teman saya itu bermula ketika acara selesai. Panitia memberinya kenang-kenangan dalam tas kertas bermotif batik tadi. Sampai di rumah, ia tak menemukan apa-apa selain sebuah buku dan sertifikat tadi. “Memangnya saya mahasiswa atau guru yang butuh sertifikasi!” Makinya.

Ia mengontak panitia dan memastikan bahwa tidak ada yang tercecer. Panitia mengatakan memang untuk semua pembicara hanya disediakan hadiah yang sama. Lalu honor? “Tidak ada honor. Kami memang belum bisa memberikan honorarium untuk setiap pembicara kami,” kata teman saya menirukan laporan panitia tadi.

“Saya merasa ditipu,” kata teman saya. “Dan ini bukan perkara uang.” Ia kembali menceritakan, seorang Afrizal yang datang naik taksi ke acara tersebut, menyiapkan makalah dengan serius lalu terlibat diskusi yang berkepanjangan. “Saya marah untuk Afrizal. Seorang Afrizal dengan sertifikat, kau bayangkan! Jika mereka bicara dari awal bahwa tidak punya dana, saya akan mengerti. Siapa yang menyangka acara yang digarap dengan baik dan rapi itu ternyata tidak menyediakan honor satu persen pun untuk pembicara. Untuk diketahui, diskusi ini diselenggarakan untuk yang kelima kalinya dan berjalan setiap bulan.”

Panitia menjanjikan akan mencoba menyelesaikan ini. Mereka akan mengontak Afrizal dan meminta nomor rekening teman saya itu.

Teman saya benar. Ini tentu bukan perkara uang. “Jika sikap mereka ke semua pembicara macam ini, saya yakin hampir semua mereka merasa kecewa. Cuma untuk ribut-ribut soal ini mereka merasa tak enak. Tapi tak bisa terus-terusan mereka begini. Ini sama saja melakukan pengkhianatan intelektual.”

Pengkhianatan intelektual, tentu tak hanya teman saya saja yang mengalami hal ini. Saya juga mendapat beberapa cerita mengenai kasus macam ini. Dan ini bukan lagi rahasia. Ada banyak sastrawan mengalaminya. Mereka diminta menjadi pembicara dan juri dalam sebuah acara sastra dan budaya, pulang diberi hadiah-hadiah “yang tak diinginkan”.

“Yang paling parah adalah, seringkali ini dilakukan oleh lembaga resmi. Kampus sastra yang seharusnya memberikan apresiasi terhadap sastrawan malah lebih sering tidak menghargai sastrawan,” kata salah satu cerpenis senior bercerita suatu malam. “Bahkan itu untuk acara yang serius, di mana peserta membayar dengan iming-iming sertifikat.”

Kalau pun dibayar, kata cerpenis ini, kadang tidak dengan semestinya. “Saya pernah mengembalikan aplop dari panitia sebuah kampus yang bikin acara seminar dengan peserta berbayar macam itu.” Katanya. Bahkan, katanya, seorang temannya yang juga sastrawan di Jakarta mengalami nasib yang lebih menyedihkan.

“Sebuah lembaga pemerintah mengundang dia. Ia berbicara hampir dua jam dan dibayar 200 ribuan. Perhitungan lembaga pusat itu, pembicara dihitung seperti dosen yang mengajar di kelas. Per pertemuan dihitung dua jam pelajaran. Untuk satu jamnya honor 75 ribu.” Ia tertawa miris. “Di acara yang sama, di sela-sela diskusi diundang seorang pelawak yang mengisi tak lebih dari setengah jam dengan bayaran tak kurang dari 15 juta.”

Sekali lagi ini tentu bukan persoalan uang. Kasus teman saya yang pertama dan cerita yang disampaikan oleh cerpenis senior ini memang sudah menjadi pembicaraan di antara kami juga. Beberapa kejadian semacam ini terus bergulir. Acara-acara formal yang diselenggarakan dengan serius kadang menyisakan soal kecil: tak ada honor untuk pembicara. Tuntutan mereka yang merasa “ditipu” ini sederhana, seharusnya dijelaskan dari awal.

“Ini berbeda dengan acara komunitas, tempat silaturahmi berlangsung dan kita bisa mengerti kondisi panitia. Tapi ini bukan diskusi dan bedah buku yang dibuat di kedai kopi, atau pojok kampus,” kata teman saya yang hampir sama dengan yang diungkapkan cerpenis di atas. Artinya, tempat, waktu dan siapa penyelenggara tentu menjadi salah satu pertimbangan seseorang untuk mau hadir di sebuah kegiatan tertentu.

Kenyataan ini jelas semacam pukulan bagi saya.  Seringkali ketika membikins ebuah diskusi sastra, saya dan kawan-kawan hanya memberikan ucapan terima kasih dan terus demikian. Apakah ini tidak seperti memanfaatkan seseorang dan mengkhianatan secara intelektual? Apakah memang selesai dengan ucapan terima kasih? Di Yogya sebagai contoh, kegiatan-kegiatan diskusi sastra dan pembacaan karya pembicara dan pengisi acara hampir tak pernah dibayar.   

 Inilah kenyataan kita saat ini. Peristiwa semacam ini bisa terjadi di mana, kapan dan oleh siapa saja. Ini tentu tak sekedar soal kekecewaan apalagi—lagi-lagi—soal uang. Persoalan utamanya adalah komunikasi dari awal. “Jika dijelaskan dari awal orang bisa paham. Lagi pula, kita bisa tahu kapan dan dalam kondisi apa honor mesti diberikan ke pembicara.” 

Kita menjadi terbiasa dengan itu. Omongan teman saya yang lain menjadi benar ketika berkata suatu kali: “Sudah saatnya kita mulai menghargai pembicara dan pengisi acara. Jika pelaku sastra tak menghargai sastrawannya, bagaimana orang lain bisa menghargai kita?”

Saya teringat beberapa pertunjukan teater yang memakai tiket. Kami sering menghindari ini. Kalimat seorang teman yang merupakan aktor potensial membuat saya berpikir ulang: "Upaya pelaku teater untuk mencoba menghargai pertunjukan. Harus dimulai dari dalam."Ya, menghargai dan memulai dari dalam.

Saya rasa ia benar. Saya tiba-tiba merasa berdosa. Jangan-jangan kebiasaan akan ucapan terima kasih ini kemudian menjalar ke kampus-kampus sehingga pembicara dengan makalah tebal pun pada akhirnya cuma mendapat ucapan terima kasih.  Saya betul-betul dibuat gelisah.

Tulisan ini tidak berniat menghina lembaga, atau kelompok mana pun. Ini menjadi tawaran saya untuk berembug bersama. Berdialog soal ini mungkin akan sangat diperlukan sekarang. Apa yang saya tulis ini hanya pemantik. Mari berdiskusi, mari saling mengingatkan.

6 komentar:

M. Faizi mengatakan...

Komentar pertama: saya mau baca, kok disuruh mendengarkan lagu? Piye iki, Cah? hehehehe....

M. Faizi mengatakan...

Selanjutnya:

pengalaman seperti itu saya pastikan pernah dialamai oleh hampir semua penyair/sastrawan, tetapi tidak semua pemakalah. Mengapa, kadang panitia menganggap penyair/sastrawan itu tidak perlu banyak modal buat makalah. kaco nih.

Saya pernah mengalami hal semacam ini. Eits, bukan pernah, tapi sering. Yang hebat adalah dengan sebuah undangan dengan jarak tempuh 350-an kilometer pergi pulang dan hanya... maaf, hanya dapat nasi bungkus. Aduh, andai dari awal bilang kalau honor hanya nasi bungkus, mungkin saya akan pergi naik bis dan tidak makan banyak di rumah :)

Koto, saya punya cerita banyak tentang ini, bahkan sudah jadi sebuah tulisan tersendiri. Sayangnya, kamu lebih dulu menuliskannya untukku...

artika maya mengatakan...

saya pikir para sastrawan, apakah ini untuk acara seminar atau apapun, sebaiknya dari awal menanyakan apa saja yg menjadi hak dan tanggung jawab mrka dalam acara tsb. sastrawan jg kan artis di dunianya, hanya sj banyak pihak yg belum sadar akan hal ini. dan setiap artis berhak dibayar ketika diundang utk mengisi acara.

saya pernah jd pembicara di kampus utk acara penulisan kreatif pesertanya anak maba dan panitianya para adik tingkat saya. ajaibnya mereka memberi saya amplop yg ketika itu saya tolak mati-matian. krn sy pribadi memandang acara itu semacam bincang2 sj dgn teman2 maba.

logikanya sih utk acara apapun mrka berhak dibayar, tentang besar kecilnya tergantung bgm perhelatan acara tsb.

kuli Pelabuhan mengatakan...

Ki Faizi dan Artika Maya, dua komentator yang selalu dasyat dan memancing saya untuk terus ngeblog. Terima kasih atas bagi pengalamannya. Wah, wah, saya bingung mau berkomentar apa sekarang ini. hehhehe...

Ini cuma sekedar curhat saja kok :-)

Simbah mengatakan...

Wah, komentator-komentatornya sudah punya pengalaman yang sama dengan yang diceritakan. Saya belum pernah. Lha wong ngomong biasa saja susah, apalagi ngomong di depan orang banyak. :D

ANDY SRI WAHYUDI mengatakan...

sadezecseorang aktor adalah orang yang berakting di atas panggung dengan mendapat honor secara propesionaL. lalu bagaimana dengan aktor yang berakting di atas panggung tapi tidak mendapat honor? tentu saja ia masih seorang aktor tapi aktor siaL! (kata mas PanjuL) khihihii...geli deh...koto...