19 Sep 2011

Filosofi Kamar Kos



Aku selalu mengatakan dan setengah memaksa kawan-lawan untuk percaya kalimat sakti yang kukarang-karang ini: “kosmu adalah kepribadianmu.” Hem, maksudku bukan soal kerapian dan bagaimana menata isinya. Justru itu paling bisa dipakai untuk melihat kepribadian. Misal, kalau kamar kosmu bentuknya seperti kamar kosku, dengan sekejap mata bisa dipastikan kau adalah orang pemalas. Bantal yang bau, sarungnya gak pernah dicuci, debu dan sampah di mana-mana, pakaian menumpuk dan jadi sarang nyamuk, gelas kopi bertebaran sudah cukup dijadikan alasan untuk memberikan dakwaan kepadamu: Pemalas.

            Sebenarnya ke teman-teman aku gak pernah mengatakan yang itu. Aku tidak mau mereka menilaiku pemalas, meskipun seluruh teman-temanku yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki itu sudah sangat tahu bahwa aku ini orangnya pemalas. Tapi aku kan ceritanya orang yang egois, jadi tak akan membicarakan hubungan kepribadian dengan dalemnya kamar. Gengsi dong mengakuinya.
            Nah kepada teman-teman ini, aku mengatakan, “kebiasaanmu berpindah-pindah kos menentukan karaktermu.” Sederhana saja logikanya, kalau kamu suka pindah-pindah kos, berarti kamu orang yang enggak setia dan pembosan. Itu uuga berhubungan dengan pasangan. Tentu saja Irwan Bajang (karena permintaannya dengan mengiba-hiba saya link deh. Gratis bung, gak usah disogok), temanku yang mengurus percetakan buku itu yang jadi mangkel mendengarnya. Bagaimana tidak, dalam setahun saja dia bisa pindah kos tiga kali. Belum sempat aku main ke kosnya yang satu, eh dia sudah pindah pula ke kos yang lain. Ditambah lagi dengan kenyataan dia orang yang sangat setia dengan pacarnya, si Yayas. Dari dulu, setau saya ituuu aja pacarnya. Jadi analisaku sebenarnya sudah jelas-jelas salah.
            Sayangnya, ya itu tadi, aku sudah ditakdirkan jadi orang yang egois sehingga terus-terusan memaksa teman-teman mempercayai bahwa kebiasaanmu kos menentukan kepribadian seseorang. Kiting, temanku yang keriting itu mesem-mesem saja ketika saya mengatakan itu padanya. Ceritanya, itu adalah pertahanan terakhir saya untuk memaksanya tetap tinggal kos di tempat yang lama, berhadapan pintu kamar denganku. Posisi yang betul-betul menguntungkan buatku dan apes buat bocah itu. Aku dengan sesuka hati masuk ke kamarnya, mengambil air minumnya, mencuri receh yang dikumpulkan, mencomot roti untuk bekal dia (dulu) sebelum kerja. Kepergiannya jelaslah sebuah kiamat kecil untukku, tapi berkah tak terhingga baginya. Apa boleh buat, kalimat filosofisku sudah tak bermakna untuk menahan dia.
            Kiting tetap pergi dan berpesan, “jangan percaya kalau kebiasaan pindah-pindah kos itu bagian dari karakter.”
“Situ kan suka pindah-pindah kos, seperti situ sama cewek.” Kataku.
            “Enggak To, kan kita sudah sejak 2006 sudah bareng-bareng. Jadi, saya setia,” kata Kiting memelas. “Sangking setianya saya, sampai seusia ini saya enggak mau pacaran.”
            “Tapi situ suka memainkan perasaan perempuan. Situ deketin, habis itu situ tinggalin.”
            Dia diam, pintu dikunci dan tinggallah saya sendiri, Sampai kini.
            Syukur alhamdulillah, setelah hampir setengah tahun dia pindah badannya tampak semakin sehat dan agak segar. Bahkan punya pacar pula. Dan syukurnya lagi, aku masih tetap hidup hingga kini dan tetap tinggal di kos yang itu juga.
            Selama di Yogya, menurut keyakinan pribadiku sendiri nih, aku adalah orang yang jarang sekali pindah-pindah. Awalnya aku tinggal hampir dua tahun di Sewon. Karena kampus jauh aku numpang pula di kos Ucup dan Mahwi di Nologaten beberapa bulan lamanya. Pada akhirnya aku kos bareng mereka. pilihan itu sungguh sebuah keterpaksaan, karena sudah tak berani masuk ke kamar mandi kalau ibu dan bapak kosnya kebetulan lagi di dapur. Untuk menjaga-jaga tak diusir, aku titip pesan sama Ucup, kalau nanti aku punya uang, aku akan kos di sana.
            Benarlah adanya, aku kos di sana. Kamarnya besar tetapi pengap. Aku tak sendirian, untuk urusan kos enam bulan itu, sengaja kugandeng Da Hen, kakak sepupuku untuk melunasi lebih dari separoh uang kos. Kami tinggal di sana. Berbagi kasur tipisnya, berbagi rak buku dan berbagi isi dompetnya.
            Aku pindah setelah gempa. Kebetulan pula teman-teman ingin punya kontrakan. Aku menggandeng Ucup, takut dia terpengaruh Mahwi yang akhirnya menikah (sialnya Ucup pun sudah punya anak sekarang), dan kawan-kawan lainnya untuk mengontrak rumah enam kamar di sekitar kali Gajah Wong. Begitu melihat tempat ini aku jatuh cinta. Biasalah, aku suka begitu. Padahal kamar mandinya jelek, kakusnya seperti sarang penunggu Jogja. Awalnya kami cuma bertiga, Aku, Ucup dan Ridwan. Lama sekali kamar yang enam biji itu baru terisi semua. Itu problem juga bagi kami. Problem terbesar adalah mengangsur uang kontakan yang enam juta itu, tentu saja. Nyaris saja kami diusir. Pak kos mana yang sudi menyewakan kembali kontrakan yang tak dibayar-bayar.
            Kebetulan, bulan-bulan terakhir Kiting ini tinggal bersama kami, jadilah dia yang mencari tempat kos baru. Teman-teman lain sama paniknya dengan kami, di mana akan tinggal setelah ini. Kiting menemukan tempat di Sapen, tempat si Daeng bertahun-tahun tinggal di sana. Awalnya aku dan Kiting sekamar berdua di kamar sempit itu. Rumah itu hanya ada lima kamar saja. Beruntung ketika teman di depan kami pindah, aku menggantikan posisinya hingga kini. Kamar yang hingga Kiting pergi baru kusadari adalah sebuah kamar yang gelap, pengap dan lembab.
            Sebenarnya, kalau dipikir-pikir bukan soal kepribadian itu yang membuatku memaksakan diri tetap tinggal di sini. Selain urusan teknis, hal itu juga dikarenakan aku orangnya malas. Malas pindah-pindah, malas beres-beres, malas bertemu tempat baru. Ditambah lagi, kos di sini lumayan murah dan kita lebih merdeka.
Tapi aku tetap memaksa kalian untuk percaya, “kebiasaan pindah kos, mencerminkan kepribadian seseorang” agar keberadaan saya di sini menjadi lebih filosofis dan terkesan gagah. Tapi soal isi kamar dan kepribadian, jangan diambil dulu ya? Mungkin suatu saat aku belajar mengakuinya.

17 September 2011

6 komentar:

Rengga Kandha mengatakan...

hahaha.. si bajang emang tukang pindah kos. itu betul bung..tidak salah. dia selalu cari suasana. gitu katanya

kuli Pelabuhan mengatakan...

Renggo: doi betul2 sialan. Baru di kontrakan terakhir inilah akhirnyadia bisa tahan lebih lama. Bukan cari suasana, tapi memperhatikan jendela tetangga mungkin tuh..

Irwan Bajang mengatakan...

nama saya pertama dipakai, kok nggak dipasangkan link ke blog baru saya? http://irwanbajang.com yang keren itu? wah, sia2 donk dirimu belajar memasang link di posting. tapi ya sudahlah, nggak apa2, banyak tuduhan memang terarah padaku, tapi biasa tuduhan ini asersif dan susah dibuktikan, (meminjam istilah yang sering dipakai Dea)

Oh ya, Btw kapan kita syawalan di kosmu yang unyu itu bung?

kuli Pelabuhan mengatakan...

Irwan: astaga lupa bung buat ngelink situ. Soalnya link di sini bayartnya 500 ribu perlink. untuk situ, mumpung promo dan blog situ juga baru promo ane kasih gratis deh. kabarin teman2 ya, untuk ngiklan link di sini. hahahha

Sebelum syawalan di kosku yang keren dan manis ini bagaimana kalau desain kerenku di komputermtentang jual buku sastra situ kirimkan dulu..

maya mengatakan...

jd klo diperatiin km orgnya setia tapi pemalas ya.

itu according ke kalimat sakti yg kamu karang2 loh ya.
btw, tulisan ini kocak, menurutku.

Kuli Pelabuhan mengatakan...

Mbak Maya: itu benar. sangat benar dan tidak dikarang-karang. Ah, semoga terus setia dan tidak pemalas lagi. Semoga bisa makin kocak tapi ada isinya. Jangan lupa terus berkunjung ya?