12 Agt 2011

Tentang Pilem Indonesia Silahkan Tonton dan Nilai Sendiri

1. Bintang Kejora (1986) 

JUDUL FILM        : BINTANG KEJORA
SUTRADARA       : CHAIRUL UMAM
PRODUKSI           : PT. ARIYO SAKANUSA FILM
PRODUSER          : ISMED D TAHIR
TAHUN PROD    : 1986
JENIS                     : FILM DRAMA KOMEDI
PEMAIN               :  EL MANIK, RINI S BONO, MANG UDEL, IKRANEGARA, RONNY M TOHA, PAUL POLLI, AMI PRIYONO, NETTY HERAWATI, MANG DIMAN

    Tentang film Indonesia yang satu ini membuat saya agak terkaget-kaget. Dahlia (Rini S. Bono) gadis kampung yang tomboy itu tak laki-laku. Semua keluarga cemas akan nasibnya. Sampai datanglah si penipu keliling itu dengan beragam profesinya (El Manik): Si Bintang Kejora. Udah, begitu aja.



2. Dia Bukan Bayiku 
 
    Film ini digarap di Malaysia akhir tahun 80-an. Berkisah tentang suami istri yang dimainkan Rano Karno dan Marisa Haque yang ternyata anaknya tertukar ketika melahirkan di rumah sakit. Si bayi ini harus di operasi, tapi pihak rumah sakit mengharapkan persetujuan dari orang yang diduga orang tua aslinya.
    Cerita tentu berpusing-pusing di soal membujuk si orangtua asli untuk mau menengok anaknya. Lalu, sebagaimana gaya pilem kita, ditutup dengan sedikit kemudahan. Demikian.

3. Puspa Indah taman Hati (1979)

 
  

JUDUL FILM        : PUSPA INDAH TAMAN HATI
SUTRADARA       : ARIZAL
PRODUKSI           : PT. TIGA SINAR MUTIARA  FILM
PRODUSER          : TOMMI INDRA
TAHUN PROD    : 1979
JENIS                     : FILM DRAMA
PEMAIN               : RANO KARNO, YESSY GUSMAN, IIS SUGIANTO, SOEKARNO M. NOOR, NANI WIJAYA, DEWI IRAWAN, KAHARUDDIN SYAH, CHRISYE, PONG HARYATMO, TINO KARNO

 Ini lanjutan Gita Cinta dari SMA yang memperkenalkan nama Ratna-Galih itu lo.
    Kali ini kisah Galih dengan Marlina mahasiswa baru yang cantik dan anak orang kaya pula.  Rasanya seperti pilem musikal. Dan kita bisa melihat Yogyakarta di puluhan tahun lampau. Tidak seperti kebanyakan FTV yang banyak mengambil latar di Yogya, tampilan Yogya beberapa menit di pilem ini membuat saya menjadi begitu tua, seakan memiliki kenangan di masa yang jauh itu.
    Dwilogi ini sepertinya cukup populer di zamannya, demikian juga lagu-lagu yang dinyanyikan sepanjang pilem. Kehidupan penyanyi di masa yang hanya didominasi TVRI tentu saja berbeda dengan penyanyi saat ini. Sebagai perbandingan bisa pula kita lihat Cinta 2 hati. 

     Di Puspa Indah taman Hati diceritakan Ratna yang sudah menikah tapi suaminya menikah lagi. Jelas ia tak bahagia. Begitulah. Sementara Marlina di Jakarta terus saja ngambeg. Apa yang akan Galih—si penyanyi terkenal itu, yang lagu-lagunya dinyanyikan oleh Chrisye itu—lakukan berikutnya?
    Saran saya sih tentang film Indonesia yang satu ini sih, nonton.


4. Cinta 2 Hati


 
    

Production Company: Wanna B Pictures
Genre: Drama/ Comedy
Director: Benni Setiawan
Starring: Afgan, Olivia Jensen, Tika Putri, Deddy Mizwar, Dalton, Jaja Mihardja, Ayu Diah Pasha, Jody Sumantri, Roy Tobing, Dwi Yan
Length: 105 mins
Date of release: 1st April, 2010 

Afgan main film bo. Gimana aktingnya? Gimana ceritanya? Yang pasti nyanyi-nyanyilah, apalagi coba.
    Gayanya tentu seperti pilem Rhoma Irama. Perjalanan karir seorang Alfa, eh Afgan dan liku-liku hidupnya dan cinta. Si Alfa dicintai oleh dua cewek. Tentu yang satu mesti mengalah dan harus berakhir perih.


5. Queen Bee (2009)

 
    Apa hubungan paku dengan kepala negara?
    Bukan, bukan. Itu gak penting. Tidak pula terlalu penting kisah-kisah populer lainnya. Hal yang paling utama dan paling menonjol dalam Queen Bee sebenarnya adalah: “Berikan kepercayaan kepada anak muda untuk berbuat sesuatu untuk bangsanya.”
    Yup. Jika saja saya tidak melihat ada keterkaitan ini dengan seluruh rangkaian pilem yang diproduksi tahun 2009 ini, pasti di bagian-bagian awal cerita saya menyerah. Menilik kehidupan calon presiden dan keluarganya dan problematika sehari-harinya tentu tidak sederhana untuk bisa ditampilkan dalam sebuah pilem yang ditujukan dan sedang berbicara untuk generasi muda.
    Kisah berat yang ditampilkan dalam sajian populer tentu tidak membuat nyaman semua orang. Setidaknya pilem ini menyuguhkan hal lain. Menyuguhkan sesuatu yang berbeda dan berbicara dunia anak muda dalam ranah yang sebenar-benarnya. Jadi, Queen Bee harus diberi kepercayaan. Ia berbicara soal nasionalisme tidak dengan bentuk-bentuk yang vulgar. Kita percaya, perubahan terletak di bahu anak-anak muda. Merdeka!

6. I Know What You Did On Facebook (2010)


Directed by Awi Suryadi  

Produced by Shankar RS
Written by Alberthiene Indah, Adithya Adji, Awi Suryadi
Starring Fanny Fabriana, Edo Borne, Kimi Jayanti, Agastya Kandou, Yama Carlos, Imelda Therinne, Restu Sinaga, Fikri Ramadhan
Music by Ricky Lionardi 
Cinematography Roby Herbi  
Editing by Ramatyo Wicaksono  
Studio Sisterbros Nationtainment/Digital Film Maker
Running time 90 minutes

    Saya kira bicara tentang film Indoneisa, I Know What You Did On Facebook ini bisa menjadi titik berangkat kita jika mau memperbaiki mutu film kita ke depan. Semua sudah komplit ditampilkan. Memberikan pesan moral, tapi tidak mesti membawa-bawa nama tuhan apalagi dengan gaya tragis, perjuangan yang membabi-buta. Dia punya unsur komedi, tapi tidak sekedar lelucon klasik. Ada adegan ciuman, buka baju kayak film-film kita sekarang, tapi semua pas pada tempatnya. Ada juga teror dan horor, jauh lebih menegangkan dari jenisjenis hantu berbalut kain putih.
    Nanti saya dikira tukang sanjung pula kalau sudah begini. Tapi itulah kenyataannya. Semua sudah pas dengan kadar masing-masing. Cerita menarik dan memancing untuk diikuti sampai akhir. Cara pengambilan gambar dan semacamnya juga sudah tertata.
    Maka, jika kita berangkat dari I Know What You Did On Facebook untuk menata film Indonesia ke depan, tiga atau lima tahun ke depan, saya kira, kita benar-benar mampu menciptakan film yang benar-benar berangkat dari realita masyarakat kita. Tak perlu lagi kita memberi embel-embel kisah nyata. Film ini berjalan lumayan lembut seperti beberapa film Indonesia yang digarap tidak dengan buru-buru. Saya ingin mengatakan, film ini jelas punya ‘cerita’, tidak sekedar mengulang-ulang kisah yang sama dan melulu itu-itu juga. Meski pun demikian, beberapa hal tetap saja menjadi janggal, karena terlalu banyak hal yang ingin dimasukkan, terlalu banyak hal yang ingin dipadatkan.
    I Know What You Did On Facebook, saya kira mampu mempermalukan kawan-kawan seusianya yang dilahirkan di tahun 2010. Meski embel-embel judul tambahan tak perlu lagi dipaksakan atau mengusung soal isu keperawanan. Percaya deh, penonton kita cerdas kok mengambil kesimpulan. So, I like this movie.

7. Ketika Cinta Bertasbih


 
    Soal mahasiswa Indonesia di Mesir? Bertemu dengan teroris? Atua mau lihat bagaimana jadi seorang sastrawan terkenal dengan bukunya yang best seller? Tonton film yang diangkat dari novel Habiburrahman el eh, Kang Abik. Masa gak kenal? Film ini memang dibikin dua seri kok. Sutradaranya Chairul Umam lo. Pemainnya dipilih berdasarkan audisi. Didi Petet dan Deddy Mizwar juga terlibat. Shutingnya di Mesir beneran. Ambisinya jelas, Ayat-ayat Cinta mesti lewat.
    Kualitasnya? Hmm.. saya tak harus menjawabnya, bukan?  
Ciuman sebagai hadiah? Dan bahkan untuk sebuah ciuman harus dibicarakan lewat telepon. Subhalallah. “Ibu bukan hadiah, itu musibah.”
Gara-gara telepon dimatikan jelaslah Eliana anak pak dubes itu marah. Marahnya itu bisa diketahui oleh seluruh mahasiswa di Mesir. Maka berdakwalah Mas Azzam kita di atas bis sepanjang perjalanan Alexandria hingga Kairo.
    Entah alasan apa pula tiba-tiba tokoh kita ini ingin menikah. Hanya karena Pak ali bilang ada cewek yang mau nikah, si Mas Azzam kita langsung datang ke ustadz yang dimainkan oleh Kang Abik kita itu. Kata Mas Azam kita karena firasat dia berniat meminang Ana siapa gitu, yang namanya selalu disebut panjang-panjang itu.
    Di balik itu semua saya jadi kesian sama si Furqon. Kenapa dia jadi begitu menderita ya? Sudah dulu aja. Nanti saya diomeli kalau nulis ini terlalu banyak. Saya tak bisa lagi berkomentar tentang film Indonesia yang satu ini.

8. Alangkah Lucunya (Negeri Ini)


 
    Saya kira tak perlu lagi diceritakan jalan cerita tentang film Indonesia yang satu ini. Pembicaraan soal film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) sudah bergaung mengalahkan filmnya sendiri. Pemainnya sudah bermain maksimal dan keren. Namun bolehkah kita membicarakan “karakter” dan kecenderungan Oom Deeddy Mizwar atas kritik-kritik sosial di dalam filmnya? Saya rasa iya. Dengan orang-orang di belakang layar, para pemain yang sudah sangat luar biasa, dengan sponsor yang nempel di sana sini, film ini seharusnya bisa berbicara lebih dalam lagi, lebih kuat lagi. Kritik-kritik sosial yang vulgar seharusnya bisa diminimalisir. Fokus cerita pada anak-anak jalanan yang mencopet sudah sangat bagus, tapi masa ia demi pesan moral harus mengorbankan logika dan kecenderungan umum?
    Kita memang membutuhkan film-film yang berisi, namun sekiranya isinya itu bisa ditata dengan baik, ditata sedemikian manis, betapa dia akan menjadi sangat hebat. Idealisme, kritik sosial, agama, nasionalisme, dipadukan dengan jalinan cerita yang apik dan logis, akan semakin mempercantik dan menggugah selera siapa saja.
“Adalah itu pendapat saya yang adalah bisa salah.”    

9. Laskar pemimpi (2010)


Jenis Film Comedy, Musical, Perang
Pemain Project Pop, Dwi Sasono, Shanty, Gading Marten, T Rifnu Wikana, Masayu Anastasia, Marcell Siahaan, Candil
Sutradara Monty Tiwa
Penulis Eric Tiwa, Monty Tiwa
Produser Chand Parwez Servia
Pt. Kharisma Starvision Plus.

    Tentang film  Indonesia yang disutradarai oleh Monty Tiwa ini mengambil setting tahun 1948 dengan latar peristiwa di Yogyakarta. Barangkali film ini ingin dikenang sebagai new Naga Bonar yang mengambil peristiwa perang dan memadukannya dengan konsep komedi.
    Projek Pop didaulat sebagai pameran utama ditambah beberapa artis kawakan lainnya sebagai nilai jual komedi ini.  Anggota pasukan Kapten Hadi (Gading Martin) yang terdiri dari semua personil Projeck Pop bersama Kopral Jono (Dwi Sasono) yang berasal dari latar budaya dan latar belakang sosial berencana membebaskan ayah, dan pacar mereka yang ditahan Belanda. Sudah kebayang bukan konyolnya latar belakang pembebasan tersebut.
    Di perjalanan mereka juga bertemu dengan Letkol Soeharto yang diperankan oleh Marcell Siahaan yang entah karena apa tokoh ini dimasukkan ke dalam cerita, karena secara garis besar, bagian-bagian ini sebenarnya tidaklah terlalu penting. Dugaan saya sekali lagi, meskipun tidak berniat sebagai film perang, tetapi mereka tetap ingin memunculkan sosok asli dari sejarah kebangsaan kita. Apalagi dengan munculnya T. Wisnu Wikana yang main dalam trilogi Merah Putih nan heboh itu, meski dengan karakternya yang nyaris sama akan tetap mengingatkan penontonnya, setidaknya film ini menjadi alternatif di antara genre horor dan komedi norak dan sensual.
    Kita tetap bisa mengulum senyum melihat Kapten Jono dengan pacarnya Masayu Anastasia, Shanty dengan karakternya yang belakangan selalu perempuan keras dan tangguh. Saya kira, masih okelah, kita tidak terlalu dibikin pusing dan tegang melihat dua kali tokoh-tokoh kita dikepung pasukan KNIL mereka tetap masih bisa menyanyi. Mungkin film ini tak sebesar impiannya, tapi dibanding Merah Putih yang serius dan ambisius, tapi logika ceritanya tak bedah jauh dengan Laskar pemimpi ini.
    Merdeka, dan kukira tiga jempol tidak terlalu mubazir lah. Diproduksi oleh starvision.

10. Kun Faya Kun (2008)


 
    Pilem ini punya potensi untuk menjadi dasyat jika saja pesan utamanya tidak ditampilkan dalam ekspresi yang berlebihan. Kekuatan doa, mungkin itulah amanat terbesar dari mereka yang ada di belakang layar. Pilem dibuka dengan siraman ruhani dan sudah bicara soal persoalan kemanusiaan dan jalan keluar yang masuk akal: berdoa. Oke, mulailah doa berjalan pada keluarga miskin, di mana sang kepala keluarga bekerja sebagai penjual kaca keliling.
    Sungguh menguras tangis melihat betapa perihnya perjalanan si Agus Kuncoro, yang memainkan perannya cukup apik, untuk bisa menjual kaca agar anak-anaknya bisa makan. Si istri yang sabar, diperankan cukup manis oleh mbak Desy ratnasari yang memang manis, tentu menambah-nambah dasyatnya kemasan ini. Kita diajak melihat bahwa uang yang boleh jadi baut kita tidak ada artinya, ternyata begitu penting bagi keluarga ini, dan tentu ada jutaan keluarga yang hidupnya lebih memprihatinkan dari ini.
    Apa maksud dari kemiskinan ini? Tentu saja untuk memperlihatkan betapa tokoh-tokohnya sangat sabar menghadapi itu semua. Jika sudah sabar dan tetap tawakkal dan terus berdoa? Kesuksesan akan datang saudara-saudara. Maka mari tawakkal dan berdoa.
    Saya agak menyesalkan bagian penutup dari pilem ini. Apa daya. Ini pilem dengan siraman ruhani. Pilem yang diberikan sebagai ilustrasi agar kita terus bertaqwa. Kalau sudah begini apa mau dikata. Ya sudahlah!


11. Sang Murabbi (2008)



 
    Orang PKS bikin pilem. Pilem Sang Murabbi ini berceita perjalanan Ust. Rahmad Abdullah yang berjuang di jalan dakwa dengan konsep tarbiyahnya. Subhanallah.

12. Rumah Dara (2010)




 
    Salah satu tentang film Indonesia dengan triller yang agak menarik dan dikemas agak serius. Adegan berdarah-darahnya agak keterlaluan. Sadis dan kejam.

13. Minggu Pagi di Victoria Park (2010)

 
    Saya rasa sudah banyak yang membahas pilem ini. Saya Cuma merasa heran, konflik yang ada dalam film adalah persoalan keluarga, yang sebanrnya bisa juga dikembangkan dengan sangat ruwet, ditutup dengan ending yang agak menjengkelkan. Sudah!

 

1 komentar:

Wahyu Eko Prasetyo mengatakan...

wah, saya juga sedang gemar nonton pilem http://penikmatkopipahit.blogspot.com/2011/08/soal-film-yang-beberapa-hari-ini-saya.html. hanya kelainan hahahahahaha, belajar