27 Agt 2011

Kenang-Kenangan Untuk Amigos Kucing Persia Berbulu Tebal milik saya


Amigos, nama kucing persia berbulu tebal yang saya pelihara 8 bulan belakangan. Jumat, 19 Agustus kemarin dia hilang untuk kedua kalinya, dan kurasa ia tak akan kembali pulang. Sebelumnya dia pernah hilang di bulan april lalu, dan “nyasar” ke rumah tetangga belakang kosku, nyaris selama seminggu. Selama itu pula ia pastinya kurang makan, terkurung dan ketika kembali ke rumah dia tampak begitu stres, terpukul dan ketakutan.

Tetangga kami “menyelamatkan” kucing itu dan nyaris mau berpindah tangan jika saja saya tak jadi menempel pamflet di beberapa tempat di sekitar kampung saya tinggal. Untunglah, tetangga saya yang lain memberitahukan kalau kucing kami ada di rumah tetangga kami yang itu. Saya lega, Amigos, kucing persia saya yang berbulu tebal telah kembali ke rumah. Saya akan menjaganya lebih baik, itu janji saya ketika itu.


Ia tampak lebih kurus, bulunya gimbal-gimbal, garis matanya terlihat jelas dengan kotoran yang bertebaran di wajahnya. Ia nyaris tak mengenali saya dan sensitif pada apa pun. “Kami memandikannya, memberinya makan dan minum susu. Setiap hari kami lepas di ruangan tengah,” jelas tetangga saya itu.

Saya harus menjaganya seharian, karena dia menjadi demikian liar, mencari celah untuk lari. Dia mulai pipis di tiap tempat. Sejak itu pula dia menjadi begitu egois, pipis di setiap tempat, seolah ingin memberi garis batas pada apa dan siapa pun. saya membiarkannya sebagai bentuk permakluman. Dia telah kembali, pikir saya ketika itu.

Saya menyayangi Amigos kucing Persia berbulu tebal itu. saya rasa dia juga menyayangi saya. Kami lebih banyak berinteraksi dengan gaya manusia. Teman dekatnya hanya saya satu-satunya. Kata pacar saya, Amigos tampaknya mengagumi saya sedemikian hebat, karena mengikuti gaya hidup saya yang tidak sehat. Teman-teman saya yang lain mengatakan Amigos saudara kembar saya: pemalas dan suka tidur. Saya hanya ketawa, kurasa Amigos juga demikian.

Amigos mungkin melihat hidup kami seperti kompetisi. Kami sama-sama tidur ketika azan subuh berkumandang. Sebelumnya saya duduk di depan komputer dia sibuk keluar masuk kamar. Kami akan bangun nyaris di waktu yang bersamaan, sore hari. Saya ke kamar mandi, cuci muka, jika sedang baik tentu saja langsung mandi, amigos segera ke tempat minum. Selama saya di kamar mandi, Amigos Kucing Persia berbulu tebal saya itu akan menunggu di depan pintu. Saya keluar dia melompat ke kotak makan. Saya pun demikian setelahnya.

Dia punya beberapa tempat tidur spesial untuk jangka waktu tertentu. Pertama, tempat istirahat yang cukup santai adalah di tumpukan koran rak buku saya. Dia akan tidur di sana sepanjang saya da di kamar dan bekerja di depan komputer. Tempat tidurnya yang kedua adalah kardus buku di atas rak buku. Padahal kalau saja Amigos, kucing persia berbulu tebal, itu tahu kardus tersebut berisi buku sepupu saya yang bicara soal konsep-konsep negara islam, habis si Amigos dilaknat khilafah. Tapi sepupu saya memakluminya, mungkin khilafah juga. Dia akan tidur di sana jika ingin aman dari serangan apa pun. ketika saya lagi banyak tamu di siang hari misalnya, Sementara dia ingin istirahat tanpa mau disentuh. Dan paling sering adalah ketika saya meninggalkan kamar dan Amigos ada di sana. Ketika pulang, pastilah dia sedang mengintip saya dari balik kardus yang sudha reyot dan penuh bulu-bulunya itu.

Tempat tidur ketiganya adalah di lantai di samping kasur saya. Persis di sampaing saya. Dia akan berbaring di sana ketika subuh, ketika saya sedang dan akan istirahat. Aih, seperti seorang kekasih ia menunggu saya di sini ranjang. Tetapi untunglah Amigos kucing lelaki. Temannya teman saya yang punya laundry pernah bilang begini: “Temanmu itu pelihara anjing ya? Kok banyak bulu di seprey?”

Tak sekali pun Amigos kucing persia berbulu tebal saya ini berniat naik ke kasur.

Terakhir ini, sebelum hilang dia punya tempat tidur yang sudah lama diincar-incarnya. Di atas kursi biru yang saya gunakan untuk duduk kalau menulis. Karena kabarnya sayang sedang berencana merampungkan skripsi, komputer saya turunkan dari meja dan saya taoh di meja kecil, agar kutip mengutip berjalan aman. Saya kembali duduk di lantai, Amigos memiliki tempat kekuasaan baru.

Amigos seperti tak rela kursi itu dipakai. Kalau dia sedang di luar kamar dan kebetulan saya duduk di kursi itu ia menatap saya dari pintu kamar. Begitu saya bergerak sedikit saja dari kursi itu, ia berlari sekuat tenaga dan hap… kucing Persia berbulu tebal itu bertengger manis di atas kursi. Pura-pura tidur tentu saja.

Amigos sedang birahi. Padahal, pacar saya bilang dia baru saja punya anak. Empat orang. Setelah hilang di bulan april saya bawa dia ke rumah pacar saya. Di sana banyak kucing perempuan, meskipun masih famili sama Amigos. Tapi pacar saya punya kucing lain. Persia juga meski tidak berbulu lebat. Amigos kawin dengan kucing itu, saya belum berani melihat anak-anak Amigos hingga hari ini. Saya tahu, Amigos meninggalkan anak sebelum pergi, dan meninggalkan sisa pipis di setiap sudut rumah.

Hari terakhir ia di rumah itulah anaknya lahir. Saya bisikkan kepadanya, “Selamat Amigos, kau telah jadi ayah.” Sebagaimana seekor kucing, ia tak pernah merespon kata-kata saya itu. setidaknya saya telah mengatakan kepadanya sebelum dia hilang.

Saya mengenang hari terakhir itu dengan baik. Kami saya-sama terbangun menjelang buka puasa. Kami melakukan rutinitas yang biasa. Yang tak biasa adalah saya keluar dengan motor, berencana ke kantor pos. dasar Amigos, kucing persia berbulu tebal itu tak mau ditinggalkan, ia melompat dan lari ke rumah tetangga saya.

Saya lupa mengatakan kalau Amigos suka bermain di rumah tetangga saya. Di rumah yang hancur karena gempa atau kebakaran setelahnya ada banyak coro dan tikus. Ada banyak rumput yang bisa dipilih Amigos untuk obat herbal. Biasanya ia akan pulang setelah satu sampai dua jam. Tetangga saya itu juga tak pernah mempersoalkannya.

Saya pergi ke kantor pos, sementara Amigos memperhatikan saya dari balik pagar rumah tetangga. Kami bertatapan untuk yang terakhir. Sungguh, saya tak memiliki firasat apa pun saat itu.

Saya merindukan Amigos, kucing persia saya yang berbulu tebal itu. Selalu! 

Tidak ada komentar: