1 Feb 2011

Semacam Catatan Perjalanan tapi Ngawur (1)

(Nyaris) Keliling Sumbar:
“Terjebak” Perjalanan yang Mengasyikkan
Entah bagaimana caranya, saya pada akhirnya “terjebak” pada perjalanan yang tanpa rencana tetapi menyisakan kenangan yang dasyat. Perjalanan ratusan kilo yang tanpa rencana dan memberikan pengalaman luar biasa bagi saya.
            Semula saya berniat ke Padang—kota provinsi kami yang berjarak 120 dari kampung saya, Lansano—dengan mengendarai motor. Saya ingin seperti kawan-kawan dan anak-anak muda lainnya yang kuliah di kota, maupun yang merencanakan sesuatu di kota dengan mengendarai motor. Keinginan itu sudah lama menggelayut di kepala saya.
Seumur-umur saya belum pernah mengendarai motor di kota Padang. Saya membayangkan bisa melewati jalan-jalan tertentu, berhenti di tempat-tempat yang menurut saya punya kenangan tertentu, pindah ke jalan lain atau melaju ke tempat yang dulu sempat membuat saya penasaran. Rasanya sangat menyenangkan. Nah apa salahnya sekarang saya wujudkan keinginan sederhana itu. Lagipula saya baru punya sim. Pengen merasakan berhadapan dengan polisi di jalan dan mengulurkan surat sakti. Hmm… kelak, rencana itu akhirnya terwujud juga, ke kota dan ditangkap polisi dan—lagi-lagi—tetap saja kena tilang.
            Kebetulan Angga, teman saya di kecamatan juga punya rencana ke Padang. Dia ingin bertemu beberapa kawannya di RAPI serta membeli berbagai keperluan elektronika di Blok A, begitu katanya. Blok A ini merupakan kawasan pertokoan di pusat kota tempat penjualan barang-barang elektronik. Dulu waktu STM dan Angga juga kami serig bolak-balik ke sini. Mungkin kami pernah berpapasan, atau sama-sama memperhatikan solder, papan PCB, menawar dioda dan resistor tapi saat itu kami belumlah berkenalan.
Ketika dia bilang mau ke Padang saya senang. “Wah kita bisa bareng-bareng,” kata saya kepadanya. “Tentu saja,” balasnya pula. Aih teknologi, membuat kami gampang sekali berkomunikasi, sekaligus nyaris memutus hubungan kolektif kami.


1. Sebelum berangkat
            Hari yang ditentukan itu tibalah. Kamis pagi tanggal 18 November 2010. Saya dan amak sedang dalam perjalanan dari lading ke rumah ketingga Angga menelepon. “Kita berangkat siang ini. Naik mobil saja,” begitu katanya kepada saya.
            “Wah aku malah berencana naik motor,” balas saya agak kaget. Saya masih membayangkan bisa mengelilingi tempat-tempat yang dulu hanya bisa saya pandang dari angkot yang berlari dengan musik berdebum-debum. Angkot yang dimdifikasi sedemikian rupa, para sopirnya seperti mahasiswa dan terkesan sangat santai. Mereka seperti tengah menghurup udara segar keliling kota ketimbang menjadi sopir. Wajah mereka kalem, kacamata hitam selalu ada, parfum dan pewangi lengkap, speaker besar dengan bas yang membuat penumpang terangguk-angguk tersedia, demikian juga koleksi lagu-lagu Minang maupun lagu-pop Indonesia dan mancanegara. Para sopir angkot kebanyakan seperti pelancong. Penumpangnya pun manja-manja. Mereka suka memilih-milih angkot. Semakin keren bentuk angkotnya, bampernya sampai-sampai nyaris menyentuh tanah, semangkin ramailah penumpangnya. Coretan, lukisan dan tulisan-tulisan, mulai dari yang ngawur hingga serius tertempel di dinding samping angkot hingga kaca belakang. Aku ingin menikmati tempat-tempat itu lagi dan bisa berhenti sesuka hati. Tidak bakal terseat karena jalur sesuai warna, lagi pula di kaca depan tetap saja dipasang jalur akhir perjalanannya, “Labor” misalnya, “Tabing” dan sebagainya. Eh, kok saya malah bercerita soal transportasi segala jadinya. Aduh…
            “Ayolah. Saya juga sendirian. Kemungkinan lain juga kita di jalan terjebak hujan. Mumpung ada mobil nih.” Desak Angga tak mau kalah.
            Saya menelan ludah. Jujur, saya agak takut naik kendaraan umum. Aku tidak terlalu percaya dengan sopirnya yang tampak bersemangat dan membabi-buta memacu kendaraannya di jalan kecil dan berliku. Kalau kau lewat di tempatku baru tahu seperti apa bentuk jalannya. Jalur khusus buat mereka yang tinggal di Sumatera atau bisa jadi Kalimantan dan Sulawesi, asal bukan Jawa sebagai perbandingan. Ih, tidak juga sih. Jalanan yang penuh lubang, dan seperti topi pesulap, apa-apa bisa selalu hadir di tengah jalan: anak kecil, ibu-ibu, kakek-nenek, kucing, kambing, pengendara sepeda, anjing, sapi, ayam, itik, bahkan monyet selalu siap menyeberang. Jika tak awas alamat celakalah ini badan. Dan jalan raya, sepertinya masih merupakan penyebab kematian tertinggi di tempat kami. Bagaimana tidak, sudah jalannya kecil dan tak mulus, belokan yang kadang nyaris tidak masuk akal, jalanan mendaki dan menurun di mana jurang menganga menunggu mangsa, padat, ngebut, pengendara yag tak sabaran dan tak mengenal kata antri dan bla-bla-bla lainnya itulah salah satu penyebabnya. Saya katakana sekali lagi,l jalan semacam ini tak hanya ada di kampung saya saja, jadi tak terlalui istimewa, tetapi NGERI, BUNG!
            Benar juga si Angga, hujan nyaris setiap hari turun di Bulan November 2010 itu seringkali disertai badai hebat. “Sudah berlangsung sejak gempa dan tsunami melanda akhir bulan kemarin,” kata amak (ibu-saya) menjelaskan perihal hujan dan badai. “Katanya, karena masih banyak mayat yang mengapung di lautan.” Hmm.. menurut kepercayaan nih, kalau ada musibah di laut, biasanya alam akan begini. Selama ada yang mengapung, lautan selalu ingin segera mengantarkannya ke tanah tepi. Jadi laut itu ruang yang bersih, membuang semua sampah ke pinggir pantai. Begitu. Nah, beberapa waktu kemarin gempa dan tsunami—lagi-lagi—menghajar mentawai, sumatera Barat. Kabupaten kepulauan itu kembali porak-poranda. Akses mereka juga sangat terbatas, banyak orang hilang di pindahkan ke pantai lain. Selebihnya kau pastilah pernah tahu dan membaca setidaknya. Dans ejak itulah, badai hebat melanda kampung kami. Dan hujan lebat. Kalau sudah begitu, tahu sendirilah PLN akan punya alas an yang masuk akal mematikan aliran listrik. Di hari-hari biasa saja listrik sering mati kok. Tak Cuma siang hari, yang membuat kawan saya Wal Ependri yang punya jasa foto kopi itu mengeluh dan berpikir membeli mesin diesel seperti warga yang lain, di terang bulan pun, ketika langit cerah dan bintang bersinar terang PLN bisa saja membuat es pisang kakak perempuan saya sakit hati di dalam kulkas. Nah soal listrik sering mati ini adalah hal misterius terbesar di kampung kami selain beberapa hal-hal misterius lainnya. Yang paling ajaib dan menakjubkan, penuh mistis dan terkesan agak religius sebagaimana terjadi di tempat lain juga: para gadis tiba-tiba bunting. Ajaib, dan untunglah Yusuf juga ada di sana sehingga bisa menikahi Maria. Begitulah.
            Sampai di mana tadi? Eh ya, saya yang ditelepon Angga ya.
“Tapi aku nanti merepotanmu pula,” sergahku kepada Angga.
            “Ah santai saja. Saya juga punya banyak keperluan. Jadi sekalian saja, mumpung saya lagi pakai mobil teman.”
            Oh begitu. T-tapi… “siapa yang mengendarai?”
            Angga tergelak sebelum kemudian berkata lantang, “Sayalah. Siapa lagi…”
            Saya ikut tergelak juga.
            “Dan kita bisa ajak Komeng dan Anton juga, atau kawan-kawan lain yang ingin ikut,” kataku nyaris bersamaan dengan kalimat Angga.
            Kami tertawa bersama di ujung Hp masing-masing.
            “Jangan ketawa-ketawa saja sambil menelepon. Hati-hati…” Amak mengagetkan saya. Soalnya saya waktu menerima telepon Angga pas lagi bawa motor. Saya barus aja pulang dari ladang yang hampir sebelas tahun kami tinggali. Saya kangen sekali dengan ladang ini. Dan sumpah mati, selama sebulan saya di kampung, ladang yang menjadi salah satu tempat yang harus saya kunjungi itu hanya saya datangi sekali saja. Huh. Saya, dalam imajinasi saya saat ini dan mungkin sampai nanti, kalau misalnya—misalnya loh ini—jadi orang kaya, maksudnya punya banyak uang berlebih, akan bikin rumah di ladang ini. Sebuah istana kecil tempat saya bisa memandang laut dan pulau-pulau jauh, ada pulau Kiabak Ketek (Karabak Ketek) pulau ini ada di googlemap dan googleearth kok, pulau Kiabak Gadang, Pulau Penyu, Gosong Taratak, Gosong Surantih, dan pulau yang jauh di Selatan kami, serta Gunung Rajo juga Teluk Kasai(?). Waw… dalam bayangan saya nanti, saya mau bikin rumah kayu di sini, dua tingkat pula, persis di kepala ladang saya. Hmm.. saya membangun kerajaan kecil saya di sini, setidaknya dalam imajinasi saya. Saya akan membangun jalan yang bisa ditempuh motor, kalau bisa mobil untuk masuk langsung ke ladang. Di sana saya punya perpustakaan, saya bisa menulis lepas 24 jam, ada ajkses internet, ada listrik sendiri jadi saya bisa bebas munyumpahi PLN dan tidak bergantung padanya lagi, punya kawan-kawan yang berkunjung ke sana, punya berapa pondok tempat menginap ada kegiatan untuk anak-anak muda yang entah apa bentuknya. Nantilah saya pikirkan bagian yang itu. Hehehe…
            
             Nah karena saya suka menghayal dan tak kenal tempat, jadi amak menegur saya.
            “Terus pulangnya kapan?” tanyaku pula.
            “Terserah. Besok sore tidak apa-apa. Kita nginap di tempat teman saya. Saya mau ketemuan kawan-kawan di RAPI.” Katanya mengulang sekali lagi agar saya semakin yakin bahwa bersamanya saya akan terlindungi.
            “Tidak,” potong saya cepat. Emang gua cowok apaan. Hehehe… “Aku nginap di teman saja.”
            “Okelah. Gampang diatur,” balas teman saya itu. “Jams etengah satu kita berangkat,” begitu pesannya.
            Lalu tut-tut-tut, bukan bunyi kereta api, di tempat saya Cuma ada kereta api wisata sekarang, itu juga di sana, di kota. Jadi itu tentu suara komunikasi kami yang terputus. Huh, dasar lelaki buaya, main putus-putus saja dia.
            Singkat cerita sampailah saya di rumah. Langsung bergegas ke kamar mandi, cuci muka doang, lalu ganti pakaian. Saya memasukan satu baju ke dalam ransel. Saya harusnya memasukan jaket juga, berhubung saya tak punya jaket, saya ganti dengan sarung. Kebetulan pula Anton datang dan saya…
            Jrengg… Anton, adalah tokoh utama kita bukan ya? Pokoknya dia tokoh dalam perjalanan ini, jadi perlu diperkanalkan dulu.

Anton. Nama panjangnya ANTON. Sudah. Pemuda imut menggemaskan dan berkulit hitam (tapi manis) ini baru berumur, eh… sudah.. eh dia berumur.. astaga.. 25 tahun? KONON PENGAKUANNYA Ia lahir tahun 85, tapi dirapornya ditulis lahir di tahun 86. saya tak tahu kenapa. Semoga dia bukan atlet sepakbola lokal yang kadang-kadang usianya sengaja dikurangi di ijazah dan akta kelahiran (itu pun kalau punya akta), tujuannya tentu saja biar bisa ikut seleksi U 18 misalnya. Pokoknya yang sejenis itulah. Untunglah Anton bukan atlis sepakbola kelas kampung. Nendang bola saja dia sepertinya nyaris tak mampu, bukan apa-apa. Dia seperti saya: Pemalas.
            Nah pemuda yang imut ini sudah menjadi keluarga kami. Dia adik saya, kira-kira begitu. Sebenarnya dia adik temanku yang ibunya adalah teman ibuku, bapaknya juga teman bapakku. Dan anton tentu saja seusia adikku (kalau aku punya adik lo). Fyuh.. susah menceritakannya. Semoga dia tidak marah kalau saya buka rahasia ini kepada anda: dia anak ke empat dari enam bersaudara yang laki-laki semua. Ketika doi kelas lima SD ibunya berangkat ke Malaysia. Begitulah di kampung kami, dan tentu di banyak daerah lainnya, orangtua merantau, dan anak dititip pada keluarga atau kenalan dan tetangga. Tak terlalu dramatis, saya pun pernah mengalaminya. Dan Anton adalah salah satu anak yang masuk dalam kelompok itu. Maka di suatu sore yang mendung, bocah kecil itu tersenyum dengan kikuk di pintu rumah kami. Ia menenteng buku dan pakaiannya. Tempat untuk buku pelajarannya sudah disiapkan. Serta merta dia jadi keluarga di rumah kami. Sampai kini. Meskipun sekarang dia sudah menempati rumahnya kadang-kadang, tetapi rumah kami tetap terbuka untuknya. Selalu. Karena dia adik-beradik adalah keluarga kami.
            Nah tokoh kita ini sebelumnya sudah ikut bertualang bersama kami ke Langgai juga ke Painan. Ah, aku dan kawan-kawan selalu menyebut sesuatu dengan petualangan. Memalukan memang. Anton termasuk salah satu anggota yang pernah ikut bertualang denganku juga, misalnya petualangan ke sebuah bukit yang ada di belakang kampung kami. Bukit yang terlihat sangat mencolok terlihat di hampir semua wilayah kecamatan kami, kecuali Amping Parak. Suatu sore yang bergerimis, kami melakukan petualangan bertiga. Hari itu juga merupakan hari terakhir aku di rumah. Tahun 2004 ketika itu, saat Anton dengan gagah memakai segaram pramuka SMA yang terwariskan secara tidak langsung kepadanya. Dia menyukai seragam itu karena ada nama di saku kanan seragam pramuka yang didesain sangat ketat, ketika yang ketat-ketat masih belum trend waktu itu. Satuhal yang membuat dia terharu dan bangga tentu saja label nama itu: Indrian Toni, tertulis di sana.
            Apa yang membuat dia bangga? Tentu saja nama panjang itu. Dengan begitu nama yang seumur hidup dia sandang cuma ANTON kini bertambah jadi IndriAN TONi. Aih, aih…
            Sebagai bocoran lagi, dia rencananya akan menikahs ekitar bulan Juni 2011 ini. Saya agak menyesali keputusannya, mengingat dia belum memiliki pekerjaan apa pun. Saya tak ingin dia mengikuti jejak yang lain, menikah, membuat anak lalu teronggok kelelahan. Tapi itu keputusan dia dnegan sang pacar Si Jantung Hatinya. Apa mau dikata.
            Demikianlah perkenalan tokoh utama kita.

            Kebetulan pula Anton datang dan saya langsung berteriak dari kamar, “Ntonn.. segera sehabis makan siap-siap ya. Kita ke Padang. Ajak Komeng!”
            Dia tersedak. “K-ke Padang?” ulangnya.
            Bukan soal apa-apa dia tersedak. Pertama dia orang yang suka mabuk. Bukan karena akohol, tapi dia selalu muntah kalau naik kendaraan. Malang sekali dia. Kedua, dia tahu aku orang yang sangat norak dan konyol, tentu dalam hati dia akan berpikir, “kegilaan apa lagi nih…”
            “Siap-siap.” Aku berteriak lagi.
            Dia menghabiskan makan dalam beberapa kali suap. Biar agak dramatis aja kisahnya. Kemudian masuk ke kamar dengan muka basah. Seperti saya, agaknya dia tak perlu mandi.
            “Saya pakai ini saja,” katanya memamerkan baju putih bermerek Welcome Batam. Baju yang  saya beli di Batam itu seperti Dagadu kalau di Yogyakarta, seperti Joger kalau di Bali. Tentu, seperti membeli Dagadu di sepanjang Malioboro dengan harga murah dan tentru palsu, begitu pula dengan baju itu. 100.000 lima potong. Dan Anton tampaknya senang-senang saja memakai baju yang begitu dicuci tulisan WELCOME BATAM dengan tulisan timbul itu langsung menciut.
            Setelah itu dia menghilang.
            Saya selesai berkemas. Begitu saja tas saya penuh dan saya mengangkat ke kursi di teras samping. Matahari menyala-nyala hari itu, seperti mengejek saya, “Weekk gak hujan kok. Enaknya pakai motor kalau ke Padang.”
            Tak apa. Dengan mobil kami bisa berangkat bersama-sama.
            Aku bolak-balik ke kamar ke depan lagi. Angga belum datang, Anton juga belum kelihatan. Harusnya dia datang menjemput Komeng.
            “Kau mau balik ke Jogja hari ini?” Kakak iparku menyapa setelah aku bolak-balik terus.
            “Gak. Cuma mau main ke padang,” balasku.
            Di depan Anton muncul. Komeng berdiri di halaman rumah, berteduh di bawah pohon rambutan. Matanya tampak merah dan mukanya terlihat agak semberawut. Ia memakai kaos bergaris hiru dan putih. Celananya robek di lutut.
            “Aku baru bangun pas Anton datang,” ujar Komeng dengan bibir yang malas bergerak.
            “Sudah makan?” tanyaku.
            “Sudah tadi sedikit. Eh memangnya kita mau ke mana sih?” Tanya Komeng penasaran.
            “Banyak omong kamu. Ikut ajalah,” cercah Anton di belakangku.
            Komeng cengengesan.
            “Pamit gak tadi.”
            “Ndak pakai pamit. Orang rumah senanglah aku pergi. Hari ini tak makan di rumah. Adik-adikku bisa nambah makan dong,”
            Si Komeng memang pintar melucu dan tak pernah marah kalau diejek.
            Dan di depan, sebuah mobil berhenti. Avanza. Beberapa kepala melongok. Aku menyambar tas dan segera pamit. Mobil mencaritempat yang teduh. Angga muncul dari dalam mobil.
            Ibuku berbisik dan dua ponakanku langsung terkikik. Aku mahfum apa yang membuat mereka heran dengan penampilan kawanku ini.
            “Ayo, Meng, Nton..” Aku berteriak.
            “Sudah di dalam mobil woiii..” teriak Anton cengengesan. Komeng terkikik-kikik di sampingnya.
            Kurasa, sebentar lagi Anton akan kehilangan muka lucunya.
            Dari jauh, Yudi (siapakah Yudi?) menatap kami penasaran.
            “Ha banyak sekali barang-barangnya. Untuk apa-ini?” ujarku terkaget-kaget melihat barang-barang di dalam mobil.
            Pemuda itu tersenyum misterius. “Lihat saja nanti. Ini pasti berguna.”
            Kuamati barangnya satu-satu. Anton langsung memejamkan mata begitu pintu mobil ditutup. Komeng menyandar dengan lagak orang kaya.
            Saat itu kami tak sadar apa yang akan terjadi… 
(BERSAMBUNG)
           

1 komentar:

Tentang kuli Pelabuhan mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.