29 Jul 2008

obituari sebuah blog

www.pejalanjauh.com :
Hidup yang (pernah) dipertaruhan dan Tak Menang


Waktu-waktu belakangan ini aku selalu diingatkan pada mati.

Apa itu mati? Bagaimana rasanya mati? Kenapa harus mati?

Sungguh, aku tak nyaman. Dia selalu ada di mana-mana; ketika aku di kamar mandi, saat aku makan, saat di jalan, membolak-balik buku, ketika mencoret sesuatu. Selalu saja, aku merasa seolah-olah apa yang aku lakukan saat ini adalah peristiwa terakhir sebelum maut menjemputku.

Dan aku tak pernah nyaman olehnya. Bukan persoalan tak siap saja. Kupikir lebih dari itu semua. Segalanya berputar-putar. Seperti apa rasanya mati, seperti apa al-maut itu, serupa apakah peristiwa setelah tubuhku selesai berdamai dengan nyawa? Serupa apakah alam itu? Ia sungguh-sungguh adakah? Jangan katakan aku tak percaya pada kitab suci. Kadangkala, kau menyangsikan sesuatu yang kau percayai betul kebenarannya. Semacam ketakutan dan sebentuk kegamanagan.

Dan aku selalu menduga-duga maut yang datang. Bagiku ia sakit, teramat sakit. Setelahnya? Gelapkah? Padamkah semua? Segelap apakah? Apakah aku masih bisa melihat bintang-bintang di malam kelam saat mataku terpejam? Atau terangkah? Sehingga aku bisa melihat tubuhku sendiri?

Selalu demikian. Setiap kelahiran telah disiapkan kawan yang baik untuknya: Mati! Dan kehilangan adalah milik mereka yang merasa pernah memiliki. Mati adalah milik segala sesuatu. Jangan-jangan yang abadi itu bukan hanya perubahan tetapi yang paling pasti adalah Mati!

Daunan gugur, pohonan mati, batu-batu kali diseret arus ke tempat jauh, kota berganti muka, segala jenis kendaraan baru lahir untuk kelak akan mati, koran-koran, majalah, buku, terbitan lainnya bermunculan dan bersedia untuk mati.

Bagaimanakah rasanya ketika mereka kehilangan ini? Seorang penulis yang menerima kenyataan sebuah halaman rutin tempat tungku dapurnya padam? Ketika misalnya halaman resensi, esai, puisi dan cerpen sudah tak ada? Dan bagaimana ia melepas ketika sebuah terbitan—yang digadang-gadanginya— tiba-tiba harus gulung tikar?

Dan bagaimanakah rasanya ketika seorang blogger yang mencatat maut memilih takdirnya sendiri: Mati?

Pejalan jauh. Aku belum akan lupa akan blog Pejalan Jauh ini. Dia intens mencatat segala maut yang menyapa seseorang. Ia begitu detail mengupas segala sesuatu yang hitam dan selalu saya hindari itu. ia pencerita yang fasih, dengan kekuatan cerita yang dirangkai tetapi bukan fiksi itu. Hanya mati dan meulu mati. “Hidup yang tak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.” Demikianlah ia mentasbihkan. Setidaknya dia sedang berbicara hal-ihwal maut yang penuh pertaruhan sebagai mana kata-kata dingin terangkai dalam tulisannya mencatat maut banyak orang yang sebagian besar kita kenal dalam sejarah.

Lalu tiba-tiba dia menyentak saya dengan kematiannya. Dia mati begitu saja. Sebuah kematian yang menurut saya bukan tragis tetapi sadis. Ia dibunuh tu(h)annya sendiri. Tiba-tiba dan begitu saja.

Enak ya jadi tu(h)an? Saya tak tahu apa yang melatari ini semua. Jenuh atau malas? Kukira jawaban yang enteng dan bernada ancaman. Jika Tuhan yang disembah manusia tak sabaran seperti ini, mungkin bumi ini sudah lama tak ada. Bosan juga bukan, menyaksikan dunia yang begitu-begitu saja, penuh intrik busuk, upaya menjatuhkan, persekutuan-persekutuan jahat, perayaan-perayaan atas tubuh dan darah. Nah. Untunglah dia hanya menjadi tu(h)an satu blog saja dan berkuasa atasnya. Dengan alasan jenuh, malas datau bosan dia begitu saja bisa mematikan blog tersebut.

Tak ada kubur untuk blog murung yang (sebenarnya manis) pernah lahir itu. Tak ada nisan dan tempat penziarah menabur bunga untuk tulisan-tulisannya yang getir dan kelam. Benar-benar mati dan segalanya seperti tak ada, seperti tak pernah ada. Tapi kita yang sudah pernah menghidu jejaknya bisakah begitu saja terpedaya dengan muslihat semacam ini? Dia tuan yang kejam dengan sejarah, sepertinya. Semua ingin dihapus dan dibuang sesukanya. Kita yang dulu pernah akrab dengan halaman-halaman kalimat yang termaktub dalam blog tersebut tiba-tiba hanya menemukan sepenggal requim yang bisu. Ia mati, tanpa ada gejala apa-apa. Tiba-tiba dan begitu saja.

Saya paham, itulah hakikat ada. Bahwa ia menuju tiada. Tetapi mengapa tak dibiarkan saja mayat-mayat itu berjejer dalam halaman blognya sehingga sewaktu-waktu kita bisa menjenguknya sebagai blog yang sakit? Tetapi dia memang kejam—semoga tidak dengan apa pun. Blog yang rajin kita kunjungi itu lesap begitu saja di hamparan dunia maya yang maha luas ini. Ia ingin menutup mata bahwa pernah ada sebuah halaman terbaring di situ. Bahwa orang-orang akan selalu mengenang.

Dia pikir dengan demikian segalanya akan selesai? Tidak! Saya yang dulu pernah akrab dengan halaman itu merasa dendam sebab begitu saja halaman itu dihapus dan dilenyapkan. Ini tidak sekedar kasus mutulasi. Bagiku ini lebih kejam dari pembunuhan mana pun. Ia mencincang dan menghilangkan segala hal yang pernah ada. Tak hanya tubuh, tapi juga riwayat. Jahat betul. Orang seperti ini harus ditembak kepalanya, dipenggal lehernya dan segera harus digantung. Dia pembunuh berdarah dingin yang tak memberi kesempatan tulisan-tulisannya berdiri sendiri.

Tapi jika saya mengenang tu(h)an di belakang pejalan jauh ini saya tak akan pernah menyangka di balik kekalemannya tersimpan naluri pembunuh yang luar biasa jahat. Blognya dihiasi macam-macam, diganti nama dari blogspot jadi dot com, dia pernah (kalau saya tak salah dnegar) pernah melaunching juga halaman ini, menghiasnya macam-macam, mengisi dengan tulisan miris dan ironis, mengundang banyak orang untuk bertandang ke rumahnya dan saling berbagi ironi. Sampai di sana ia yang di kakilangit itu tampak normal-normal saja.

Tetapi malam itu, malam yang tak akan aku lupa untuk waktu yang lama, saya menemukan www.pejalanjauh.com (dulu http://www.pejalanjauh.blogspot.com seperti kami juga, tetapi kemudian hidupnya lebih beruntung) sudah tak ada. Aku menemukan www.requem.com. Begitu saja dia mati?

Apakah dia yang bertahta di kakilangit adalah seorang (atau suatu?) psikopat? Aih, aih, bukankah dia begitu sayang pada blognya dengan rajin memposting, rajin mengisi bermacam-macam tampilan dan desain sehingga kami: saya dan Gusmuh terutama, sering iri dan cemburu jika setiap pagi selalu ada tampilan baru pada blognya. Dia juga rajin mengunjungi dukun blogger terutama udin dan mempercayai dukun itu mengobok-obok tubuh blognya. Dia begitu baik dan peduli pada blognya. Selalu ada tulisan-tulisan baru, selalu banyak komentar dan dikomentari. Dia yang baik itu ternyata punya sebuah rencana jahat: didekatkannya kita dengan blog yang sendu itu lalu seketika membunuhnya dan menyelesaikan segalanya, menyudahi hubungan yang intim itu.

Dan padaku ia pun selalu baik. Apakah dia berencana akan membunuhku juga dengan diam-diam memberikan tanggung jawab—mencatat mati—itu kepadaku?

Kematian, tentu juga sesuatu yang perlu dicatat untuk seseorang yang pernah ada. Dan itu menjadi semacam ideologi ketu(h)anku di blog ini. Tetapi selama ini kami bisa membaginya dengan manis: aku pencatat yang hidup yang murung dia pencatat maut yang dingin. Kami membaginya tanpa rencana, begitu saja. Tapi sekarang, tugas ini pun harus menjadi tanggung-jawabku. Mencatat ihwal menakutkan, Mati. Dia paham, aku orang yang tak bisa berdamai dengan masa lalu dan membenci perpisahan. Apakah ini cara dia membunuhku dengan menyelesaikan blognya, lalu seseorang—seperti aku—pada akhirnya juga akan berakrab dengan maut. Setidaknya mencatat kematian blognya.

Terkutuklah ia yang menjerumuskan aku pada itu semua. Lindungilah kami dari yang jahat dan menyesatkan. Amin!

Yogya, 08


5 komentar:

kuli blog mengatakan...

bung, dia akan kembali, jika bisikan itu menyeru telinganya. relakan saja. mungkin dia perlu bersemedi. menyetubuhi dedemit higga melahirkan bayi serupa tuyul. dan dia akan kembali bersama keluarga iblis itu ke rumah lamanya, atau membuat rumah baru...nanti tak kabari kapan ia datang dan minta kontrakan baru...haha...

pito mengatakan...

Iya nih bung, aku sudah baca puluhan “catatan kematian” si PJ itu. Dan kini aku sungguh bersungkawa atas “kematian”nya itu. Semoga ia lekas-lekas ber-reinkarnasi.. (atau mungkin saat ini ia sedang berhibernasi di tempat entah?)

salam kenal..

haris mengatakan...

ha ha sampai ada yang menuliskan obituari utknya. semoga udin benar: dia akan kembali. amin

timur matahari mengatakan...

salam kenal
aku pernah belajar mengenal kematian
dari pagi,siang,malam,sudut kiri,kanan,depan..
ternyata sampai detik ini
belum mampu memaknai
untuk apa manusia hidup jika hanya untuk dimatikan lagi?

Muhidin M Dahlan mengatakan...

memang kawan kita pejalan jauh lagi berjalan entah ke mana..... dia lagi mengembara mencari jalan pulang. hari ini dia lagi kalah, lagi kalap. tentang tempik, family, kerja, tentang apapun. hanya ia, tuhan, dan iblis yang tahu. gus udin besar, masih buka praktek kan? aku nggak mau bunuh diri cepat2, karena dosaku juga besar. maka aku membutuhkanmu lagi... boleh toh.