16 Mar 2008

Kebudayaan adalah Yogyakarta yang Kehilangan Keistimewaan di Jalan Raya


Saya ingin mengantarkan diri saya (setidaknya) pada titik yang paling sederhana. Peristiwa remeh yang barangkali cepat terhapus perihal besar dan menggiurkan. Tapi apalah saya yang tak bisa berbahasa. Dan maafkan jika saya kemudian memelintir sepenggal kalimah suci untuk membantu diri saya mencapai ingatan yang rumit itu.

Suatu pagi saya menemukan diri saya dalam kepungan dunia yang sukar dirumuskan. Saya tak menyadari diri saya lagi. Dunia bergerak dengan cepat. Orang-orang hibuk dengan kerja-kerja teratur dan terencana. Bagaimana aku bisa bangun dalam ketidaksadaran yang berimbang. Aku tumbuh dari dunia kecil dan sederhana. Hidup begitu pelan dan menantang, di mana saya mencintai seseorang lewat mata dan ungkapan -dan saya akan melihat perihal yang sama pada dirinya. Mengagumi seseorang dan berusaha mengiriminya bunga. Saya bermain dengan kawan-kawan seusia, berkumpul dan bercakap perihal kecil dan pasti; masa depan. Tentang dengan siapa kami kelak hidup dan serumah, berapa anak dan apa pekerjaan. Saya terbiasa menulis surat untuk pacar yang diselipkan ke kantong seorang rekan. (lanjut ya? klik bawah. hehe).
Saya bercerita tentang masa kanak dan remaja saya yang sederhana. Kau mungkin juga mengalami peristiwa yang sama sederhananya denganku, barangkali. Menerima dan mengirimkan sepucuk surat berwarna-warni dengan amplop kuning jika kau cemburu, merah jika kau sedang marah. Baiklah, saya mundur lagi ke belakang, sebab mundur lebih cepat ketimbang maju dalam bersoal tentang waktu.

Saya ingin berkata betapa cepatnya waktu. Semula saya sedang mengingat masa kanak yang ringkas. Bangun pagi dan berangkat sekolah. Belajar di kelas, pulang dan bermain dengan kawan-kawan. Setiap petang kami bermain di pinggir pantai, membantu nelayan menarik sampan, mencuri seekor ikan tangkapan dan membakarnya beramai-ramai. Begitu gelap mengasai tanah, kami bersiap berangkat mengaji. Tak tentu juga. Kadang di surau, kadang di rumah seseorang. Mengaji di depan lampu teplok sampai muka kami menghitam dan hidung kami terasa penuh. Sepanjang malam kami mengaji. Kamis malam kami akan bertanding membaca hapalan shalat dan ayat-ayat pendek. Sebagian kami bersiap menerima lecutan lidi dari guru jika kami lupa dan alpa. Pulangnya, ah, aku ingin mengatakan ini masa-masa yang manis, kami menyalakan obor, daun kelapa kering, akan selalu ada satu dua gadis kecil yang terpekik. Entah karena suara-suara yang sengaja kami bikin berat dan menakutkan, atau jawilan tangan kami -yang laki-laki- menyentuh bagian tertentu dari tubuh mereka.

Sesekali kami berpura-pura jadi pahlawan pula, yang kami dapat di dalam dongeng guru mengaji atau kisah sebelum tidur. Melindungi gadis yang gampang merona pipinya dari jawilan-jawilan tangan lain. Seolah isyarat akan sebuah rencana besar. Seketika itu pula, saya merasa begitu dewasa. Ketika bangun pagi saya mulai enggan mengikuti kawan-kawan yang bermaik kejar-kejaran atau berebut gambar umbul. Saya mulai meninggalkan kebiasaan bermain batun/main galah dan petak umpet. Saya mulai jatuh cinta, tentu saja. Dan suatu pagi yang lain kami dikagetkan oleh cahaya benderang di tiap sudut kampung. Listik, kau tahu. Simbol dunia moderen itu telah masuk ke kampung kecil kami. Sekejap, tivi hitam-putih yang dinyalakan dengan aki, berganti dnegan televisi berwarna. Kami yang terbiasa menonton di rumah tetangga (jkau tahu, jika di kampungmu ada tivi, maka nyaris seluruh tetanggamu akan berduyun-duyun datang ke rumahmu, numpang nonton) yang lebih terang dan berwarna. Satu-dua yang lain mulai memakai antena parabola. Dan rasanya hidup semakin berwarna saja.
Itulah titik mula penjajahan budaya yang dengan halus merampas apa yang kami miliki.

lalu hidup menjadi ajang pertarungan kepentingan dan kekuasaan. Orang tua kami akan merasa begitu miskin jika tidak memiliki televisi di rumahnya. Lalu bermacam merek makanan, pahlawan dari negeri asing, tempat jauh yang rasanya pernah kami datangi menjadi kebiasaan mutlak nyaris di penjuru negeri ini. Globalisasi. Dan segala yang kami miliki ditanggalkan satu-satu. Kami mengambil apa yang sebetulnya begitu baru bagi kami. Kami menonton percintaan anak muda kota yang lucu dan elegan. kami menghapal dialog-dialog dari roman murahan tersebut dan mengungkapkan pada gadis tetangga kampung. Kami mulai meninggalkan surau, melupakan obor dan tak lagi menyiapkan daun kelapa kering. Malam-malam ada percakapan di televisi.

Suatu pagi aku menemukan tempat bermain kami sudah berganti toko yang menjual barang-barang yang televisi jual. Kami mulai terbiasa dengan merek-merek yang televisi tawarkan. Televisi adalah sebuah dunia. Sebuah dunia yang lengkap dan sempurna. Di mana ia menghadirkan pahlawan-pahlawan baru, gadis-gadis segar dan manis. Kami diajak rekreasi ke kampung jauh, nama-nama yang susah kami hafal dan slogan-slogan yang begitu kami hapal. Kami mulai berpikir bahwa kesempurnaan itu ada di tempat lain. Bukan di sini, di kampung kami.

Ai, ai, ai, betapa saya terlambat menyadari. Suatu pagi yang lain saya terbangun (dan bukankah separoh usiamu nyaris habis kau gunakan untuk tidur?) ada dunia lain yang merayu kami. Saya gagap, sungguh. Mesin ketik berganti komputer, pasar-pasar lebih manis, dingin dan wangi dan terpusat dalam sebuah gedung. Surat-surat terkirim dalam sekian detik. Kabar-kabar dan kerinduan selesai dalam sebuah pesan pendek. Kami bercakap dengan seseorang di seberang pulau dan faish menyebut fri tol. Dan suatu ketika kami benar-benar merasa menjadi warga dunia yang menikmati ihwal yang sama dengan dunia di mana pun. Kami makan apa yang orang putih makan, kami minum apa yang mereka sebut menyegarkan, kami memakai aksesoris yang mereka kenakan. kami berlagak seperti mereka, hidup seperti hidup yang mereka citrakan. Dan tampaknya kita mulai sama meskipun tak pernah mirip.

Dan pagi ini saya merasa betapa waktu berjalan dengan cepat. Saya terkaget-kaget dengan kebudayaan yang begitu cepat berkembang. Teknologi melesat di depan. Sementara perihal-perihal sederhana mulai kami lupakan. Kami tak lagi bicara dengan bahasa ibu. Kesenian menjadi begitu membosankan, ilmu pengetahuan semakin berkembang dan menumpuk, sementara 24 jam bukan lagi waktu yang bisa merangkul itu semua dalam sehari. Lihatlah betapa dunia terasa begitu besar tetapi rapat dan dekat.

Semalam aku berjalan-jalan di tengah kota, melihat halte-halte yangh berdiri di sepanjang jalan. Saya merasa apa yang saya miliki di negeri ini sudah lama tak ada. Apa yang saya kenakan, apa yang saya kunyah rasanya bukan lagi tumbuh dari rahim negeri saya. Dan halte, bis-bis baru yang siap mengangkut orang-orang, apakah akan bisa mengurangi kemacetan dan polusi di jalan-jalan? seperti pula kebudayaand ans egala sesuatu yang pernah menjadi milik kami, saat ini masikah tetap relevan dibicarakan? Kesadaran akan sebuah pilihan kembali ke asal apakah bisa mempertahankan sesuatu yang sudah tak lagi ada di tanah ini?

Saya mengingat kampung jauh. Saya ingat seorang kawan dulu bertanya nomor hape. Saya ingat ketika mereka menyanyikan lagu-lagu populer dan mengejek lagu-lagu berbahasa ibu. Jika sudah begini masihkah saya bisa mempertahankan sesuatu yang sudah tak ada pada diri saya? Masihkah saya bisa mempertahankan yang secuil ini di tengah himpitan dan serangan iklan dan perkembangan teknologi yang maha dasyat.

Kebudayaan seperti bis transJogja yang kehadirannya dirasa sangat terlambat. Di mana jalan-jalan dipenuhi antrian kendaraan pribadi dan bis kota. Yogyakarta telah kehilangan keistimewaannya di jalan raya. Di mana orang-orang berebut maju, mencapai sebuah titik yang diharapkan sebagai tujuan. Tapi di sini, dalam wacana sekarang segalanya adalah nihilisme. Yogya dan jalan raya adalah kebudayaan dan anak muda. Jalan raya, sebagai sarana dan pintu gerbang utama yang mengantarkan orang pada wacana dan dunia baru. Yogyakarta dan jjalan raya telah menjadi sebuah mesin kapitalisme. Lihatlah, tidak hanya jenis kendaraan yang bertambah, tidak melulu segala jenis mereknya yang bersuileweran tetapi juga iklan yang terpasang disetiap sudutnya mengantarkan orang pada sebuah pemahaman baru. Kebudayaan instant. Inilah aku sekarang, inilah kita sekarang. Seperangkat alat telah memaksa kita menerima mall dan tukang iklan menjajah ruang tamu dan ruang privat. Aku piker inilah puncak dari segala kebudayaan. Ada semacam niatan untuk mempersatukan sebuah ideologi kebudayaan Barat dan Timur. Penjajahan gaya baru. Kolonialisasi yang yang dibungkus isu menarik. Segalanya telah terjajah, gaya hidup, pergaulan, cara pandang dan ideologi.

Ah, jangan-jangan pikiran saya sendiri pun sudah lama terjajah. Hati saya juga, mungkin.


3 komentar:

Anonim mengatakan...

tapi konon seorang filsuf dari zaman antah berantah pernah berkata: tak ada yang tetap kecuali perubahan"...

pemain-pemain kartu mengatakan...

tapi konon seorang filsuf dari zaman antah berantah pernah berkata: tak ada yang tetap kecuali perubahan"....

Riki Dhamparan Putra mengatakan...

betu in a. uda agak dak lamak perasaan uda mambaco deskripsi judul blog in ko do a. Ado kato pelaut malang jo kato karam bagai heh. raso - raso baibo ati penyair tadanga...
nyo penyair ko dimakan kato ma In. jadi kok diangan malang, ya bisa malang nan tibo. kok diangan karam, iyo bisa karam kapa tu...
saeloknya nan bahagia - bahagia sa la nan diangan. nan agak elok juo nasib ko di hari barisuek eh...

salam
uda di parantauan