26 Mar 2008

tentang seorang kawan


An Ismanto, Mabuk, Puisi dan Masa Lalu


Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.*

“Aku sudah punya pacar sekarang. Adiknya penyair An Ismanto, Erna namanya.” Kata Mahwi (Air Tawar) waktu itu masih bernama pena Mahwi Mahadi Widee atau Mahwiyanto ZA.

“An Ismanto? Kayaknya aku pernah dengar deh..” Kataku. Yup. Aku merasa mengenal dia. Tapi di mana ya? Kapan aku baca tulisannya? Di mana?

“Besok-besok aku bawa kamu ke sana.” Begitu katanya.

Pada masa selanjutnya, aku mengetahui benar, bahwa dia penyair dasyat pada zamannya.Dia seangkatan Hasta Indriyana. Aku merasa dia orang dasyat. Cerpennya di Koran Tempo waktu itu kalau tidak salah Sang Pemburu judulnya membuat aku merinding. Aku tak mengerti seting yang dibangunnya. Aku pikir dasyat saja. kerenkan, membikin saya seorang pembaca goblok tak mengerti dengan apa yang dia tulis. wah.. Beberapa cerpennya semapt masuk dalam klipingku. dan sku sempat membaca puisi-puisinya di Kompas dan beberapa koran lainnya.

Wah, bagaimana menghadapi penyair dasyat ini nanti ya?

“Eh, dia gak marah kamu pacaran sama adiknya.” Tanyaku pada Mahwi suatu kali.

“Gak tuh. Malah sering bagi-bagi rokok,” kata Mahwi cengengesan. Wah dasyat bener nih orang.
Aku semakin deg-degan sampai suatu kali Mahwi benar-benar mengajakku bertemu dia. Aduh, aku mau ngomong apa ya pas ketemu pertama kali? Bilang karyanya bagus, cerpen Sang Pemburu itu? kalau dia tanya bagus di bagian mananya aku jawab apa? Duh.. mati aku.
Tahukah kamu apa yanga kulihat dari orang yang dasyat itu?

“Simbah,” katanya mengenalkan diri padaku. Waktu itu dia masih sangat dekil. Rambut gondrong, kusut, jarang mandi dan mungkin juga pemalas gosok gigi. Celana panjangnya robek beneran. Kalau yang ini kemiskinan struktural bener. kumal bgt deh.

“Sek yo, aku ngutang kopi dulu.” Katanya pula. Dan itu di Sarkem, Semacam hima mungkin ya, di Fakultas Bahasa dan Sastra. Anak kuliahan-e.

Dia mengajak aku ke dalam ruangan Sarkem. Aku kenalan dengan beberapa oang yang lain, mungkin dia itu Pakde atau Virus atau siapalah waktu itu. aku lupa beneran. Aku tidak tahu apakah Ismanto sudah kenal aku apa belum. Aku masihlah seperti sekarang, bercita-cita jadi penulis tapi pemalas.

Lama kemudian aku tak pernah kontak dnegan lelaki cempreng itu. kesan yang akud apatkan dia itu aneh, norak dan dekil. Kesan yang sama mungkin juga dia berikan padaku saat itu. tetapi benar, lama kemudian aku sadar bahwa dia orang yang aneh.

Aku tidak tahu setelah itu kapan lagi kami bertemu. Aku ingat suatu kali, aku main ke sarkem, mengantar teman, Si Kiting ikut workshop penulisan. Akus empat bertanya pada anak-anak yang ada di situ. “Simbahnya ke mana?”

“Ngeple kali.” Dan sumpah, aku belumlah tahu apa itu ngeple. Aku kira dia suka main kartu. Keple adalah salah satu permainan dari kartu remi, semacam pokeran, song, 41 dan sebagainya. Dan aku Cuma jawab dengan oo saja. Sok tahu benar.

Dia peminum dan suka pemabuk. Setelah kami akrab, aku sering utang sama dia. dia orang yang hemat. sumpah. Waktu Kami sama-sama tinggal di Patehan, dia pulang dalam keadaan mabuk. Saat itu ia pamit ke kamar mandi, sampai pagi tidak keluar. Ternyata dia tidur sambil (barangkali) be'ol di kamar mandi yang nauzubillah itu. masya Allah... dan, stt, ini rahasia.

Sumpah, aku tak tahu dari aman lagi kami mulai berkenalan. Yang pasti suatu hari dia mengajakku bekerja di tempatnya Muhidin M. Dahlan, si Gusmuh itu. entah aku sudah kenal dengan si Zen (rahmad Soegito) itu atau belum. Yang jelas, aku berangkat ke Kasihan, tempat sepi dan terpencil bertemu laki-laki bernama Gus Muh itu. sebagai mana ketemu Ismanto, bertemu dengan dia pun aku deg-degan.

Setelahnya kami sama-sama sering tidur di Kasihan. Dia sudah mulai bolak-balik ke Jakarta kalau tidak salah. Sudahlah, aku tak bisa mengingat ini dengan detail.

Yang ingin aku ceritakan adalah sebuah peristiwa dramatis dan tak terlupakan. Suatu malam dia menjadi superhero bagiku. Malam itu dia datang membawa Anggur Merah kesukaannya (lihat fhoto yang aku pajang dalam posisi insert itu). Ia minum di kosku. Pak Telo, bapa kosku datang memanggil Ucup. Dia minta dibayar uang kontrakan. Harus ada malam itu juga, berapa pun. Kami panik setengah mati. Uang dari mana?

Tiba-tiba Ismanto mengulurkan uang. 160 ribu aklau tidak salah. “Pakailah,” katanya. Duh, aku terharu. Dia tak pernah mau ketika aku dan kawan-kawan hendak membayar hutang padanya. “partisipasi,” begitu katanya. ck..ck.. betapa perkasanya laki-laki ini. sebab aku yakin dalam keadaan tidak mabuk pun mungkin dia akan memberi lebih dari ini..

Tapi yakinlah saudara, sejak beberapa waktu belakangan hidupnya sudah mulai normal. Minum sesuai jadwal meskipun suka melanggar, dan sekarang nyaris gak pernah minum lagi, konon, menabung dan mengumpulkan uang juga memiliki seorang pacar. Seorang perempuan anggun, islami dan peduli padanya. Semoga selalu bahagia.

Puisi-puisinya bagus. Dia banyak menterjemahkan karya-karya luar. Dia fasih berbahasa inggris. Meskipun kuliahnya tidak selesai-selesai di sastra inggris, konon dia sudah di DO, dia masihs ering berkunjung ke sarkem, tempat di aman dia pernah membikin kegiatan yang sampai hari ini masih aktif, Jumatmalam. Setiap malam saptu mereka membaca puisi. Satu lagi kegiatans astranya yang dasyat adalah Sastra Tempel. Dia membikin dua halaman media yang memuat puisi, cerpen dan catatan budaya yang ditempel di dinding-dinding. Sesuai dengan jargonnya, Mengantarkan Sastra Kehadapan Anda, maka dinding kamar mandi kampusnya pun tak lepas dari sasaran medianya.

Menulis puisi baginya memerlukan kondisi yang kosong. Karena itu pula, konon ia mabuk, sekedar mengosongkan pikirannya, tentu. Puisi-puisinya saya kira juga banyak berkiblat ke barat. Dia banyak menulis wilayah teologi dalam kristiani dalam puisinya. Kemana-mana pun dia kerap membawa alkitab, meskipun dia seorang muslim, konon.

Simaklah bait puisi yang saya curi dari file laptopnya ini. Terasa sekali nuansa yangs aya maksudkan itu, bukan?

Dalam beberapa hal kami kerap melakukan hal-hal konyol. Suatu malam kami sibuk merekam puisi-puisi kami. Ketika di Patehan kami sibuk dengan blog dia dnegan santai saja melihat aksi kami tanpa berniat mengikuti. Konsiosten, itu yang saya maksud. Sesekali kami pernah lapar juga, lalu melakukan tindakan konyol, ke ATM mengecek rekening yang kami tahu betul pasti kosong.

Ismanto orangnya cenderung tertutup. Kecualis edang mabuk dia jarang mau bercerita masalah pribadinya. Dia jarang menampakkan diri di depan publik. Sastrawan pemalu, begitulah. Tapi aklau mabuk, dia akan berteriak tentang apa saja. Mengejek puisiku, menasehatiku, nmemberikan ceramah-ceramah, orasi budaya dan kami akan bertepuk tangan melihat aksinya. Saat itu kami amsih begitu karib dan senasib.

Takdir berkata lain. Kini dia seorang penulis yang rapi dan rajin. Punya banyak rencana dan obsesi. Telah melakukan beberapa hal untuk karyanya. Punya novel yang berjudul David, punya buku cerpen terjemahan. Tapi percayalah, dia seotrang dokumentator yang pemalas. Nyaris beberapa arsip klipingnya yangs aat inid ai punya akulah yang mengumpulkannya dans ekarang selalu di bawa di dalam tas hitam besarnya. Sesekali di baca dan ia akan berkata, “Saya kagum dengan puisi-puisi saya yang lama. Masih murni dan penuh.”

Aku tak terlalu tahu. Sebab kedekatan membuat kami agak alpa soal menghargai karya, barangkali. Soal namanya pun konon punya sejarah sendiri. AN Ismanto, begitu. Di antara nama ini ada penggalan anam perempuan yang dibabtiskan di namanya. Tapu saat ini saya pura-pura tak tahus aja dulu. Hehe..

Begitulah. Dia itu Abraham dan kadang-kadang Ishak. Dia bisa tegas dan sekaligus laki-laki lembut dan pemurung. Di waktu-waktu suntuknya dia lebuh banyak memutar winamp dan mendengar Enya. Pengetahuannya banyak, reverensi sasta dia juga lengkap dan masa lalu tertutup rapat pada dirinya. Atau barangkali hal-hal buruk dalam hidupnya adalah proses menjadi dan kini ia penggal bersama rambutnya yang dulu gondrong serupa jagung.

Baru-baru ini ketika dia pulang dari Jakarta aku kembali membutuhkan pertolongannya. Aku menjual I-Podku padanyanya. 220 ribu, padahal aku membelinya 250. aku menipunya dan dia tahu itu. dialah An Ismanto laki-laki dengan masa lalu yang tersembuyi di tubuhnya yang mulai gemuk dan makmur itu.

Dan apa yang terjadi pada Abrahamnya?

...bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar.
Berganti-ganti Abraham menatap Ishak, anaknya, dan domba jantan itu. Lalu ia menggeleng, mengangkat pisaunya dan menyembelih Ishak, anaknya, lalu seluruh umat manusia, satu demi satu....* (dikutip dari puisi Parabel karya An Ismanto yang belum selesai ditulis)

Tetapi tulisan tentang lelaki ini belum selesai saya kira. bersambunglah bahasa kerennya.

4 komentar:

Ook Nugroho mengatakan...

artikel yang renyah sedap, salam

Tentang Lelaki Pelabuhan mengatakan...

tx kang ook.. asalam

pemain-pemain kartu mengatakan...

hidup simbah! hidup anggur merah!
hehe

kejarsetoran mengatakan...

cek kabar: kalo anda ke JKT, anda bisa lihat bgmn pemuja aksara dan penggemar filsafat maen PS2 (winning soccer). dari mabok wine ke mabok PS