12 Apr 2007

Harie IP: Tiba-tiba Vinni, Tiba-tiba viddi, Tiba-tiba dia Vicci, Tiba-tiba..


Haruskah aku menyayat lukaku padamu?
Jika padamu luka itu sendiri
(Jika Aku Datang, Harie IP)

Dia makhluk yang penuh kejutan dan keajaiban, percayalah pada saya si tukang cerita.


Ia datang bulan puasa ketika kami berkumpul di rumah Mas joni Ariadinata. Waktu menjukkan hari jumat, aku lupa apakah saat itu tahun 2004 atau tahun 2005. tapi aku lebih percaya yang pertama. Siang itu dia datang dan menjabat tangan kami satu-satu, Mas Joni, bang Raudal, Ibed Surgana Yuga dan Aku.


“Perjalanan jauh. Musafir! Dan aku boleh tidak puasa.” Katanya sambil menghirup teh hangat dan memetik batangan mild. Asem! Bathinku. Gak ada basa-basi sama sekali nih tamu.




Aku gak begitu peduli. Orang baru, layaknya tamu hanya akan bercakap sejenak, setelah itu akan pergi dan tak akan tahu lagi ada di mana. Setelah menorehkan sepenggal kenangan, begitu saja dia pamit dan satu peristiwa selesailah. Aku tidak begitu suka dengan ini. Maka kubiarkan dia bercerita dengan Mas Joni, Bang Raudal dan seorang lagi aku lupa.




Mereka bercerita soal Kalimantan Selatan tempat berlangsungnaya acara Siswa Bertanya Sastrawan Berkata (ya?), Soal kegiatan yang mereka laksanakan bulan puasa itu, pembacaan puisi dan lounching buku, seseorang merekomendasikan dia untuk datang ke orang-orang yang sedang di hadapannya kini kalau hendak bertandang ke Jogja.




“Aku belum kenal Mas Joni dan Mas Raudal sebelumnya lo.. soalnya di acara SBSB itu aku gak datang,” katanya. Kemudian ia mengeluarkan beberapa dokumentasi laporan kegiatan yang diberikan ke Mas Joni dan Bang Raudal. Setelah itu dia mengeluarkan halaman koran yang ada puisi dan cerpennya juga.




“Di Kalsel susah. Medianya Cuma satu tapi penyairnya banyak.” Gumamnya. Mendengar itu aku mulai melirik wajahnya baik-baik dan mencoba sedikit peduli, sebagai sesama penulis baru. Dan dia masih muda ternyata.




Harie Insani Putra, begitu namanya. Lelaki kurus dan kecil, putih, suka tertawa dan murah senyum. Dia cepat akrab dengan kami –saya dan Ibed– dan begitu saja kami, sepanjang bulan puasa dan lebaran itu menjadi akrab dan melakukan beberapa hal konyol yang sebentar lagi akan aku bagikan kepada anda. Itu pun sesuai ingatan saya.


***

...
aku seperti papan
ayunan gelombang
hanyut susut jadi titik-titik huruf laut

(Telah Menjadi cahaya, Harie IP)


Dia lahir 25 Februari 1981, 6 hari setelah hari kelahiran saya dua tahun setelahnya. Jelas dia Pisces, simbol romantis dan penyuka seni. Keluarganya asli Yogyakarta, lalu mereka Hijrah ke Kalimantan selatan, banjar Baru tempatnya.


“aku pernah kuliah dulu... di pertambangan (kalau gak salah).” Katanya padaku suatu siang.


Tiba-tiba dia hadir ke Yogyakarta, mengunjungi keluarganya di Yogya dan Wonosari. Aku sempat ikut dia ke salah satu rumah keluarganya di perkampungan yang teduh dan tenang, di pinggiran sawah. “merapi terlihat dari puncak bukit. Dan kau akan menyukainya.”


Seharian kami bertengkar di puncak bukit itu, setelah melewati jalan-jalan melelahkan. Bkan soal Merapi tidak kelihatan, tetapi soal di mana letak Merapi yang paling benar. “Aku melihatnya di sana!” dia menunjuk ke kiri.


“Kau gila.” Teriakku. “Harusnya dia ada di sana.” Kataku menunjuk ke kanan.


Dan pertengkaran itu berlanjut terus, merapi menyukainya tanpa sedikit pun berniat untuk menyembul.


Acara selanjutnya aku suka. Diajak ke rumah saudara-saudaranya yang lama tidak bertemu. Di perkampungan lembut itu, kami disambut dnegan hangat, disajikan makanan sisa lebaran. Kehalusan dan ketenangannya itulah yang aku suka.


Setelahnya kami bertengkar di ruang tamu neneknya yang tak mengerti bahasa Indonesia sehingga, jika Harie tak ada kami harus berbicara dengan bahasa tangan, seperti orang bisu. Pertengkaran sederhana dan mengenakkan. Soal akses dan ruang sastra di daerah. Lalu merambat kepada gaya penulisan. Hingga ke Puthut Ea. Kesepakatannya adalah “Kita buat sebuah media untuk melawan hegemoni pusat!!” teriaknya lantang. Dan tentu saja aku setuju.

***


air matamu gelombang pasang
aku terdampar di dermaga yang belum kau siapkan

(Ketika Aku Hendak berlabuh, Harie IP)


“kalau aku pulang nanti, teman-temanku ingin aku bawah oleh-oleh.” Katanya melirik kami – aku dan Ibed – bergantian. Sore itu kami melompati kali yang ada di belakang rumah Mas Joni untuk meyakinkan diri bahwa di daerah ini arah menjadi kacau. Dan benar, kesimpulan kami waktu itu, jalan raya yang mengacaukan posisi Barat, Timur, Utara, Selatan. Waktu itu masih puasa, aku ikut mereka untuk mengusir kesabaran segera berbuka.


“Ya udah. Beliin aja buku.” Kata Ibed dengan santai sambil menghisap mildnya dalam-dalam. Aku tersenyum. Aku sudah tahu “oleh-oleh” yang dimaksud.


“Bukan buku!!@” Kata si Harie parau. “Mereka minta saya membawakan mereka VCD porno.”


Kami terbahak keras-keras. Gardu tua itu bergoyang, petang merambang. Sebentar lagi kami pasti pulang. Menerobos jalan pintas yang penuh sampah, semak dan jurang.


Waktu itu, aku dan Ibed memang bertugas menjaga rumah Mas Joni, karena beliau sekeluarga pulang ke Majalengka, lebaran. Harie kadang-kadang ikut menemani kami dan bersama-sama nonton film porno setiap waktu taraweh sampai subuh datang. Terakhir ketika mas Joni ke kalsel lagi aku tak tahu apakah dia masih ketemu Harie.


“Aku tidak datang ketika acara SBSB berlangsung. Tapi aku merekomendasikan acara kumpul-kumpul bang Raudal dengan para mahasiswa di tempat saya.” Katanya tanpa melepaskan pandangan dari layar TV yang menayangkan adegan mesum.


“Besok tidur di sini lagilah Rie. Kita nonton lagi.” Kata Ibed penuh harap. Kali ini lebih karena rasa kesepian kami merayakan Puasa dan Lebaran berdua di tempat sepi. Dan harie mengangguk, kami sudah senang, persetan besok dia benar-benar datang.


Dan dia menepati janjinya. Ira Komang sesekali juga bertandang. Tsabit juga. Sekedar memonitor kami, dua anak muda yang sedang merintis jalan dan tak dikenal siapa pun juga.


“Mana pelemnya?” tanya Harie antusias ketika menemui kami yang sedang memancing.


“Stt.. kedengaran ikan, ntar.” Harie melongo. “Gak ada duit gimana mau nonton. Merokok akja nggak.” Kataku.


Harie mencak-mencak. Mengeluarkan dompet. “Pantas kalian menyuruh saya ke sini terus ya?? Ntar lama-lama di Yogya aku bisa jadi gelandangan kayak kalian juga.” Katanya.


Itu yang kusuka dari dia. Dalam kondisi apa pun dia akan selalu merogoh kantong jika sang teman sudah berkehendak. “Aku mau beli buku banyak...” Nah, itu kata pamungkasnya agar kami bisa kasihan pula padanya. Tidak melulu melongok isi kantongnya.


“Iya Rie, pasti itu.” Kataku dan Ibed tertawa.


“mancingnya selesai aja. Malam ini kita beli makan yang agak enak, beli rokok, sekalian nyewa kaset.” Kataku pada Ibed dan dijawab singkat lelaki kalem itu,
“Yoi!!”


“Lho.. katanya gak punya uang.” Harie mulai curiga.


“Nih yang dipegang sekarang apaan?” Tanya ibed mengibar-ngibarkan uang limapuluhan ribu si Harie yang sudah di tangannya.


“Kembalikaaaannn...”


dan maalam itu kami menonton film porno dnegan khusuk sambil menghisap rokok. Dan Harie sudah lupa dengan uangnya yang dipakai tadi.

“Yang asia aja besok ya?? Barat ini terlalu ganas.” Komentarnya.


Aku dan Ibed berpandangan dan menjawab, Yoi!!


***

Dia di Jogja tidak terlalu lama. Sebulanan saja, barabgkali. Bertiga kami mengolah ide-ice, rencana-rencana dan menggigaukan masa depan.


“Kita bikin cerita panjang, tenbtanbg kisah cinta tiga wilayah. Bali, Kalimantan dan Sumatera. Masing-masing menuliskannya.”


“Kau tinggaldi Yogya ajalah Rie, biar kita bisa merintis sebuah media alternatif.”


“Kita bersama-sama belajar dan sama-sama menulis. Untuk hidup, kita sama-sama mengirim tulisan ke koran-koran. Siapa yang dimuat, dia yang mentraktir makan.”


Sepenggal kecil itu rencana-rencana kami. Dan Harie, seperti juga kedatangannya kepulangannya juga penuh kejutan.


“Aku harus mengembangkan Seloka di Kalsel. Aku harus memulai dari wilayahku dan kalian orang-orang yang harus selalu menyuport di belakang.” Putusnya suatu malam. Begitu saja.


Ah, padahal tadi sore, lay-out Seloka Tepian (Slokan) yang majalah sastra yang kami garap itu baru diselesaikan. Kami setelah rancangan-rancangan konyol sebelum tidur telah benar-benar mau meluncurkan media alternatif berupa majalah. Diam-diam Ibed dan Harie telah merancang desainnya. Ada tulisan Ibed, harie dan aku juga di dalamnya. Sebagai pemula, kami harus melakukan sesuatu. Dan aku belum lagi bisa internet.


Dan malam itu ia telah mengambil keputusan. Penuh kejutan.


Dan benar, dia pergi. aku – seperti biasa – tak ikut mengantarkan. Aku takut perpisahan.


Setelah itu dia benar-benar hilang bagai ditelan bumi bersama Sloka, Impian, rencana dan kebersamaan yang tercipta begitu sederhana di anatar kami bertiga.

“Gak ada kabar harie?” tanyaku selalu kalau ketemu ibed.


“gak, dia gak pernah mengontak. Jangan-jangan dia sudah meninggal ya?”


aku tak punya Hp, tak mengerti tekhnologi. Masih lagi bocah polos dan gampang dibodohi.


Harie yang kehabisan uang, sebelum pulang te;lah menjual HP-nya kembali.


“Aku gak enak minta duit tersu sama orang tua. Tapi percayalah, aku pasti akan ke Yogya. Bersama kalian aku akan bersama-sama mengenalkan diri pada jagad sastra.”


Dan coretan-coretan puisinya tentang rel kereta, kerinduan pada perempuannya, perkelahian dalam sarung dan segudang keinginannya masih tersimpan di notes kecilku. Entah kapan akan diambil dia lagi.


Dia hilang dan aku kehilangan.


Kami sempat e-mail-e-mailan beberapa saaat sebelum kemudian dia benar-benar sudah tak ada.

***

dia memang penuh kejutan.

“Sloka mati. Aku kerja sendirian.”


Itu salah satu kabarnya.


“Aku akan menikah. Kau datanglah ke sini, di Salatiga bersama Ibed.” Katanya suatu kali.


Menikah? Ahai, dengarlah. Dia menikah dengan perempuan yang demi Tuhan belum pernah sekali pun mereka bertemu. Dan pertemuan pertama menyeret mereka pada percintaan serius. Menikah.


Dia memang penuh kejutan. Suatu kali kontarakanku dihebohkan oleh kehadirannya suatu malam, di antara gerimis. “aku sudah seminggu di sini. Tapi malas ketemu kamu. Kau sudah sombong. Katanya.”


Sepertinya waktu itu Bulan Ramadhan. Hujan turundari langit. “Malam ini aku ingin minum lagi bersamamu.” Katanya. Dan benar, malam itu kami minum, Sukma pacarku yang cerewet dan penuh aturan itu, kali ini mengikhlaskannya.


“Mas Harie teman lamamu. Tentu banyak peristiwa di anatar kalian. Dan barangkali minuman, sedikit membasahkan kenangan.” Katanya. Kupeluk dia, bahagia. kupikir ini masih bagian dari kejutannya.


“Betapa miskinnya kamu, masih juga belum punya Hp.” Katanya suatu kali lewat e-mail.d an aku terbahak membaca kedongkolannya itu.


Betapa sukar aku mengingat seluruh kenangan dnegannya. Tetapi alangkah sukar untukku untuk benar-benar melupakannya.


Suatu kali dia kehilangan uangnya di kosan mami. Pafdaku dia berkata. “aku sudah mantrai. Dan orang yang mencuru uangku akan segera mengembalikannya.” Katanya murung.


Besoknya dia mengatakan uangnya sudah kembali. Utuh di dalam sakunya.


Dia memang penuh kejutan dan aku percaya itu. Kami –aku dan Ibed – pernah berpikir, jangan2 dia tlah mati ketika suatu kali kami benar-benar kehilangan kontak dnegannya dalam kurun waktu yang cukup lama. Kami mulai berpikir-pikir, jangan-jangan waktu itu, ketika dia naik angkot menuju bank pencopet telah memaksa mengambil uangnya.


Begini ceritanya: sudah beberapa hari ini aku dan Ibed kekurangan uang dan mulai menggelandang. Tiba-tiba Harie sms dan Ibed nekad meminta uang darinya dan segera dikirimkan agar kami tidak segera mati kelaparan. Dia memmenuhi dan sekarang dlaam pernjalanan menuju bank, katanya. Setelah itu kontak selesai. Kami tak bisa menghubunginya seiring pulsa ibed habis.


Kataku, “kau bertanggung jawab kalau dia mati.” Siapa tahu maling dan dia telah bertarung hebat. Dia mempertahankan uang yang hendak dikirim ke temannya ini yang sedang kelaparan. Heroik sekali. Atau sebuah kecelakaan. Aduh, kenapa kami sampai berpikir seperti ini?


Dan dia bukan harie IP kalau bukan tidak ada kejutan. Sekarang dia nyaris menjadi bapak. Anaknya akan segera lahir sebentar lagi. Beberapa waktu yang lalu dia memenangkan lomba penulisan cerpen se Kalses, “Rahasia Sedih Tak Bersebab.”


“Oleh-oleh untuk sang istri.” Katanya.


Sekali lagi dia penuh kejutan.


“aku berhenti menulis puisi. Terlalu banyak yang menjadi penyair tapi sedikit yang mau jadi cerpenis.” Putusnya padaku.


Sebuah kejutan lain, kemarin dia menelponku dan memaki. “Selalus aja kau ganti-ganti nomor HP.” Dan aku jawab dengan terkekeh.


Satu darinya yang kusuka, dia selalu lembut bagai seorang kakak dalam menasehati. “Aku suidah tak minum, hanya denganmu. Sekedar mengingat peristiwa kita di kamar Mas Elfa dulu. Kita minum dan nyaris mabuk. Saat di mana kita capek mengurus Ibed yang sakit.” Dan kami minum juga pada pertemuan kami yang kedua puasa tahun lalu. Pertemuan kamis elalu di bulan puasa tampaknya.


Soal Ibed yang sakit, ah hanya dia yang berani ngelap muntahan. Ira dan aku menyingkir jauh. Dia juga yang setiap malam memijit dan membaca berbagai doa, sesiuai kepercayaannya.


Dia selalu penuh kejutan. Tak cukup ruang untukku menceritakan. Tulisan ini hanya sekedar menagakan betapa dengannya, aku punya banyak peristiwa. Seorang saudara yang luar biasa. Yang akhirnya dengan penuh kejutan juga, memilih menjadi petani sambil menulis, menjadi Pak Guru di sebuah Sekolah. Sungguh ajaib dan penuh kejutan. “tetapi aku tetap tak bisa meninggalkan sastra, sebagai duniaku yang kedua.” Katanya. Ah, Pisces selalu menaunginya.


Dia selalu penuh kejutan. Datang dnegan sebuah kejutan, sama-sama bertahan dalam kemiskinan dneganku dengan penuh kejutan, dan menghilang dnegan lebih penuh kejutan. Aku yakin, kejutan lain yang lebih membahagiakan akans egera terwujud. Bertemu lagi dengan lelaki yang penuh energi dan semangat bertahan dan tak kenal kata menyerah itu.


Kami pernah memancing ikan di rumah mas joni sore-sore, ira sudah mempersiapkan bahannya. Aku sudha lapar ingin berbuka, tiba-tiba ikan kami yang besar telah dicuri kucing. Suatu hari kami kehabisan uang dan harus menggerilya receh mas Joni yang ada di Topless untuk rokok dan nyewa film.


“Kenapa kalian nonton porno terus sih?” Tanya harie suatu kali.


“Kan lebaran. Biar aku gak rindu rumah, ya udah enakkan nonton aja.” Jawabku sekenanya. Jan jadilah kami setiap hari nyewa film dan harie selalu berpesan, “kalau pelemnya bagus jangan lupa dibakar ya? Buat oleh-oleh kawanku di Kalimantan.”


Tak ada oleh-oleh Rie, kepergianmu begitu mendadak, seperti juga pernikahan dan keputusan-keputusan hidupmu.


Aku belum menulis apa pun tentangmu Rie, sungguh. Kita belum selesai dan luka masih banyak seperti juga peristiwa yang minta dicatat. Aku menyayangimu, saudaraku!!!


Seperti katamu:

haruskah aku menyangkutkan luka padamu?
Jika padamu luka itu sendiri.



Dia Vini, Vidi dan Vici... dia Harie Insani Putra.




5 komentar:

papae_marvel mengatakan...

perkenalan yang seru ..
ingin saya pun bisa berkenalan dengan mereka yang bung Indrian sebutkan ..


dedy tri riyadi
www.toko-sepatu.blogspot.com

lelaki pelabuhan mengatakan...

trims papae marvel. salam kenal dariku dulu.mereka adalah sosok-sosok yang hidup yang pernah ada di pelabuhanku sebelum masing-masing merentang sayap. bersinggah, istirah atau sekedar pelepas penat. begitulah hidup, selalu berlayar dan berlayar bukan??

Hannie mengatakan...

uhmm...
apo nan dikecekan yo? hehehe... soalnya keknya ceritanya lumayan dalem gitu, hehhee..

salam kenal yah! :)

lelaki pelabuhan mengatakan...

hahahaha.. salam kenal hannie, salam taragak.

baa caro masuak ka blog hannie?

salamat berselancar di pelabuhan tua ja ya??

salam kenal tuja.

koto

Zian mengatakan...

beberapa tahun terakhir ini saya tiap minggu nginap di rumah Bang Harie :)