19 Mar 2007

Zen Rahmat Soegito:si pencatat kematian


Setiap kali kau berniat melupakan adalah kau sedang berusaha mengingat.” Katanya padaku tentang masalalu. “Ingatan, kau tahu,” sambungnya, “adalah jalan terbaik untuk memaafkan. Yang harus kau lakukan adalah untuk selalu ingat, mengingat dan memaafkan, setelah itu segalanya akan bisa kau lewati.”



Aku tak pernah tahu percakapan kami akan sampai pada titik ini. Masa lalu. Percakapan sentimentil di sebuah stasiun di waktu subuh. Ia membawaku ke sini, ke Tugu, saat aku sedang tekun membacai sebuah majalah dengan tajuk Festival.

“Kau tahu, ini adalah negeri seribu perayaan. Tidak ada yang tidak sakral di sini. Bahkan setiap senin, anak-anak sekolah merayakan sebuah ‘upayara’ bendera.” Begitu katanya.

Kau tentu ingin tahu, siapa yang tengah kubicarakan ini. Bukan siapa-siapa, dia hanyalah seorang anak manusia, anak semua bangsa yang tumbuh di bumi manusia (istilah Pram). Zen Rahmat Soegito namanya. Seorang kawan yang tekun menghadapi teks-teks dan keyboard laptopnya. “Aku dapatkan barang ini dengan mengumpulkan honor tulisan. Susah memang, selain kebutuhan hidup seorang bujang yang tak suka berhitung aku juga harus menyisihkan untuk biaya kuliah dua orang.” Hebat. Diusianya yang baru 25 tahunan dia sudah menghidupi tiga orang sekaligus; dirinya, adik perempuannya, dan seorang lagi.. “Adik angkat. Dalam tradisi keluarga Bapak, kami harus mencoba belajar mengangkat setidaknya satu anak, sebagai bentuk laku sosial dan ini tercermin dalam keluargaku, dalam kehidupan kami sehari-hari.” Akunya.
Aku mengenalnya suatu malam sekitar Agustus 2006 lalu. Kedatangannya bagai seorang ksatria. Saya sudah mengenal namanya beberapa lama sebelumnya. Dia salah seorang penulis muda yang intens dengan kajian-kajian intelektual. Seorang penulis muda Yogyakarta yang sedang naik daun. Dia dipanggil ke Jakarta, kerja di sebuah media. Beberapa rekan ikut menyusul dia ke sana.

Dan malam itu, Tasriq dan fahmi menelponku, ngajak ngopi bareng. “Ada Zen..” katanya. Tak lama Fahmi dan Tasriq datang bersama dua orang temannya, salah satu Zen tadi. Aku tidak tahu dari mana dua orang ini ketemu si Jejen.

Dan kami menghabiskan malam itu dengan seorang rekan baru, Zen Rahmat Soegito. Si Jejen. Di balik wajahnya yang tenang dan dingin itu dia adalah kutang cerita dan cerewet. Dia berkisah banyak dan kami hanya bisa melongo mendengarkan. Apalagi saya yang tidak begitu paham bahasa Jawa. Aneh, orang Sunda yang pintar bahasa Jawa pikirku. Dia terus saja mencerocos, malam kematian Pram, Soal kerja di kantornya, kekonyolan Simbah, Gusmuh, soal esai di koran, bola, gempa, hobi bolanya.

Pertemuan berikutnya adalah di acara Jumat Malam yang rutin diadakan anak-anak Sarkem UNY. Setelah itu kebersamaan rutin terjalin juga antara kami. Siapa yang bisa menduga? Dari sitululah aku tahu bahwa dia seorang yang pintar berdiplomasi, penulis paling rajin, jarang tidur, menghabiskan dua bungkus rokok lebih sehari dan sebagainya. Sejak saat itu aku mulai bisa meraba hidupnya. Apa makanan kesukaannya, apa film favoritnya, dia tidur berapa jam sehari dan sebagainya. Aku hapal betul betapa dia senang kerupuk, martabak pisang, makan putu. Waktu mengajarkan aku untuk tak ragu-ragu memanggil tukang putu setiap senja, mencomot batangan rokoknya dan paling senang bila diajak makan. Hahaha...

Dia seorang pencatat yang hebat. Itu kataku tentangnya.

Satu hal yang aku tak pasti tentang dia yang sedikit absurd ini adalah bagaimana pandangannya tentang kematian. Aku benar-benar tidak paham. Dia mencatat banyak hal tentang kematian. Dia menuliskannya di blognya: pejalanjauh.blogspot. segalanya bercerita tentang orang-orang mati. “Aku ingin mengekalkan mereka dalam ingatanku.” Katanya.

Dan Zen, aku akan mencatatmu jauh sebelum ada epitaf di makammu. Jangan katakanlah ini sebentuk requem atau semacam obituari. Kataku, aku hanya ingin mencatat sesuatu yang kelak barangkali akan alpa. Sesuatu yang sederhana gampang dilupakan. Maka biarkan aku mencatat sebelum segalanya tak sempat tercatat.

Seorang Jejen, seperti apakah jika kau ingin dikenang? “Sebagai seorang pemain bola!”

8 komentar:

angin-berbisik mengatakan...

salam kenal nan hangat yaaa

wah tulisannya bagus2 dan menarik nih :)

udin mengatakan...

hai bung, aku cemburu kau sepertinya begitu intim dengan kawan lamaku itu. aku bertemunya dalam perjumpaan sepintas lalu. baru beberapa waktu kemudian, aku menyadari betapa bodohnya aku melewatkan pertemuan denganya.... selain makanan, film, buku, kesukannya, kalau boleh tau cewek macam apa yang dia suka..aku ingin menghadiahkan untuknya...tolong sampaikan kepadanya ya...aku akan kirim untuknya...hahahaha

lelaki pelabuhan mengatakan...

semua sudah tertulis di blognya soal buku dan film. makanan vaforitnya adalah putu dan martabak terang bulan rasa pisang dan..eit, kerupuk.

soal cewek, nah ini yang aku tak berani jawab. sejak berpisah dari bung udin aku tidak tahu lagi kecenderungan seksnya seperti apa. apakah masih seperti dulu atau sudah berselera pula kepada cewek.. eeh, cowok? aku entah untuk yang ini.

Muhidin M Dahlan mengatakan...

Begini tuan-tuan.
tentang selera seks si jejen itu ya....
begini tuan-tuan
dia kayaknya nggak suka cewek dengan tubuh tambun. Wajahnya kalau bisa agak bulat, kulit putih, mirip dengan cina2. Suatu hari dia pernah berkata: "Aku ingin sekali mencobai cewek cina. Kabarnya mereka dikit-dikit basah. Kok basah dikit-dikit?" Itu diutarakannya dengan glamor ketika dia terangsang hebat habis nonton film The Myte yang dibintangi Jackie Chan. Soundtrack film itu dia koleksi dan nyaris sepanjang hari dia putar. Image foto bintang perempuannya dikoleksi dan dipajangnya di layar komputer. Jadi, Bung Udin, kalau mau mengirim paket cewek, kirimlah yang cina.
Jangan sesekali kirimi jejen cewek berprofesi penyair. Dia muak sekali. Kalau cewek yang ingin dia peristri ya, tingkah laku dan budi pekertinya seperti simboknya.
Saya pernah bilang kepadanya, bahwa telah tersedia perawan 38 tahun. dan dari gestur tubuhnya dia melakukan penolakan hebat.
"Tapi kan dia penulis yang rajin."
"Mbuh-lah."
"Tapi dia kan menunggumu."
"Saya milih-milih, Din."
Nah, milih-milihnya itu, ya dia kayaknya memilih cewek-cewek cina. Atau orientasinya sudah berubah seperti tuduhan si koto keple? Wallahu'alam bi ash-shawab.

Anonim mengatakan...

hmmm.... gitu ya?

kudabetina mengatakan...

yang paling saya benci, dia sering membisiki saya kalau dia akan mati muda. membelai saya dengan kata-kata kematian. ah, seandainya dia memang akan mati muda...

Mas Muh, benar begitu ya? Untung saya tidak tambun, tapi saya bukan cina. Bagaimana?

Bangsari mengatakan...

zen? sampai sini juga tuh anak ya? hehehe

dania mengatakan...

ah, orang ini lagi. dia seperti gabungan karakter feminin dan maskulin sekaligus.