22 Des 2006

Rama-rama yang Hinggap di Jendela

Bermula dari seekor rama-rama yang hinggap di jendela rumah. Sejak sore gerimis itu Ibu tampak banyak melamun dan mengunci diri di dalam kamar. Bukan itu saja. Sejak sore celaka itu juga, Ibu jarang sekali bicara. Kalau pun beliau duduk di meja makan, tak lebih dari sekedar menemani kami saja. Kalaupun bicara melulu soal ayah yang akan membuat matanya basah.

“Bagaimana kalian bisa merelakan kepergiannya yang tak wajar. Bagaimana kalian bisa mengubur bayangan tentang ayah kalian. Bagaimana…..” Kalau sudah begitu kami hanya mampu mengusap dada. Dan segera Ibu berlari ke kamar dan menguncinya dari dalam. Sia-sia saja kami mengetuknya. Ah, Ibu. Bagaimana kami bisa lupa peristiwa itu. Bagaimana kami bisa melupakan kepergian ayah yang menyakitkan. Tapi apa yang bisa kami lakukan selain pasrah dan berserah? Bukankah ayah juga mengatakan malam itu – ah, suatu malam yang berbadai – kita mesti menyerahkan pada yng kuasa. Apakah Ibu ingat kata-kata terakhir Ayah kalau hidup dan mati adalah milik yang di atas? “Sebelum ajal berpantang mati”, kata ayah sebelum melangkah ke luar rumah. Ibu, bagaimana kami bisa melupakan peristiwa getir itu – ah, tiba-tiba gerimis jatuh. Teriakan-teriakan di luar rumah, menghentak benak kami sampai kini. “Keluar kau Darso!” “Ayolah keluar dukun keparat!” “Kyai celaka…..! “Ayo keluar dukun laknat. Sebelum desa ini tertular oleh kutukan…!” “Dukun cabuuul……!” “Darso, kyai keparat……” “Keluar….keluar……” Suara-suara di luar makin kuat dan tak sabaran. Gedoran pintu, obor, parang dan pedang (sementara gerimis makin lebat jua). Aku tak kuat menyaksikan itu Ibu, juga sekedar mengingat. Terlalu pahit, terlalu getir dan tentu terlalu sakit. Seekor rama-rama yang hinggap di jendela, lebur bersama, teriakan, jerit kesakitan dan tangis Ibu. * * * Rama-rama celaka itu telah membuat Ibu risau. Setidaknya kami tak lagi menemukan senyum Ibu sejak itu. Maka, Mas Anis bersedia menangkap rama-rama itu dan membuangnya. Kalau perlu membunuhnya sekalian. Tapi tidak, sepagi itu, Ibu marah-marah di meja makan. “Siapa yang berencana membuang rama-rama itu?”. Makinya. Kami semua terdiam. Siapa pula yang telah memberi tahu Ibu tentang ini? “Tak akan ada yang mampu mengusir rama-rama itu. Jangan mencoba-coba sesuatu yang akan jadi bencana.” “Tapi, bu. Kami hanya ingin melihat Ibu seperti dulu. Tertawa lagi bersama kami.” Mbak Nita, kakak tertuaku membuka suara. “Tak ada lagi yang bisa membuat Ibu tersenyum sejak kepergian Ayah kalian. Ibu tidak begitu bisa begitu saja melupakan malam itu. Kalian boleh saja mengubur segala kenangan. Tapi Ibu tidak!” Katanya tegas. “Tidakkah yang kami lakukan selama ini persis sama dengan semasa Ayah hidup dulu?” Mas Anis ikut menyelah. Ibu diam. “Ayolah, bu. Adakah kami melakukan sesuatu yang salah dan membuat Ibu terluka dan tersakiti?” Mbak Nita mulai berkaca-kaca. “Hanya karena rama-rama itu Ibu mesti menangis?” Mas Anis marah. Lalu berlari ke luar rumah. “tidak ada yang boleh membuat Ibu menangis lagi.” Segera, kedua sayap rama-rama itu berada dalam genggamannya. “Hentikan…!” Teriak Ibu dalam mimik ketakutan. Kami semua terdiam. “Biarkan dia tetap di beranda atau jendela.” “Tapi dia hanya membuat Ibu terluka.” “Tidak, anakku. Tidak. Rama-rama itu hanya sebuah bertanda, bakal ada tamu besar yang akan datang.” Ucapnya tenang. Kami semua terbelalak. “Astagfirullah…istighfar, bu. Istighfar…” Ucapku kaget. Berkali-kali aku mengusap dada. Astagfirullah. Mas Anis melepaskan rama-rama itu. Sebentar dia menggelepar lalu terbang dengan rendah, melayang sejenak dan hinggap di jendela. “Akan ada tamu besar…” Kulihat Ibu bergetar. “Ah… Sudahlah. Ibu terlalu mengada-ada.” “Tiga hari sebelum Ayah kalian di jemput, rama-rama itu hinggap di kaca rumah. Rama-rama itu seolah mengabarkan berita buruk. Kedatangan tamu penjemput ajal. Rama-rama itu seakan bercerita kepada Ibu tentang kematian, anakku. Kematian Ayah kalian..” sejenak Ibu terdiam. “Tahukah kalian, setelah malam itu kupu-kupu itu menghilang. Benar-benar menghilang. Tak muncul-muncul. Kedatangannya hanya sekedar untuk menjemput..” “Bunuh saja rama-rama itu.” Ucap Mas Anis dengan kesal. “Kalian tidak kan bisa membunuhnya begitu saja. Tidak akan. Dia pasti akan muncul lagi. Kedatangannya tak lebih dari sebuah tanda.” “Ibu, kami tak ingin Ibu menjadi manusia yang putus asa. Siapa yang akan di jemput? Anis? Aku? Mas Randi? Atau Ilham? Selain itu kita tak punya siapa-siapa lagi, bu.” “Entahlah. Yang pasti Ibu merasa…” “Itu hanya semacam halusinasi Ibu. Hanya ketakutan Ibu yang tak beralasan. Siapa yang akan ditangkap. Tak ada yang main tangkap-tangkapan, bu.” Mas Anis ikut bicara. “ Ilham, kau tangkap rama-rama itu. Buang jauh-jauh.” Perintahnya padaku. Siapakah yang akan datang? Tamu besar seperti apakah itu? Siapakah yang dicari? Ayah? Bukankah Ayah tak pernah pulang. Sudah lama sekali, dan kini kami telah pindah ke lain kota. “Sekedar mengubur kenangan!” Kata Ibu dulu saat beliau menjual rumah. * * * “Mbak...mbak. bagaimana mbak bisa terpengaruh dongeng seperti itu?” Ucap Paman tertawa panjang. Ibu terdiam. “Apa yang mbak takutkan? Keselamatan saya? “ Kembali dia tertawa. “Entahlah. Tapi perasanku semakin aneh.” Jawab Ibu dengan pelan. “Karena rama-rama itu?.” “Entahlah.” “Sudahlah mbak. Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Mas Darso telah lama pergi. Mbak tak boleh pesimis begitu. Serahkan pada yang di atas.” Begitulah, setelah berkali-kali Paman Agung, Adik Ayah yang tinggal di luar kota itu, mencoba menenangkan Ibu. “Atau, jangan-jangan rama-rama itu hanya untuk menyambutku.” Katanya kemudian. Kami tertawa. Paman Agung memang pandai bercanda. Beliau adalah adik bungsu ayah. Saat ini dia tengah menyelesaikan kuliahnya di sebuah universitas di lain kota. “Ah, setiap manusia punya garis hidup masing-masing.” Ucapnya . Begitulah, selama di rumah beliau berupaya membujuk Ibu untuk tidak lagi bersedih. Paman sesekali saja menjenguk kami – keponakannya. Tetapi kami sangat senang jika beliau datang dan menginap beberapa hari saja di rumah. Kami merasa, selama dia di rumah, Ayah telah kembali. Sosoknya yang mirip dengan Ayah, suaranya, rambutnya, pakaiannya. Ah…. Terlebih kalau malam, suara zikirnya seolah melayang di malam yang mengambang. “Saya harap mbak mulai melupakan peristiwa itu. Kalau mbak ikhlas, arwah almarhum tentu akan tenang di sisinya. Mbak juga harus ingat, segala yang ada milikNya, sewaktu-waktu pasti akan diambil. Inalillah. Maka perbanyaklah zikir dan istigfar.” “Saya juga tak ingin mbak mempercayai hal-hal yang bersifat tahyul seperti ini. Mas Darso pun tentu tidak suka dengan ini. Rasanya almarhum tidak pernah mengajarkan hal-hal seperti itu.” Ibu tampak sedikit mulai tenang, apalagi sejak rama-rama itu tak muncul lagi. Kami makin yakin kalau pun rama-rama itu bertanda tamu tentulah yang datang itu adalah Paman Agung. Tak ada lagi yang lain. Tapi sore ini, kembali Ibu melihat rama-rama di jendela. “Barangkali, sebagai pesan kalau saya harus meninggalkan mbak. Besok sore, saya mesti kembali. Nggak enak juga berlama-lama.” Hibur Paman. Tentu kami merasa berat hati mendengar hal itu. Bagaimana pun kedatangan Paman banyak sedikitnya telah membuat kami tenang kembali. Yang lebih penting, Ibu tidak lagi murung seperti kemarin-kemarin. Beliau tampak sedikit lebih tegar. Tapi siapa sangka, ketika malam itu, tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Paman yang baru saja selesai wudhu –hendak shalat malam, tentunya– segera membuka pintu. Air masih menetes dari rambut dan janggutnya. Semua berkumpul di depan pintu. Suara-suara di luar kian terdengar kasar dan memaksa. Kami bertatapan. Kulihat Ibu mematung di depan kamar. Mukenah masih terpasang di tubuhnya. Di luar orang-orang ramai berdiri. Obor, pentungan, dan orang-orang berseragam. Terdengar teriakan-teriakan dari luar. Lalu bayangan-bayangan masalalu berhamburan keluar. “Hoii…buka pintunya….!” “Buka atau kami yang dobrak…!” “Ayo keluarlah…!” Kami berpandangan. Dengan tenang Paman melangkah keluar rumah. Kami tak mampu bergerak apalagi berkata-kata. Ah, peristiwa itu… serta merta memenuhi memori kami. “Teroris….!” Ibu menatap kami dengan tajam. Ada kepedihan yang coba ia tahan. Seekor rama-rama tiba-tiba melayang di beranda, lalu menghilang di dalam kelam. Lebur bersama teriakan, amarah dan pekikan...! Rumahlebah, oktober 04-Mai 2005 rama-rama=Kupu-kupu yang besar

Tidak ada komentar: